100 Tahun Pembantaian Armenia


ROBERT ADHI KSP

Peristiwa pembantaian warga Armenia yang terjadi 100 tahun yang lalu akan diperingati besar-besaran di sejumlah negara di dunia pada 24 April mendatang. Pada 1915, pada masa Perang Dunia I, sedikitnya 1,5 juta warga Armenia tewas dibantai tentara Kekaisaran Ottoman (yang kemudian menjelma menjadi negara Turki).

Namun, Turki selalu mengelak membahas peristiwa tersebut. Bahkan, membicarakan pembantaian Armenia merupakan hal terlarang di Turki saat ini. Meskipun dilarang Pemerintah Turki, sekelompok lelaki dan perempuan dengan berani menyatakan akan berkumpul di Taksim Square di pusat kota Istanbul untuk menggelar peringatan pembantaian 1,5 juta warga Armenia ini. Tak jauh dari Taksim Square, pada 1915, Kekaisaran Ottoman mengumpulkan ratusan intelektual dan penulis Armenia di satu lokasi, lalu membantai mereka. Tidak hanya itu. Yang terjadi setelah itu adalah kaum perempuan Armenia diperkosa massal dan anak-anak Armenia dibunuh.

Armenia
“Lebih dari 100.000 orang Turki menemukan kenyataan bahwa nenek dari nenek mereka adalah perempuan-perempuan korban pemerkosaan massal, yang menjadi budak dan digiring dari Anatolia ke padang gurun Suriah utara. Sejarawan Turki sendiri kini memiliki bukti-bukti dokumenter paling rinci tentang kejahatan yang dilakukan Kekaisaran Ottoman pada masa itu. Terus menyangkal kebenaran terjadinya kekejaman ini merupakan kejahatan,” tulis Robert Fisk di situs media Inggris, The Independent, 19 April 2015. Fisk mengakui pernah menemukan tulang belulang dan tengkorak korban pembantaian Armenia di gurun Suriah dalam penggalian pada 1992.

Pekan lalu, Paus Fransiskus sudah menyinggung soal pembantaian Armenia, pembantaian paling mengerikan yang terjadi pada masa Perang Dunia I pada awal abad ke-20.

Kesadaran umat manusia tentang kekejaman terhadap bangsa Armenia pada masa lalu meluas. Hari Minggu 19 April 2015, di Toronto, Kanada, sekitar 2.000 orang memperingati pembantaian Armenia di Queen’s Park di pusat kota. Di antara yang hadir adalah Menteri Pertahanan Kanada Jason Kenney dan Wali Kota Toronto John Tory. Peringatan 100 tahun pembantaian Armenia ini diikuti juga berbagai komunitas berbeda. “Kami ingin berdiri bersama melawan pembantaian yang merupakan kejahatan kemanusiaan,” kata Garen Megerditchian, koordinator acara di Toronto, seperti dilaporkan CTVNews, (19 April 2015).

Bintang film Hollywood, Hugh Grant, mengunggah foto peringatan 100 tahun pembantaian Armenia di Twitter-nya. Demikian pula selebritas Amerika Serikat, Kim Kardashian dan Kanya West, mengunggah foto-foto mereka bersama anak-anak Armenia.

Sejarah panjang Armenia

Orang Armenia sejak lebih dari 3.000 tahun yang lalu adalah penghuni kawasan Kaukasus Eurasia. Pada masa itu, Kerajaan Armenia adalah salah satu entitas independen sejak awal abad keempat Masehi. Pada abad ke-15, tanah Armenia dikuasai Kekaisaran Ottoman. Mereka menerima perlakuan yang tidak adil, seperti harus membayar pajak lebih tinggi. Hak-hak politik dan hukum mereka dipinggirkan. Orang-orang Armenia cenderung lebih berpendidikan dan lebih sejahtera.

Situs history.com menyebutkan, sebelum terjadi pembantaian tahun 1915, orang-orang Armenia sebenarnya pernah dibantai tahun 1894-1896. Ratusan ribu orang Armenia dibunuh oleh tentara Ottoman.

Bagaimana pembantaian Armenia pada 1915 itu dimulai? Dua tahun sebelumnya, yaitu pada 1913, kaum ultranasionalis Young Turks mengambil alih kekuasaan di Konstantinopel (Istanbul). Mereka adalah Mehmed Talat Pasha, Ismail Enver Pasha, dan Ahmed Djemal Pasha (arsitek pembantaian). Pada 1914, Turki masuk dalam kancah Perang Dunia I, berpihak kepada Jerman dan Kekaisaran Austro-Hongaria setelah menandatangani perjanjian rahasia dengan Jerman dan mendirikan Aliansi Ottoman-Jerman pada Agustus 1914, dengan tujuan melawan Rusia sebagai musuh.

Pada Oktober 1914, Turki melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan Rusia dan menyatakan orang Armenia “musuh internal”. Para pemimpin militer berargumentasi bahwa orang-orang Armenia adalah pengkhianat. Orang Armenia membentuk batalion relawan untuk membantu tentara Rusia melawan orang Turki di kawasan Kaukasus. Hal ini membuat orang Turki curiga kepada orang Armenia dan memaksa mereka keluar dari zona perang di front timur.

Pada Februari 1915, Talat Pasha memberi tahu kepada DutaBesar Jerman bahwa inilah saatnya memberi jawaban atas pertanyaan tentang Armenia. Komite Pusat Ottoman membahas rencana “menghapus bangsa Armenia”.

Pada 24 April 1915, pembantaian dimulai. Pada hari itu pemerintahan Ottoman menangkap dan mengeksekusi ratusan intelektual Armenia di Konstantinopel. Setelah itu, rakyat Armenia dipaksa keluar dari rumah mereka dan dibiarkan mati ketika berjalan kaki di tengah gurun Mesopotamia tanpa makanan dan tanpa air. Mereka ditelanjangi dan dipaksa berjalan kaki di bawah sengatan terik matahari sampai akhirnya meninggal dunia. Mereka yang berhenti untuk beristirahat ditembak mati.

Setelah Kekaisaran Ottoman menyerah pada 1918, para pemimpin Young Turks melarikan diri ke Jerman, yang berjanji tidak akan menuntut mereka atas kasus genosida yang mereka lakukan. Kekaisaran Ottoman berakhir. Pada 1923, Turki menjadi republik di bawah pimpinan Kemal Ataturk.

Namun, sekelompok nasionalis Armenia menyusun rencana yang dikenal dengan nama Operasi Nemesis, melacak dan membunuh para pemimpin genosida. Sejak saat itu, Pemerintah Turki membantah telah terjadi genosida. Mereka menyatakan, orang Armenia adalah musuh perang sehingga mereka harus dibantai.

Saatnya bersuara

Saat ini Turki adalah salah satu sekutu penting Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Pemerintahan AS dan Barat masih enggan mengutuk pembantaian yang terjadi 100 tahun silam. Sampai tahun 2004, berita-berita di surat kabar The New York Times belum menggunakan frasa “genosida Armenia”. Media-media Amerika saat itu enggan menggunakan kata “genosida” untuk melukiskan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Turki. Presiden AS Ronald Reagan sampai Barack Obama masih melihat pentingnya hubungan dengan sekutunya, Turki.

Direktur Pusat Timur Tengah Universitas Oxford Eugene Rogan, yang juga penulis buku tentang jatuhnya Kekaisaran Ottoman, mengatakan, “Turki adalah sekutu NATO dan Pemerintah Turki merespons sangat negatif terhadap siapa saja yang mempertanyakan genosida. Dalam konteks ini, komentar Paus tentang pembantaian di Armenia harus dilihat.”

Pada Maret 2010, Kongres AS akhirnya memutuskan untuk mengakui pembantaian orang-orang Armenia tersebut. Belum lama ini, kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Ted Cruz, menyebutkan secara gamblang soal genosida di Armenia. “Dunia sudah terlalu lama diam dan mendiamkan genosida yang membuat orang Armenia menderita. Berbagai peristiwa itu membangkitkan kesadaran kita untuk berdiri bagi kebebasan melawan kekuatan jahat,” kata Cruz.

Menarik menyimak komentar profesor sejarah berkebangsaan Turki, Taner Akçam, dari Universitas Clark, seperti dikutip The Washington Post, “Jika Turki ingin memainkan peranan penting dalam perkembangan politik di Timur Tengah, Turki harus menghadapi sejarah mereka sendiri.”

Menyedihkan memang apabila masih banyak orang yang tidak menyadari kekejaman yang terjadi pada awal abad ke-20 itu. Jika kita melupakan sejarah, kita tidak akan menghormati mereka yang menderita di kamp-kamp kematian Holocaust, Uni Soviet, Kamboja, dan tempat-tempat yang lain. Tragedi kemanusiaan semacam itu harus dapat kita cegah agar tidak terulang pada kemudian hari.

Menyuarakan kepedihan dan kesedihan bangsa Armenia setelah 100 tahun berlalu harus dimaknai sebagai menyuarakan suara hati kita sebagai manusia beradab. Seperti kata novelis Aleksandr Solzhenitsyn dalam The Gulag Archipelago, “mendiamkan kejahatan dan menguburnya dalam-dalam, menganggap itu tak akan muncul lagi, sama saja membuat kejahatan itu akan bangkit lagi seribu kali lipat pada masa depan.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, SENIN 20 APRIL 2015

Iklan