Arsip Tag: Interpol

Nasib Mantan Presiden Interpol dan Kampanye Antikorupsi Xi Jinping


20181009KSP Meng

 

oleh ROBERT ADHI KSP

Pernyataan Pemerintah China yang menyebutkan Meng Hongwei (64 tahun), Wakil Menteri Keamanan Publik yang juga Presiden Interpol, terjerat kasus suap dan korupsi, mengejutkan banyak pihak. Meng ditahan dan diperiksa oleh Komisi Pengawas Nasional, badan antikorupsi tertinggi di China sejak akhir September 2018 lalu.

Kasus penangkapan Meng Hongwei merupakan kasus terbaru penangkapan pejabat dan tokoh di China dalam kaitan kampanye antikorupsi yang dilancarkan Xi Jinping sejak 2012. Kasus-kasus korupsi di China kini ditangani Komisi Pengawas Nasional (NSC) yang belum lama ini diberi kekuasaan yang lebih luas dan kuat.

Xi Jinping yang menjabat Sekjen Partai Komunis China sejak 2012 dan menjadi Presiden China sejak tahun 2013 meluncurkan kampanye antikorupsi. Selama enam tahun terakhir, lebih dari satu juta orang dihukum karena terjerat kasus korupsi dan suap. Namun langkah Xi Jinping dikritik karena itu dianggap sebagai cara Xi menghancurkan lawan-lawan politiknya.

Sejumlah pengamat dan analis internasional mengomentari penahanan atas (mantan) Presiden Interpol tersebut. “Presiden Interpol ditangkap di negara asalnya karena korupsi, itu sangat memalukan,” kata Richard McGregor dari Sydney’s Lowy Institute, seperti dikutip CNN, Selasa (9/10/2018).

“Partai Komunis China tidak responsif terhadap dunia luar dan hanya asyik dengan dunia internal sendiri. Penangkapan Meng menunjukkan Komisi Pengawas Nasional hanyalah perpanjangan tangan partai, bukan lembaga pemerintah yang mewujudkan perlindungan hukum yang lebih besar,” kata McGregor.

Advokat hak asasi manusia, Michael Caster berpendapat, “Sungguh sangat memprihatinkan jika China berpikir dapat menculik dan menahan pimpinan organisasi internasional dengan sewenang-wenang.”

Michael menyimpulkan bahwa Meng Hongwei sebagai Presiden Interpol bekerja untuk melayani kebijakan Partai Komunis yang dipimpin Xi Jinping.

Kasus Meng Hongwei ini menyusul kasus aktris China, Fan Bingbing yang menghilang berminggu-minggu dan ternyata terjerat kasus penghindaran pajak. Menurut Caster, “Ini menunjukkan tidak ada yang aman dari jangkauan partai tersebut. Siapapun bisa menjadi korban berikutnya.”

Namun media pemerintah China, Global Times membantah tuduhan tersebut. “Media Barat tidak menghormati dan tidak memahami hukum China, juga salah paham terhadap kampanye antikorupsi China. Di manapun, sistem hukum China berbeda dengan Barat. Mereka dengan arogan menganggap perbedaan itu sebagai kekurangan,” demikian editorial Global Times.

Lanjutkan membaca Nasib Mantan Presiden Interpol dan Kampanye Antikorupsi Xi Jinping

Iklan

Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian


20181008KSP Presiden Interpol

 

Meng Hongwei (64 tahun) baru dua tahun menjalankan perannya sebagai Presiden Interpol/ICPO (International Criminal Police Organization) yang bermarkas di Lyon, Perancis. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol di Bali, Indonesia pada 10 November 2016 silam. Seharusnya Meng masih memimpin organisasi kepolisian dan penegak hukum yang beranggotakan 192 negara di seluruh dunia itu sampai tahun 2020.

Namun kabar mengejutkan datang dari Lyon. Sekretariat Jenderal Interpol melalui akun twitternya Minggu (7/10/2018) menyatakan Presiden Interpol Meng Hongwei mengundurkan diri dan Sekretariat Jenderal Interpol menerima pengunduran diri Meng. Interpol akan memilih presiden baru dalam Sidang Umum ke-87, November 2018 mendatang.

Pada saat yang hampir bersamaan, Minggu menjelang tengah malam, istri Meng, Grace, menggelar jumpa pers di Lyon. Grace mencemaskan nasib suaminya yang melakukan perjalanan ke China.

Grace menerima ancaman dalam bentuk emoji berupa pisau belati dalam WhatsApp. Meng masih sempat memberi tahu, “Tunggu telepon saya.” Namun sejak itu, Grace tak pernah dihubungi lagi dan dia hilang kontak dengan suaminya.

Pada Minggu malam juga, pemerintah China seperti dilansir China Daily menyebutkan, Meng Hongwei, Wakil Menteri Keamanan Publik, sedang diperiksa dan diselidiki oleh lembaga tertinggi antikorupsi China yaitu Komisi Pengawas Nasional karena diduga melakukan pelanggaran hukum. Saat itu belum dijelaskan secara rinci jenis pelanggaran hukum yang dilakukan Meng.

Membahayakan partai dan kepolisian
Senin (8/10/2018) siang WIB, pemerintah China mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Meng Hongwei saat ini sedang ditahan dan diselidiki dalam kasus suap dan korupsi. Namun belum jelas kapan Meng melakukan suap dan korupsi yang dilakukannya.

China menanggapi permintaan Interpol yang pada 6 Oktober meminta klarifikasi dan penjelasan tentang hilangnya Meng Hongwei di negara asalnya.

Kementerian Keamanan Publik China seperti dikutip The South China Morning Post Senin menyebutkan, “Meng diduga melakukan suap serta korupsi dan melanggar undang-undang yang sangat membahayakan Partai Komunis China (partai berkuasa) dan Kepolisian China.”

Pemerintah China membentuk satuan tugas (satgas) untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam penyuapan yang dilakukan Meng.

Lanjutkan membaca Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian

Misteri Hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei


oleh ROBERT ADHI KSP

Berita mengejutkan datang dari markas besar Interpol di Lyon, Perancis. Presiden Interpol periode 2016-2020, Meng Hongwei (64 tahun), dilaporkan hilang sejak melakukan perjalanan ke negara asalnya, China, pada 29 September 2018 lalu. Istri Meng yang sejak 2016 mengikuti suaminya tinggal di Lyon,  melaporkan hal ini kepada Kepolisian Perancis.

Kepolisian Perancis hari Jumat (5/10/2018) menyatakan sedang melakukan investigasi atas hilangnya Meng Hongwei, pejabat China pertama yang menduduki posisi puncak dalam organisasi Interpol yang beranggotakan 192 negara. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol yang digelar di Bali, Indonesia, tahun 2016 silam. Interpol adalah organisasi kerja sama kepolisian dan penegak hukum terbesar di dunia.

Namun terpilihnya Meng sempat membuat akademisi dan aktivis hak asasi manusia khawatir dia akan menyalahgunakan kekuasaan Interpol untuk menangkap orang-orang China yang tinggal di luar negeri. Salah satunya disampaikan oleh Nicholas Bequelin, Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, pada 10 November 2016, menanggapi akun twitter Interpol yang mengabarkan Meng Hongwei terpilih sebagai Presiden Interpol.

Pemerintah China selama beberapa tahun terakhir ini meminta bantuan negara-negara asing untuk menangkap dan mendeportasi kembali warga negara China yang melakukan korupsi dan yang terlibat terorisme.

Interpo

 

Di bawah kepemimpinan Meng,  Interpol pada April 2017 pernah mengeluarkan red notices kepada konglomerat China, Guo Wengui atas permintaan pemerintah China. Guo Wengui merupakan satu dari 44 orang yang mendapat red notices dari Interpol.

Lanjutkan membaca Misteri Hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei

Berkunjung ke Markas Besar Interpol di Lyon


Tahun 2016 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Umum Interpol pada saat Kepala Kepolisian RI dijabat oleh Jenderal Polisi Tito Karnavian. Tapi jangan lupa, Mayjen (sekarang Irjen) Purnawirawan I Gusti Made Putera Astaman sejak tahun 1990-an sudah memperjuangkan agar Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Interpol. 

LYON. Kota di timur Perancis ini berada di antara Paris dan Marseille, 470 km dari Paris dan 320 km dari Marseille. Kota ini menjadi tujuan kami sepulang mengikuti  Sidang Umum Interpol di Dakar, Senegal, November 1992. Dari Stasiun Gare de Lyon di Paris, kami naik TGV, kereta api tercepat di dunia saat itu, menuju Lyon. TGV, Train a Grande Vitesse atau kereta api supercepat itu melayani rute Paris-Lyon sudah sejak tahun 1981 dengan kecepatan 320 km per jam. 

1992: Kunjungan ke Markas Besar ICPO-Interpol di Lyon, Perancis, dipimpin Deops Kapolri Mayjen Pol IGM Putera Astaman. FOTO DOK KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Di kota Lyon inilah, ICPO-Interpol mengendalikan semua aktivitas yang berkaitan dengan kejahatan internasional dan lintas batas. Semua daftar pencarian orang atau DPO di berbagai negara dikirim ke markas besar Interpol di Lyon. Kunjungan ke Markas Besar Interpol di Lyon merupakan ide Pak Putera Astaman, yang memimpin delegasi Indonesia dalam Sidang Umum ICPO-Interpol di Dakar, Senegal. Sebelumnya Pak Putera Astaman sudah berkomunikasi dengan Sekjen Interpol Raymond E Kendall dan staf Sekretariat Jenderal Interpol, M Chomorro. Markas besar Interpol seluas 14.500 meter persegi yang berlokasi di daerah Quai Achille Lignon itu mulai dibangun Juli 1987 dan diresmikan Presiden Perancis Francois Mitterand pada 27 November 1989. Sebelumnya markas Interpol berada di Saint Cloud, Paris, yang ditempati sejak 1966. Pembangunan gedung baru itu menelan biaya 29.978.724 franc Swiss.

Sebelumnya, markas besar Interpol berlokasi di Vienna, Austria. Kongres kedua International Criminal Police Congress yang digelar di Vienna tahun 1923, menetapkan ibu kota Austria itu sebagai markas besar ICPC. Kemudian pada masa Perang Dunia II, tahun 1946, Paris ditetapkan sebagai markas besar ICPC dan akronim Interpol mulai digunakan. Tahun 1956, ICPC berubah menjadi ICPO (International Criminal Police Organization) hingga sekarang.

1992: Markas Besar ICPO-Interpol di Lyon, Perancis. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Berkunjung ke Markas Besar Interpol di Lyon

Meliput Sidang Interpol di Senegal


Tahun 1992 merupakan tahun yang penuh pengalaman luar biasa bagi saya. Meliput tiga konferensi internasional, mulai dari Konferensi ASEANAPOL di Brunei Darussalam bulan Agustus, meliput Konferensi Gerakan Non-Blok di Jakarta bulan September, hingga meliput Sidang Umum ICPO-Interpol di Dakar, Senegal, Afrika Barat, 4-10 November 1992.

Kali ini saya menulis laporan dari Senegal, yang menjadi tuan rumah Sidang Umum ke-61 ICPO-Interpol. Senegal, bekas koloni Perancis, adalah sebuah negara di Afrika Barat. Luasnya 196.722 km persegi, berbatasan dengan Samudera Atlantik di sebelah barat, Mauritania di sebelah utara, Mali di sebelah timur, Guinea-Bissau di sebelah selatan. Nama Senegal diambil dari Sungai Senegal yang mengalir di perbatasan timur ke utara.

Senegal pada abad ke-9 merupakan bagian dari Kerajaan Takrur dan pada abad ke-13 dan 14 menjadi wilayah Kerajaan Djolof. Pada pertengahan abad ke-15, Portugis mendarat di pantai Senegal, disusul Perancis. Pengaruh Perancis terasa sangat kuat, bahkan setelah negeri ini merdeka tahun 1960.

Dakar, ibu kota Senegal, berada di semenanjung Cap-Vert di tepi Samudera Atlantik. Luas kota hanya 82,38km persegi, namun digabung dengan kawasan sekitarnya, luasnya menjadi 574 km2 (kurang sedikit dari luas Kota Jakarta).  Dakar merupakan pusat pertemuan dua peradaban Afrika dan Eropa, titik pertemuan budaya tradisional dan modern. Pada abad ke-17 dan 18, kota ini menjadi pusat perdagangan. Pedagang dari sejumlah kerajaan penjajah datang dan membangun pos di sepanjang pantai yang menghadap Samudera Atlantik.  

Di kota yang berabad-abad lalu sibuk dengan perbudakan inilah, Sidang Umum Interpol digelar.  Pada waktu itu peserta Sidang Umum ke-61 Interpol menginap di Hotel Le Meridien President (sekarang hotel bintang lima yang memiliki pemandangan luas ke Samudera Atlantik itu berubah nama menjadi Hotel King Fahd Palace).   Jika ditilik dari namanya, hotel itu dulu milik jaringan Perancis Le Meridien, sekarang tampaknya sudah berubah milik Arab Saudi.

1992: Delegasi Indonesia dalam Sidang Umum Interpol di Dakar, Senegal, November 1992. Foto di depan KBRI di Dakar, Senegal. Dari kiri ke kanan Drs M, Chariri (Kasubdit Intel Ditjen Bea dan Cukai), Kolonel Drs Ismet Ibrahim (Sekretaris Direktorat Reserse Polri), Mayjen Drs Aji Komaruddin (Kapolda Jawa Tengah), Duta Besar RI untuk Senegal, ketua delegasi Mayjen Drs IGM Putera Astaman (Deputi Kapolri bidang Operasi),  Sutardi SH (pejabat Biro Hukum Bank Indonesia),   Kolonel Drs Suharyono (Kepala Sekretariat NCB-Interpol) dan saya wartawan Kompas Robert Adhi Ksp, paling kanan. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Meliput Sidang Interpol di Senegal