Thierry Henry: “Monaco Selalu di Hati Saya”


Henry ke Monaco

ROBERT ADHI KSP

“Monaco selalu di hati saya,” kata mantan penyerang klub Inggris Arsenal, Thierry Henry (41 tahun), setelah ditunjuk menjadi pelatih kepala klub Perancis, AS Monaco.

Monaco memang terpatri di hati Henry yang memulai karier profesionalnya di klub yang bermarkas di tepi Laut Mediterania itu. Pemain berkebangsaan Perancis itu ikut membantu AS Monaco merebut trofi Liga Perancis Ligue 1 pada 1997 silam.

Petinggi klub AS Monaco hari Kamis (11/10/2018) memecat manajer Leonardo Jardim (44 tahun) menyusul memburuknya performa Monaco. Saat ini posisi Monaco nomor tiga dari dasar klasemen Ligue 1 Perancis.

“Sepertinya sudah menjadi takdir bahwa saya akan memulai karir manajerial saya di Monaco,” kata Henry, seperti dikutip BBC Sport, Sabtu (13/10/2018). Henry dikontrak Monaco sampai Juni 2021.

Mantan pemain klub Italia Juventus, klub Spanyol Barcelona, dan klub Amerika New York Red Bulls yang sempat terhubung dengan klub Inggris Aston Villa dalam beberapa pekan terakhir ini mengatakan, dia menerima “sejumlah tawaran menarik” dalam beberapa bulan terakhir ini.

Namun Henry lebih memilih Monaco, klub pertamanya saat dia memulai karier sebagai pemain profesional. “Monaco selalu di hati saya,” tambah Henry.

Melatih Monaco, “Saya merasa tertantang mendapat kesempatan ini dan sekarang saya harus mulai bekerja keras,” ujarnya.

“Pengetahuannya tentang sepakbola, passion-nya pada pertandingan, standar tingginya dan komitmennya membuat Henry dipilih,” kata Wakil Presiden Klub AS Monaco, Vadim Vasilyev.

Lanjutkan membaca Thierry Henry: “Monaco Selalu di Hati Saya”

Iklan

Nasib Mantan Presiden Interpol dan Kampanye Antikorupsi Xi Jinping


20181009KSP Meng

 

oleh ROBERT ADHI KSP

Pernyataan Pemerintah China yang menyebutkan Meng Hongwei (64 tahun), Wakil Menteri Keamanan Publik yang juga Presiden Interpol, terjerat kasus suap dan korupsi, mengejutkan banyak pihak. Meng ditahan dan diperiksa oleh Komisi Pengawas Nasional, badan antikorupsi tertinggi di China sejak akhir September 2018 lalu.

Kasus penangkapan Meng Hongwei merupakan kasus terbaru penangkapan pejabat dan tokoh di China dalam kaitan kampanye antikorupsi yang dilancarkan Xi Jinping sejak 2012. Kasus-kasus korupsi di China kini ditangani Komisi Pengawas Nasional (NSC) yang belum lama ini diberi kekuasaan yang lebih luas dan kuat.

Xi Jinping yang menjabat Sekjen Partai Komunis China sejak 2012 dan menjadi Presiden China sejak tahun 2013 meluncurkan kampanye antikorupsi. Selama enam tahun terakhir, lebih dari satu juta orang dihukum karena terjerat kasus korupsi dan suap. Namun langkah Xi Jinping dikritik karena itu dianggap sebagai cara Xi menghancurkan lawan-lawan politiknya.

Sejumlah pengamat dan analis internasional mengomentari penahanan atas (mantan) Presiden Interpol tersebut. “Presiden Interpol ditangkap di negara asalnya karena korupsi, itu sangat memalukan,” kata Richard McGregor dari Sydney’s Lowy Institute, seperti dikutip CNN, Selasa (9/10/2018).

“Partai Komunis China tidak responsif terhadap dunia luar dan hanya asyik dengan dunia internal sendiri. Penangkapan Meng menunjukkan Komisi Pengawas Nasional hanyalah perpanjangan tangan partai, bukan lembaga pemerintah yang mewujudkan perlindungan hukum yang lebih besar,” kata McGregor.

Advokat hak asasi manusia, Michael Caster berpendapat, “Sungguh sangat memprihatinkan jika China berpikir dapat menculik dan menahan pimpinan organisasi internasional dengan sewenang-wenang.”

Michael menyimpulkan bahwa Meng Hongwei sebagai Presiden Interpol bekerja untuk melayani kebijakan Partai Komunis yang dipimpin Xi Jinping.

Kasus Meng Hongwei ini menyusul kasus aktris China, Fan Bingbing yang menghilang berminggu-minggu dan ternyata terjerat kasus penghindaran pajak. Menurut Caster, “Ini menunjukkan tidak ada yang aman dari jangkauan partai tersebut. Siapapun bisa menjadi korban berikutnya.”

Namun media pemerintah China, Global Times membantah tuduhan tersebut. “Media Barat tidak menghormati dan tidak memahami hukum China, juga salah paham terhadap kampanye antikorupsi China. Di manapun, sistem hukum China berbeda dengan Barat. Mereka dengan arogan menganggap perbedaan itu sebagai kekurangan,” demikian editorial Global Times.

Lanjutkan membaca Nasib Mantan Presiden Interpol dan Kampanye Antikorupsi Xi Jinping

Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian


20181008KSP Presiden Interpol

 

Meng Hongwei (64 tahun) baru dua tahun menjalankan perannya sebagai Presiden Interpol/ICPO (International Criminal Police Organization) yang bermarkas di Lyon, Perancis. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol di Bali, Indonesia pada 10 November 2016 silam. Seharusnya Meng masih memimpin organisasi kepolisian dan penegak hukum yang beranggotakan 192 negara di seluruh dunia itu sampai tahun 2020.

Namun kabar mengejutkan datang dari Lyon. Sekretariat Jenderal Interpol melalui akun twitternya Minggu (7/10/2018) menyatakan Presiden Interpol Meng Hongwei mengundurkan diri dan Sekretariat Jenderal Interpol menerima pengunduran diri Meng. Interpol akan memilih presiden baru dalam Sidang Umum ke-87, November 2018 mendatang.

Pada saat yang hampir bersamaan, Minggu menjelang tengah malam, istri Meng, Grace, menggelar jumpa pers di Lyon. Grace mencemaskan nasib suaminya yang melakukan perjalanan ke China.

Grace menerima ancaman dalam bentuk emoji berupa pisau belati dalam WhatsApp. Meng masih sempat memberi tahu, “Tunggu telepon saya.” Namun sejak itu, Grace tak pernah dihubungi lagi dan dia hilang kontak dengan suaminya.

Pada Minggu malam juga, pemerintah China seperti dilansir China Daily menyebutkan, Meng Hongwei, Wakil Menteri Keamanan Publik, sedang diperiksa dan diselidiki oleh lembaga tertinggi antikorupsi China yaitu Komisi Pengawas Nasional karena diduga melakukan pelanggaran hukum. Saat itu belum dijelaskan secara rinci jenis pelanggaran hukum yang dilakukan Meng.

Membahayakan partai dan kepolisian
Senin (8/10/2018) siang WIB, pemerintah China mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Meng Hongwei saat ini sedang ditahan dan diselidiki dalam kasus suap dan korupsi. Namun belum jelas kapan Meng melakukan suap dan korupsi yang dilakukannya.

China menanggapi permintaan Interpol yang pada 6 Oktober meminta klarifikasi dan penjelasan tentang hilangnya Meng Hongwei di negara asalnya.

Kementerian Keamanan Publik China seperti dikutip The South China Morning Post Senin menyebutkan, “Meng diduga melakukan suap serta korupsi dan melanggar undang-undang yang sangat membahayakan Partai Komunis China (partai berkuasa) dan Kepolisian China.”

Pemerintah China membentuk satuan tugas (satgas) untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam penyuapan yang dilakukan Meng.

Lanjutkan membaca Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian

Apakah Thierry Henry Menerima Tawaran Melatih Aston Villa?


20181007KSP THIERRY HENRY
oleh ROBERT ADHI KSP

Thierry Henry (41 tahun), yang pernah ikut mengantarkan tim nasional Perancis menjadi juara dunia 1998, menjadi kandidat utama manajer baru klub Aston Villa, klub sepakbola Inggris yang berusia 144 tahun.

Sejumlah media Inggris Minggu (7/10/2018) mewartakan tawaran Aston Villa kepada Thierry Henry, yang kini asisten manajer tim nasional Belgia. Selain Henry, nama John Terry, bintang Chelsea (1998-2017), juga disebut mendapat tawaran sebagai wakil manajer klub yang bermarkas di Villa Park, Birmingham, Inggris.

Aston Villa didirikan pada Maret 1874 oleh empat orang Birmingham. Klub tua legendaris ini pernah meraih Piala Eropa pada 26 Mei 1982 dalam final di Rotterdam, Belanda, berkat gol tunggal Peter White ke gawang Bayern Muenchen. Villa menjadi satu dari lima klub Inggris yang pernah meraih trofi Piala Eropa (sejak 1992 namanya diubah menjadi Liga Champions).

Pada Juni 2016, Aston Villa dibeli oleh pebisnis China, Tony Xia Jiantong dengan nilai 76 juta Poundsterling. Sayangnya, Aston Villa terlempar dari Liga Premier Inggris ke Liga Championship. Roberto Di Matteo saat itu ditunjuk sebagai manajer namun setelah 12 pertandingan, performa Aston Villa buruk sehingga digantikan Steve Bruce (57).

Villa merupakan klub kesembilan yang dilatih Bruce sejak dia memulai kariernya sebagai manajer klub sepakbola pada Juli 1998 di klub Sheffield United. Bruce pernah menjadi manajer klub di antaranya Huddersfield Town, Wigan Athletic (dua kali), Crystal Palace, Birmingham City, Sunderland, dan Hull City.

Namun karena Steve Bruce tak mampu membuat Villa ke puncak Liga Championship, pada 3 Oktober 2018 lalu, Bruce dipecat sebagai manajer. Klub itu baru menang tiga kali, seri enam kali, dan kalah tiga kali dari 12 laga. Sabtu kemarin, Villa makin terperosok ke posisi ke-15 setelah kalah 1-2 dari Millwall.

SUMBER TABEL: BBC SPORT                     Klasemen Liga Championship Inggris sampai Minggu 7 Oktober 2018. Aston Villa berada di posisi ke-15 dari 24 klub. Dari 12 pertandingan, Villa hanya menang 3 kali, seri 6 kali dan kalah 3 kali. Villa memecat manajer Steve Bruce pada 3 Oktober lalu. Nama Thierry Henry disebut-sebut akan menjadi manajer baru Villa.

 

Penampilan buruk Aston Villa membuat arus kas Tony Xia terganggu. Pada Juli 2018, pengusaha Amerika Serikat Wes Edens dan pengusaha berkebangsaan Mesir Nassef Sawiris mengendalikan Aston Villa dengan memiliki 55 persen saham klub ini. Nassef Sawiris menjadi Executive Chairman Aston Villa, menggantikan Tony Xia.

Thierry Henry
Setelah Steve Bruce didepak dari Aston Villa, siapa yang akan menjadi manajer baru klub ini? Media Inggris Daily Mail menyebut Thierry Henry ditawari jabatan sebagai manajer baru Villa. BBC Sport juga menyebut Henry salah satu kandidat yang akan menggantikan Steve Bruce. Nama lainnya di antaranya Brendan Rodgers. Adapun Sky Sports News menyebutkan Henry menjadi kandidat utama manajer Aston Villa. Klub itu sudah melakukan pembicaraan dengan Henry.

Nama Thierry Henry sangat populer di kalangan pecinta sepakbola di Inggris karena pernah bermain sebagai penyerang klub Arsenal (1999-2007). Di Arsenal, Henry sangat produktif mencetak gol. Dari 254 penampilannya di Arsenal, Henry mencetak 174 gol.

Lanjutkan membaca Apakah Thierry Henry Menerima Tawaran Melatih Aston Villa?

Misteri Hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei


oleh ROBERT ADHI KSP

Berita mengejutkan datang dari markas besar Interpol di Lyon, Perancis. Presiden Interpol periode 2016-2020, Meng Hongwei (64 tahun), dilaporkan hilang sejak melakukan perjalanan ke negara asalnya, China, pada 29 September 2018 lalu. Istri Meng yang sejak 2016 mengikuti suaminya tinggal di Lyon,  melaporkan hal ini kepada Kepolisian Perancis.

Kepolisian Perancis hari Jumat (5/10/2018) menyatakan sedang melakukan investigasi atas hilangnya Meng Hongwei, pejabat China pertama yang menduduki posisi puncak dalam organisasi Interpol yang beranggotakan 192 negara. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol yang digelar di Bali, Indonesia, tahun 2016 silam. Interpol adalah organisasi kerja sama kepolisian dan penegak hukum terbesar di dunia.

Namun terpilihnya Meng sempat membuat akademisi dan aktivis hak asasi manusia khawatir dia akan menyalahgunakan kekuasaan Interpol untuk menangkap orang-orang China yang tinggal di luar negeri. Salah satunya disampaikan oleh Nicholas Bequelin, Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, pada 10 November 2016, menanggapi akun twitter Interpol yang mengabarkan Meng Hongwei terpilih sebagai Presiden Interpol.

Pemerintah China selama beberapa tahun terakhir ini meminta bantuan negara-negara asing untuk menangkap dan mendeportasi kembali warga negara China yang melakukan korupsi dan yang terlibat terorisme.

Interpo

 

Di bawah kepemimpinan Meng,  Interpol pada April 2017 pernah mengeluarkan red notices kepada konglomerat China, Guo Wengui atas permintaan pemerintah China. Guo Wengui merupakan satu dari 44 orang yang mendapat red notices dari Interpol.

Lanjutkan membaca Misteri Hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei