Perang Kartel Narkotika Makin Membara dan Mengguncang Meksiko


ROBERT ADHI KSP

Hari Jumat (22/5/2015) merupakan hari paling berdarah di Meksiko dalam masa kepemimpinan Presiden Enrique Pena Nieto. Sedikitnya 44 orang tewas dalam baku tembak selama tiga jam antara pasukan keamanan Meksiko dan kelompok kartel narkotika di sebuah peternakan terpencil yang dikenal dengan nama Rancho del Sol, di dekat kota Tanhuato, salah satu markas anggota kartel Generasi Baru Jalisco (Jalisco New Generation/JNG), dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dengan Negara Bagian Jalisco.

Awalnya polisi federal menerima informasi bahwa kelompok bersenjata berkumpul di sebuah peternakan. Ketika tentara dan polisi federal mendekati lokasi tersebut, tiba-tiba dari sebuah kendaraan muncul kelompok lelaki bersenjata yang melepaskan tembakan. Kendaraan itu kemudian merapat ke arah peternakan dan masuk ke sebuah gudang di sana. Sebanyak 500-an tentara dan polisi federal yang menggunakan peluncur roket dan senjata semiotomatis mengejar dan mengepung mereka dari udara dan darat. Baku tembak itu akhirnya menewaskan puluhan anggota kartel, termasuk dua anggota polisi federal dan melukai satu polisi lainnya.

Kartel Narkotika Meksiko

Video yang diperoleh Associated Press memperlihatkan polisi federal berada di lokasi di tengah kobaran api dan jenazah tergeletak di ladang, di samping peralatan pertanian. Di dekatnya tampak sejumlah pakaian, kasur, dansleeping bag penuh noda darah. Pihak keamanan Meksiko menahan 3 orang dan menyita 36 senjata semiotomatis, 2 senjata lebih kecil, serta 1 granat dan senapan kaliber 50. Aparat juga menyita 8 kendaraan, 6 di antaranya hangus terbakar.

Polisi tidak menyebutkan nama pemilik peternakan seluas 112 hektar tersebut dengan alasan keamanan. Di kawasan itu terdapat rumah besar dan lapangan tenis. Peternakan itu sudah beroperasi selama 15 tahun.

Komisioner Keamanan Nasional Alejandro Rubido, seperti dikutip The Telegraph, menyebutkan, para tersangka yang tewas dalam baku tembak itu adalah anggota organisasi kriminal yang wilayah operasinya di Negara Bagian Jalisco. Meski tidak menyebutkan secara khusus kartel JNG, Rubido menggambarkan kartel narkotika itu menguasai wilayah di lokasi terjadi baku tembak.

Hanya dalam beberapa tahun, kartel JNG berkembang pesat dari sebuah faksi kecil dalam kartel Sinaloa menjadi kelompok kriminal terkuat di Meksiko. Kartel ini masuk dalam daftar hitam organisasi kejahatan narkotika yang disusun Amerika Serikat.

Pesatnya perkembangan kartel JNG mencerminkan perubahan peta kejahatan terorganisasi di Meksiko. Setelah banyak bos-bos kartel narkotika di Meksiko diburu aparat keamanan dan terbunuh dalam serangan, kartel JNG justru mengambil keuntungan dari rontoknya kartel-kartel lain. Mereka mengambil alih wilayah kartel-kartel yang sudah melemah.

Lanjutkan membaca Perang Kartel Narkotika Makin Membara dan Mengguncang Meksiko

Iklan

Hancurnya Warisan Budaya Berusia Ribuan Tahun di Palmyra


Kekayaan arkeologi dan warisan budaya yang berusia ribuan tahun di Palmyra, Suriah, yang dilindungi UNESCO, dihancurkan oleh kelompok radikal NIIS, Kamis (21/5/2015). Padahal, di kota itulah manusia modern masih dapat melihat bukti kejayaan peradaban umat manusia ribuan tahun silam. Hancurnya warisan budaya di Palmyra, berupa reruntuhan kota besar yang monumental, merupakan tragedi bagi sejarah dan peradaban dunia.

Palmyra yang berlokasi sekitar 215 kilometer timur laut Damaskus merupakan salah satu pusat kebudayaan dan peradaban masa lalu yang sangat penting. Menurut UNESCO, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kota kuno ini salah satu rute penting Jalur Sutra yang menghubungkan Persia, India, dan Tiongkok dengan Kekaisaran Romawi.

Palmyra

Sejak abad ke-1 dan ke-2, seni dan arsitektur Palmyra tegak berdiri di antara peradaban lainnya. Bangunan di Palmyra dibangun dengan kombinasi teknik Romawi-Graeco dengan tradisi lokal dan pengaruh Persia. Kemegahan reruntuhan Palmyra yang berada di padang gurun Suriah merupakan bukti pencapaian estetika yang unik di bawah kekuasaan Romawi pada abad ke-1 sampai ke-3. Setelah lepas dari kekuasaan Romawi, Palmyra mendirikan kekaisaran sendiri yang wilayahnya terbentang dari Turki hingga Mesir.

Palmyra ditetapkan UNESCO sebagai salah satu pusat budaya paling penting dari masa lalu dan satu dari enam situs di Suriah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Lima lainnya adalah kota kuno Aleppo, kota kuno Bosra, kota kuno Damaskus, serta desa kuno di Suriah utara, Crac des Chevaliers dan Qal’at Salah El-Din.

Dikenal sebagai “Venice of the Sands”, Palmyra menyimpan kekayaan budaya dari sejumlah peradaban Romawi kuno, Yunani, dan Persia. Dibangun di tengah padang gurun Suriah, bangunan di Palmyra yang memiliki tiang-tiang utama itu terhubung dengan kuil, teater, rumah, dan monumen publik lainnya. Di sana juga terdapat saluran air (aqueduct) Romawi dan apa yang disebut UNESCO sebagai “Necropolis besar”.

“Palmyra merupakan situs warisan dunia yang luar biasa di padang gurun. Penghancuran terhadap situs Palmyra bukan hanya kejahatan perang, melainkan juga menyebabkan kerugian besar bagi umat manusia,” tutur Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova dalam Twitter dan Youtube. Dia mengajak masyarakat internasional melindungi warisan budaya dunia itu. “Saya mengimbau semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk segera melakukan gencatan senjata di Palmyra dan sekitarnya. Ini merupakan situs warisan dunia yang sangat penting milik semua umat manusia. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikannya,” ungkap Bokova.

Lanjutkan membaca Hancurnya Warisan Budaya Berusia Ribuan Tahun di Palmyra

Ribuan Mahasiswa Duduki DPR, Belasan Menteri Ekuin Mundur, Rezim Soeharto Tumbang, BJ Habibie Presiden


Puluhan ribu mahasiswa menduduki Gedung DPR. Soeharto kapok jadi Presiden. Sebelas menteri bidang ekuin mundur, rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun akhirnya tumbang dan BJ Habibie menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia. Berita-berita yang dimuat di harian Kompas pada 20, 21, dan 22 Mei 1998 itu menjadi bagian dari sejarah republik ini.

Soeharto Tumbang

Foto di halaman pertama harian Kompas 20 Mei 1998 memperlihatkan suasana Gedung DPR diduduki puluhan ribu mahasiswa dari wilayah Jabodetabek. Mereka tidak hanya memadati halaman DPR, tetapi juga menaiki kubah gedung, memenuhi taman-taman, lorong-lorong, ataupun ruangan lobi. Inilah demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan mahasiswa selama rezim Orde Baru berkuasa.

Dalam berita berjudul “Puluhan Ribu Mahasiswa Duduki DPR” disebutkan, ribuan mahasiswa memasuki DPR sejak pagi hari secara bergelombang. Mereka datang dengan bus-bus sewaan ataupun bus resmi universitas masing-masing. Karena penjagaan longgar, sebagian dari mereka langsung mendaki puncak kubah Gedung DPR dan memasang spanduk panjang yang meminta agar Presiden Soeharto segera mundur dari jabatannya.

Di samping mahasiswa, sejumlah pakar hukum tata negara dan anggota Komnas HAM Prof Dr Sri Soemantri, tokoh “Malari” dr Hariman Siregar, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, tokoh HAM HJ Princen, Ketua Komite Nasional Indonesia Untuk Reformasi Ny Supeni, Ali Sadikin, Karlina Leksono, mantan Ketua DPR/MPR Kharis Suhud yang dipapah mantan Sesdalopbang Solihin GP juga hadir. Mereka sempat melakukan dialog dan diskusi dengan mahasiswa yang berunjuk rasa.

Berita utama Harian Kompas 20 Mei 1998 berjudul "Pak Harto: Saya Kapok Jadi Presiden"
Berita utama Harian Kompas 20 Mei 1998 berjudul “Pak Harto: Saya Kapok Jadi Presiden”

Pada hari yang sama, berita utama harian Kompas Rabu, 20 Mei 1998, berjudul “Pak Harto: Saya Kapok Jadi Presiden”, seolah menjawab tuntutan mahasiswa. Presiden Soeharto menegaskan bahwa dirinya tidak masalah jika harus mundur. “Mundur dan tidaknya, itu tidak masalah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah dengan kemunduran saya, keadaan ini akan segera bisa diatasi,” kata Soeharto dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Selasa (19/5/1998), seusai bertemu dengan para ulama, tokoh masyarakat, berbagai organisasi kemasyarakatan dan ABRI.

Lanjutkan membaca Ribuan Mahasiswa Duduki DPR, Belasan Menteri Ekuin Mundur, Rezim Soeharto Tumbang, BJ Habibie Presiden

Diplomasi Selfie PM India Narendra Modi dan Para Pemimpin Negara


ROBERT ADHI KSP

Sebuah foto bermakna seribu kata. Perdana Menteri India Narendra Modi tampaknya meyakini betul makna kalimat bijak itu. Foto selfie Modi bersama Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang pada pertengahan Mei 2015 menjadi selfie paling berpengaruh dalam sejarah. Diplomasi selfie yang dilakukan Modi dalam setiap kunjungannya ke luar negeri memberi makna tersendiri bagi kepemimpinannya.

Modi berhasil mengambil hati rakyat Tiongkok ketika dia sengaja membuat akun mikroblog Weibo (mirip Twitter, tetapi khusus Tiongkok). Begitu selfieModi bersama Li diunggah ke akun Weibo, jumlah pengikut (follower) Modi di Weibo melesat dalam waktu singkat menjadi 16,5 juta. Foto selfie kedua pemimpin negara itu dilihat oleh 31,85 juta orang.

Narendra Modi

Banyak pengguna Weibo mengomentari foto selfie dua perdana menteri itu. ”Cute premier!” tulis mereka. Banyak pula yang meminta Modi tetap mengunggah di mikroblog Weibo pasca kunjungannya ke Tiongkok. Sebagian lagi mempertanyakan mengapa para pemimpin Tiongkok tidak hadir di media sosial. ”Apakah tidak lebih baik PM Li memiliki akun Weibo sendiri? Agar kami dapat berkomunikasi dengan dia langsung,” tulis seorang pengguna Weibo, seperti dikutip The Times of India.

Di Tiongkok, para pemimpin negeri itu memang masih jarang aktif bermain di media sosial. Membahas kehidupan pribadi para politisi di Tiongkok masih dianggap tabu. Data pribadi mereka masih menjadi rahasia negara. Selama kunjungan tiga hari di Tiongkok, Modi mengunjungi kota Xian, Beijing, dan Shanghai, melakukan pembicaraan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, PM Li Keqiang, dan pejabat lainnya. Pemimpin India itu memperkuat hubungan ekonomi dengan Tiongkok, serta membahas masalah perbatasan kedua negara. Dari Tiongkok, Modi bertemu dengan Presiden Mongolia Tsakhiagiin Elbegdorj, Minggu (17/5), dan keduanya juga ber-selfie. Narendra Modi memang dikenal aktif dalam media sosial. Jumlah pengikutnya di media sosial Twitter tercatat 12,4 juta. Adapun jumlah orang yang like Facebook-nya tercatat 28,4 juta. Jumlah pengikutnya di Instagram tercatat 477.000 (sampai 20 Mei 2015).

Lanjutkan membaca Diplomasi Selfie PM India Narendra Modi dan Para Pemimpin Negara

Dansa yang Bikin Riang, Sehat, dan Muda


ROBERT ADHI KSP

Suasana panggung musik di The Breeze di kawasan BSD City, Tangerang, Banten, Minggu (10/5), meriah dengan kostum merah. Malam itu komunitas “country line dance” berdansa bersama menikmati musik country yang dimainkan grup band The Old Friends pimpinan Yunus Hidayat.

Komunitas dansa yang tergabung dalam Ikatan Langkah Dansa Indonesia (ILDI) di sebuah mal di kawasan Kota Tangerang.  Bergabung dengan komunitas dansa membuat hidup makin sehat dan gembira.
Komunitas dansa yang tergabung dalam Ikatan Langkah Dansa Indonesia (ILDI) di sebuah mal di kawasan Kota Tangerang. Bergabung dengan komunitas dansa membuat hidup makin sehat dan gembira. KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lagu-lagu bernuansa country, baik yang khas Amerika maupun Indonesia, dinyanyikan Yunus, Pingky Warouw dan Vera. Lalu-lagu itu mulai dari “Living on Love”, “Achy Breaky Heart”, “Jambalaya”, hingga “Bengawan Solo” dan “Balada Pelaut”. Lagu-lagu berirama cepat ataupun lambat itu mengiringi langkah-langkah para pedansa.

Salah satu pedansa yang aktif adalah Tanto Juk (65). Pengusaha ini bersama istrinya selalu tampil dengan kostum khas country, topi koboi, kemeja kotak-kotak jins, dan sepatu bot. Tanto berkeliling ke tempat-tempat yang menggelar dansa di Serpong dan Jakarta.

Sejak aktif dalam komunitas line dance tahun 2006, Tanto mengaku mendapat sejumlah manfaat, tubuhnya lebih sehat bugar karena sering bergerak dan daya ingatnya lebih baik karena melakukan line dance melatih daya ingat. “Itu membuat saya lebih segar dan merasa awet muda,” katanya.

Dia mengajak siapa pun juga yang senang berdansa untuk bergabung dalam komunitas line dance. Kegiatan ini tidak hanya terbatas untuk mereka yang berusia di atas 50 tahun, tetapi juga yang berusia di bawah 50 tahun bisa ikut bergabung.

Kompas Dansa 19 05 15

Lanjutkan membaca Dansa yang Bikin Riang, Sehat, dan Muda

Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina


ROBERT ADHI KSP

Sejak terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik dan pemimpin 1,2 miliar penganut Katolik di seluruh dunia, Maret 2013 silam, Paus Fransiskus (78) aktif memainkan diplomasi internasional. Tahun lalu, Paus membantu mencairkan hubungan Kuba dan Amerika Serikat yang sudah bermusuhan selama lebih dari setengah abad. Rabu (13/5) lalu, Vatikan menyatakan mengakui negara Palestina secara de facto.

Simbol Vatikan mengakui negara Palestina dilambangkan pula dengan kanonisasi dua biarawati Palestina, yaitu Suster Mariam Bawardy dan Marie-Alphonsine Danil Ghattas. Keduanya hidup pada abad ke-19 dan menjadi orang suci pertama dari Palestina. Mereka adalah dua dari empat biarawati yang dikanonisasi Paus Fransiskus dalam upacara seremonial di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang dihadiri Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan delegasi dari Israel serta 2.000 peziarah dari sejumlah negara. Dalam upacara itu, Paus melukiskan Mahmoud Abbas sebagai ”malaikat perdamaian”.

Diplomasi Paus Fransiskus

April 2015, Paus Fransiskus mengingatkan semua pihak perihal pembantaian Armenia yang menewaskan sekitar 1,5 juta warga Armenia pada masa Dinasti Ottoman, awal abad ke-20. Paus Fransiskus menarik perhatian dunia karena menggunakan kata ”genosida” untuk pembantaian massal tersebut. Pernyataan Paus Fransiskus sempat menimbulkan reaksi keras dari Pemerintah Turki yang mengatakan peristiwa itu terjadi pada masa Perang Dunia I.

”Paus Fransiskus seorang yang mampu berdoa di Blue Mosque di Istanbul dan kemudian berbicara tentang genosida Armenia. Dia bukan seseorang yang terikat oleh kebenaran politik. Itu diplomasi dari pemimpin yang sesungguhnya,” kata mantan Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini.

Setelah pendahulunya, Paus Benediktus XVI, lebih banyak berkutat pada persoalan teologi ilmiah, Paus Fransiskus mengembalikan wajah Gereja Katolik yang mengutamakan upaya perdamaian di dunia. Hal itu diwujudkan melalui langkah-langkah diplomasi seperti dilakukan Paus Yohanes Paulus II yang membantu mengakhiri Perang Dingin.

Lanjutkan membaca Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina

Arsip Kompas: Jakarta Membara dan Soeharto Siap Mundur


Mei 1998. Jakarta dilanda kerusuhan massa, masyarakat berkabung (atas kematian empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, akibat luka tembak), rupiah melunglai, Indeks Harga Saham Gabungan anjlok, dan Presiden Soeharto siap mundur. Empat berita yang dimuat di harian Kompas, Kamis, 14 Mei 1998 ini, memiliki korelasi yang erat. Penembakan empat mahasiswa Trisakti, 12 Mei, memicu aksi kerusuhan massa yang lebih luas, yang akhirnya menyebabkan rupiah melunglai dan IHSG anjlok. Kondisi dalam negeri yang memburuk itu memaksa Presiden Soeharto mempersingkat kunjungannya di Mesir dan menyampaikan pernyataan bahwa dirinya siap mundur setelah berkuasa selama 32 tahun.

“Kalau memang rakyat tidak lagi menghendaki saya sebagai Presiden, saya siap mundur. Saya tidak akan mempertahankan kedudukan dengan kekuatan senjata. Saya akan mengundurkan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa dan dengan keluarga, anak-anak dan cucu-cucu. Tetapi, semua itu harus dilakukan secara konstitusional. Kalau ada yang ingin melakukannya secara inkonstitusional, itu berarti mengkhianati Pancasila dan UUD 1945,” kata Presiden Soeharto dalam acara temu muka dengan masyarakat Indonesia di Mesir, sehari sebelumnya. Hal itu terungkap dalam berita berjudul “Kalau Rakyat Tak Lagi Menghendakinya, Presiden Siap Mundur” yang ditulis wartawan Kompas, J Osdar dan Musthafa Abd Rahman, dari Kairo, Mesir.

Arsip Kompas Jakarta Membara

Soeharto membantah informasi yang menyebutkan dia dan keluarganya menguasai hasil kekayaan Indonesia, juga informasi yang menyebut dia orang terkaya keempat di dunia setelah Ratu Inggris Elizabeth II, Raja Arab Saudi Fahd, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah. Soeharto menyebut informasi-informasi itu fitnah.

Presiden Soeharto waktu itu berada di Mesir menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-15 dan mempersingkat kunjungannya. Dia batal melakukan kunjungan kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak di Istana Koubbeh. Namun, Mubarak mengunjungi Soeharto di Hotel Sheraton Heliopolis.

Pernyataan Soeharto ditanggapi Ketua MPR/DPR Harmoko, seperti dimuat Kompas, 15 Mei 1998, “Pimpinan MPR Adakan Rapim Segera”. DPR, kata Harmoko, segera membahas pernyataan Presiden Soeharto yang disampaikan di Mesir. DPR akan membahasnya dalam Rapat Pimpinan MPR. Pada hari yang sama, pimpinan DPR menerima para praktisi hukum yang dipimpin Adnan Buyung Nasution yang meminta MPR segera menggelar sidang istimewa. “Kalau dalam keadaan normal, kita memang harus memakai mekanisme sesuai Tata Tertib MPR. Tapi, kalau sudah begini, siapa yang bisa menjamin pembakaran-pembakaran akan berhenti. Karena itu harus secepatnya,” ucap Adnan Buyung Nasution.

Dalam berita di hari yang sama berjudul “Para Tokoh Bentuk Majelis Amanat Rakyat, Siap Pimpin Bangsa secara Kolektif” disebutkan, sedikitnya 50 tokoh nasional di Jakarta, Kamis, 14 Mei 1998, membentuk kelompok pro demokrasi bernama Majelis Amanat Rakyat (MAR). Itu merupakan wadah kerja sama berbagai organisasi dan perorangan yang memiliki komitmen terhadap reformasi untuk demokrasi. MAR dibentuk setelah mereka melihat perkembangan di Indonesia yang makin memprihatinkan menyusul kemarahan massa terhadap pemerintah.

Ada tiga tuntutan MAR. Pertama, menyerukan kepada Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dengan kebesaran jiwa dan kehormatan demi kepentingan bangsa agar seluruh proses reformasi untuk demokrasi dapat berjalan dengan lancar dan damai. Kedua, menyerukan kepada aparat keamanan untuk menghindarkan diri dari segala bentuk penggunaan kekerasan kepada rakyat sehingga keadaan yang lebih buruk dapat dicegah. Ketiga, mengimbau mahasiswa, generasi muda, dan rakyat pada umumnya untuk sungguh-sungguh dan secepatnya menciptakan perubahan situasi yang memungkinkan pemulihan segera kehidupan masyarakat secara wajar.

Lanjutkan membaca Arsip Kompas: Jakarta Membara dan Soeharto Siap Mundur

Insiden Trisakti Mei 1998 dalam Arsip “Kompas”


ROBERT ADHI KSP

Peristiwa 12 Mei 1998 mengguncang negeri ini. Insiden penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, tak sekadar menjadi catatan sejarah perguruan tinggi swasta tersebut, tetapi sudah merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia. Insiden penembakan yang menewaskan empat mahasiswa dan melukai sembilan mahasiswa lainnya merupakan awal kebangkitan reformasi dan pemicu yang menjatuhkan rezim pemerintahan Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun.

Harian Kompas, Rabu 13 Mei 1998, menurunkan berita utama “Enam Mahasiswa Tewas”. Semula kabar yang beredar memang enam mahasiswa yang tewas, tetapi keesokannya dipastikan mahasiswa yang tewas empat orang. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi).

Insiden Trisakti Mei 1998

Namun, 17 tahun berlalu, sampai tahun 2015 keluarga empat mahasiswa yang tewas masih menyimpan kesedihan dan menanti keadilan. Apakah pemerintahan Joko Widodo berkomitmen menuntaskan kasus penembakan mahasiswa Trisakti itu?

Setiap tahun peringatan kasus Trisakti dan Mei 1998 hanya sekadar acara seremonial belaka dan repetisi janji pemerintah yang akan menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu. “Pernyataan Jaksa Agung M Prasetyo, April 2015 lalu, bahwa Kejaksaan Agung membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) hanya repetisi pernyataan-pernyataan pemerintah dari rezim ke rezim. Sampai saat ini tak ada kemajuan berarti, bahkan hasilnya nol besar,” kata Ketua Setara Institute Hendardi dalam pernyataan persnya, Rabu (13/5).

Rezim Joko Widodo-Jusuf Kalla, kata Hendardi, sejak awal tidak menunjukkan kemauan politik yang kuat untuk menyelesaikan pelanggaran HAM pada masa lalu. Ini terlihat dari sosok Jaksa Agung yang dipilih, yang dinilainya tidak sungguh-sungguh berkehendak memutus mata rantai impunitas. Pengguna media sosial Kartika Djoemadi dalam akun Twitter-nya mengingatkan pengungkapan penembakan ini harus dituntaskan dan reformasi belum selesai.

Kilas balik

Ketika terjadi penembakan, Selasa 12 Mei 1998, empat mahasiswa yang tewas itu berada di antara ribuan mahasiswa yang menggelar aksi keprihatinan di Kampus Universitas Trisakti di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Aksi keprihatinan yang digelar di halaman parkir kampus dimulai sekitar pukul 11.00 dan diikuti mahasiswa, dosen, pegawai, serta para alumnus universitas swasta terkemuka di Indonesia tersebut. Semula mereka akan mendengar orasi Jenderal Besar AH Nasution, tetapi tidak jadi datang sehingga mereka mendengar berbagai orasi dari para guru besar, dosen, dan mahasiswa.

Lanjutkan membaca Insiden Trisakti Mei 1998 dalam Arsip “Kompas”

Hidup seperti Raja, Fidel Castro Bergelimang Kemewahan dan Perempuan Simpanan


ROBERT ADHI KSP

Bagaimana pemimpin Kuba Fidel Castro yang lantang meneriakkan anti kapitalis dan anti borjuis ternyata hidup seperti seorang raja di sebuah pulau rahasia dikelilingi para perempuan simpanannya? Rahasia yang terpendam lama ini diungkap mantan pengawal Castro, Letnan Kolonel Juan Reinaldo Sanchez, yang selama 17 tahun berada bersama pemimpin gerakan sosialis Amerika Latin itu dalam bukunya, The Double Life of Fidel Castro: My 17 Years as Personal Bodyguard to El Lider Maximo.

Buku yang diterbitkan St Martin Press dan bisa dibeli di Amazon.com mulai 12 Mei 2015 dengan harga 17,76 dollar AS itu ditulis Sanchez bersama Axel Glyden. Buku yang tersedia dalam edisi cetak danelektronik (e-book) ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Perancis dengan judul La Vie Cachee de Fidel Castro (Editions Michel Lafon). Dalam edisi bahasa Spanyol, buku ini berjudul La Vida Oculta de Fidel Castro.

Buku Fidel Castro

Buku ini mengungkap Fidel Castro yang hidup dalam dua sisi berlawanan. Di Amerika Latin, Castro merupakan contoh inspiratif, menjadi panduan, seorang mentor, dan tokoh politik yang berpengaruh. Dunia terpukau dan mengagung-agungkan Castro sebagai pemimpin revolusioner yang rendah hati dan bersuara lantang mengecam konsep hidup borjuis. Namun, pada kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, Castro hidup bergelimang kemewahan. Di sisi lain, sebelas jutaan rakyat Kuba hidup dalam penderitaan, kelaparan, dan kemiskinan ekstrem.

Rumah-rumah dan istana kepresidenan Castro yang mewah dan kota hantu tempat para gerilyawan dilatih merupakan rahasia terpendam. Demikian juga jumlah uang yang didapatkannya dari anggaran negara. Castro mengumpulkan kekayaan pribadi sangat banyak, yang memungkinkan dia hidup seperti pangeran atau raja. Setiap malam, dia meneguk wiski dan dikelilingi para perempuan cantik.

Castro hidup mewah dan tinggal bergantian di 20 rumahnya dan di pulau tropis, Cayo Piedra, yang dianggap sebagai surga tropis tak tertandingi di dunia. Di pulau rahasia inilah, Castro menjalin hubungan rahasia dengan sejumlah perempuan, yaitu Juana Vera (penerjemah bahasa Inggris), Gladys (pramugari maskapai Kuba), Pilar (penerjemah berbahasa Perancis), dan Celia Sanchez yang berada di jantung revolusi Kuba bersama Castro.

Pada akhir pekan, Castro bersama perempuan rahasianya, Dalia Soto del Valle, temannya sejak 1961. Kehadiran Dalia misterius dan tidak diketahui 11 juta rakyat Kuba. Dalia yang menjadi pendampingnya paling lama akhirnya menjadi istri dan ibu dari lima anak Castro.

Lanjutkan membaca Hidup seperti Raja, Fidel Castro Bergelimang Kemewahan dan Perempuan Simpanan

Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda


ROBERT ADHI KSP

Setiap tanggal 3 Mei, jurnalis di seluruh dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day). Namun, setiap tahun pula, kalangan jurnalis masih harus prihatin. Dalam 10 tahun terakhir, sedikitnya 675 jurnalis terbunuh. Negara-negara yang sedang dilanda perang di kawasan Timur Tengah menjadi negara yang mematikan bagi para jurnalis. Setelah Suriah dan Irak di Timur Tengah, Filipina merupakan negara di kawasan Asia Tenggara yang paling berbahaya bagi jurnalis.

Bahkan, menjelang peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, John Kituyi (63), editor The Mirror Weekly, surat kabar di kota Eldoret, Kenya barat, tewas setelah diserang orang tak dikenal, Kamis (30/4). Jurnalis setempat mengatakan, pembunuhan John Kituyi diduga terkait tulisan yang diturunkan seminggu sebelumnya. Tulisan itu tentang Wakil Presiden Kenya William Ruto dan pejabat lain yang diseret Mahkamah Kriminal Internasional karena terlibat dalam kejahatan kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi menyusul pemilu Desember 2007 silam.

Hari Kebebasan Pers Dunia

Di Somalia, seorang jurnalis radio, Daud Ali Omar (35), tewas diberondong tembakan oleh lelaki bersenjata di rumahnya di kota Baidoa, Rabu (29/4). Daud, produser Radio Baidoa yang pro pemerintah, sering meliput kekerasan regional dan politik lokal. Belum ada kelompok yang bertanggung jawab, tetapi jurnalis setempat dan polisi menduga kelompok militan Al-Shabab yang melakukan pembunuhan tersebut.

Masih pada bulan April, seorang jurnalis televisi Libya, Muftah al-Qatrani (33), ditembak mati di kantornya di kota Benghazi, Libya timur, Rabu (22/4). Libyan Center for Freedom of the Press dalam pernyataan persnya menyebutkan, pembunuhan jurnalis televisi itu terkait dengan pekerjaannya.

Menurut situs Committee to Protect Journalists (CPJ), sejak Januari sampai awal Mei 2015, tercatat 21 jurnalis terbunuh dengan motif yang sudah dikonfirmasi. Mereka berasal dari Banglades (2), Brasil (1), Guatemala (1), Ukraina (1), Suriah (1), Sudan Selatan (5), Perancis (8), Meksiko (1), dan Yaman (1). Sementara enam jurnalis lain terbunuh dengan motif yang belum terkonfirmasi. Mereka berasal dari Kolombia (2), Yaman, Guatemala, Brasil, dan Filipina (masing-masing satu orang). Lanjutkan membaca Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda