Media Sosial: Menggugah Keterlibatan Warga


APMF2014

ROBERT ADHI KSP dan AMIR SODIKIN

MEMBANGUN kota dengan bantuan media sosial. Itulah kreativitas Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Hampir setiap hari dia berkicau, menyapa warga kota, mengajak mereka berperan dan membangun kota dengan berbagai cara positif. Melalui Twitter dan Facebook, Ridwan Kamil mengajak warga kota membuang sampah di tempatnya, memberikan informasi tentang penyediaan bus gratis Damri untuk pelajar, mengajak warga kota berbahasa Sunda setiap hari Rabu, berbahasa Inggris setiap hari Kamis, dan naik sepeda setiap hari Jumat.

Ridwan Kamil yang memimpin kota seluas 167,67 kilometer persegi dan berpenduduk 2,5 juta jiwa ini percaya, 60 persen warga Kota Bandung berasal dari kalangan berpendidikan, membaca kicauannya dan menanggapinya dengan positif pula. ”Saya seorang pengguna Twitter yang menjadi Wali Kota Bandung,” kata Ridwan. Jumlah followers (pengikut) Ridwan Kamil di Twitter sudah lebih dari 714.000 dan setiap hari selalu bertambah.

Ridwan tidak hanya menyapa warga kota, tetapi juga mewajibkan semua kepala dinas, camat, dan lurah di jajaran Pemerintah Kota Bandung memiliki akun Twitter. Sebelumnya, 80 persen pejabat di Pemerintah Kota Bandung tidak paham Twitter.

Salah satu tujuan Ridwan, agar pejabat Pemerintah Kota Bandung menyerap aspirasi warga kota. Apabila ada warga menyampaikan keluhan tentang layanan publik, Ridwan langsung meminta jajarannya menanggapi dan melakukan aksi. ”Sebelum warga kota menyampaikan terima kasih, saya anggap persoalan belum beres,” cerita Ridwan Kamil dalam Asia Pacific Media Forum (APMF) 2014 di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Sabtu (20/9) pekan lalu. APMF yang bertema ”Connect Deeper” menghadirkan para pembicara pakar dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan era digital.

Ridwan Kamil ingin mewujudkan Bandung menjadi kota pintar (smart city). Dia mengajak PT Telkom menyediakan akses Wi-Fi gratis untuk warga kota karena dia tahu banyak warganya yang ”fakir kuota”. Berkat Wi-Fi gratis yang disediakan Wali Kota Bandung, ada mahasiswa yang menyampaikan terima kasih karena bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

”Jika lima tahun lagi datang ke Bandung, insya Allah, Silicon Valley Indonesia sudah terwujud,” kata Ridwan yang tampil di panggung bersama pelaku industri kreatif Yoris Sebastian dan rapper JFlow (Joshua Matulessy). Peserta APMF yang datang dari mancanegara memberikan apresiasi tinggi.

Ridwan menantang warga Bandung membuat aplikasi yang memuat beragam informasi kota itu agar dapat diakses melalui perangkat bergerak. Tantangan itu ditanggapi positif. Tiga bulan ke depan, berbagai aplikasi tentang Bandung dapat diunduh lewat gadget bersistem operasi Android, iOS, dan lainnya.

Apa yang dilakukan Ridwan Kamil membuatnya sangat populer di mata masyarakat Kota Bandung. Warga merasa tak punya jarak dengan pemimpinnya. Warga juga dapat menjalin komunikasi langsung dengan wali kotanya melalui Twitter.

Kreativitas Ridwan Kamil memanfaatkan media sosial dalam mengelola kota menjadi contoh positif bagaimana media sosial dimanfaatkan dengan tepat dan untuk kepentingan bersama yang lebih luas.

Pemimpin kota dan relatif berusia muda seperti Ridwan Kamil mulai bermunculan. Selain Joko Widodo, mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, ada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Bupati Bogor Bima Arya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. ”Kami berkomunikasi dalam grup Blackberry Messenger,” kata Ridwan. ”Kami adalah buah pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara langsung.”

Perkembangan media sosial di Indonesia seiring dengan meluasnya penetrasi internet di negeri ini. Jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2013, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, mencapai 71,19 juta atau naik sekitar 12 persen dibandingkan dengan tahun 2012 (sekitar 63 juta). Penetrasi internet di Indonesia saat ini 28 persen dari jumlah penduduk Indonesia 248 juta orang.

Antusiasme masyarakat Indonesia menggunakan media sosial menorehkan sejarah. Twitter, Facebook, dan Youtube menjadi sarana ampuh pendukung calon presiden dalam pemilihan presiden belum lama ini. Lagu ”Salam Dua Jari” ciptaan Abdee ”Slank” Negara yang diunggah ke Youtube, misalnya, menjadi lagu wajib pendukung Joko Widodo. Ketika Sherina membuat tagar (hashtag) #AkhirnyaPilihJokowi, jutaan pengguna Twitter di Indonesia membuat tagar yang sama. Media sosial menjadi alat bagi kekuatan rakyat (people’s power).

Sampai pertengahan 2014, jumlah pengguna media sosial di Indonesia terus meningkat, Facebook (69 juta) dan Twitter (20 juta). Tidaklah heran jika 2,4 persen kicauan di dunia berasal dari pengguna Twitter di Indonesia.

Kreativitas
Fenomena media sosial di Indonesia dan beberapa negara lain melahirkan banyak kreativitas baru, termasuk menelurkan perusahaan baru yang berkaitan dengan media baru ini.

Kehadiran media sosial pun makin menggairahkan industri kreatif. Berbagai perusahaan startup baru didirikan anak muda generasi digital dan sukses, termasuk di Indonesia. Marbel yang memfokuskan permainan edukatif anak-anak, misalnya, didirikan Andi Taru Nugroho, anak muda dari Salatiga. Juga PicMix (Calvin Kizana), iPhonesia (Aries Lukman), dan Karamel (Aditya) didirikan anak-anak muda dari Jakarta. Mereka tampil di pentas APMF dan mendapat sambutan meriah dari peserta.

Pengusaha muda Erick Thohir yang juga presiden klub sepak bola Italia, Inter Milan, juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana mendekatkan klub dengan jutaan penggemarnya dan membuat klub menjadi milik penggemar.

Fan page di Facebook bermunculan dan selalu di-”like” jutaan penggemar di seluruh dunia. Foto dan berita terkini tentang klub dan pemain diunggah dan dapat diketahui penggemar dalam waktu singkat. Ini diungkap Troy Strike dan Tatt Tam, masing-masing mewakili Chelsea dan Barcelona yang berupaya menjaga jutaan penggemar di Asia. Loyalitas penggemar terhadap klub sepak bola menjadi bisnis di luar permainan sepak bola itu sendiri.

Media sosial seperti Youtube dimanfaatkan perusahaan periklanan yang kreatif untuk membuat video yang berbeda dan diingat penontonnya. Itu dilakukan Merlee Cruz-Jayme, Chairmom dan CEO DM9 Jayme Syfu yang menunjukkan contoh betapa brand harus memberikan ingatan yang lama dalam benak konsumen.

Kentaro Kimura, Co-CEO dan Executive Creative Director Hakuhodo Kettle Jepang, mengungkapkan, brand yang dikemas dalam strategi pemasaran yang kreatif akan mampu memperoleh return on investment yang bagus.

Pemberdayaan media sosial secara kreatif oleh berbagai industri, perusahaan, bahkan oleh pejabat pemerintah, selain dapat memperkuat brand dan image, juga dapat menjaga loyalitas pelanggan, penggemar, followers. Mereka yang mengabaikan kenyataan ini akan digilas zaman dan punah menjadi fosil.

 

SUMBER: HARIAN KOMPAS, RABU 24 SEPTEMBER 2014 HALAMAN 1

Iklan