Buku-buku Robert Adhi Ksp


                  

 

bukuKSP2018

Buku-buku Robert Adhi Ksp yang terbit sejak 2009 sampai 2018

 

Selain bekerja sebagai wartawan Harian Kompas, saya juga penulis buku. Sampai saat ini saya sudah menulis delapan  buku yang diterbitkan.  Buku pertama yang saya tulis adalah “Panggil Aku King” (2009).

Buku terbaru saya yang diterbitkan pada bulan Mei 2018 adalah “Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden – My Love for My Country” (Penerbit Buku Kompas) dan “Strela Senjaya: A Simple Woman with a Golden Heart: Stella Maris School Founder” (Gramedia Pustaka Utama).

 

Buku kesembilan “Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden” (terbit Mei 2018)

SOFJAN WANANDI DAN TUJUH PRESIDEN SAMPUL-KSP2018  .jpg
sampul buku “Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden – My Love for My Country” (Penerbit Buku Kompas, Mei 2018)

 

 

Buku ke-10 “Strela Senjaya: A Simple Woman with a Golden Heart” (Mei 2018)

Strela Senjaya1 -cover.jpg
sampul buku “Strela Senjaya: A Simple Woman with a Golden Heart: Stella Maris School Founder” (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2018)

 

                                A SIMPLE WOMAN WITH A GOLDEN HEART

A simple woman with golden heart. Seorang ibu sederhana berhati emas. Julukan ini sangat tepat disematkan pada Ibu Strela Senjaya, founder Stella Maris School.

Strela adalah sosok perempuan yang memiliki hati yang luar biasa, yang menaburkan cinta kepada anak-anak yang telah kehilangan cinta dan kasih sayang dari orangtua kandung mereka. Strela merawat dan membesarkan anak-anak yang dengan sengaja ditinggal orangtua mereka menjadi anak sebatang kara, sendirian, kedinginan, dan kesepian.

Strela mengangkat anak-anak yang “terbuang” itu, lalu mengembalikan mereka dalam keadaan terhormat, dan menjadikan mereka sosok insan yang mandiri.  Sungguh beruntung anak-anak yang ditampung, dirawat dan dibesarkan Strela dengan penuh cinta itu.

Yang menarik dari sosok Strela sebenarnya adalah dia melakukan itu semua pada saat kehidupan keluarganya belum mapan.

Bisa dibayangkan bagaimana di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai dokter gigi di sejumlah klinik kesehatan, Strela dengan telaten merawat dan membesarkan anak-anak asuhnya dengan cinta.  Sementara pada saat yang sama, Strela juga masih harus berjuang membesarkan kedua putranya, Michel dan Pierre, hasil pernikahannya dengan Lukman Senjaya.

Strela menabur cinta dan kebaikan tersebut mengalir begitu saja. Ketika menampung anak-anak asuhnya, Strela belum memikirkan anak-anak itu akan tidur di mana, bagaimana merawat dan membesarkan mereka semua, termasuk mengurus pendidikan dan kesehatan mereka. Strela membawa lima anak asuh pertamanya ke rumahnya di kawasan Kelapa Gading, tidur di kamar ber-AC dan bermain bersama dua putranya.

Ketika suaminya, Lukman Senjaya, mendadak terkena serangan jantung pada 1993, Strela langsung tersentak. Bagaimana dia bisa menghidupi anak-anak asuhnya yang jumlahnya terus bertambah, sementara dia sendiri masih harus membesarkan kedua putranya?

Sebenarnya Strela bisa saja menyerahkan anak-anak asuhnya ke panti asuhan lain, namun itu tidak dilakukannya. Strela malah berpikir keras bagaimana anak-anak asuhnya dapat melanjutkan pendidikan.

Pikirannya sederhana: daripada harus mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan anak-anak asuhnya, lebih baik dia mendirikan sekolah sendiri. Strela ingin pendidikan anak-anak asuh yang dia rawat dan dia besarkan terjamin.  Betapa mulianya hati Ibu Strela.

Strela memilih lokasi di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang karena harga tanah di wilayah itu masih relatif murah. Pada 1995, atau dua tahun setelah suaminya meninggal, Strela mulai membuka sekolah Stella Maris di ruko di BSD. Di sini, mukjizat Tuhan terjadi. Jumlah siswa yang mendaftar melebih ekspetasi. Bahkan banyak orangtua siswa yang meminta Strela membuka kelas-kelas berikutnya.

Mereka berupaya mewujudkan sekolah itu meski dalam keterbatasan dana. Strela dan guru-guru pionir yang direkrutnya bahkan tidak pernah berpikir Stella Maris akan berkembang dan menjadi besar seperti sekarang.

Strela dan anak-anaknya tidak memiliki latar belakang dalam dunia pendidikan ketika mendirikan Stella Maris. Kepedulian dan kecintaannya pada anak-anak asuh mengantarkan dia pada keputusan untuk mendirikan sekolah sendiri untuk anak-anak itu. Tangan Tuhan bekerja dalam perjalanan Stella Maris.                                                                                                                                 ***

Lahir di Lasem, kota kecil di pantai utara Jawa Tengah, yang menyimpan sejarah panjang kehidupan bertoleransi, Strela sejak kecil sudah terlatih menjadi anak yang tangguh dan mandiri.

Dia terkesan dengan gurunya, Pak Mustopo, yang membantu mengarahkannya melanjutkan pendidikan SMP dan SMA (sampai kelas I) di Rembang. Merasakan kebaikan guru yang begitu besar, pernah terlintas dalam benak Strela untuk bercita-cita menjadi guru.

Jalan hidupnya membuat Strela tidak menjadi guru. Dia menjadi dokter gigi. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, dia mendirikan sekolah Stella Maris. Tentu saja dia masih ingat kebaikan hati gurunya, Pak Mustopo, yang pernah membantunya mencarikan sekolah terbaik. Karena itulah tidak heran bila Strela sangat menghormati profesi guru. Pada masa awal Stella Maris didirikan, Strela sering membawakan makanan dan buah-buahan untuk guru-guru pionir sekolah itu.

Tuhan memberkati apa yang dilakukan Strela Senjaya. Cintanya pada anak-anak asuh yang dirawat dan dibesarkannya sejak kecil merupakan cinta yang tulus dan ikhlas. Apa yang sudah diberikan drg Strela untuk anak-anak itu, “dikembalikan” Tuhan lewat Stella Maris. Sekolah itu berkembang pesat dan menjadi salah satu sekolah unggulan di kawasan Serpong, Tangerang.

Kini Stella Maris yang didirikannya dengan susah payah dan penuh perjuangan itu berkembang pesat dan menjadi salah satu sekolah swasta Katolik yang dibanggakan.                                                                              ***

Penulis mewawancarai Ibu Strela Senjaya dalam sepuluh kali pertemuan pada bulan September – Desember 2017 dan Januari-Februari 2018 di ruang praktik dokter giginya di ruang depan rumahnya di Kelapa Gading.

Beberapa kali wawancara sempat terhenti sejenak karena drg Strela harus melayani pasiennya yang datang pada pagi hari. Dia tidak menolak pasien yang datang, apalagi jika pasien itu orang tidak berada. Ibu Strela bahkan tidak memungut biaya untuk pasien-pasien tersebut.

Kesan saya: Ibu Strela memang seorang sosok ibu yang rendah hati dan penuh perhatian.   

Ketika saya berangkat ke Kelapa Gading, saya memilih memesan taksi daring. Begitupun saat akan pulang. Sambil menunggu taksi daring tiba, saya menunggu di bawah pohon di depan rumahnya.  Ibu Strela ikut menemani saya sampai taksi daring datang meski saya sudah meminta agar Ibu Strela tidak perlu repot-repot menunggui saya.  

Pada pertemuan keempat, Ibu Strela menyerahkan kartu undangan. “Ini undangan pesta pernikahan anak asuh pertama saya, Dharma. Datang ya,” kata Ibu Strela kepada saya.

Saya menyempatkan hadir dalam resepsi pernikahan anak asuhnya yang meriah di sebuah restoran di Jakarta Pusat. Saya melihat Ibu Strela tampil sebagai sosok seorang ibu yang betul-betul sayang pada Dharma. Kerendahan hatinya terlihat bagaimana dia membagi cinta tulusnya untuk anak-anak asuhnya.

Sungguh luar biasa Ibu Strela. Tidak hanya menampung, merawat, membesarkan anak-anak asuh yang telah kehilangan cinta sejak mereka lahir di dunia, tetapi juga mengantarkan mereka sampai ke jenjang pernikahan.

Tidak banyak orang yang memiliki hati emas seperti Ibu Strela. Itulah salah satu alasan mengapa saya bersedia meluangkan waktu untuk menulis perjalanan hidup seorang ibu sederhana berhati emas ini.

Dokter gigi ataupun kalangan profesional yang menampung anak-anak tidak beruntung, jumlahnya banyak. Yang mungkin langka adalah dokter gigi Strela melakukan itu ketika kondisi finansial keluarganya masih belum mapan. Saat itu dia masih berjuang keras, mencari uang untuk menghidupi keluarganya sendiri.

Dalam kondisi seperti itulah, drg Strela mau menampung, merawat anak-anak asuh dengan biaya pribadinya sejak bayi sampai mencapai usia dewasa. Sosok keibuannya terlihat benderang karena dia berusaha agar anak-anak asuhnya tetap sehat dan mengenyam pendidikan berkualitas sampai mereka menjadi insan mandiri.

Semoga buku ini memberi inspirasi bagi para pembaca untuk tetap berbagi kepada mereka yang membutuhkan.  (BSD, 16 Februari  2018, Robert Adhi Ksp) — DIKUTIP DARI KATA PENGANTAR  BUKU “STRELA SENJAYA: A SIMPLE WOMAN WITH A GOLDEN HEART”–

KSP dan Strela
Bersama Ibu Strela Senjaya, “Founder” Stella Maris School, Januari 2018

                                                                      ***               

                                      Buku kedelapan  (terbit April 2017) 

      “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer”

Chief Entertainment Officer_C-1+4_Page_1.jpg

 Chief Entertainment Officer. Julukan ini sangat pas diberikan kepada Tony Wenas, yang sehari-harinya menjabat Chief Executive Officer atau CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan Managing Director APRIL Group. Mulai 1 Maret 2017, Tony kembali ke PT Freeport Indonesia. “Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya,” demikian banyak sahabat dan koleganya menggambarkan diri Tony Wenas saat ini.

Julukan Chief Entertainment Officer keluar dari mulut Nico Kanter, Presiden Direktur dan CEO PT VALE Indonesia, yang juga sepupu Tony. Nico yang menjadi teman main Tony sejak kecil, tahu persis siapa Tony.

IMG_8908 (1)
Bersama Pak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, November 2016

Nico Kanter dan kakaknya, Johnny Kanter, serta semua kakak adik Tony Wenas terkagum-kagum dan mengakui betapa Tony seorang genius sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Tony sudah mampu menyanyikan lagu orang dewasa, yang saat itu sedang populer, “Ten Guitars”, yang awalnya dibawakan penyanyi Inggris Engelbert Humperdinck pada 1967.

Pada usia 13 tahun, Tony mampu memainkan semua lagu berirama ragtime dan soundtrack film “The Sting” yang dirilis akhir tahun 1973, di antaranya “The Entertainer” ciptaan Scott Joplin yang digubah Marvin Hamlisch. Tony tak pernah belajar piano dengan benar. Dia hanya mendengar dan melihat, lalu mempraktikkannya.

Teman masa kecilnya, Inoe Arya Damar terheran-heran melihat kepiawaian Tony bermain piano. “Saya menilai Tony bukan orang yang senang menonjolkan diri secara berlebihan. Dia akan menunjukkan kehebatannya ketika diminta,” ungkap Inoe, sahabat SD. Adapun sahabat SMP-nya, Dion Simatupang sering membalas surat-surat cinta teman perempuan yang naksir Tony. Bahkan Tony tidak pernah tahu Dion yang membalas surat cinta itu.

Di SMA Kanisius, Tony menghidupkan band sekolah dan sering merebut juara lomba vocal group antar-SMA se-Jakarta. Tony latihan bersama teman- temannya, di antaranya Dwi Hartanto. “Berkat aktivitasnya dalam dunia nyanyi dan musik sejak SMA, Tony punya modal kuat dalam pergaulan,” kata Dwi Hartanto, yang kini pengusaha listrik.

Rhenald Kasali, teman sekelasnya di Kanisius menilai Tony mampu memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. “Jarang ada orang seperti Tony,” kata Kasali, kini guru besar di Universitas Indonesia.

Ketika berusia remaja, Tony bercita-cita ingin menjadi musisi beken. Tony berhasil mewujudkannya dalam waktu enam sampai tujuh tahun kemudian. Melalui band “Solid 80”, band yang dibentuk Tony dan kawan-kawannya saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tony tampil sebagai musisi terkenal pada masa itu.

Sampai saat ini Tony memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman- teman band “Solid 80”, yaitu Setiawan Adi, Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Glenn Tumbelaka, Boyke Sidharta dan Edi ‘Achink’ Nugroho. “Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat,” kata Hendrasly.

Pada masa itu, profesi musisi belum memberi jaminan masa depan. Tony memilih untuk bekerja sebagai profesional. Sesama “anak band”, Triawan Munaf (kini Kepala Badan Ekonomi Kreatif) yang pada masa itu bergabung dalam band “Giant Step” menilai Tony tetap bermusik secara profesional meski menjabat sebagai CEO.

Kepemimpinan yang efektif

Pada awal kariernya, Tony lebih fokus pada pekerjaan. Setelah mulai mapan, Tony tetap “ngeband”, menyanyi dan memainkan alat musik di tempat kerjanya. Tony berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari perusahaan migas ARCO (yang kemudian berubah menjadi BP), kemudian perusahaan perbankan dan telekomunikasi.

Tony melamar bekerja di Freeport, dan dalam tujuh tahun, kariernya melesat sampai menduduki jabatan Executive Vice President. Bagi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (saat itu) Adrianto Machribie, Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

Adrianto Machribie berpendapat, banyak orang yang mencoba naik ke atas dengan cara “menendang” ke kiri dan kanan, tetapi Tony berkembang tanpa harus “menyikut”, “melukai” ataupun “menendang” orang lain. Dia dipilih karena prestasi yang diukirnya sendiri.

Tony Wenas dinobatkan sebagai “The Indonesia Most Admired CEO 2016” atau CEO Idaman Indonesia pada 8 Desember 2016 dari majalah “Warta Ekonomi”. Sebelumnya, pada 2 Maret 2016, Tony Wenas dinobatkan sebagai salah satu CEO Terbaik (The Best CEO) versi “Men’s Obsession” dan menerima “Obsession Awards 2016” sebagai “Best Individual Achiever Category CEO Private Sector”. Penghargaan-penghargaan sebagai CEO Terbaik yang diterima Tony Wenas sepanjang 2016 merupakan apresiasi pihak luar kepada dia dan apa yang telah dia lakukan. Tony selalu mengatakan, keberadaannya di perusahaan harus memberi manfaat lebih bagi semua pihak. Sebab bila sama saja, artinya dua hanya “CEO rata-rata”.

Tidaklah heran bila nama Tony Wenas masuk dalam daftar headhunter mengingat kemampuan Tony melakukan lobbying, menjalin networking, dan kemampuan teknisnya. Dia paham masalah kehutanan, pertambangan, dan perbankan, meski tidak sampai detail.

Kalimat kunci yang sering disampaikan Tony adalah dia mengelola perusahaan seperti pengalamannya mengelola band. Dia mengelola orang-orang dalam perusahaan itu seperti dia mengelola para pemain dalam grup band. “It’s about managing people,” kata Tony. Memimpin perusahaan ibarat memimpin orkestra dan band. Seorang pemimpin orkestra tahu kapan pemain tertentu harus dominan dan kapan dia harus lembut, instrumen apa yang perlu tampil di depan, dan kapan di belakang. Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Cara Tony menangani persoalan selalu mujarab. Apapun persoalan yang dihadapinya, Tony mampu menyelesaikan dengan baik. “Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure),” kata Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur PT VALE Indonesia. “Saya terkesan pada Tony karena logical thinking-nya sangat kuat. Sekompleks apapun persoalan, dia melakukan pendekatan logical thinking sehingga persoalan cepat diurai, penerapan solusi lebih tepat, dan penyelesaian masalah pun cepat terlaksana,” kata Hendra Sinadia, sahabat Tony yang sekarang aktif di Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dan Apindo.

Problem is my middle name. Tony mengibaratkan namanya Tony “Problem” Wenas. Semua perusahaan tempat dia bekerja, menghadapi banyak persoalan hukum, dan sebagai lawyer, Tony mampu membereskan problem yang dihadapi perusahaan.

Daniel A Bowman yang pernah menjadi atasan Tony di Freeport menilai, Tony Wenas lawyer terbaik yang pernah bekerja sepanjang sejarah Freeport, bahkan terbaik di Indonesia. “Saya sering melihat lawyer di Indonesia hanya profesional tetapi tidak bertanggung jawab sebagai problem solver. Tapi Tony berbeda. Dia ikut memecahkan persoalan yang sangat berat yang dihadapi Freeport, dari masalah lingkungan, keamanan, capital market, dan dia menyelesaikannya dengan baik. Banyak lawyer mempromosikan diri, tetapi Tony melakukan secara confidential karena dia memikirkan kliennya, Freeport,” kata Bowman.

HS Dillon, yang pernah menjabat Senior Advisor di PT Freeport Indonesia, menilai Tony Wenas memiliki integritas dan dignity di perusahaan tempat dia bekerja.

Esterini Wahyudisheno, Head of Legal PT RAPP, yang pernah bekerja dengan Tony di Freeport dan RAPP menilai, Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

Di mata sekretarisnya, Winda Herlina (saat di INCO/VALE), “Pak Tony sosok pemimpin mandiri”, sedangkan di mata Yenny Lie (sekretaris di RAPP), “Pak Tony memiliki daya ingat yang luar biasa.”

Tony masih sering menyanyi dan tampil bersama band “Solid 80” yang dipimpinnya hingga kini. Bahkan Tony bisa jadi satu-satunya CEO yang masih “ngeband” dan dibayar secara profesional. Dengan cara itu, Tony ingin menegaskan, musisi harus dihargai secara profesional. “Tony sukses dalam kehidupan profesional dan sebagai musisi. Ini bukti nyata, bila seorang seniman dan musisi diberi kepercayaan memimpin perusahaan, dia mampu melakukannya dengan baik,” kata Tantowi Yahya, sahabat Tony. Tantowi Yahya adalah Ketua Umum PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia) dimana Tony juga duduk sebagai Bendahara Umum, dan juga politisi Partai Golkar yang kini Duta Besar RI untuk Selandia Baru.

Tony juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi probono. Dia membangun Rumah Retret di Tomohon, Sulawesi Utara yang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan. Tony aktif di Indonesia Business Council for Sustainable Development, The Nature Conservancy, KADIN, Indonesia Mining Association, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia, alumni Canisius College, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kerukunan Keluarga Kawanua dan Komunitas Keluarga Wenas se-Indonesia.

Tony Wenas dan KSP3 - pelengkap tulisan KSP
Bersama Tony Wenas di studio musik di rumahnya, Desember 2016

Mencintai keluarga
Tony dijuluki sebagai family man, lelaki yang mencintai keluarganya. Dari sejumlah wawancara yang dilakukan, sahabat dan keluarga Tony mengakui Tony hanya mencintai perempuan bernama Shita Manik-Wenas yang sekarang menjadi istrinya. “Dia tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Cinta Tony hanya pada Shita,” kata Paul Nelwan, sahabat dekat Tony.

Hanya Shita yang berhasil mendampingi Tony dan membuat hidupnya kembali normal. Sebelumnya Tony sempat seperti “layang-layang putus” dan sering minum dan dugem dan mabuk, terutama pada masa dia sempat berpisah dengan Shita. Namun Tony tidak menyerah dan itulah yang membuat Shita kembali pada Tony. “Jodoh tak lari ke mana,” kata Johnny Kanter, sepupu dan teman Tony sejak kecil. Johnny mengakui, Tony memang bandel di masa kecil dan remajanya tetapi dia sukses dalam hidupnya.

Di mata istrinya, Shita, “Tony is the best husband.”, sedangkan di mata putranya, Diego Wenas, “Papa sudah seperti teman dekat.”

“Bon vivant”
“Tony seorang bon vivant,” kata HS Dillon, sahabat Tony. Dan memang, Tony menerapkan prinsip work hard, play hard dalam kehidupannya. Meski sibuk dalam bekerja, dia tetap punya waktu untuk bergembira. Dia seorang penikmat wine. Pada masa remajanya, Tony sudah puas minum whisky dan sejenisnya.

“Tony menggabungkan antara pekerjaan, pleasure dan fun. Meski dia pulang larut malam setelah ‘ngeband’ atau nyanyi-nyanyi, tetapi pagi harinya dia sudah tiba di kantor lagi tepat waktu,” kata Clementino Lamury, Director & Executive Vice President PT Freeport Indonesia di bidang External Affairs. Clementino mengakui Tony Wenas adalah guru dan mentornya. “Tony hidup dalam keseimbangan antara sebagai profesional dan sebagai penyanyi. Dia CEO yang bisa hidup di dua dunia berbeda. Dia bukan CEO yang hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan,” kata Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group.

Work and fun are soulmates. Kalimat itu diambil dari cendera mata yang diberikan karyawan Freeport Indonesia kepada Tony ketika dia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tony setuju ketika disampaikan usul kata-kata yang menggambarkan dirinya itu menjadi judul buku ini.

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.
***

Suasana wawancara yang hidup
Saya mewawancarai Tony Wenas sejak pertengahan Oktober 2016 sampai pertengahan Desember 2016 di Burgundy, Hotel Grand Hyatt Jakarta, di MO Bar, Hotel Mandarin Jakarta, dan di kediamannya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, serta wawancara tambahan pada awal Februari 2017 di Social House di Grand Indonesia. Setiap saya mewawancarai Pak Tony di Burgundy, MO Bar, Social House, dan di rumahnya, saya selalu disuguhi wine. Sungguh menyenangkan.

Karena Pak Tony Wenas seorang penyanyi, dalam beberapa bagian wawancara, Tony memberi ilustrasi dengan mendendangkan lagu. Misalnya ketika bercerita saat dia berusia 4 tahun dan sudah fasih menyanyikan lagu berjudul “Ten Guitars”. Tony memberi contoh dengan menyanyikan beberapa bait lagu yang dibawakan kali pertama oleh penyanyi Inggris kelahiran Madras, India, Engelbert Humperdinck.

caption id=”attachment_3330″ align=”alignnone” width=”3264″]Tony Wenas di studio musik di rumahnya - foto KSP Tony Wenas di studio musik di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Desember 2016

Saat bercerita pada usia 13 tahun, dia fasih memainkan soundtrack film “The Sting”, Tony mendendangkan satu lagu, dan saya langsung menebak dengan tepat, “The Entertainer”. Juga ketika Tony menceritakan satu momen hidupnya saat pemakaman ayahnya, dia menyanyikan lagu berjudul “Papa” ciptaan Titiek Puspa. Di depan saya, Tony menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Pada lain waktu, wawancara dilakukan di rumahnya di Jalan Sindanglaya, Menteng. Tony mengajak saya ke studio musik di lantai dua rumahnya. Tony menyalakan lampu sorot seolah kami berada di atas panggung, kemudian dia memainkan keyboard sambil menyanyikan lagu-lagu Phil Collins dari grup Genesis, dan Queen. Suasana wawancara dengan Tony Wenas menjadi hidup dan saya sangat menikmatinya. (Robert Adhi Ksp)

(Dikutip dari kata pengantar penulis dalam buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates, PT Gramedia Pustaka Utama, terbit April 2017)

***

                                        Buku ketujuh (terbit Agustus 2016)

“Tanto Kurniawan  – Cash Flow is King – Pembangunan Jaya – Paramount Serpong – Jababeka” 

Buku ketujuh yang saya tulis berjudul “Tanto Kurniawan – Cash Flow is King – Pembangunan  Jaya-Paramount Serpong-Jababeka”. Buku yang diterbitkan Bhuana Ilmu Populer ini rencananya akan beredar di toko buku Gramedia pertengahan Agustus 2016.

Sampul Cash Flow is King
Sampul buku “Tanto Kurniawan: Cash Flow is King”. Buku ini akan beredar di toko buku Gramedia, pertengahan Agustus 2016. FOTO: DOK PENERBIT BHUANA ILMU POPULER
Tanto Kurniawan
Bersama Pak Tanto Kurniawan, Oktober 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015

Mengapa menulis Tanto Kurniawan?

Pembangunan Jaya dan Bintaro Jaya
Mengapa menulis Tanto Kurniawan? Siapa sebenarnya Tanto Kurniawan? Tanto mengawali karier profesionalnya pada tahun 1981 di PT Pembangunan Jaya, pengembang properti terbesar dan perusahaan paling bergengsi pada masanya. Dia menguasai bidang keuangan dan masalah pertanahan. “Tanto seorang perfeksionis,” kata Teras Narang, sahabat Tanto.

Ketika bertugas di Biro Keuangan, Tanto mengawasi keuangan Proyek Senen Blok I dan II, pertokoan sangat modern pada masanya. Tanto tidak berkompromi dengan orang-orang yang menyalahgunakan keuangan di perusahaan itu. Tanto juga mendapat tugas “menyehatkan” PT Capitol Mutual Corporation (CMC) yang sudah karut-marut dan hampir “karam”. Banyak aset perusahaan tidak produktif dan banyak utang tidak terbayarkan. Dia mengamputasi bagian-bagian yang busuk dan memperkuat bagian-bagian yang sehat, sampai “cash flow” PT CMC menguat kembali.

Tanto juga memperbaiki “cash flow” dan citra Ancol. Dia menemukan banyak kebocoran tiket masuk Ancol dan inefisiensi di unit-unit usaha di antaranya Gelanggang Samudera dan Dunia Fantasi. Berkat Tanto, Ancol berhasil melunasi kredit dari Bank BNI sehingga unit usaha Rekreasi tak lagi “minus”, malah “cash flow”-nya bersaldo positif.

ksp tanto2
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 28 Juli 2016 di rumahnya

Ketika ditugaskan mengelola Bintaro Jaya tak lama setelah PT Pembangunan Jaya mengakuisisi lahan di Bintaro dari PT Metropolitan Devindo, Tanto melakukan banyak terobosan. Itu membuat Bintaro Jaya dikenal sebagai hunian selebritas dan profesional muda.

Meskipun tidak bergelar MBA, gelar yang digandrungi banyak perusahaan pada masanya, Pada Juni 1991 Tanto dipilih menjadi direktur paling muda dari sembilan direktur di Pembangunan Jaya. Dia membawahi bidang real estate yaitu Bumi Serpong Damai, Jaya Property, Jaya Realty, Bukit Semarang Jaya Metro, Pembangunan Timur Sejahtera, Pembangunan Sulut Sejahtera; dan bidang keuangan di Jaya Bank. Tanto diminta mempersiapkan unit-unit di Pembangunan Jaya yang bisa “go public”.

Tanto berhasil merelokasi sekolah internasional British International School dan Jakarta Japanese School ke Bintaro Jaya, serta Sekolah Global Jaya dibangun. Fasilitas Bintaro Jaya secara bertahap makin bertambah dan makin lengkap. Itu menjadi nilai tambah bagi Bintaro Jaya.

Tanto berhasil membuat Jaya Real Property mengakuisisi Kebayoran Regency dari Kalbe Group, dan membangunnya menjadi Graha Raya. Tanto juga hampir saja membuat Jaya mengakusisi Alam Sutera dan Kedaton di Tangerang. Tetapi Tanto menyadari, “enough is enough”.

Penasihat Keuangan
Ketika terjadi krisis ekonomi mengguncang ekonomi Indonesia tahun 1998, Tanto Kurniawan diminta menjadi penasihat keuangan (financial advisor) sejumlah perusahaan, mulai dari pusat pertokoan di Surabaya, pabrik tekstil di Bandung, resort di Bali, perusahaan kimia di Jakarta, sampai perusahaan perbankan, pertambangan, dan jasa keuangan di Jakarta.

Ketika menjadi “financial advisor”, Tanto mengamati banyak perusahaan properti baru bermunculan setelah terjadi alih kepemilikan. Tanto juga mengamati terjadi banyak keanehan di BPPN. Tenaga-tenaga Indonesia di BPPN adalah eks-bankir dari bank-bank yang ditutup atau dilikuidasi, yang dianggap sebagai pihak yang ikut membawa bank-bank itu ke posisi sulit. Namun setelah mereka mengenakan baju BPPN, mereka malah bertugas menyehatkan perbankan. “Kok bisa ya, orang yang sama, setelah tukar baju, mengendarai kendaraan yang berbeda,” tanyanya.

Ambassador Gading Serpong dan Paramount Serpong
Setelah krisis ekonomi berlalu, pada 2006 Tanto Kurniawan diminta membetulkan perusahaan properti yang nyaris bangkrut, yaitu Ambassador Gading Serpong, perusahaan pengembang properti itu dalam kondisi minus, utangnya menumpuk. Untuk membayar gaji pegawai saja susah, apalagi membayar kontraktor.

Namun dalam 6 tahun, Tanto berhasil membawa Paramount Serpong (nama baru Ambassador) menjadi perusahaan properti terkemuka. Dia berhasil membangun pilar-pilar kokoh. Ketika mengundurkan diri dari Paramount, Tanto meninggalkan dana segar triliunan rupiah di deposito perusahaan itu!

Di bawah kepemimpinan Tanto-lah, Paramount sukses membangun berbagai fasilitas yaitu Hotel Aston (berganti nama menjadi Hotel Atria), Rumah Sakit Bethsaida, Paramount Plaza, Pasar Modern Paramount, Giant, serta ribuan unit rumah dan ruko. Kawasan Paramount langsung terbangun dari tidur panjang. Paramount tak kalah dari pengembang Summarecon Agung yang membangun Summarecon Serpong, dan bersama-sama membuat Gading Serpong hidup.

Karena Paramount sudah mapan, Tanto mencari tantangan baru. Dia diminta pemilik Jababeka, SD Darmono, untuk menghidupkan kembali kawasan Jababeka yang saat itu kalah jauh dari tetangganya, Lippo Cikarang. Di Jababeka, Tanto seakan berada di “medan perang” yang hampir sama beratnya dengan di Gading Serpong.

Namun berkat pengalamannya, Tanto berhasil membuat Jababeka yang ketika dia datang, dalam kondisi minus, menjadi plus. Dalam waktu empat bulan, “cash flow” Jababeka menguat, setelah Tanto meluncurkan tiga produk baru. Dana segar ratusan miliar rupiah mengalir ke kas Jababeka. Tanto merasakan kepuasan itu.

Seperti halnya mata angin, ada selatan, utara, barat dan timur, seperti itu pulalah petualangan Tanto dalam karirnya di bidang bisnis real estate. Selatan diwakili Bintaro Jaya, utara oleh Ancol, barat oleh Paramount Serpong, dan timur oleh Jababeka. Tanto menguasai tantangan dan peluang di empat wilayah: selatan Jakarta, utara Jakarta, barat Jakarta dan timur Jakarta.

“Bad guy”
Prinsip Tanto keras. Dia mempersiapkan dirinya pada situasi hidup atau mati. “Kalau ingin mengubah situasi dari kematian ke kehidupan, kita harus radikal dalam arti positif. Kita harus mengesampingkan perasaan-perasaan sentimentil. Kita harus bekerja keras untuk mewujudkan itu,” kata Tanto.

Tanto memang mengesampingkan suara-suara sumbang karena buat dia, fokusnya adalah tetap hidup terhormat, bukan yang biasa-biasa saja. Dia rela bekerja ekstra keras untuk mewujudkan impiannya.

Tanto acapkali menyandang predikat “bad guy” dalam tiga perusahaan yang dipimpinnya. Tanto paham betul, tak ada “nice guy” yang mampu berperang dengan keras. “Nice guy” hanya mengambil keputusan-keputusan yang indah dengan tata bahasa yang indah. Tanto Kurniawan bukan tipe “nice guy”.

KSP tanto1
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 28 Juli 2016 di rumahnya.

“Cash flow is King”
Tidaklah heran bila dalam situasi kritis, banyak orang mencari Tanto agar dia membantu menyelamatkan perusahaannya. Seluruh permasalahan yang muncul adalah kesulitan keuangan berupa arus kas (cash flow) yang sangat buruk. Pengeluaran yang lebih besar dari pemasukan yang membuat seluruh aktivitas operasional sangat terganggu dan pada saatnya, akan mengganggu citra perusahaan di mata seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).

“Cash flow” seperti peredaran darah dalam tubuh manusia. Ketika peredaran tersebut tidak lancar, maka kondisi tubuh menjadi tidak sehat. Bagi Tanto, cash flow adalah segalanya dalam operasional perusahaan. “Cash flow is King,”

Ditempa kehidupan masa kecil yang keras Sikap keras dan pantang menyerah ditempa dari kehidupan masa kecilnya yang keras. Tanto Kurniawan lahir di tengah keluarga tionghoa yang sangat sederhana dan ekonominya pas-pasan di Cilegon, Banten. Ayahnya seorang pedagang kecil. Hasil yang didapat hari ini cukup digunakan untuk hari ini. Untuk besok, tergantung dagangan esok hari.

Dalam kondisi ekonomi seperti itu, Tanto bertahan hidup. Untuk tiba sekolah SMP di Serang, Tanto harus menumpang truk barang. Itu dilakukannya setiap hari. Melalui perjuangan keras semacam itu, Tanto tumbuh menjadi anak yang tangguh dan mandiri. Bekal ini sangat berguna bagi masa depannya kelak.

Kebiasaannya membaca, menonton film, dan mendengarkan musik sejak kecil juga sangat berguna. Tanto membaca berita-berita Harian Kompas, menonton berbagai film, dan menikmati musik. Hobi ini yang dijalankannya hingga kini, membuat hidupnya seimbang.

Buku biografi Tanto Kurniawan ini bukan sekadar kisah hidup sukses seorangprofesional properti tetapi juga merupakan catatan sejarah industri properti Indonesia: Pembangunan Jaya/Bintaro Jaya, Paramount Serpong, dan Jababeka. Buku ini memuat kisah bagaimana Tanto sebagai seorang profesional mampu menyelesaikan berbagai persoalan di perusahaan tempatnya bekerja.

“Tanto sangat menguasai bidang keuangan,” kata Budi Karya Sumadi, koleganya di Pembangunan Jaya.

Pengalaman Tanto Kurniawan dalam dunia properti, bagaimana dia mampu membuat Pembangunan Jaya/Bintaro Jaya berjaya, dan bagaimana Tanto membuat dua perusahaan properti; Ambassador Gading Serpong yang sudah nyaris bangkrut, dan Jababeka yang kesulitan cash flow, mampu bangkit kembali, bahkan meraup laba berkali-kali lipat, menjadi pelajaran penting bagi mereka yang terjun di bisnis properti.

“Tanto mampu mewujudkan apa yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin,” kata John Flood, Presiden dan CEO Archipelago International.

Buku yang mengisahkan pengalaman Tanto Kurniawan ini layak dibaca oleh mereka yang bergelut di dunia real estat dan properti, dan oleh siapa saja yang suka membaca kisah sukses tokoh dari bawah.

***

Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 2 Desember 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 2 Desember 2015

***

                                                        Buku keenam (2015)

                        “Andy Noya, Kisah Hidupku”

Buku keenam adalah “Andy Noya, Kisah Hidupku”, diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2015). Buku ini hasil kolaborasi saya dengan Andy Noya. Wawancara dilakukan  sejak empat tahun lalu (2011).

Foto-foto ini merupakan rekaman peristiwa ketika saya mewawancarai Andy Noya di rumahnya dalam berbagai kesempatan sejak Andy Noya masih berambut kribo dan sering bertopi sampai Andy berkepala plontos.

AFN12
Bersama Bang Andy Noya, 17 Juli 2011

249733_10150199021852311_6680361_n afn11

Wawancara Andy Noya

Bersama Andy F Noya, Juni 2014
Bersama Andy F Noya di sela-sela wawancara penulisan buku biografi, 23 Juni 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014
andy noya kisah hidupku
Sampul buku “Andy Noya, Kisah Hidupku”, Juli 2015
bersama Andy Noya
bersama Bang Andy Noya di rumahnya, Agustus 2015
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan sesuai rekaman program Kick Andy, akhir Juli 2015 di stasiun Metro TV.

***

                                                                Buku kelima (2015)

     “Bur Maras, Keturunan ke-13 Raden Patah”

Buku kelima adalah “Bur Maras, Keturunan ke-13 Raden Patah”, diterbitkan Bhuana Ilmu Populer (BIP), Kelompok Gramedia.  Bur Maras adalah juga pengusaha migas, pemilik Ratu Prabu.

burmaras
Bersama Bur Maras, keturunan ke-13 Raden Patah di sela-sela wawancara penulisan buku biografi

Bur Maras buku

Bersama Pak Bur Maras, 2015
bersama Pak Bur Maras, 2015

***

                                                 Buku keempat (2014)

“Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan”

JW DAN KSP
Sampul belakang buku “Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan” (2014)

Keempat, buku “Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan”, diterbitkan pada Maret 2014, untuk kalangan terbatas. Buku ini memuat kehidupan Johnny Widjaja yang  pada tahun 2014 berusia 80 tahun. Johnny Widjaja, pengusaha yang berbisnis sejak zaman Soekarno, seorang petualang sejati, yang berani menempuh perjalanan yang penuh risiko dan tantangan. Kisah perjalanannya ke berbagai belahan dunia mengundang decak kagum. Johnny Widjaja juga seorang “bon vivant” sejati, yang sangat menikmati hidupnya dengan gayanya tersendiri.

JW KSP
Bersama Pak Johnny Widjaja, 30 Maret 2014.

Buku ini diberi kata pengantar oleh Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group, yang juga putri sulung keluarga Johnny Widjaja. “Apa yang saya harapkan dengan diterbitkannya biografi ini” tanya Shinta dalam kata pengantarnya. “Sederhana saja: saya ingin ayah saya mendapatkan kesempatan berbagi kisah hidupnya yang sarat dengan pengalaman dan asam-garam kehidupan kepada masyarakat luas. Kalau saya bisa menyampaikan satu kalimat: my father has live his life to the fullest.”

“Kita kerap kali lupa apa makna hidup yang sebenarnya. Banyak uang, banyak rezeki, banyak teman. Inilah pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari seorang Johnny Widjaja. Kerja keras menghasilkan uang bukanlah segala-galanya kalau kita tidak bisa menikmatinya,”  demikian Shinta Widajaja.

bersama-johnny-widjaja-family.jpg
Dari kiri ke kanan: Bapak Joe Kamdani, Bapak Johnny Widjaja, Ibu Martina Widjaja, Bapak Soebronto Laras, dan saya Robert Adhi Ksp, di sela-sela penulisan buku “Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan”, 2014.

***

                                            Buku ketiga (2011)

“Rahasia Sukses Pengusaha Properti”

PROPERTI KSP
Sampul buku “Rahasia Sukses Pengusaha Properti”, 2011

 Ketiga, buku “Rahasia Sukses Pengusaha Properti”, diterbitkan tahun 2011 oleh Bhuana Ilmu Populer. Buku setebal 244 halaman ini memuat hasil wawancara eksklusif dengan berbagai tokoh properti, baik pemilik maupun CEO perusahaan yang bergerak di bidang properti, termasuk perhotelan, konsultan properti, konsultan arsitektur, dan furnitur, serta pengusaha muda dan profesional yang memiliki idealisme dan semangat tinggi mengembangkan bisnis properti mereka.

Dari Ciputra, Trihatma K Haliman, Hendro Gondokusumo, sampai Soetjipto Nagaria. Generasi kedua yang muncul, James Riady, Budiarsa Sastrawinata, Harun Hajadi, Aninditha Bakrie, Rudy Margono, Utama Gondokusumo, Lilik Oetama, Soegianto Nagaria, Herman Nagaria. Buku ini juga memuat profesional properti seperti Tanto Kurniawan, Budikarya Sumadi, Handaka Santosa.

PAK CI dan KSP
Bersama Pak Ciputra
Pak Trihatma dan KSP
Bersama Pak Trihatma Haliman (Agung Podomoro Group)
Pak Hendro dan KSP
Bersama Pak Hendro Gondokusumo (Intiland)
Pak Tjip dan KSP
Bersama Pak Soetjipto Nagaria (Summarecon Agung)
Pak James dan KSP
Bersama Pak James Riady (Lippo Group)
bersama Pak Lilik Oetama (Santika Group/Kompas Gramedia Group)
saya bersama Pak Lilik Oetama (Santika Group/Kompas Gramedia Group), 9 September 2011 di Jakarta. Pak Lilik Oetama sejak 8 Oktober 2015 resmi menjabat CEO Kompas Gramedia.
bersama Tanto Kurniawan
bersama Pak Tanto Kurniawan
bersama Michael Widjaja (Sinarmas Land)
bersama Michael Widjaja (Sinarmas Land)

Buku ini memuat beragam kisah sukses yang menjadi tonggak sejarah perkembangan properti di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini. Benang merah yang dapat ditarik dari beragam wawancara dengan para pengusaha properti ini antara lain keinginan membangun “green property”, “eco-property”. Mereka mewujudkan konsep “green property” dalam berbagai produk properti. Ini bukti bahwa dalam dekade ini, kesadaran pengembang membangun hunian yang ramah lingkungan, makin mengemuka.

Green property yang dikembangkan para pengusaha properti ini tidak sekadar memberi nuansa hijau pada produk properti, akan tetapi membuatnya berkelanjutan (sustainable), mulai dari melakukan daur ulang air dan sampah, menghemat penggunaan listrik, menggunakan produk ramah lingkungan, sampai membuat desain bangunan ramah lingkungan dan hemat energi.
***

                                             Buku kedua (2010)

“Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa”

BKT KSP2
Saat peluncuran buku “Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa”, 2010
BKT KSP
2010: Bersama Pitoyo Subandrio (Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane), Jenderal TNI Djoko Santoso (Panglima TNI), Hermanto Dardak (Wakil Menteri Pekerjaan Umum), Marsanto (mantan pejabat PU) dan Putu (Dinas PU DKI Jakarta). FOTO DOKUMENTASI KEMENTERIAN PU

Kedua, buku “Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa”, diterbitkan tahun 2010 oleh Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia). Banjir Kanal Timur adalah proyek monumental kebanggaan bangsa Indonesia. BKT sepanjang 23,5 kilometer dibangun oleh kontraktor Indonesia dan dari kantong Indonesia (APBN dan APBD).

BKT menjadi model bagi pembangunan proyek infrastruktur strategis lainnya di Indonesia. Anggaran dikucurkan sekaligus agar proyek berjalan cepat. BKT juga contoh proyek dengan tender yang transparan, otak, otot, dan dana Indonesia. BKT tidak menghilangkan banjir di Jakarta, akan tetapi mengurangi risiko banjir dan menyelamatkan dua juta warga Jakarta Timur dan sebagian Jakarta Utara dari ancaman banjir rutin.

Memberi sambutan saat peluncuran buku di gedung Kementerian Pekerjaan Umum RI
Memberi sambutan saat peluncuran buku di gedung Kementerian Pekerjaan Umum RI

BKT menjadi promenade, show window daerah aliran sungai di Jakarta dengan penataan yang asri dan hijau. BKY menjadi tonggak sejarah pembangunan infrastruktur Kota Jakarta.

Buku setebal 300 halaman ini diberi kata pengantar oleh Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden) dan kata sambutan oleh Djoko Kirmanto (Menteri Pekerjaan Umum). Banjir Karya Timur dapat dibangun setelah Pitoyo Subandrio (Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, yang kemudian menjabat Direktur Sungai, Waduk – Kementerian Pekerjaan Umum) dan timnya bekerja keras mewujudkannya.

Pak Pitoyo Subandrio dan tim, bersama saya sebagai penulis buku BKT, bertandang ke rumah Jusuf Kalla untuk minta Pak JK memberi sambutan di dalam buku.
Pak Pitoyo Subandrio dan tim, bersama saya sebagai penulis buku BKT, bertandang ke rumah Jusuf Kalla untuk minta Pak JK memberi sambutan di dalam buku.

Mengapa Jusuf Kalla? Dalam kata pengantarnya, JK menjelaskan, ketika banjir merendam Jakarta tahun 2007 lalu, dia meninjau lokasi banjir dari udara dengan helikopter. Di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dia bertanya kepada Pitoyo Subandrio, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Proyek BKT itu. Ketika JK mendapat jawaban bahwa dana yang dibutuhkan sekitar Rp 2,5 triliun untuk pembangunan fisik, JK langsung memutuskan agar Proyek BKT segera dikerjakan.

Menurut JK, untuk mengambil keputusan penting itu, dia tidak perlu harus menjadi insinyur terlebih dahulu. Cukup dengan logika angka-angka, proyek BKT dapat dihitung dengan cermat. Dia bukan orang teoritis. Pengalaman JK sebagai kontraktor, membuat dia cepat menghitung angka-angka.

“Lebih baik mengucurkan anggaran sekaligus besar untuk pembangunan infrastruktur seperti BKT dan jumlahnya hanya Rp 2 triliunan. Karena saat banjir melumpuhkan Jakarta, kerugian bisa empat kali lipat, mencapai Rp 8 triliun,” kata Jusuf Kalla. Keputusan penting menyelesaikan Proyek BKT diambil pada waktu yang tepat, dua hari setelah banjir melumpuhkan Jakarta Februari 2007.
***

                                               Buku pertama (2009)

                        “Panggil Aku King”

KING KSP
Bersama Liem Swie King saat peluncuran buku “Panggil Aku King” di Wisma BII Jakarta, 2009

 Pertama, buku “Panggil Aku King”, biografi legenda pebulu tangkis Indonesia, Liem Swie King, diterbitkan tahun 2009 oleh Penerbit Buku Kompas. “Panggil Aku King” merupakan kisah perjalanan hidup Liem Swie King. Buku ini dibuat dengan harapan kisah perjalanan King ini mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk mencintai olahraga bulu tangkis dan mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia di kancah dunia.

Mengapa saya menulis King? Saya termasuk satu dari jutaan orang Indonesia yang mengagumi Liem Swie King. Ketika berusia belasan tahun, saya selalu menonton pertandingan King di televisi dan mendengar siaran langsung di RRI. King tujuh kali masuk final turnamen bulu tangkis bergengsi All England (1976, 1977, 1978, 1979, 1980, 1981, dan 1984), tiga di antaranya menjadi juara (1978, 1979, dan 1981). King juga enam kali memperkuat tim Piala Thomas (1976, 1979, 1982, 1984, 1986, 1988), dan tiga di antaranya ikut mengantar tim Indonesia menjadi juara (1976, 1979, 1984).

Buku setebal 476 halaman ini diberi kata pengantar oleh Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas. “Prestasi-prestasi optimal olahraga, khususnya bulu tangkis oleh para juara All England, Olimpiade, serta panggung kejuaraan-kejuaraan lainnya itu dinilai sebagai ikut mempercepat berlangsungnya proses asimilasi dan integrasi serta surutnya diskriminiasi. Aktual dan relevan kiranya, menghadarapkan dari biografi Panggil Aku King ini, kehendak kita bersama membangun kemajuan dan kesejahteraan bangsa, bertambah kuat, cerdas, dan serentak,” demikian antara lain yang disampaikan Pak Jakob Oetama dalam pengantarnya.

Sementara itu Tan JoeHok, juara All England 1959 berpendapat, “Liem Swie King seorang juara besar, sama seperti jenderal besar. King muncul ketika kekuatan bulu tangkis dunia merata, terutama setelah China bergabung dengan IBF. Indonesia tidak bisa sendirian lagi seperti era Rudy Hartono. Jadi kalau King menang, artinya dia benar-benar jago karena dia mengalahkan pemain-pemain kelas dunia dari China, Denmark, Malaysia,  dan Indonesia.

“Without words, without writing, without books, there would be no history, there could be no concept of humanity”  (Oliver Goldsmith)

ROBERT ADHI KSP

Kontak: Twitter: @RobertAdhiKsp

Email: RobertAdhiKsp@gmail.com

Iklan

One thought on “Buku-buku Robert Adhi Ksp”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: