Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian


20181008KSP Presiden Interpol

 

Meng Hongwei (64 tahun) baru dua tahun menjalankan perannya sebagai Presiden Interpol/ICPO (International Criminal Police Organization) yang bermarkas di Lyon, Perancis. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol di Bali, Indonesia pada 10 November 2016 silam. Seharusnya Meng masih memimpin organisasi kepolisian dan penegak hukum yang beranggotakan 192 negara di seluruh dunia itu sampai tahun 2020.

Namun kabar mengejutkan datang dari Lyon. Sekretariat Jenderal Interpol melalui akun twitternya Minggu (7/10/2018) menyatakan Presiden Interpol Meng Hongwei mengundurkan diri dan Sekretariat Jenderal Interpol menerima pengunduran diri Meng. Interpol akan memilih presiden baru dalam Sidang Umum ke-87, November 2018 mendatang.

Pada saat yang hampir bersamaan, Minggu menjelang tengah malam, istri Meng, Grace, menggelar jumpa pers di Lyon. Grace mencemaskan nasib suaminya yang melakukan perjalanan ke China.

Grace menerima ancaman dalam bentuk emoji berupa pisau belati dalam WhatsApp. Meng masih sempat memberi tahu, “Tunggu telepon saya.” Namun sejak itu, Grace tak pernah dihubungi lagi dan dia hilang kontak dengan suaminya.

Pada Minggu malam juga, pemerintah China seperti dilansir China Daily menyebutkan, Meng Hongwei, Wakil Menteri Keamanan Publik, sedang diperiksa dan diselidiki oleh lembaga tertinggi antikorupsi China yaitu Komisi Pengawas Nasional karena diduga melakukan pelanggaran hukum. Saat itu belum dijelaskan secara rinci jenis pelanggaran hukum yang dilakukan Meng.

Membahayakan partai dan kepolisian
Senin (8/10/2018) siang WIB, pemerintah China mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Meng Hongwei saat ini sedang ditahan dan diselidiki dalam kasus suap dan korupsi. Namun belum jelas kapan Meng melakukan suap dan korupsi yang dilakukannya.

China menanggapi permintaan Interpol yang pada 6 Oktober meminta klarifikasi dan penjelasan tentang hilangnya Meng Hongwei di negara asalnya.

Kementerian Keamanan Publik China seperti dikutip The South China Morning Post Senin menyebutkan, “Meng diduga melakukan suap serta korupsi dan melanggar undang-undang yang sangat membahayakan Partai Komunis China (partai berkuasa) dan Kepolisian China.”

Pemerintah China membentuk satuan tugas (satgas) untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam penyuapan yang dilakukan Meng.

Penangkapan Meng Hongwei berkaitan dengan penerapan disiplin partai. “Kami berusaha menerapkan disiplin partai secara ketat agar semua anggota mematuhi keputusan dan rencana partai. Tak ada tempat untuk negosiasi atau tawar-menawar dengan partai,” demikian pernyataan pemerintah China tentang Meng.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang tidak menyebutkan secara langsung apakah semua kejahatan yang yang dituduhkan terhadap Meng dilakukannya selama dia menjabat Presiden Interpol. “Penyelidikan masih berlangsung,” kata Lu.

Ketika Meng terpilih sebagai Presiden Interpol dua tahun lalu, Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, Nicholas Bequelin menyampaikan kekhawatirannya. “Ini sangat mengkhawatirkan mengingat praktik lama China yang berusaha menggunakan Interpol untuk menangkap para pembangkang dan pelarian di luar China,” kata Nicholas dalam akun twitternya.

Pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir ini meminta bantuan negara-negara lain untuk menangkap dan mendeportasi kembali warga negara China yang melakukan korupsi dan terlibat aksi terorisme.

Di bawah kepemimpinan Meng, Interpol pada April 2017 pernah mengeluarkan red notices kepada konglomerat China, Guo Wengui atas permintaan pemerintah China. Guo mengklaim memiliki bukti-bukti korupsi dalam tubuh Partai Komunis China. Guo meninggalkan China daratan pada Desember 2013 dan ditetapkan menjadi buronan sejak April 2014.

Catatan Interpol, Guo memiliki hubungan dengan mantan Wakil Menteri Keamanan Publik, Ma Jian. Guo disebutkan telah menyuap Ma dengan uang sebesar 60 juta Yuan.

Belum jelas benar apakah kasus Meng saat ini terkait dengan kasus Guo, atau kasus lainnya.

Memilih kehilangan muka di panggung internasional
Setelah peristiwa penahanan Meng Hongwei, sejumlah analis berpendapat penahanan Meng akan berdampak negatif terhadap upaya China untuk berperan utama di dunia internasional. Namun sebagian analis lainnya mengatakan, Beijing sudah memperhitungkan risiko sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan keras terhadap Meng Hongwei.

Komentator politik Zhang Lifan yang tinggal di Beijing sangat yakin pemerintah China berharap mendapat tanggapan luar biasa dari komunitas internasional sebelum mengambil keputusan itu.

“Saya menduga sesuatu yang mendesak terjadi. Itulah mengapa (pemerintah) China memilih mengambil keputusan itu segera meski dengan risiko kehilangan muka dalam panggung internasional. Jika Meng terlibat dalam kasus korupsi biasa, saya kira otoritas China tidak perlu menangani kasus ini sampai sedemikian rupa,” kata Zhang Lifan.

Sementara itu, Steve Tsang, Direktur SOAS China Institute yang berkantor di London mengatakan, mengingat senioritas Meng, keputusan untuk menahan Meng pasti berasal dari pejabat tertinggi. Kebijakan luar negeri China diperlukan pertama dan terutama untuk melayani kepentingan partai.

Penahanan Meng bisa jadi sangat memalukan China. Bahkan China mungkin harus “membayar mahal” karena warganya yang menjabat Presiden Interpol — salah satu jabatan prestisius di dunia internasional– harus ditahan karena kejahatan yang tidak terdefinisi di China.

Namun tampaknya itu menjadi persoalan kedua bagi pemimpin partai yang harus menahan Meng. Kemungkinan besar persoalan yang dihadapi Meng saat ini persoalan sangat serius. Sampai-sampai China “merelakan” melepas Meng Hongwei sebagai Presiden Interpol dan mendahulukan kepentingan partai.

Tapi pertanyaan lanjutan yang belum terjawab saat ini, kasus suap dan korupsi seperti apa yang telah dilakukan Meng Hongwei sehingga masuk dalam kategori “membahayakan” partai dan kepolisian negara itu?

SUMBER: KOMPAS.ID, SENIN 8 OKTOBER 2018

Iklan