Australia dan Brasil Bangkitkan Nasionalisme Kita


ROBERT ADHI KSP

Australia dan BrasilPernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang mengaitkan permohonannya agar Pemerintah Indonesia tidak mengeksekusi terpidana mati kasus narkoba asal Australia dengan bantuan Australia untuk rekonstruksi pasca tsunami Aceh menimbulkan reaksi negatif.

Pernyataan Abbott dinilai tidak membantu, tetapi malah menjadi bumerang bagi Australia. Pengguna media sosial ramai-ramai membuat tagar (hashtag) #KoinUntukAustralia dan #CoinForAustralia. Tak hanya rakyat Indonesia yang mengecam pernyataan Tony Abbott, warga negara Australia sendiri pun kecewa.

Pernyataan Abbott itu disampaikan pada Rabu pekan lalu. ”Marilah kita tidak melupakan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Ketika Indonesia dilanda bencana tsunami, Australia mengirim miliaran dollar bantuan untuk Indonesia,” katanya. Abbott memang berupaya meminta Indonesia membatalkan eksekusi terhadap dua warga negaranya, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, terpidana mati kasus narkoba. Namun, pernyataan Abbott justru diartikan Australia tidak ikhlas memberikan bantuan kepada korban bencana. Tagar #KoinUntukAustralia sempat di puncak tren topik Twitter Indonesia. ”Berapa nomor rekening Anda, Mr Tony Abbott?” tulis seseorang.

Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop sampai harus mengklarifikasi ucapan Abbott kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Abbott mungkin ingin mengatakan, Australia selalu menjadi sahabat Indonesia, bahkan pada saat Indonesia membutuhkan. Namun, ucapannya bermakna ganda. Abbott telah merusak sendiri upaya diplomasi untuk menyelamatkan dua warga negaranya dari eksekusi mati.

Rakyat Indonesia juga marah ketika Presiden Brasil Dilma Rousseff secara terang-terangan melecehkan Pemerintah Indonesia. Dilma menolak menerima penyerahan surat kepercayaan Duta Besar RI untuk Brasil Toto Riyanto, pekan lalu, setelah permintaan Dilma agar Indonesia tidak mengeksekusi terpidana mati kasus narkoba, warga negara Brasil, Marco Archer Cardoso Moreira, ditolak. Marco dieksekusi pada Januari lalu.

Setelah insiden duta besar tersebut, Presiden Joko Widodo langsung memanggil pulang Dubes Toto Riyanto dan mengirim nota protes kepada Pemerintah Brasil. Indonesia mempertimbangkan kemungkinan membatalkan pembelian alat utama sistem persenjataan dari Brasil.

Reaksi keras pemerintah dan rakyat Indonesia terhadap Australia dan Brasil membuktikan Indonesia memiliki harkat dan martabat. Indonesia bukan bangsa yang bisa direndahkan dan dilecehkan seenaknya oleh bangsa lain. Nasionalisme bangsa Indonesia pun bangkit.

Beberapa tahun lalu, ketika Malaysia berulang kali mengklaim milik Indonesia sebagai milik negara itu, nasionalisme bangsa Indonesia bangkit. Rakyat Indonesia beramai-ramai mengenakan batik, yang pernah diklaim Malaysia. Perusahaan minyak Malaysia, Petronas, yang membuka SPBU merugi akibat sentimen negatif rakyat Indonesia terhadap Malaysia yang tak kunjung surut.

Kini, perlakuan Pemerintah Australia dan Brasil terhadap Indonesia telah membangkitkan kembali semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Kita tunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan punya harga diri!

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 24 FEBRUARI 2015

Iklan

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: