Skystar UMN Cetak “Technopreneur” Muda


ROBERT ADHI KSP

Osbert Adrianto, pendiri DreamBox, memulai usaha kecil-kecilannya ketika masih menjadi mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong, Tangerang. Sebagai “branding agency” dan “creative agency”, DreamBox membantu klien mengembangkan “branding” dan memberikan solusi teknologi sesuai keinginan klien.

Dari kiri ke kanan (berdiri): William Eka (Skyventures Capital), Yovita Surianto (Program Manager Skyventures UMN), dan Geraldine Oetama (Executive Director Skyventures UMN) dalam pertemuan dengan para peserta program inkubasi Skyventures UMN.
Dari kiri ke kanan (berdiri): William Eka (Skystar Ventures Capital Associates Director), Yovita Surianto (Program Manager Skystar Ventures UMN), dan Geraldine Oetama (Executive Director Skystar Ventures UMN). FOTO: ARSIP UMN

 

“Saya dan beberapa kawan memulai merintis DreamBox sejak masih kuliah. Awalnya kami sebagai creative agency dengan membuat website-website. Setelah ada dukungan dari para mentor di Skystar Ventures dan mendapatkan berbagai pelatihan, kami menemukan metodologi dalam berbisnis. Kami sudah menjalankan bisnis ini selama lima tahun. Saya lulus kuliah tahun 2013 dan kini DreamBox sudah memiliki belasan karyawan dengan pendapatan ratusan juta rupiah, bahkan mendekati miliaran rupiah,” ungkap Osbert dalam percakapan dengan Kompas, beberapa waktu lalu.

Osbert dan DreamBox hanya salah satu contoh sukses start up (usaha rintisan) yang didirikan mahasiswa UMN setelah mengikuti program inkubasi yang diselenggarakan Skystar Ventures. DreamBox salah satu tenant program inkubasi batch pertama. DreamBox didirikan pada 2014 oleh tiga founder alumni Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang berlatar belakang Desain Grafis, Manajemen Bisnis, dan Akuntansi. DreamBox sudah menangani lebih dari 50 proyek di berbagai bidang, mulai dari logistik, perbankan, ritel, properti, sampai pada bidang pendidikan.

Pertama

Skystar Ventures adalah wadah wirausaha kreatif berbasis teknologi di Indonesia, yang didirikan UMN dan didukung Kompas Gramedia, untuk menarik minat anak muda di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Sejalan dengan misinya, Skystar Ventures bertujuan mengembangkan ekosistem usaha rintisan di Indonesia.

Skystar Ventures UMN merupakan program inkubasi yang pertama dibangun di kampus perguruan tinggi di Indonesia. Kampus lain juga memiliki program inkubasi, tetapi umumnya tidak ada tindak lanjut. Kampus-kampus lain juga baru memulai, tetapi acap kali mismanajemen.

Semua mahasiswa UMN dari lintas program studi (prodi) diwajibkan mengambil kelas entrepreneurship. Mereka diharuskan membangun ide bisnis dan mewujudkannya. Dari dua batch selama dua tahun, sudah terbentuk 15 tim start up, masing-masing beranggotakan 3-5 mahasiswa. Saat ini yang masih berjalan tim-tim lainnya. Apabila mereka kesulitan mengatur waktu, Skystar Ventures memberikan kesempatan kepada mereka untuk lulus terlebih dahulu. Yang penting, mereka sudah paham usaha rintisan.

Program Manager Skyventures Universitas Multimedia Nusantara Yovita Surianto (berbaju merah) memberikan pengarahan kepada mahasiswa peserta program Skyventures UMN.
Program Manager Skystar Ventures Universitas Multimedia Nusantara Yovita Surianto (berbaju merah) memberikan pengarahan kepada mahasiswa peserta program Skystar Ventures. FOTO: ARSIP UMN

Program inkubasi Skystar Ventures berupa pelatihan (training), mentorship, penyediaan fasilitas tempat kerja, sampai akses ke jaringan profesional. Intinya, Skystar Ventures membantu para pendiri mengembangkan ide dan kapabilitas di bidang teknologi informasi.

Banyak anak muda yang memulai usaha rintisan tidak mendapatkan pelatihan dan pengetahuan tentang bisnis. Setelah mereka lulus dari UMN, apa yang akan mereka kerjakan?

“Di Indonesia, keterampilan dalam bidang teknologi komunikasi informasi masih relatif rendah, sementara tenaga yang ahli di bidang ini banyak dibutuhkan,” kata Geraldine Oetama, Executive Director Skystar Ventures. Usaha rintisan di Indonesia saat ini jumlahnya masih relatif kecil, padahal pasar Indonesia sangat besar. Inilah saatnya untuk mengedukasi.

Geraldine berpendapat, market di dunia teknologi komunikasi dan informasi sangat besar, tetapi belum banyak yang memulainya dari kurikulum di bidang edukasi, program inkubasi, mentoring, dan foundation. “Melalui SkyStar Ventures di Universitas Multimedia Nusantara, kami membangun ekosistem start up,” katanya.

“Kami lebih fokus pada internet dan mobile base. Tahap dini, re-engine dari ide ke prototipe. Tujuannya untuk meningkatkan skill dan kapabilitas. Kenapa? Banyak kualitas pendidikan perguruan tinggi di bidang teknologi informasi masih teori,” kata Geraldine.

Lanjutkan membaca Skystar UMN Cetak “Technopreneur” Muda

Iklan

Tito Karnavian, Kombinasi Polisi Lapangan dan Polisi Intelektual


ROBERT ADHI KSP

Komisaris Jenderal   Tito Karnavian (51) diajukan Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Tito akan menggantikan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun akhir Juli 2016.

Pilihan Presiden Joko Widodo pada Tito Karnavian sangat tepat. Tito yang saat ini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) adalah kombinasi antara polisi yang menguasai lapangan dan polisi intelektual. Tito Karnavian adalah penerima bintang Adhi Makayasa (lulusan Akpol terbaik tahun 1987) dan menerima Bintang Cendekiawan sebagai lulusan terbaik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta tahun 1996.

Bila dilihat dari usia dan angkatannya, Tito memang relatif lebih muda. Jenderal (Pol) Badrodin Haiti penerima Adhi Makayasa, lulusan terbaik 1982, sedangkan Tito Karnavian lulusan terbaik 1987. Dia melompati lima angkatan. Tapi, seperti yang terjadi di banyak organisasi lain, memilih pimpinan sesungguhnya tak perlu urut kacang. Siapa yang terbaik, yang mampu dan punya kompetensi, meski usianya lebih muda, dia layak dipilih.

Bukan Kapolri termuda

Apakah Tito Karnavian Kapolri termuda? Mari kita telusuri satu persatu. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo ketika menjabat Kepala Kepolisian Negara pertama pada 29 September 1945 usianya 37 tahun. Raden Soekarno Djojonegoro saat menjabat Kepala Kepolisian Negara ke-2 pada 15 Desember 1959 berusia 51 tahun. Soetjipto Danoekoesoemo Kepala Kepolisian Negara ke-3 berusia 41 tahun saat dilantik 30 Desember 1963. Sedangkan Soetjipto Joedodihardjo Kepala Kepolisian Negara ke-4 berusia 48 tahun saat mulai bertugas 9 Mei 1965.

Hoegeng Imam Santoso yang menjabat Kepala Kepolisian Negara ke-5 berusia 47 tahun saat bertugas 9 Mei 1968. Demikian juga Mohamad Hasan, Kapolri ke-6, berusia 51 tahun saat menjabat 3 Oktober 1971. Widodo Budidarmo, Kapolri ke-7 berusia 47 tahun saat memulai tugas 26 Juni 1974. Awaloedin Djamin, Kapolri ke-8, berusia 51 tahun saat menjabat 27 September 1978.

Kunarto ketika dilantik Presiden Soeharto menjadi Kapolri ke-11 pada 29 Februari 1991 berusia 50 tahun. Demikian juga Moch Sanoesi ketika dipilih sebagai Kapolri ke-10 pada 7 Juni 1986 berusia 51 tahun. Dibyo Widodo ketika menjabat Kapolri ke-13 pada 15 Maret 1996 berusia 49 tahun menjelang 50 tahun. Da’i Bahctiar ketika menjabat Kapolri ke-17 pada 29 November 2001 berusia 51 tahun.

Selebihnya mereka yang dipilih menjadi Kapolri berusia 52 tahun atau lebih. Bahkan Badrodin Haiti berusia 57 tahun ketika dilantik menjadi Kapolri ke-22.

Dipilihnya Tito yang berusia 51 tahun, menjelang 52 tahun, mengembalikan kebiasaan bahwa usia Kapolri selayaknya tidak lebih dari 52 tahun saat menjabat. Ini penting agar Kapolri memiliki waktu yang cukup untuk membenahi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Tito Karnavian menjadi putra Palembang kedua yang menduduki jabatan nomor satu di Kepolisian RI. Sebelumnya Mohamad Hasan kelahiran Palembang 20 Maret 1920 menjadi Kapolri ke-6 periode 1971-1974.

Tiga kali naik pangkat istimewa

Mengapa Tito Karnavian layak dan tepat dipilih sebagai Kapolri ke-23? Kemampuan Tito mengungkap berbagai kasus kriminal dan terorisme tidak diragukan lagi. Salah satu ukurannya adalah Tito  mendapat kenaikan pangkat istimewa sampai tiga kali karena berhasil mengungkap kasus-kasus besar di masa lalu.

Tito langsung terjun ke lapangan untuk mengungkap berbagai kasus besar,  dari bom di Kedubes Filipina (2000), bom Bursa Efek Jakarta (2001), bom malam Natal Jakarta (2001), bom di Plaza Atrium Senen Jakarta (2001), pembunuhan hakim agung Syaifuddin Kartasasmita di Jakarta (2001), bom di Bandara Soekarno-Hatta (2003), bom di Hotel JW Marriott Jakarta (2003), pembunuhan Direktur PT Asaba (2004), bom Cimanggis Depok (2004), bom Kedubes Australia (2004), bom Bali II (2005), mutilasi tiga siswi di Poso (2006), bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott Jakarta (2009), sampai pada  operasi pengungkapan perampokan bersenjata Bank CIMB Niaga Medan (2010) dan bom buku (2011).

Menangkap Tommy Soeharto
Nama, karier, dan pangkatnya melesat pada 2001 ketika Tito yang saat itu Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya memimpin Tim Kobra menangkap Hutomo Mandala Putra atau yang dikenal dengan Tommy Soeharto. Atas penangkapan tersebut, Tito dan 24 anggota tim menerima kenaikan pangkat satu tingkat.  Tito  mendapat promosi dari pangkat komisaris ke ajun komisaris besar.

Setelah satu tahun 24 hari menjadi buronan, Tommy Soeharto ditangkap Polda Metro Jaya di sebuah rumah di Jalan Maleo II No 9 Sektor IX Bintaro Jaya, Tangerang, Rabu, 28 November 2001, pukul 16.05. Penangkapan putra mantan Presiden Soeharto itu terkait kasus tukar guling tanah Bulog ke PT Goro Batara Sakti. Presiden (waktu itu) Megawati Soekarnoputri memerintahkan polisi untuk menangkap Tommy.

Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Sofjan Jacoeb menjelaskan, Tommy  tidak melawan ketika disergap tim khusus yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Polda Metro Jaya  Tito Karnavian. Polisi sudah menerima informasi sejak 6 Agustus 2001. Sejak itu polisi melakukan survei, menyadap telepon, dan mengawasi orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengan Tommy, serta membuntuti dari Menteng, Pejaten, hingga ke Bintaro (Kompas, Kamis, 29 November 2001).

 

Melumpuhkan Dr Azahari dan Noordin M Top
Tito  juga sangat menguasai masalah terorisme, tidak sekadar paham teori, tetapi juga menguasai persoalan di lapangan. Sejak pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003 dan serangan bom Bali II pada 1 Oktober 2005, nama Dr Azahari dan Noordin Mohammad Top sering disebut-sebut sebagai otak peledakan bom.

Lanjutkan membaca Tito Karnavian, Kombinasi Polisi Lapangan dan Polisi Intelektual

Apa yang Diinginkan Microsoft Setelah Mengakuisisi LinkedIn?


ROBERT ADHI KSP

Microsoft hari Senin (13/6/2016) mengumumkan telah membeli secara tunai jejaring profesional LinkedIn dengan nilai 26,2 miliar dollar AS. Ini merupakan akuisisi terbesar bagi Microsoft sejak Satya Nadella menjabat CEO.

Setelah akuisisi ini, LinkedIn tetap mempertahankan brand dan produknya, tetapi akan menjadi bagian dari produktivitas dan segmen proses bisnis Microsoft. CEO LinkedIn Jeff Weiner akan melapor kepada Satya Nadella.

Didirikan 14 Desember 2002 oleh Reid Hoffman, Allen Blue, Konstantin Guericke, Eric Ly, dan Jean-Luc Vaillant, serta dirilis secara resmi pada 5 Mei 2003, LinkedIn kini memiliki 433 juta anggota dari 200 negara dan teritorial di seluruh dunia, sebagian besar para profesional. Sebanyak 60 persen anggota LinkedIn mengakses jejaring sosial itu dari ponsel cerdas mereka. Jumlah pencari kerja lewat LinkedIn meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari 7 juta orang. Selama 13 tahun perjalanannya, LinkedIn mengakuisisi 16 perusahaan jejaring sosial dan aplikasi.

Apa sebenarnya yang diinginkan Microsoft setelah membeli LinkedIn? CEO Microsoft Satya Nadella mengumumkan, akuisisi ini menyatukan cloudterbesar di dunia dengan jejaring profesional terkemuka di dunia. “Saya telah mempelajari LinkedIn sambil merenungkan bagaimana jejaring dapat melakukan diferensiasi layanan cloud. Ini jelas bagi saya bahwa tim LinkedIn telah mengembangkan bisnis fantastis dengan membangun jejaring secara mengesankan, dengan memiliki lebih dari ratusan juta profesional di seluruh dunia,” kata Nadella. Microsoft berharap LinkedIn menjadi pusat profil profesional yang muncul dalam aplikasi, seperti Outlook, Skype, Office, bahkan Windows. Feed berita masuk ke dalam aliran data, yang akan menghubungkan para profesional satu sama lain melalui aktivitas rapat, catatan, dan surat elektronik.

 

Satya Nadella bahkan memberi contoh Cortana, aplikasi asisten pribadi cerdas yang dikembangkan Microsoft, terhubung dengan LinkedIn untuk menyediakan konteks orang yang mungkin dapat diajak bertemu secara profesional. Sangat jelas bahwa Microsoft melihat LinkedIn sebagai bagian penting yang membuat Cortana lebih cerdas.

Lanjutkan membaca Apa yang Diinginkan Microsoft Setelah Mengakuisisi LinkedIn?

Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando


ROBERT ADHI KSP

Kelab malam Pulse yang berlokasi di 1912 South Orange Avenue, dekat Kaley Street, Orlando, Florida, Amerika Serikat, Minggu (12/6/2016) dini hari, ingar-bingar dengan musik berirama Latin. Kelab malam yang menyebut diri sebagai “Hotspot Latin Orlando” itu sedang menggelar pesta kelas atas “Sabtu Latin” yang menampilkan tiga DJ dan pertunjukan midnight.

“Setiap ruangan di kelab malam ini penuh sesak,” kata DeAngelo Scott (30), yang meninggalkan kelab Pulse pukul 01.58.

Seorang lelaki duduk di kelab malam itu sejak pukul 01.00 dinihari, menikmati minuman sendirian. Wajahnya sudah dikenal oleh beberapa pengunjung yang sering ke sana.

Beberapa menit setelah jarum jam menunjukkan angka 2, lelaki itu bangkit dari tempat duduknya, mengeluarkan senjata AR-15, sepucuk pistol, berikut amunisi yang dibawanya, dan mulai melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pengunjung di ruang utama. Dalam sekejap, Pulse yang dikenal sebagai ”kelab malam paling hot bagi para gay di Orlando” itu berubah menjadi lautan darah.

Peluru-peluru beterbangan mengenai 103 orang yang berada di dekat si penembak. Sebanyak 49 orang tewas bersimbah darah, sedangkan 53 korban lain mengalami luka-luka dan kini dirawat di rumah sakit. Ketika peristiwa terjadi, kelab malam itu dipenuhi 320 orang.

Sementara di ruang Patio yang lokasinya di sebelah ruang utama, DJ Ray Rivera (42) sedang memainkan musik reggae ketika suara tembakan terdengar. “Saya pikir suara petasan,” kata Rivera. “Tapi suara itu tak juga reda. Saya melihat banyak orang bergelimpangan di lantai,” ungkapnya.

Seorang pengunjung melihat satu orang membawa senjata dan melepaskan tembakan ke semua arah di dalam kelab malam itu. Saat terdengar rentetan tembakan, para pengunjung bergegas keluar melalui pintu belakang kelab malam, kata seorang saksi mata kepada News 6. Sebagian lagi bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Seorang pengunjung kelab malam mendengarkan sekitar 40 tembakan. Pengunjung  lain menyebutkan mendengar sekitar 100 kali tembakan. ”Saya melihat darah di mana-mana,” katanya.

Kepala Kepolisian Orlando John Mina mengatakan, seorang anggota polisi berseragam yang bertugas di kelab malam itu mendengarkan suara tembakan. Dia terlibat baku tembak dengan si penembak yang masuk ke dalam kelab malam dan kemudian menyandera sedikitnya 100 pengunjung.

Seorang saksi mata mengungkapkan, lelaki itu meminta para sandera untuk tidak menelepon ataupun mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ketika beberapa sandera tidak mengindahkan perintahnya, lelaki itu meminta semua ponsel dikumpulkan.
“Apakah kalian berkulit hitam?” tanya lelaki itu. Lalu sepasang sandera berkulit hitam menjawab, “Ya”. “Saya tidak punya persoalan dengan kalian orang berkulit hitam,” kata lelaki itu.

Setelah itu, lelaki bersenjata berbicara dengan orang tak dikenal di ponsel -kemungkinan penegak hukum atau stasiun berita, dan mengatakan kepada mereka, “Amerika harus berhenti mengebom NIIS.”

Lelaki itu juga menelepon 911 dan menyatakan kesetiaannya pada NIIS. Tak lama kemudian, dia menelepon seseorang yang dia kenal. Lelaki itu kemudian masuk ke kamar mandi dan melepaskan tembakan. Saksi mata yang mengisahkan ini mengungkapkan, dia dan seorang temannya yang terbaring di antara puluhan jenazah lainnya. Selama tiga jam, keduanya pura-pura sudah meninggal dunia, sampai akhirnya diselamatkan tim penyelamat.

Lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk “mencuci tangannya” dan menggunakan pengering, dan menyangka saksi mata yang berkisah ini, sudah tewas.

Satu pesan yang dipublikasikan di laman Facebook Pulse sekitar pukul 03.00 menyebutkan, “Setiap orang diminta keluar dari Pulse dan berlarilah.”

Tiga jam setelah itu, atau sekitar pukul 05.00 menjelang pagi, Mina mengungkapkan, otoritas Orlando mengambil keputusan untuk menyelamatkan para sandera. Satu tim SWAT dikerahkan ke lokasi. Sembilan petugas menggunakan “dua peledak yang dikendalikan” untuk mengalihkan perhatian pelaku. Dalam baku tembak dengan sembilan polisi itulah, pelaku penembakan tersebut tewas. Salah satu polisi terluka. “Tapi, helm polisi menyelamatkan nyawa anggota kami,” kata Mina. Tim SWAT menyelamatkan 30 sandera yang bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Lanjutkan membaca Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando

Warisan Putera Astaman: Dari Samsat sampai Patroli Keamanan Sekolah


Di tengah ramainya pembahasan mengatasi perkelahian pelajar akhir-akhir ini, sebenarnya sudah solusi ampuh yang dilakukan oleh Polri. Salah satu putra terbaik Polri, Mayor Jenderal Polisi Purnawirawan I Gusti Made Putera Astaman, pada tahun 1970-an sudah menggagas dan menerapkan Patroli Keamanan Sekolah di Jakarta dan kemudian diikuti sejumlah daerah.

Ketika menjabat Kepala Direktorat Lalu Lintas (Kaditlantas) Polda Metro Jaya tahun 1973-1978, Putera Astaman memperkenalkan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) sekaligus memassalkannya. Waktu itu Astaman berpendapat, polisi tak bisa selamanya nongkrong terus-menerus di sekolah, untuk mencegah perkelahian pelajar. 

Karena itu para siswa perlu dilatih secara swakarsa mengamankan lingkungan sekitarnya. Jika setiap sekolah memiliki 30 orang siswa yang berdisiplin tinggi dan memiliki visi kamtibmas ke depan, maka setidaknya mereka harus dapat mempengaruhi teman-teman lainnya. Konsep ini ternyata merambah ke daerah- daerah lainnya. Bahkan di Jakarta sendiri, Patroli Keamanan Sekolah berkembang dan didukung Pemprov DKI Jakarta. 

Bagaimana nasib Patroli Keamanan Sekolah saat ini? Mengapa Polda Metro Jaya dan Pemprov DKI tidak mencoba menerapkan lagi Patroli Keamanan Sekolah yang pernah digagas Pak Putera Astaman? 

Pak Putera Astaman seorang polisi yang enerjik dan memiliki visi memajukan Polri. Putera Astaman terakhir menjabat Deputi Kapolri Bidang Operasi (Deops)  — dahulu jabatan ini jabatan strategis, orang nomor dua di bawah Kapolri, yang mengendalikan bidang operasi Polri selain Deputi Bidang Administrasi (Demin). 

Saya punya kenangan manis bersama Pak Putera Astaman ketika meliput Sidang Interpol di Dakar, Senegal tahun 1992 silam. Bersama Pak Putera Astaman pula, kami melanjutkan perjalanan, mengunjungi Markas Besar Interpol di Lyon, Perancis dan Markas Besar Scotland Yard di London, Inggris. Sungguh kenangan tak terlupakan.

Bertahun-tahun kemudian, saya bertemu lagi dengan Pak Putera Astaman tahun 2011 lalu. Saat itu ia masih tampak sehat untuk orang berusia 73 tahun. Meski sudah pensiun dari Polri, Pak Putera masih mencintai Polri. Ini terlihat dari masih banyaknya gagasan yang disampaikan untuk memajukan Polri.  Entah bagaimana respon petinggi Polri saat ini atas gagasan Pak Putera tersebut.

***

                                  Mayjen Pol (Purn) IGM Putera Astaman

                 KONSEPTOR SAMSAT DAN PATROLI KEAMANAN SEKOLAH

JAUH hari sebelum deregulasi didengung-dengungkan, penyederhanaan prosedur pengurusan kendaraan bermotor sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1973 dengan berdirinya Kantor Samsat (Sistem Manunggal Satu Atap). Dan selama 20 tahun, Kantor Samsat melayani masyarakat pemilik kendaraan bermotor dengan lancar.

Namun ketika pertengahan tahun 1993 pengurusan STNK diumumkan berlaku kembali 5 tahun sekali, maka orang yang paling sedih adalah Mayor Jenderal Polisi (Purnawirawan) I Gusti Made Putera Astaman (56), konseptor Kantor Bersama Samsat. “Ini betul-betul suatu kemunduran. Mengapa orang tidak melihat aspek historisnya?” ujarnya.

 

Putera Astaman301293
Tulisan tentang sosok Mayjen Pol Purn Putera Astaman dimuat di Harian Kompas, Kamis 30 Desember 1993.

 

Sebelum konsep Samsat diperkenalkan, situasi pengurusan surat- surat kendaraan pada tahun 1970-an boleh dibilang semrawut. Penggelapan pajak kendaraan merajalela. Masyarakat yang ingin memperpanjang STNK harus membuang waktu cukup lama karena mesti mendatangi tiga kantor. Mereka yang hendak membayar pajak harus datang ke kantor pajak, menunggu dipanggil dan menghabiskan satu hari.

Esoknya, mereka yang hendak membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), harus mendatangi kantor Asuransi Jasa Raharja. Dan mereka pun harus mendatangi kantor polisi lalu lintas untuk memperoleh STNK.

Bayangkan, waktu tersita tiga hari untuk mengurus perpanjangan kendaraan bermotor. Oleh karena itulah muncul gagasan Samsat untuk menyederhanakan semua urusan itu menjadi satu hari.

Putera Astaman yang pada waktu itu (tahun 1971) menjabat Kepala Bagian Operasi Ditlantas Polda Metro Jaya mencetuskan ide ini dan diterima oleh Kapolda (saat itu) Mayjen Widodo Budidarmo dan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pelaksanaannya dimulai tahun 1973.

Lanjutkan membaca Warisan Putera Astaman: Dari Samsat sampai Patroli Keamanan Sekolah

Catatan dari Sisilia, Pulau Asal Mafia


Di sela-sela liputan sidang Interpol di Roma, Italia tahun 1994, saya menyempatkan diri berkunjung ke Pulau Sisilia (diindonesiakan menjadi Sisilia) yang berlokasi di selatan Italia. Tujuan saya jelas: menulis tentang Sisilia dan hubungannya dengan mafia. Saya memesan tiket pesawat Alitalia p.p Roma-Palermo dan melakukan perjalanan jurnalistik.

Saya ditemani seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, dan staf KBRI ini memperkenalkan saya kepada  wartawan Harian “Giornale di Sicilia” Marco Romano. Marco bercerita banyak tentang sepak terjang mafia yang (pada waktu itu) belum lama membunuh dua hakim antimafia, Giovanni Falcone dan Paulo Borselinno.

Marco Romano mengatakan senang berjumpa dengan wartawan asing yang menanyakan soal mafia di tempat kelahirannya dan bisa menjelaskan soal itu. Menurut Romano, banyak pemuda Palermo yang malu jika berjumpa dengan orang asing yang menanyakan soal mafia.

Laporan perjalanan ke Sisilia, Italia itu dimuat bersambung di halaman 1 Harian Kompas, 31 Oktober dan 1 November 1994.

=========================================

                                Catatan dari Sisilia, Pulau Asal Mafia (1)

                                  “Sisilia Bukan Semuanya Mafia…”

Pengantar Redaksi

Sisilia, nama sebuah pulau di selatan Italia. Namun pulau yang terletak di Laut Tengah ini lebih dikenal sebagai daerah asal kelompok mafia, gangster yang merajalela di kota-kota besar di Amerika Serikat dan Eropa sejak awal abad ini. Wartawan Kompas Robert Adhi Kusumaputra pada akhir September 1994 lalu mengunjungi Pulau Sisilia menyajikan pengalamannya dalam dua tulisan.

PESAWAT Alitalia lepas landas dari Bandara Leonardo da Vinci di Fiumicino Roma menuju Bandara Punta Raisi di Palermo, ibu kota Sisilia. Cuaca pagi itu sangat cerah.

Selama perjalanan selama satu jam di pesawat, terbayang bagaimana rupa Pulau Sisilia, yang sangat terkenal sejak awal abad ini akibat ulah mafia asal Sisilia. Nama-nama seperti Lucky Luciano, pimpinan “Cosa Nostra” New York, gangster terkemuka di Amerika; dan Vito Genevese, bos dari semua bos Mafia di Amerika yang menguasai pasaran narkotika, sampai sekarang masih melegenda. Muncul pertanyaan di benak, benarkah kelompok Mafia sudah tinggal legenda di tempat asalnya di Sisilia?

Sicilia1
Laporan perjalanan dari Sisilia, Italia, dimuat bersambung di halaman 1 Harian Kompas,  Senin 31 Oktober 1994 dan Selasa 1 November 1994.

 

Begitu tiba di Bandara Palermo, yang “menyambut” penumpang adalah seekor anjing herder yang mendengus-denguskan hidungnya di pintu masuk bandara, dikawal oleh pawangnya -seorang polisi bersenjata. Mungkin sang herder sedang melacak barang-barang haram yang dibawa ke Sisilia.

Selain di gerbang bandara, tidak tampak tentara atau polisi bersenjata lengkap dalam jumlah banyak. Yang terlihat malah rombongan turis yang berusia lanjut, sebagian dari Perancis. Kelihatannya Sisilia aman-aman saja. Soalnya, wajah turis-turis itu tampak ceria. Mereka baru saja turun dari bus wisata yang diparkir di halaman bandara dan hendak terbang lagi. Tak tampak perasaan takut sedikit pun di raut wajah para turis. Mereka rupanya sudah menikmati Sisilia yang bercuaca cerah dan menawarkan keindahan pantai, gunung dan bangunan tua.

Lanjutkan membaca Catatan dari Sisilia, Pulau Asal Mafia

Pemikiran Awaloedin Djamin tentang Polri Masih Relevan


Menjelang peringatan Hari Bhayangkara 1 Juli 1992 silam, saya bersama Mas Indrawan Sasongko M (alm) mewawancarai mantan Kapolri Jenderal Pol Purn Prof Dr Awaloedin Djamin MPA. Ini kali pertama saya mewawancarai seorang tokoh nasional dan mantan Kapolri secara khusus dan panjang lebar.

Kami mewawancarai Pak Awaloedin Djamin yang enerjik dan penuh semangat itu di kantornya di Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto.

 

Awaloedin Djamin
Wawancara dengan mantan Kapolri Prof Dr Awaloedin Djamin MPA dimuat di Harian Kompas, Minggu 28 Juni 1992. 

 

Di Indonesia baru ada satu polisi yang bisa meraih gelar doktor (PhD) dan kemudian diangkat menjadi profesor dalam ilmu administrasi negara. Keberuntungan dan koinsidensi sejarah menyebabkan dirinya memegang jabatan penting di dalam pemerintahan Republik Indonesia. Menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia, Ketua Lembaga Administrasi Negara, Menteri Tenaga Kerja, Duta Besar Indonesia untuk Republik Federasi Jerman, anggota DPR-GR, MPRS dan DPA dan berbagai jabatan lainnya.

Kesempatan-kesempatan yang diperoleh Awaloedin membuat dirinya menjadi ahli tidak saja dalam soal kepolisian, tetapi juga administrasi negara dan sumber daya manusia.

Dalam wawancara selama lebih tiga jam, Jenderal Polisi Purnawirawan Awaloedin Djamin kelahiran Padang 26 September 1927 itu, memang banyak berbicara tentang berbagai masalah, termasuk masalah administrasi negara dan sumber daya manusia. Tetapi penulisan lebih difokuskan kepada masalah kepolisian. Pada masa itu, Kepolisian RI masih bergabung dengan ABRI, belum terpisah seperti sekarang.

Pak Awaloedin berpendapat, polisi masa depan bergerak di tengah-tengah kemajuan dan tidak boleh seperti katak di bawah tempurung. Polisi yang bertugas, harus bisa menguasai wilayahnya, kebiasaannya, suku bangsanya, keadaan ekonominya, wataknya.

“Lulusan PTIK itu harus jadi police middle manager. Dia tidak hanya jadi pemimpin anggotanya, ia juga harus berusaha meningkatkan diri menjadi pemimpin masyarakat lingkungannya. Jadi harus keluar. Kapolres misalnya, selain jadi pemimpin anak buahnya, juga harus jadi pemimpin masyarakat luas di lingkungannya. Mengembangkan diri jadi pemimpin, tidak gampang. Masyarakat sekarang adalah masyarakat yang kompleks. Kalau Polri saja tidak bisa mengantisipasi ini, ya susah. Kita bertugas di tengah-tengah mereka,” demikian pendapat Pak Awaloedin Djamin yang disampaikan dalam wawancara tersebut.

Lanjutkan membaca Pemikiran Awaloedin Djamin tentang Polri Masih Relevan

VIDEO: Borobudur Marathon 2016


Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan tim pada 25 Mei 2016 berkunjung ke kantor Redaksi Harian Kompas. Di hadapan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo, Ganjar Pranowo menyampaikan rencananya menggelar “Bank Jateng Borobudur Marathon 2016” pada 20 November 2016 mendatang.