Kota yang Ramah bagi Pejalan Kaki


ROBERT ADHI KSP

Mengapa Jakarta dan kota-kota di Indonesia tidak ramah bagi pejalan kaki? Pertanyaan ini dilontarkan sejak bertahun-tahun silam. Anehnya, banyak pejabat daerah seakan tidak peduli dengan kebutuhan mendasar warga kota tersebut.

Kota yang Ramah bagi Pejalan Kaki

Banyak kota besar di Indonesia melupakan membangun kawasan pejalan kaki. Jakarta, misalnya. Meski kawasan pedestrian sudah tersedia di beberapa lokasi di sepanjang Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman, itu belum cukup membuat Jakarta dapat dijuluki sebagai kota yang ramah bagi pejalan kaki.

Jakarta hanya memberi tempat bagi pejalan kaki di jalan utama yang menjadi etalase kota. Namun, banyak sudut kota ini yang tidak ramah untuk pejalan kaki. Seolah pejalan kaki bukan warga negara yang perlu dihargai. Kota ini hanya memberi tempat untuk kendaraan bermotor roda empat dan roda dua.

Pejalan kaki belum mendapat tempat terhormat di kota ini. Lihatlah, misalnya, ketika para pengguna kereta rel listrik commuter line keluar dari stasiun-stasiun. Apakah mereka dapat berjalan kaki dengan leluasa atau harus bersusah payah mencapai halte atau berjalan kaki di trotoar yang sudah diokupasi pedagang kaki lima ataupun menjadi tempat tidur tunawisma?

Jakarta mungkin sudah pernah membangun trotoar bagi pejalan kaki. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, banyak trotoar berubah fungsi menjadi tempat bagi pedagang kaki lima. Kawasan pedestrian pun dengan cepat berubah fungsi. Pengawasan pemerintah lemah. Siapa yang bertanggung jawab?

Publik berharap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan DPRD DKI Jakarta berhenti berselisih dan bersilat lidah. Yang salah dan yang korup cepatlah ditindak. Rakyat Jakarta butuh perhatian. Para pemimpin jangan egois, mementingkan ego masing-masing, serta lupa pada kewajiban dan amanah yang diberikan rakyat.

Salah satu yang sudah lama didambakan rakyat Jakarta adalah trotoar yang memiliki pepohonan rindang dan tempat duduk. Warga dapat bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki. Selain berdampak positif bagi kesehatan, warga yang berjalan kaki lebih mudah dan cepat mencapai lokasi dibandingkan naik kendaraan bermotor.

Contoh paling dekat adalah kawasan belanja Orchard Road di Singapura. Trotoarnya lebar-lebar. Antara gedung satu dan gedung lain tidak dipisahkan oleh pagar. Para turis dan warga kota senang berjalan kaki di depan gedung-gedung pusat perbelanjaan dan perkantoran di kawasan itu. Mereka yang membutuhkan transportasi publik, seperti bus dan angkutan cepat massal (MRT), tinggal berjalan kaki menuju halte ataupun stasiun MRT di bawah tanah.

Kawasan bawah tanah

Jakarta sangat mungkin memiliki kawasan pejalan kaki di permukaan jalan ataupun di bawah tanah. Mengapa Jakarta tidak membangun trotoar lebar di kawasan belanja di Senayan, misalnya? Antara Plaza Senayan, Hotel Fairmont, dan Senayan Trade Center, misalnya, sesungguhnya dapat terhubung satu sama lain oleh trotoar tanpa pagar.

Plaza Senayan juga dapat terhubung dengan FX Sudirman dan Ratu Plaza, bahkan sangat mungkin terhubung hingga ke gedung Bursa Efek Indonesia, Pacific Place, dan Sudirman Central Business District. Setiap pusat perbelanjaan dapat terhubung satu sama lain di bawah tanah.

Ini sangat relevan jika dikaitkan dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun stasiun-stasiun MRT di bawah tanah antara Senayan dan Bundaran Hotel Indonesia.

Demikian juga pusat perbelanjaan Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Thamrin City, dan sekitarnya seharusnya dapat terhubung dengan mudah, termasuk di bawah tanah.

Karena itu, tidaklah berlebihan jika pembangunan stasiun bawah tanah MRT di jalur ini juga memperhatikan konektivitas antargedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. Berilah tempat yang nyaman bagi pejalan kaki, baik dengan trotoar maupun tempat pejalan kaki di bawah tanah.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG UPDATE, KOMPAS PRINT.COM, HARIAN KOMPAS DIGITAL, SENIN 16 MARET 2015

Iklan