ROBERT ADHI KSP

Ketika aku merefleksikan diriku sepanjang tahun 2020, aku harus banyak bersyukur dan bersyukur karena selama masa pandemi Covid-19 ini, aku malah disibukkan dengan kegiatan menulis buku, diimbangi dengan berolahraga rutin dan berbagi. 

Sembilan dari 12 bulan pada tahun 2020 adalah masa pandemi Covid-19. Sebagian besar masyarakat lebih sering tinggal di rumah, jarang bepergian.  Lalu apa yang aku kerjakan sepanjang tahun 2020?  

Sebelum masa pandemi, aku rajin berolahraga lari di sekitar rumahku dan berenang di salah satu klub olahraga. Memasuki masa pandemi, klub olahraga menutup semua fasilitasnya sejak pertengahan Maret sampai pertengahan Agustus. Pada masa itu, aku berolahraga di rumah, mengangkat dumbbell, sit-up, dan push-up. Setelah klub olahraga membuka kembali fasilitas mereka, aku kembali berenang sampai sekarang. 

Aku mencatat ada kemajuan penting dalam olahraga renangku. Apa saja? Aku sudah mampu mengatur nafasku saat berenang di dalam air. Buktinya? Pada 31 Desember 2020 pagi, aku berenang sejauh 2,5 kilometer (2.500 meter) selama 90 menit, 50 kali p.p di kolam sepanjang 50 meter, dan membakar 1.031 kalori, serta mengumpulkan 180 heart points. Ajaibnya, aku tidak merasa lelah. Ini berbeda kondisinya ketika aku pertama kali memulai berenang. Berlatih dan berlatih membuat aku makin mahir mengatur nafasku. 

Sudah satu tahun terakhir ini, aku tak pernah makan multivitamin. Aku tidak membutuhkan itu lagi karena aku percaya “vitamin” sesungguhnya adalah mempunyai waktu tidur yang cukup, berolahraga rutin, mengatur pola makan yang sehat, serta memiliki hati yang gembira dan bahagia. Ketika aku berenang atau lari pada pagi hari misalnya, sinar matahari yang mengandung vitamin D yang berlimpah ruah (dan gratis) membuat tubuhku selalu sehat dan bugar. 

Aku sebenarnya menguasai empat gaya berenang, tetapi aku lebih suka gaya bebas. Mengapa aku suka berenang? Karena berenang adalah olahraga yang sesungguhnya. Semua anggota tubuh kita bergerak saat berenang. Ya kan? Kepala, leher, tangan, badan, kaki, semuanya. 

Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya, beberapa penyakit hilang dengan sendirinya setelah aku rutin berenang. Low back pain atau syaraf terjepit misalnya, mendadak lenyap tanpa bekas setelah berat badanku kembali normal (karena aku rutin berenang). Aku tak perlu lagi bolak-balik menjalani fisioterapi ke rumah sakit. Aku hanya berpikir, daripada duit habis untuk biaya fisioterapi di rumah sakit (dan itu pun tidak menyembuhkan), lebih baik aku “investasikan” di klub olahraga demi kesehatanku. Buktinya? Low back pain yang menyiksa itu benar-benar pergi tanpa pesan. 

Ada yang bertanya, apakah berenang pada masa pandemi tidak berbahaya? Aku sudah menonton video pernyataan seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) yang menyebutkan, virus tak bisa menular lewat air kolam renang. Yang berbahaya itu jika terlalu banyak orang di kolam renang dan kerumunan di ruang ganti. (Karena itulah aku tak pernah menggunakan locker selama masa pandemi ini dan selalu mencari waktu berenang pada saat sepi). 

“Do not take your health for granted. No matter what your goals are in life, your health must always be a priority!”  Jangan meremehkan kesehatan Anda. Apapun tujuan hidup Anda, kesehatan Anda harus selalu menjadi prioritas! 

Health is the most valuable assett. Kesehatan adalah aset paling bernilai. Sehat pun tidak sekadar sehat fisik, tetapi juga sehat mental dan sehat spiritual. Ya kan? Health; it’s not just what you’re eating. What you’re thinking and saying are just as important. Sehat itu tak cuma apa yang Anda makan, tetapi juga apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda katakan juga sama pentingnya. Karena itulah aku menghindari membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain. Buat apa? Tak ada gunanya! Bicara hal-hal baik, yang membangkitkan semangat, dan menyalurkan energi positif lebih penting dan lebih bermanfaat.

Ingatlah, sehat itu mahal, apalagi pada masa pandemi seperti sekarang. Karena itu jagalah selalu tubuh, pikiran, dan jiwa kita.

Produktif Menulis Buku

Hal lain yang aku kerjakan sepanjang tahun 2020 ini adalah aku lebih produktif menulis buku. Sejak akhir April hingga pekan pertama September, aku menyelesaikan dua buku biografi profesional. Aku menyelesaikan buku ke-12 yaitu “AB Susanto, Sang Begawan Konsultan Bisnis Keluarga”, yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas dari akhir April hingga akhir Juni. Setelah itu aku menggarap buku ke-13 yaitu “Marwanto Harjowiryono, Maestro Simfoni Perbendaharaan” mulai pertengahan Juni hingga pertengahan September. 

Masing-masing buku ini aku selesaikan dalam waktu 2 bulan sampai 2,5 bulan. Aku mewawancarai puluhan narasumber melalui Zoom dan telepon (mengingat masih masa pandemi). Aku mengerjakan buku-buku itu lebih dari 10 jam dalam satu hari.   

Apa kuncinya? Pertama, fokus. Ini berarti aku harus rela mengabaikan percakapan di berbagai WhatsApp Group (WAG) yang aku ikuti. Bahkan aku jarang menengok dan membuka WAG-WAG tersebut, kecuali hal-hal mendesak. Tentu saja WAG yang berkaitan dengan penulisan buku, selalu kupantau. Aku juga harus rela tidak menonton film-film terbaru Netflix. Ini harus aku lakukan karena menonton film itu betul-betul menghabiskan waktu (sebagian besar kan drama seri), sedangkan aku terus dikejar tenggat waktu. Bagiku, waktu sangat berharga!

Tetapi aku tetap dan wajib meluangkan waktu 90 menit untuk menonton setiap pertandingan Manchester United, klub sepakbola yang aku dukung selama ini. Untuk menyegarkan otakku. Kadang kalau sempat, aku menulis ulasan pratanding atau ulasan pertandingan Manchester United di blog pribadiku.

Kedua, menikmati proses penulisan buku. Mulai dari mewawancarai narasumber utama, narasumber pelengkap, sampai mengumpulkan data-data pelengkap dan menuangkannya dalam tulisan di buku.  Aku yakin, apapun yang kita kerjakan dengan hati yang senang, hasilnya – InsyaAllah- terbaik.

Aku tidak menganggap diriku tahu segalanya. Aku seorang teachable. Aku selalu menimba ilmu dari tokoh-tokoh yang aku tulis, baik ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya, maupun pelajaran hidup yang dijalaninya. Dari Pak AB Susanto, sedikit banyak aku belajar pengetahuan konsultan bisnis keluarga, dan tentang filosofi Konfusius. Dari Pak Marwanto Harjowiryono dan sejumlah narasumber pelengkapnya, aku belajar seluk-beluk tentang keuangan negara, juga tentang filosofi Jawa. Bagi orang seperti aku yang selalu haus ilmu, ini tentu sesuatu yang sangat berharga.

Setelah menyelesaikan menulis dua buku, aku sempat menikmati waktu jeda satu bulan. Namun sejak awal November, aku mulai menulis kembali buku ke-14, yang dijadwalkan selesai akhir Januari atau awal Februari 2021. Setelah itu? Aku segera menggarap buku-buku berikutnya.  

Dari mana orang tahu tentangku? Orang bisa membaca blogku untuk mengetahui buku-buku apa saja yang sudah aku tulis.  Aku bersyukur, cukup banyak ulasan tentang buku-buku yang pernah aku tulis, yang tersebar di berbagai media arusutama dan media sosial. Terima kasih kepada sahabat-sahabat yang pernah mengulas buku-bukuku.

Berbagi

Produktif menulis buku selama masa pandemi membuatku harus banyak bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan. Karena itu beberapa kali aku menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Jumlahnya tidak banyak sih tetapi berapapun jumlahnya, tetap berguna kan? Ajaibnya, pada saat itu juga Tuhan langsung “membalas” kebaikan ini berlipat ganda. 

Aku semakin percaya ketika kita sering memberi, otomatis kita juga sering menerima. Apa yang kita tabur, akan kita tuai. Sering memberi tidak akan membuat kita miskin, tetapi sebaliknya akan membuat kita makin “kaya” dan bahagia, serta membuat hidup kita makin bermakna.  

Aku selalu ingat kata-kata Bang Andy Noya, “Tidak perlu menunggu untuk bisa menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingmu. Lakukan kebaikan, sekecil apa pun, sekarang juga.”

Demikianlah, aku merefleksikan diriku sepanjang tahun 2020. Aku harus bersyukur dan bersyukur karena selama masa pandemi ini, aku malah disibukkan dengan kegiatan menulis buku, diimbangi dengan berolahraga rutin dan berbagi.  Syukur tiada akhir.

Lalu apa yang akan aku kerjakan sepanjang 2021? Yang pasti aku tetap berolahraga rutin (berenang dan lari), produktif menulis buku, dan berbagi. Tiga hal ini tetap menjadi kegiatanku. Buku-buku apa saja yang akan kutulis? Aku tidak akan mengumumkannya sebelum buku-buku itu benar-benar selesai dan naik cetak.

O ya, setiap pagi aku bangun, aku selalu mendengarkan kicauan burung yang hinggap di pohon mahoni tua di depan rumahku. Burung-burung itu selalu menyanyi gembira dan terasa bahagia sekali. Burung-burung saja setiap pagi riang gembira, mengapa kita manusia tidak? Yang pasti, aku menghadapi tahun 2021 dengan optimistis dan penuh semangat tinggi. 

Nah, bagaimana dengan Anda?