Arsip Tag: Facebook

Hidup Sederhana Orang-orang Superkaya Dunia


ROBERT ADHI KSP

Ketika menulis buku Panggil Aku King tahun 2009, saya mendapat kesempatan mewawancarai Robert Budi Hartono, pendiri klub Djarum, klub bulu tangkis yang ikut membesarkan pebulu tangkis Indonesia, Liem Swie King, pada zamannya.

Saya bersama King mendatangi Pak Budi Hartono di kantornya di Jakarta Pusat. Dari luar, kantor itu tidak tampak mencerminkan kantor orang terkaya di negeri ini.

Pak Budi Hartono bercerita bagaimana dia mengajak King berlatih di gudang tembakau yang pada malam hari ”disulap” menjadi lapangan bulu tangkis. Pak Budi sendiri yang mengangkut genset untuk menerangi tempat berlatih.

Seusai wawancara, Pak Robert Budi Hartono mengajak saya dan Liem Swie King makan siang di kantin perusahaan. Pak Budi dengan santai antre bersama karyawannya untuk mengambil menu buffet sembari mengajak kami juga untuk ikut antre.

Peristiwa itu sudah lama, tahun 2009, tetapi sampai sekarang saya masih terkesan pada sosok Pak Budi Hartono yang bersahaja dan sederhana. Padahal, Pak Robert Budi Hartono selalu dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia bersama saudaranya, Michael Budi Hartono.

Apa yang dilakukan Robert Budi Hartono itu tidak jauh berbeda dengan Amancio Ortega, pendiri Zara, yang masih makan siang bersama karyawannya di kantin perusahaan.

Lanjutkan membaca Hidup Sederhana Orang-orang Superkaya Dunia

Iklan

Yahoo, Akhir Tragis Raja Internet Era 1990-an


ROBERT ADHI KSP

Pada era 1990-an, Yahoo dikenal sebagai raja internet yang bernilai 125 miliar dollar AS. Namun, hanya dalam dua dekade sejak didirikan, Yahoo, pionir mesin pencari dan portal web yang berpengaruh yang kemudian berubah menjadi brand yang kehilangan arah, hari Senin (25/7/2016) secara resmi diakuisisi oleh Verizon, raksasa perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat, dengan nilai (hanya) 4,83 miliar dollar AS. Inilah akhir yang ironis dan tragis bagi Yahoo.

Ketika didirikan Jerry Yang dan David Filo, mahasiswa Universitas Stanford, pada 1994, Yahoo yang sering dijuluki sebagai “panduan Jerry masuk ke World Wide Web” itu tumbuh dengan sangat cepat. Jutaan orang Amerika yang menyalakan koneksi internet dial-up membutuhkan Yahoo sebagai home page yang mengarahkan ke semua destinasi.

Yahoo sangat populer dan menjadi portal yang digunakan ratusan juta orang untuk mencari berita tentang apa pun dan informasi tentang cuaca. Pengguna internet memanfaatkan mesin pencari Yahoo, surat elektronik Yahoo (Yahoo Mail), pesan singkat Yahoo (Yahoo Messenger), dan Flickr (dokumentasi foto). Semua produk Yahoo menjadi tren dunia pada masa itu dan sukses mengubah dunia.

Pada 1996, ketika Yahoo go public dan gelembung (bubble) dotcom mencapai puncaknya, nilai Yahoo 500 dollar AS per saham. Pada puncak kejayaannya, Yahoo menghabiskan 4,5 miliar dollar AS untuk membeli Geocities dan mengeluarkan 5,7 miliar dollar AS untuk membeli broadcast.com.

Namun, Yahoo tampaknya “menikmati zona nyaman” dan lupa berinovasi. Yahoo membiarkan setiap gelombang teknologi baru muncul dalam mesin pencari, media sosial, dan dunia bergerak (mobile) dan abai mengikuti perubahan keinginan pengguna internet.

Saat itu Yahoo menyia-nyiakan kesempatan membeli Google dan Facebook ketika keduanya masih “bayi”. Dan Yahoo tetaplah sama dengan Yahoo satu dekade sebelumnya saat didirikan, hanya sekadar portal. Yahoo, menurut Forbes, saat itu masih percaya diri dengan kebesaran namanya dan tetap menawarkan mesin pencari sendiri. Faktanya, Yahoo kini hanya menguasai sebagian kecil pangsa pengguna mesin pencari.

Suka tidak suka, sejak kehadiran Google tahun 1998 dan kemudian Facebook tahun 2004, ketenaran Yahoo secara perlahan mulai meredup. Dan ketika perhatian dunia beralih ke aplikasi ponsel cerdas, keuntungan Yahoo di dunia desktop mulai berkurang.

Marissa Mayer, mantan eksekutif Google yang dipercaya untuk menjabat CEO Yahoo sejak 2012, berupaya menakhodai “kapal” Yahoo yang mulai oleng. Namun, masa jabatan Mayer dirusak oleh kebingungannya menerapkan strategi dan salah urus. Mayer tahun 2013 malah membeli jejaring sosial dan microblogging Tumblr, yang dibuat bukan untuk berkompetisi dengan Facebook.

Pendapatan Yahoo makin berkurang setelah Apple mengeluarkan produk iPhone generasi pertama pada 2007. Pengguna portal Yahoo menurun karena banyak yang lebih tertarik dengan aplikasi di ponsel cerdas dan website yang lebih relevan.

Satu hal yang membuat Yahoo tetap bertahan adalah risiko yang diambil Jerry Yang ketika dia membeli 40 persen saham Alibaba senilai 1 miliar dollar AS. Alibaba kemudian menjadi raja e-commerce Tiongkok. Yahoo menjual 25 persen saham lainnya dan tersisa 15 persen. Saat ini saham Yahoo di Alibaba masih bernilai 31,2 miliar dollar AS.

Akuisisi yang dilakukan Verizon tidak termasuk 15 persen saham Yahoo di perusahaan raksasa e-commerce Tiongkok Alibaba dan juga 34 persen saham di Yahoo Jepang yang bernilai 8,3 miliar dollar AS. Portofolio paten Yahoo yang bernilai 1 miliar dollar AS juga bukan bagian dari penjualan.

Setelah bertahun-tahun menghadapi kekacauan, pada Februari 2016, Yahoo secara resmi mengumumkan menawarkan diri kepada investor untuk diakuisisi. Meski cukup banyak investor yang berminat membeli Yahoo, akhirnya Verizon yang terpilih. Verizon, raksasa perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat itu, telah berinvestasi dalam konten digital dan periklanan dalam beberapa tahun terakhir ini dengan membeli AOL dan The Huffington Post.

Akuisisi Yahoo oleh Verizon mengakhiri sejarah 21 tahun Yahoo sebagai perusahaan independen.

Digabung dengan AOL

Verizon mengakuisisi AOL pada 2015 dengan nilai 4,4 miliar dollar AS untuk meningkatkan bisnis periklanan dan media. Verizon tetap menjadi raksasa perusahaan telekomunikasi. Namun, akuisisi AOL dan kini Yahoo menunjukkan bahwa Verizon menginginkan diversifikasi operasi dan pendapatan.

“Akuisisi Yahoo terjadi hanya dalam satu tahun sejak kami mengakuisisi AOL. Langkah ini untuk meningkatkan strategi kami dalam penyediaan koneksi lintas layar bagi konsumen, kreator, dan pengiklan,” kata Chairman dan CEO Verizon Lowell McAdam dalam pernyataannya, Senin 25 Juli. “Akuisisi Yahoo ini akan menempatkan Verizon pada posisi yang sangat kompetitif sebagai perusahaan media mobile global yang top dan akuisisi Yahoo ini akan membantu mempercepat aliran pendapatan kami dalam iklan digital,” ungkap McAdam.

Lanjutkan membaca Yahoo, Akhir Tragis Raja Internet Era 1990-an

Pengguna Instagram Kini 400 Juta


ROBERT ADHI KSP

Jejaring sosial Instagram di mana para penggunanya bisa berbagi foto dan video kini mencapai milestone baru: mencapai 400 juta pengguna aktif. Pengumuman ini disampaikan dalam blog Instagram, Selasa (22/9) sore waktu Amerika Serikat, atau 10 bulan setelah Instagram mencapai angka 300 juta pengguna aktif.

Pengguna aktif Instagram sudah melampaui jejaring sosial Twitter yang saat ini memiliki 316 juta pengguna aktif setiap bulan dan juga jejaring sosial Pinterest yang baru saja mencapai angka 100 juta pengguna.

Instagram

Pertumbuhan Instagram memang sangat cepat. Ketika Instagram yang diciptakan Kevin Systrom dan Mike Krieger diluncurkan Oktober 2010 atau hampir lima tahun yang lalu, angka 400 juta tampak seperti mimpi yang sangat jauh dicapai.

Pada Desember 2010 atau tiga bulan setelah dirilis, jumlah pengguna Instagram tercatat satu juta. Pada 27 Februari 2013, dua setengah tahun setelah diluncurkan, Instagram mengumumkan jumlah pengguna aktifnya 100 juta. Jumlah ini terus meningkat. Pada 9 September 2013, Instagram mengumumkan jumlah pengguna aktifnya 150 juta. Pada Desember 2014, jumlah pengguna naik dua kali lipat menjadi 300 juta.

Diakuisisi Facebook
Instagram diakuisisi Facebook pada April 2012 dengan nilai 1 miliar dollar AS dalam uang tunai dan saham. Pada 2013, Instagram tumbuh 23 persen, sementara perusahaan induknya, Facebook, hanya tumbuh 3 persen.

Lanjutkan membaca Pengguna Instagram Kini 400 Juta

Ketika Netizen Melaporkan Terbakarnya Gedung di Manhattan


ROBERT ADHI KSP

Peristiwa terbakarnya sebuah gedung di kawasan East Village, Manhattan, New York, Amerika Serikat, mendapat perhatian dari netizen. Terbakarnya gedung yang terjadi pada Kamis (26/3) pukul 15.17 waktu setempat atau Jumat (27/3) dini hari WIB itu diawali dari ledakan.

Wali Kota New York Bill de Blasio mengatakan, ledakan di gedung itu berkaitan dengan gas. Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan. Empat orang dilaporkan dalam kondisi kritis dan belasan orang lainnya luka-luka. Gedung yang berfungsi sebagai tempat komersial dan tempat tinggal itu berlokasi antara Second Avenue dan Seventh Street.

Para pengguna media sosial Twitter dan Facebook yang berada di dekat lokasi kejadian ramai-ramai mengunggah foto dan video peristiwa itu.

Seorang penulis asal Sydney, Australia, yang sedang berada di sekitar lokasi menulis di Twitter-nya, @ScottWesterfeld, “Ledakan keras di sudut 7th Street dan 2nd Ave. Polisi berdatangan di sini.” Scott mengunggah beberapa laporan lagi dan mengumumkan siapa saja boleh menggunakan fotonya asalkan memberi kredit namanya.

“Saya baru mendengar suara keras. Banyak warga membantu mereka yang berlarian keluar dari gedung yang terbakar. Second Avenue ditutup untuk lalu lintas dari 9th Street ke Houston. Pengendalian massa masih terjadi. Tak satu pejalan kaki pun diizinkan masuk dari 9th Street ke 7th Street,” lapor penulis novel itu dalam Twitter-nya.

Pasukan penjinak bom New York Police Department (NYPD) berada di lokasi. Scott menulis pendapatnya, “Saya tidak berpikir ledakan ini aksi terorisme.”

Lanjutkan membaca Ketika Netizen Melaporkan Terbakarnya Gedung di Manhattan

Mengambil Manfaat dari Meluasnya Penetrasi Internet


ROBERT ADHI KSP

Jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat drastis dari 74 juta orang pada 2013 menjadi 111 juta orang pada 2014. Angka yang dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika ini menunjukkan semakin luasnya penetrasi internet di Indonesia.

Penetrasi internet di Pulau Jawa 75 persen, sedangkan di Sumatera 67 persen. Kementerian Kominfo menargetkan 50 persen dari jumlah penduduk Indonesia dapat mengakses internet pada 2015 ini (Kompas, 10 Maret 2015).

Penetrasi Internet

Situs eMarketer.com menyebutkan, jumlah pengguna internet di seluruh dunia pada 2015 mencapai angka 3 miliar, atau naik sekitar 6,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini berarti 42,4 persen populasi penduduk dunia dapat mengakses internet. Sampai 2018, hampir setengah dari populasi dunia atau sekitar 3,6 miliar orang mengakses internet minimal satu kali dalam satu bulan.

Pada 2014, Brasil menyalip Jepang sebagai pengguna internet terbesar keempat di dunia. Pada 2015, Meksiko akan berada di posisi kedelapan, mengalahkan Jerman. Pada 2016, India akan melompat ke posisi kedua dalam jumlah pengguna internet terbanyak, mengalahkan Amerika Serikat. Pada 2017, Indonesia akan berada di posisi kelima, menyalip Jepang. Pada 2018, jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, Tiongkok, akan mencapai 777 juta orang!

Meluasnya penetrasi internet di dunia berkaitan erat dengan membanjirnya telepon seluler (ponsel) murah dan terjangkau. Mobile Factbook menyebutkan, jumlah pengguna ponsel pada 2014 mencapai 7,5 miliar dan akan menjadi 8,5 miliar pada 2016. Dari jumlah itu, 54,3 persen jumlahnya berada di kawasan Asia Pasifik pada 2016.

Indonesia termasuk salah satu dari 100 negara yang jumlah ponselnya melebihi jumlah penduduknya. Posisi Indonesia pada akhir 2012 berada di tempat keempat dalam jumlah pengguna ponsel terbanyak di dunia. Namun, pengguna 3G/3,5G hanya 19 persen. Ini wajar karena jumlah ponsel pintar, termasuk tablet, yang memiliki akses broadband hanya sekitar 1,1 miliar. Selebihnya ponsel murah, yang dapat dimiliki orang dengan pendapatan beberapa dollar AS sehari.

Meluasnya penetrasi internet dan meningkatnya penjualan ponsel juga berkaitan dengan pesatnya pertumbuhan pengguna media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, hingga lainnya. Hampir semua ponsel pintar memiliki aplikasi-aplikasi media sosial tersebut. Ini memudahkan pemilik ponsel dan pengguna media sosial mengunggah foto-foto selfie, memperbarui status dan lokasi mereka, serta membaca berbagai informasi yang tersedia.

Komunikasi dengan teman juga semakin mudah melalui aplikasi-aplikasi ngobrol online (chatting) di ponsel pintar, seperti WhatsApp, WeChat, Telegram, KakaoTalk, Line, dan Jongla. Pengguna ponsel sudah jarang memanfaatkan pesan singkat lewat ponsel (SMS).

Manfaat

Apa makna dari fenomena meluasnya penetrasi internet ini? Berselancar dengan ponsel pintar dan tablet menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak hanya di kota-kota besar, fenomena ini juga terlihat di kota-kota lapis kedua dan ketiga. Makin banyak orang mencari informasi terkini dari perangkat bergerak mereka.

Lanjutkan membaca Mengambil Manfaat dari Meluasnya Penetrasi Internet

Akun Media Sosial Para Menteri Kabinet Kerja


Akun Menteri Kabinet Kerja

ROBERT ADHI KSP

ADA yang menarik dari para menteri di Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebagian besar para menteri memiliki akun Twitter dan Facebook. Mereka memanfaatkannya sebagai alat untuk berkomunikasi dengan rakyat. Namun, tidak semua akun menteri diperbarui. Jika menteri tidak bisa dihubungi lewat akun media sosial, perlu dicari cara yang pas untuk menyerap suara rakyat.

Beberapa menteri langsung membuat akun, tetapi sebagian lainnya sejak sebelum menjabat menteri sudah memiliki akun-akun media sosial.

Menteri Agraria dan Tata Ruang merangkap Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan, misalnya, memiliki akun Twitter @ferrymbaldan sejak Maret 2009 dengan 52.700 pengikut. Sebelum menjabat menteri, Ferry cukup aktif ngetwit, terutama yang berkaitan dengan klub sepak bola favoritnya, Manchester United.

Lalu, bagaimana dengan kicauan yang berkaitan dengan tugasnya sebagai menteri? Ferry tetap tanggap menjawab pertanyaan seputar intimidasi yang dilakukan pegawai BPN di Jawa Barat. ”Di mana dan kapan, tegur saja,” kata alumnus FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung, itu dalam kicauannya pada 31 Oktober.

Ferry mengajak semua pihak membantunya agar institusi kementeriannya bisa menjadi lebih baik dengan memberi informasi, kritik, dan masukan melalui akun Twitter resmi @atr_bpn.

Demikian juga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang memiliki akun Twitter @LukmanSaifuddin. Lukman termasuk aktif berkicau di Twitter, termasuk menjawab pertanyaan dan komentar para pengikutnya yang masuk ke lini masa Twitter. Bahkan, pertanyaan kocak @kikipramitha, ”Pak, boleh gak kalo pasfoto di buku nikah pake foto gaya? Terlalu formal mah kayak di ijazah.” Lukman menjawab, ”Ide menarik nih.”

Menteri lain yang aktif ngetwit adalah Yuddy Chrisnandi @YuddyChrisnandi. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara ini pada 28 Oktober ngetwit dia menjadi inspektur upacara Sumpah Pemuda di Kemenpan. ”Saya menggunakan baju Korpri, yang sudah tak pernah dipakai sejak 20 tahun lalu saat kerja di BBD,” ungkapnya.

Pada 29 Oktober, Yuddy berkicau, ”Kepada teman-teman, terima kasih atas sarannya terkait Kemenpan. Staf kementerian akan follow-up. Jangan ragu memberikan saran dan kritik.”

Lanjutkan membaca Akun Media Sosial Para Menteri Kabinet Kerja

Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial


Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

ROBERT ADHI KSP

Di era digital, cukup banyak kepala negara dan kepala pemerintahan di sejumlah negara memanfaatkan media sosial sebagai salah satu alat komunikasi. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, memanfaatkan Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pendapat tentang isu-isu terkini.

Sebelum media sosial populer, para pemimpin negara lebih sering memanfaatkan televisi dan radio. Namun, kini media sosial menyediakan semuanya, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga dalam bentuk foto dan video. Ini lompatan jauh dunia komunikasi sesuai zamannya.

Presiden Yudhoyono sedang berada di luar negeri ketika Undang-Undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) disahkan DPR melalui voting. Menanggapi banyaknya kritik rakyat pengguna media sosial yang membuat hashtag #ShameOnYouSBY dan #ShamedByYou di Twitter, Yudhoyono kemudian menjelaskan melalui Youtube tentang sikapnya terhadap UU Pilkada.

Dalam video selama 15 menit 24 detik yang diunggah ketika masih dalam perjalanan ke luar negeri, Presiden Yudhoyono menegaskan sikapnya untuk memastikan hak pilih rakyat tidak dihilangkan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Sikap serupa ia sampaikan melalui Facebook dan Twitter.

Pelanggan video Yudhoyono di Youtube sampai awal Oktober 2014 tercatat 8.267. Komentar Yudhoyono di video ini dikutip oleh media-media mainstream, termasuk media online. Yudhoyono juga memiliki akun resmi Twitter dengan jumlah pengikut (follower) sebanyak 5,62 juta. Fan page Presiden Yudhoyono yang dikelola staf khusus presiden di-”like” 3.657.118. Jika SBY sendiri yang mem-posting pendapat-pendapatnya, di belakangnya tertera *SBY*.

Yudhoyono sebenarnya belum lama membuat akun-akun media sosial tersebut. Namun, popularitas media sosial di Indonesia yang sangat tinggi tampaknya membuat Yudhoyono harus berkomunikasi dengan rakyatnya yang sebagian besar pengguna media sosial.

Yang menarik, ketika ribuan orang mem-bully Yudhoyono di Twitter terkait UU Pilkada, Presiden tidak menunjukkan reaksi negatif. Bahkan, terkesan dia menerima hal itu sebagai konsekuensi atas aktifnya dia sebagai pengguna media sosial. Selain mengemukakan pendapat merupakan bagian dari proses demokrasi, SBY tampaknya juga memahami sifat media sosial yang spontan dan langsung.

Obama dan lain-lain
Tidak hanya Presiden Yudhoyono yang memiliki akun-akun media sosial. Presiden Amerika Serikat Barack Obama sudah memilikinya sejak awal, bahkan ketika media-media sosial yang diciptakan orang-orang Amerika Serikat itu baru mulai dirilis kali pertama. Pelanggan Youtube Barack Obama sampai awal Oktober ini tercatat 536.361, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Youtube Yudhoyono. Pengikut akun Twitter Barack Obama tercatat 47,7 juta dan jumlah yang me-like fan page Obama tercatat 42.940.006.

Obama memanfaatkan betul media sosial untuk alat komunikasi dengan rakyat Amerika Serikat. Jumlah yang me-like satu posting Obama bisa mencapai ratusan ribu orang. Topiknya macam-macam, dari isu lapangan kerja, kenaikan upah, kesehatan, pendidikan, sampai masalah perubahan iklim. Obama juga memberi ruang bagi rakyatnya untuk berkomentar. Pedas atau manis, itulah esensi demokrasi.

Lanjutkan membaca Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: