Pilpres Paling Bergairah


Pilpres Paling Bergairah

ROBERT ADHI KSP

Pemilihan Presiden 2014 bisa disebut paling bergairah sepanjang sejarah Republik Indonesia. Jutaan warga negara Indonesia di mancanegara dan di seluruh negeri berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara. Belum pernah rakyat merasa bergairah memilih calon presiden pilihan mereka seperti 9 Juli lalu.

Seorang ketua KPPS di wilayah Serpong, Tangerang Selatan, mengaku baru kali ini surat suara habis. Rakyat pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS) melebihi prediksi. Padahal, bila mengacu pemilihan umum tingkat daerah, tingkat provinsi, pemilu legislatif, dan pemilu presiden yang pernah diadakan sebelumnya, jumlah pemilih tidak sebanyak Pilpres 2014.

Biasanya warga apatis dan tak terlalu peduli dengan pemilu. Siapa yang menjadi wali kota atau bupati, gubernur, atau wakil rakyat, warga tidak terlalu antusias ke TPS. Namun, kali ini berbeda. Tampaknya ”Jokowi effect” atau ”dampak Jokowi” membuat pilpres kali ini lebih berwarna, lebih semarak, dan lebih meriah.

Jumlah pemilih dalam Pilpres 2014, menurut KPU, tercatat 190.307.134 orang di 33 provinsi. Mereka memilih di 478.339 TPS. Dalam pemilu legislatif April lalu, jumlah pemilih tercatat 187.852.992 orang dengan tingkat partisipasi pemilih 75,11 persen. Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah suara sah dalam pileg tercatat 124.972.491, dan angka golput mencapai 24,89 persen.

Dalam Pilpres 9 Juli lalu, bila melihat kegairahan rakyat datang ke TPS, diperkirakan tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu presiden lebih besar, mencapai lebih dari 80 persen.

Di Solo, kota kelahiran calon presiden Joko Widodo, misalnya, tingkat partisipasi pemilih dalam pilpres ini meningkat 5 persen dibandingkan pileg, dari 76 persen menjadi 81,15 persen. Meningkatnya tingkat partisipasi pemilih dalam pilpres ini dipengaruhi figur Jokowi.

Kondisi serupa terlihat di sejumlah tempat di seluruh Nusantara.

Luar negeri

Indonesian Diaspora Network (IDN) merilis hasil Pilpres 2014 di luar negeri. Dari 44 TPSLN dengan 100.995 pemilih, sebanyak 40 TPSLN dikuasai pasangan Jokowi-JK dengan 70-an sampai 90-an persen. Adapun Prabowo-Hatta menang antara lain di TPSLN Jordania dan Mesir. Hasil ini belum termasuk surat suara lewat pos (drop box).

Gairah WNI di luar negeri untuk memilih meningkat berlipat ganda. Seorang WNI di Amerika Serikat menulis di Facebooknya betapa dia merasakan gairah WNI di Amerika untuk mencoblos. Rela datang ke TPS dari lokasi yang jauh.

Bukan hanya itu. WNI yang sedang berlibur di Amerika juga bergairah datang ke TPS. Sampai-sampai TPSLN di Los Angeles kekurangan surat suara. Jumlah pemilih di Singapura misalnya naik 70 persen, sementara di Australia meningkat 100 persen. Demikian pula di sejumlah kota di mancanegara.

Meningkatnya jumlah pemilih tampaknya tidak diantisipasi atau malah tidak diduga. Kurangnya antisipasi panitia pemilih di luar negeri menyebabkan terjadinya kasus di Hongkong, di mana banyak WNI tak sempat mencoblos karena kehabisan waktu. Victoria Park, tempat pencoblosan di Hongkong, tak bisa digunakan sampai malam hari. Namun, KPU sudah memastikan tetap memberikan kesempatan kepada WNI di Hongkong agar bisa mencoblos.

Peran media sosial

Keberadaan media sosial Facebook dan Twitter ikut menyemarakkan Pilpres 2014 ini. Selama kampanye pilpres, berhari-hari hashtag atau tagar (#) yang berkaitan dengan pilpres menjadi topik tren Indonesia, bahkan dunia. Demikian pula Facebook. Tiada hari tanpa posting yang berkaitan dengan pilpres.

Pengguna Facebook yang sebelumnya pasif dan jarang mem-posting ataupun berkomentar tiba-tiba aktif. Setiap saat mereka mengecek linimasa (timeline) Facebook, berita terbaru apa yang wajib dibaca dan dikomentari. Tiba-tiba banyak orang merasa harus turun tangan dan bergerak, membantu capres pilihan mereka.

YouTube juga ikut semarak selama masa kampanye pilpres. Lagu ”Salam Dua Jari” yang diciptakan dan dibawakan Slank and the friends menjadi lagu paling sering diputar dan dihafal warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke, juga di mancanegara. Lagu ini juga dimodifikasi dalam berbagai versi, termasuk versi dangdut.

WNI di luar negeri menyanyikan lagu ”Salam Dua Jari” dan mengemasnya dalam acara deklarasi dukungan kepada Jokowi-Jusuf Kalla, lalu memublikasikannya ke YouTube. Dukungan ini mengalir dari Berlin (Jerman) sampai Melbourne (Australia) dan Washington DC (Amerika Serikat).

Yang juga menarik dan mungkin baru terjadi dalam pilpres kali ini adalah dukungan musisi internasional terhadap Jokowi-Jusuf Kalla. Dukungan itu diberikan melalui Facebook oleh Sting. ”Use your rights – every vote counts. #Jokowi9Juli,” tulis Sting. Dukungan juga diberikan oleh penyanyi Jason Mraz lewat Twitternya. ”To my friends in Indonesia, this week you are empowered with your vote! Get involved in democracy and be heard! #Jokowi9Juli #yes!” tulis Jason.

Ronald Jay Blumenthal alias Bumblefoot, gitaris band Guns N’ Roses menulis di Twitternya, ”Best of luck to @jokowi_do2 !! Support Jokowi #Jokowi9Juli #Indonesia”.

Grup band asal Inggris, Arkana, menulis di Twitternya, ”Vote Jokowi for a better and stronger future in Indonesia! Every vote counts Guys! Say Yes to democracy. Arkarna Vote Jokowi #Jokowi9Juli”.

Radja Nainggolan, gelandang klub Italia, AS Roma, menulis, ”Hi Indonesians! I heard that you will vote for a new president tomorrow. Use your voice, every vote counts! ?#‎Jokowi9Juli”.

Sebelumnya seniman dan musisi Indonesia ramai-ramai mendukung Jokowi-Jusuf Kalla dengan tagar #AkhirnyaMilihJokowi.

Tak bisa dimungkiri, media sosial membuat banyak orang Indonesia, termasuk para pemilih muda, makin bergairah menunggu hari pencoblosan 9 Juli.

Kini pesta demokrasi usai. Sudah saatnya publik mengawal hasil penghitungan suara di TPS masing-masing dan mengecek ulang hasil pindaian yang dipublikasikan di situs KPU.

KPK sudah mengingatkan KPU dan Bawaslu, serta penyelenggara negara, untuk tidak ”main mata” dan tidak main-main dalam persoalan bangsa. Publik berharap kegairahan rakyat memilih calon presiden- calon wakil presiden tidak tercemar dengan berbagai kecurangan yang terjadi.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 14 JULI 2014

 

 
Iklan

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: