Musibah AirAsia dan Kehadiran Negara


ROBERT ADHI KSP

HARI Senin (12/1) atau 16 hari setelah pesawat bertarif murah AirAsia QZ 8501 jurusan Surabaya-Singapura jatuh di perairan Selat Karimata- Laut Jawa, Badan SAR Nasional menemukan satu bagian kotak hitam pesawat Airbus A320 itu.

Dua hari sebelumnya, penyelam-penyelam Badan SAR Nasional (Basarnas) berhasil mengangkat ekor pesawat tersebut dari dasar laut.

Tim Basarnas yang melaksanakan tugas kemanusiaan tanpa henti ini patut diberi apresiasi tinggi. Anggota TNI dan Polri dari berbagai kesatuan dan unit itu merelakan hari-hari libur akhir tahun yang seharusnya dimanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga diisi dengan melaksanakan tugas kemanusiaan.Kehadiran Negara

Berhari-hari mereka berada di laut, mencari jenazah penumpang dan awak AirAsia, serta mengantarkannya ke daratan. Berhari-hari mereka bergelut dengan jenazah dan puing-puing pesawat yang dievakuasi dari laut. Berhari-hari mereka memeriksa jenazah-jenazah itu agar bisa dikenali dan dikembalikan kepada keluarga. Tentu ada saat-saat lelah dan jenuh. Namun, mereka tetap bersemangat menjalani tugas kemanusiaan ini. Jika Kepala Basarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo berhari-hari belum pulang ke rumah, apalagi anggota di lapangan.

Kehadiran Panglima TNI Jenderal Moeldoko di lapangan belum lama ini tentu dalam konteks memberi semangat kepada anggota-anggota TNI yang mengemban tugas kemanusiaan itu.

Selain itu, kita juga melihat bagaimana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini begitu peduli kepada keluarga korban AirAsia yang sedang berduka. Dia selalu menghibur mereka yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Sebanyak 81 penumpang AirAsia yang jatuh di laut itu adalah warga Surabaya, Jawa Timur. Risma sejak awal sudah meminta aparat keamanan serta ketua rukun warga/rukun tetangga membantu mengamankan rumah-rumah keluarga penumpang AirAsia. Risma juga sempat memindahkan kantornya ke posko di Bandara Juanda. Setelah jenazah dievakuasi dan berdatangan ke Surabaya, Risma menjamin biaya pemakaman dan kremasi para korban.

Ada benang merah dalam penanganan musibah AirAsia ini, yaitu kepedulian dan empati. Karakter positif bangsa Indonesia pada umumnya adalah selalu berempati, bersimpati, dan peduli kepada mereka yang mengalami musibah. Ini tidak hanya terjadi pada musibah AirAsia, tetapi juga pada musibah-musibah lainnya yang terjadi di sejumlah tempat.

Sejak awal Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan semua jajaran pemerintahan, TNI, dan Polri untuk menangani jatuhnya AirAsia dengan tepat. Presiden menegaskan, negara akan selalu hadir ketika musibah datang, ketika muncul persoalan-persoalan dalam masyarakat. Negara harus selalu hadir agar rakyat tidak merasa ditinggal sendirian.

Apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo, Kepala Basarnas dan jajarannya, Panglima TNI, Kapolri, dan Wali Kota Surabaya dalam penanganan jatuhnya AirAsia membuktikan bahwa negara secara nyata hadir di tengah-tengah rakyat yang mengalami musibah. Tidak berlebihan apabila kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua yang melaksanakan tugas kemanusiaan ini.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 13 JANUARI 2015

Iklan