Ponsel Cerdas yang Terjangkau


 

ROBERT ADHI KSP

Siapa bilang produk Tiongkok mudah rusak? Siapa bilang ponsel cerdas harus mahal? Smartfren, operator telko Indonesia yang memiliki kepentingan strategis membawa teknologi terbaru ke Indonesia, mematok harga perangkat Andromax  di bawah Rp 2 juta dengan target segmen menengah dan menengah bawah.  

Sejak menjalin kerja sama dengan Smartfren tahun 2012 lalu, Hisense, perusahaan elektronik asal Tiongkok itu memasok perangkat berteknologi terbaru untuk Smartfren di bawah merek Andromax sesuai perkembangan zaman.

Jumlah pengguna Smartfren saat ini 13,5 juta. Masih relatif kecil bila dibandingkan dengan pengguna Telkomsel yang mencapai 100 juta.

Survei yang dilakukan Smartfren  menunjukkan, umumnya usia pengguna Smartfren, termasuk perangkat  Andromax,  antara  15 tahun dan 30 tahun, sebagian besar tinggal di Jakarta dan Bodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Mereka  melek internet dan menggunakan media sosial. Bila di kota-kota kecil, orang lebih banyak menggunakan telepon seluler hanya untuk menelepon, lain halnya dengan pengguna di kawasan perkotaan.

Mahasiswa dan karyawan baru haus teknologi, beraktivitas dengan internet, sehingga butuh perangkat yang memiliki memori besar, kamera bagus, dan harganya terjangkau, serta dilengkapi after services di 109 di seluruh Indonesia. Bila ada masalah di perangkat, mereka dapat langsung ke galeri dan menghubungi call center 24 jam. 

Saat berdiri tahun 2007, perusahaan telko milik Sinar Mas ini bernama Smart dan hanya melayani CDMA. Pada tahun 2010, Smart merger dengan Fren, dan kedua perusahaan itu sepakat menamakan diri Smartfren dengan nomor 0888xxxxxxx.

Ketika Smart bermain di CDMA, perangkat CDMA di Indonesia jumlahnya kurang dari tiga persen.

Pasar terbuka

Kini setelah memasuki pasar terbuka (open market) 4G LTE, akses Smartfren makin besar. Selain di perangkat di bawah  brand Hisense, nomor Smartfren dapat digunakan di Lenovo, Samsung,   termasuk merek lokal Indonesia. Ini berarti pengguna nomor Smartfren dapat memasang kartu SIM di perangkat Samsung, Lenovo dan lainnya. Smartfren ingin menegaskan kepada khalayak, Smartfren adalah operator, bukan vendor perangkat.

“Kalau orang berpikir Andromax merek lokal, kini mereka bisa menggunakan nomor Smartfren di perangkat  Samsung dan Lenovo. Akses Smartfren tak lagi hanya pada perangkat Andromax,” kata Roberto Saputra, Chief Brand Officer Smartfren dalam percakapan dengan Kompas di sela-sela perjalanan ke gedung Hisense Tower dan Hisense Multimedia Research and Development (R&D) di Qingdao, Tiongkok, 10-11 Mei 2016.

Dengan model bisnis open market, Smartfren ingin nomor-nomor Smartfren digunakan di semua perangkat, tak hanya Andromax. Di ponsel pintar produk Hisense yang akan diluncurkan awal Juni 2016, nomor Smartfren sudah masuk di perangkat yang memiliki dua SIM itu. Di perangkat Hisense misalnya, Smartfren menawarkan paket unlimited dengan  mengisi top up Rp 75.000.

Lima seri Andromax yang dluncurkan pada 2015 semuanya produk Hisense. Demikian juga Andromax yang dirilis tahun 2016 ini sebagian besar produksi Hisense. 

Lompatan jauh Smartfren dari CDMA ke 4G LTE belum disadari banyak pengguna. Ada yang masih berpikir, Smartfren adalah CDMA yang 4G. Padahal CDMA ya CDMA, dan Smartfren sudah meninggalkan CDMA.  “Tantangan kami adalah bagaimana melakukan edukasi, mengubah persepsi masyarakat terhadap Smartfren yang telanjur menyamakan Smartfren dengan teknoliogi CDMA di masa lalu,” kata Roberto.

Teknologi CDMA sudah selesai karena pengguna ponsel pintar umumnya menggunakan data. Semua  BTS EDVO milik Smartfren kini dilengkapi dengan 4G, agar semua pindah ke 4G. Bila spektrum makin luas, kecepatan makin maksimum.Jangkauan LTE lebih luas. Di jaringan 4G LTE, kecepatan data dan layanan data lebih cepat,”  kata Hartadi Novianto, Head of Mass Product Smartfren.

Teknologi VOLTE

Smartfren kini bergerak maju menyesuaikan diri mengikuti teknologi terkini. Bahkan Smartfren adalah operator telko Indonesia pertama yang menggunakan teknologi VOLTE pada perangkatnya. Dengan jaringan terluas di 188 kota dan 33 provinsi di Indonesia, pengguna Smartfren dimanjakan karena dapat melakukan video call dan video conference di jaringan LTE. Operator telko di dunia yang sudah memanfaatkan teknologi VOLTE di antaranya dari Korea Selatan. 

Februari 2016 lalu, Smartfren meluncurkan Andromax R2 yang memiliki layanan VOLTE. Dengan harga pasar Rp 1,7 juta, Andromax R2 memiliki RAM 2 GB dan kamera 5 megapiksel menyasar anak-anak muda yang gemar ber-selfie, tampil di media sosial, dan mengunduh gim (game) sepuasnya. Dengan ponsel cerdas seharga Rp 1,7 juta itu, pengguna bisa menggunakan fitur suara yang jernih, melakukan video call, termasuk menelepon di Line dan WhatsApp, serta melakukan transfer data lewat jejaring sosial itu. Di area Wifi, pengguna perangkat berteknologi VOLTE bisa tetap menelepon.

Jika dilihat dari spesifikasinya yang lengkap, Andromax R2 seharusnya dijual dengan harga Rp 3 juta. Namun Smartfren memiliki model bisnis yang berbeda. “Kami tidak mengambil untung dari penjualan perangkat (handset). Margin keuntungan kami dari jasa dan data internet,” jelas Roberto.

Smartfren ingin pengguna nomornya di daerah-daerah dan kota kecil di Indonesia juga bisa menikmati data internet.   Perangkat buatan Hisense yang  bernama Andromax R2 diminati para pengguna mahasiswa dan karyawan yang baru masuk kerja. Respon pengguna sangat besar sehingga Smartfren kewalahan. Jumlah yang terjual hingga Mei sudah 100.000 unit. Adapun Andromax E2, perangkat buatan Haier, dijual dengan harga Rp 899.000, lebih menyasar segmen lebih bawah.

“Kami ingin masyarakat Indonesia di segmen menengah dan menengah bawah yang tinggal di perkotaan dan di pinggiran kota, tetap dapat berselancar internet, menikmati media sosial, permainan, berfoto, tanpa harus membeli perangkat mahal sampai Rp 10 juta,” kata Roberto. 

Andalkan “revenue” data internet

Pada tahun 2015, revenue Smartfren mencapai Rp 2015. Jumlah ini masih relatif kecil bila dibandingkan total revenue operator telko Rp 120 triliun. Smartfren saat ini berada di posisi ke-5 operator telko di Indonesia, di bawah Telkomsel, Indosat, XL dan 3.  

Pada umumnya operator telko di Indonesia mendapatkan revenue dari voice dan SMS (55 persen sampai 65 persen), dan selebihnya dari data internet. Namun Smartfren berbeda. Revenue Smartfren sebagian besar (85 persen) berasal dari penggunaan data internet dan sisanya  dari voice.

 Ke depan, Smartfren tetap meluncurkan produk berkualitas. Perusahaan telko ini berusaha memuaskan pelanggan yang berkualitas, loyal dan menghasilkan revenue yang tingg

 Smartfren tetap mengikuti perkembangan teknologi dan berinovasi. Kunjungan ke Hisense, melihat pusat riset dan pengembangan yang mumpuni, membuktikan bahwa Smartfren tepat memiliki mitra.    

(ROBERT ADHI KSP dari QINGDAO, TIONGKOK) 

SUMBER: HARIAN KOMPAS, SELASA 24 MARET 2016. HALAMAN 25

Iklan