Lee Kuan Yew dan Perannya dalam Kemajuan Tiongkok


ROBERT ADHI KSP

Ketika berkunjung ke Tiongkok untuk kali pertama pada 1976, Lee Kuan Yew yang saat itu Perdana Menteri Singapura bertemu dengan pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping. Pada tahun itu, Tiongkok baru mulai melakukan reformasi di bidang ekonomi.

Setelah kunjungan Lee ke Beijing, Deng melakukan kunjungan balasan ke Singapura. Pertemuan itu meninggalkan kesan yang kuat bagi Deng. Pemimpin Tiongkok itu mengatakan telah menjadikan Lee sebagai mentor pribadinya.

Lee Kuan Yew

Pertemuan itu memupuk rasa hormat yang dalam di antara kedua pemimpin negara tersebut. Nasihat Lee dalam bidang perekonomian memengaruhi pemikiran Deng, yang kemudian melakukan reformasi dramatis yang melambungkan Tiongkok dalam masa modernisasi dan pertumbuhan yang tinggi (“This Man Helped Turn China into an Economic Power”, CNN Money, 23 Maret 2015).

“Lee Kuan Yew adalah seorang negarawan Asia yang unik dan berpengaruh, seorang ahli strategi yang mengedepankan nilai-nilai Asia dan perspektif internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, pekan lalu. Lee disebut sebagai seorang yang menciptakan dan meletakkan dasar hubungan Tiongkok-Singapura sehingga begitu kuat sampai saat ini.

Selama bertahun-tahun Lee selalu mengingatkan dunia untuk tidak memandang sebelah mata pengaruh global Tiongkok. Dalam wawancara dengan CNN tahun 2008, Lee menegaskan, “Setiap tahun Tiongkok tahu bahwa mereka tumbuh menjadi lebih kuat. Mereka mendekati kemajuan Barat, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun industri. Tiongkok bukan kekuatan baru, melainkan kekuatan lama yang hidup kembali.”

Presiden Tiongkok Xi Jinping mengutus Wakil Presiden Li Yuanchao untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Lee Kuan Yew di Singapura, akhir pekan lalu. Dalam pesannya kepada Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Xi mengatakan, Lee Kuan Yew bukan hanya pendiri negara Singapura, melainkan juga politisi dan ahli strategi yang sangat dihormati dalam komunitas internasional.

“Lee adalah sahabat lama masyarakat Tiongkok dan seorang bijaksana yang dihormati. Sebagai pendiri, pionir, dan promotor hubungan Tiongkok-Singapura, Lee Kuan Yew dan para pemimpin Tiongkok dari generasi lebih tua membangun hubungan bilateral dan memberi kontribusi sangat penting bagi kerja sama dan persahabatan kedua negara serta masyarakatnya,” demikian pesan Xi (“Chinese Vice President Attends Lee Kuan Yew’s Funeral”, China Daily, 29 Maret 2015).

Lee juga mendorong kerja sama Singapura dengan sejumlah kota dan provinsi di Tiongkok, termasuk membangun kawasan industri di kota Suzhou, Tiongkok timur. Lee berhasil membangun kepercayaan komunitas Tiongkok dan komunitas bisnis Tiongkok sehingga merekatkan hubungan masyarakat kedua negara dalam berbagai aspek kehidupan.

Lee tidak hanya memberi kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat Singapura, tetapi juga membangun sistem pemerintahan yang bersih dari korupsi.

Prediksi Lee tentang Tiongkok

Dalam buku Lee Kuan Yew: The Grand Master’s Insight on China, the United States, and the World (2013) yang ditulis Graham Allison, Robert D Blackwill, dan Ali Wyne serta diberi pengantar oleh mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Henry Kissinger disebutkan, Lee sudah memprediksi masa depan Tiongkok yang gemilang. Tiongkok, menurut ramalan Lee, akan menjadi kekuatan nomor satu di Asia dan bahkan menyamai AS.

Menurut Lee, kompetisi antara AS dan Tiongkok tidak terelakkan, tetapi bukan dalam bentuk konflik. Tiongkok melakukan itu untuk kepentingan nasionalnya dan bukan untuk kepentingan mengubah dunia. Pada awal kebangkitan Tiongkok, Lee berpendapat, Tiongkok membutuhkan AS, membutuhkan pasar dan teknologi AS. Tiongkok juga mengirim banyak mahasiswa untuk belajar di AS. Dibutuhkan waktu 10, 20, hingga 30 tahun. Hubungan AS-Tiongkok berbeda dengan hubungan AS-Soviet selama Perang Dingin. Dalam hubungan AS-Tiongkok tak ada konflik ideologi. Hubungan Sino-Amerika lebih mengedepankan kerja sama dan persaingan.

Para pemimpin Tiongkok paham superioritas militer AS yang sangat besar. Namun, Tiongkok secara bertahap memodernisasi kekuatan militer mereka, bukan untuk menantang AS, melainkan sekadar menekan Taiwan. Dalam 30 tahun, pemimpin Tiongkok yakin kekuatan militer mereka sama canggihnya dengan militer AS (“Lee Kuan Yew on the Future of US-China Relations”, The Atlantic, 5 Maret 2013).

Lee mengungkapkan keyakinannya bahwa para pemimpin Tiongkok sangat serius berupaya menggantikan posisi AS menjadi kekuatan nomor satu di Asia dan dunia. Tiongkok terbukti mampu mengubah kondisi masyarakat miskin lewat keajaiban ekonomi menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia. Jika Tiongkok berjalan di trek yang benar, Lee mengutip prediksi Goldman Sachs, negara itu akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Tiongkok mengikuti jejak Amerika mengirim manusia ke ruang angkasa. Kebudayaan Tiongkok yang berusia 4.000 tahun dengan jumlah 1,3 miliar penduduk merupakan kekuatan yang sangat besar. Bagaimana mungkin mereka tidak bisa bercita-cita menjadi nomor satu di Asia dan dunia?

Pada kenyataannya, Tiongkok memang tumbuh dengan sangat pesat dan mengalami perubahan yang sangat dramatis. Rakyat Tiongkok meningkatkan harapan dan aspirasi mereka. Setiap orang Tiongkok menginginkan negara mereka menjadi negara yang kuat, kaya, dan sejahtera, memiliki teknologi yang mampu bersaing dengan Amerika. Tidak seperti halnya negara-negara berkembang lain, Tiongkok ingin menjadi Tiongkok, bukan sebagai anggota kehormatan komunitas Barat. Tiongkok ingin sejajar dengan AS.

Dan, itu bukan sekadar wacana. Pada akhir 2014, Dana Moneter Internasional (IMF) mengumumkan, ekonomi Tiongkok berada di posisi nomor satu dunia (“China, as World’s New No 1 Economy, Still Struggles with Soft Power”, South China Morning Post, 8 Desember 2014).

Tiongkok mengukuhkan diri sebagai adidaya ekonomi baru dunia dengan produk domestik bruto (PDB) berdasarkan paritas daya beli per akhir 2014 sebesar 17,6 triliun dollar AS, sementara PDB AS 17,4 triliun dollar AS (“Tiongkok, Adidaya Ekonomi Baru”, Kompas, 9 Desember 2014).

Prediksi Lee Kuan Yew tentang Tiongkok tidak meleset. Setelah hampir 40 tahun sejak Deng Xiaoping, pemimpin reformasi Tiongkok, menerima kunjungan Lee di Beijing pada tahun 1976, kini Tiongkok betul-betul menjadi raksasa ekonomi dunia dan berada di posisi nomor satu. Lee yang menjadi mentor pribadi Deng pada waktu itu memiliki peran sangat besar terhadap cara berpikir Deng dan para pemimpin Tiongkok lain. Reformasi ekonomi yang dilakukan Deng itulah yang mengantarkan Tiongkok pada masa keemasan seperti sekarang.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, SELASA 31 MARET 2015

Iklan