Arsip Tag: DKI Jakarta

“Shopping Street”


ROBERT ADHI KSP

Survei yang dilakukan Universitas Stanford, Amerika Serikat, belum lama ini menyebut orang Indonesia paling malas berjalan kaki, ”hanya” 3.513 langkah per hari. Adapun orang Hongkong paling rajin berjalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari. Para peneliti pun mengecek data menit per menit dari 700.000 orang yang menggunakan aplikasi pemantau aktivitas, Argus, di telepon seluler.

Di Jakarta, melihat kondisi sebagian besar kawasan pedestrian, survei Universitas Stanford itu bisa jadi benar adanya. Bagaimana berharap warga Jakarta rajin berjalan kaki jika kondisi trotoar di Ibu Kota tak nyaman dilalui? Banyak trotoar berubah fungsi, diokupasi pihak tertentu. Bertahun-tahun pengawasan pemerintah lemah dan terkesan dibiarkan. Agustus ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melancarkan kampanye Bulan Tertib Trotoar.

Selain itu, Jakarta juga memang tidak memberi ruang bagi warga untuk berjalan kaki, apakah sekadar untuk menikmati kuliner atau berbelanja. Belum terdengar rencana pemerintah membangun shopping street, kawasan belanja yang nyaman bagi pejalan kaki, yang menjadi ikon kota.

Sejumlah kota besar di mancanegara, sebut saja Singapura memiliki Orchard, Barcelona (La Rambla), Budapest (Vaci Utca), Vienna (Karntner Strasse), Paris (Champs-Elysees), Berlin (Kurfurstendamm), New York (Fifth Avenue), Shanghai (Nanjing Road dan The Bund), dan Milan (Vittorio Emanuele II).

 

IMG_9784
Vaci utsa, Budapest, Hungaria. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

Di kota-kota itu, warga kota bersama wisatawan mancanegara dapat berjalan kaki di trotoar lebar, berbelanja sambil menikmati pemandangan gedung-gedung tua bersejarah. Selain dapat menjadi ikon kota, shopping street juga membantu warga Jakarta lebih aktif berjalan kaki.

Jika kendalanya cuaca dan polusi udara, sebenarnya ada cara lain yang bisa membuat orang Jakarta senang berjalan kaki dengan nyaman. Manfaatkan stasiun-stasiun bawah tanah mass rapid transit (MRT) Jakarta yang sedang dibangun dengan membuat lorong-lorong bawah tanah terkoneksi dengan pusat perbelanjaan dan perkantoran seperti yang terlihat di sejumlah kota di dunia, salah satunya Tenjin (Fukuoka, Jepang).

Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Thamrin City, misalnya, dapat saling terhubung melalui lorong-lorong bawah tanah yang menyambung dengan stasiun bawah tanah MRT. Demikian juga Pacific Place dan kawasan SCBD terhubung dengan kawasan Senayan (Plaza Senayan, Hotel Fairmont, Senayan City, Senayan Square, fX Sudirman, Ratu Plaza) melalui kawasan pejalan kaki di bawah tanah, yang tentu saja menyambung dengan stasiun MRT terdekat. Bahkan, idealnya kawasan bawah tanah itu juga terkoneksi dengan stasiun-stasiun KRL terdekat. Stasiun MRT Senayan, misalnya, terkoneksi dengan Stasiun KRL Palmerah.

Mengajak warga Jakarta senang berjalan kaki memang tidaklah cukup dengan kata-kata. Pemerintah perlu menyediakan shopping street di permukaan tanah ataupun di bawah tanah yang terhubung dengan stasiun MRT dan KRL. Ini sekaligus mengajak warga menggunakan transportasi umum massal. Mari dimulai dengan mengembalikan trotoar sesuai fungsinya.

SUMBER: KATA KOTA, HARIAN KOMPAS, 6 AGUSTUS 2017

Iklan

Kota yang Ramah bagi Pejalan Kaki


ROBERT ADHI KSP

Mengapa Jakarta dan kota-kota di Indonesia tidak ramah bagi pejalan kaki? Pertanyaan ini dilontarkan sejak bertahun-tahun silam. Anehnya, banyak pejabat daerah seakan tidak peduli dengan kebutuhan mendasar warga kota tersebut.

Kota yang Ramah bagi Pejalan Kaki

Banyak kota besar di Indonesia melupakan membangun kawasan pejalan kaki. Jakarta, misalnya. Meski kawasan pedestrian sudah tersedia di beberapa lokasi di sepanjang Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman, itu belum cukup membuat Jakarta dapat dijuluki sebagai kota yang ramah bagi pejalan kaki.

Jakarta hanya memberi tempat bagi pejalan kaki di jalan utama yang menjadi etalase kota. Namun, banyak sudut kota ini yang tidak ramah untuk pejalan kaki. Seolah pejalan kaki bukan warga negara yang perlu dihargai. Kota ini hanya memberi tempat untuk kendaraan bermotor roda empat dan roda dua.

Pejalan kaki belum mendapat tempat terhormat di kota ini. Lihatlah, misalnya, ketika para pengguna kereta rel listrik commuter line keluar dari stasiun-stasiun. Apakah mereka dapat berjalan kaki dengan leluasa atau harus bersusah payah mencapai halte atau berjalan kaki di trotoar yang sudah diokupasi pedagang kaki lima ataupun menjadi tempat tidur tunawisma?

Jakarta mungkin sudah pernah membangun trotoar bagi pejalan kaki. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, banyak trotoar berubah fungsi menjadi tempat bagi pedagang kaki lima. Kawasan pedestrian pun dengan cepat berubah fungsi. Pengawasan pemerintah lemah. Siapa yang bertanggung jawab?

Lanjutkan membaca Kota yang Ramah bagi Pejalan Kaki