Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina


ROBERT ADHI KSP

Sejak terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik dan pemimpin 1,2 miliar penganut Katolik di seluruh dunia, Maret 2013 silam, Paus Fransiskus (78) aktif memainkan diplomasi internasional. Tahun lalu, Paus membantu mencairkan hubungan Kuba dan Amerika Serikat yang sudah bermusuhan selama lebih dari setengah abad. Rabu (13/5) lalu, Vatikan menyatakan mengakui negara Palestina secara de facto.

Simbol Vatikan mengakui negara Palestina dilambangkan pula dengan kanonisasi dua biarawati Palestina, yaitu Suster Mariam Bawardy dan Marie-Alphonsine Danil Ghattas. Keduanya hidup pada abad ke-19 dan menjadi orang suci pertama dari Palestina. Mereka adalah dua dari empat biarawati yang dikanonisasi Paus Fransiskus dalam upacara seremonial di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang dihadiri Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan delegasi dari Israel serta 2.000 peziarah dari sejumlah negara. Dalam upacara itu, Paus melukiskan Mahmoud Abbas sebagai ”malaikat perdamaian”.

Diplomasi Paus Fransiskus

April 2015, Paus Fransiskus mengingatkan semua pihak perihal pembantaian Armenia yang menewaskan sekitar 1,5 juta warga Armenia pada masa Dinasti Ottoman, awal abad ke-20. Paus Fransiskus menarik perhatian dunia karena menggunakan kata ”genosida” untuk pembantaian massal tersebut. Pernyataan Paus Fransiskus sempat menimbulkan reaksi keras dari Pemerintah Turki yang mengatakan peristiwa itu terjadi pada masa Perang Dunia I.

”Paus Fransiskus seorang yang mampu berdoa di Blue Mosque di Istanbul dan kemudian berbicara tentang genosida Armenia. Dia bukan seseorang yang terikat oleh kebenaran politik. Itu diplomasi dari pemimpin yang sesungguhnya,” kata mantan Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini.

Setelah pendahulunya, Paus Benediktus XVI, lebih banyak berkutat pada persoalan teologi ilmiah, Paus Fransiskus mengembalikan wajah Gereja Katolik yang mengutamakan upaya perdamaian di dunia. Hal itu diwujudkan melalui langkah-langkah diplomasi seperti dilakukan Paus Yohanes Paulus II yang membantu mengakhiri Perang Dingin.

Banyak usaha Paus Fransiskus terpusat pada peningkatan hubungan antar-agama yang berbeda dan perlindungan Kristen Timur Tengah, suatu prioritas yang jelas bagi Gereja Katolik.

Namun, dalam dunia geopolitik yang semakin rapuh, diplomasinya tidak lagi terhalang oleh kompetisi kekuatan antarblok seperti yang dihadapi Paus Yohanes Paulus II yang menjadi paus selama 27 tahun.

Massimo Franco, komentator politik terkemuka Italia dan penulis beberapa buku tentang Vatikan, seperti dikutip Daily Mail, mengatakan, Paus hati-hati dan menghindari berpihak pada isu-isu internasional. Dalam persoalan Ukraina, Paus tidak pernah mendefinisikan Rusia sebagai agresor, tetapi selalu mengacu pada konflik antara pemerintah dan pemberontak yang didukung Moskwa sebagai perang sipil (perang saudara).

Pendekatan yang diambil Paus ini dimaksudkan untuk memastikan agar dia tetap lebih kredibel di mata negara-negara seperti Suriah, Rusia, atau Kuba, semua bangsa di mana Fransiskus merasa dia dapat membantu komunitas Kristen lokal dengan kendali yang independen.

Hal ini diperkuat oleh statusnya sebagai paus pertama di dunia dari Amerika Latin, sebuah wilayah yang bergolak, di mana kemiskinan menyebar dan hubungan cinta-benci dengan AS menguat. Ini memberinya landasan politik yang sama sekali berbeda dari para pendahulunya dari daratan Eropa.

Amerika Latin

Paus Fransiskus tidak khawatir mencampurkan teologi dengan politik. Dia sering mengkritik globalisasi yang menyebabkan ketidaksetaraan. ”Di bawah Paus Fransiskus, kebijakan luar negeri Vatikan terlihat sangat Selatan,” kata Franco. Di bawah Paus Fransiskus, Teologi Pembebasan tampaknya menikmati reinkarnasi. Teologi Pembebasan sebelumnya dianggap duri oleh Joseph Ratzinger ketika dia mengepalai Kongregasi untuk Ajaran Iman sebelum menjadi Paus Benediktus XVI. Ratzinger menyebut Teologi Pembebasan sebagai ancaman mendasar bagi iman Gereja.

Bapak Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez (86), imam Dominikan dari Peru, yang dikenal karena bukunya berjudul A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation (1971) menjelaskan pemahamannya tentang kemiskinan Kristen sebagai tindakan solidaritas penuh cinta kasih dengan kaum miskin dan protes pembebasan melawan kemiskinan. Pekan lalu, Gutierrez berbicara dalam sidang umum Caritas Internationalis di Roma tentang pelayanan Gereja kepada kaum miskin.

Dalam tulisannya di surat kabar Vatikan, L’Osservatore Romano, Gutierrez menulis, ”Selama berabad-abad, kaum miskin sangat dekat dengan kita. Mereka hidup di sekitar kita, di kota ataupun di desa. Namun, saat ini kita menyadari, kemiskinan berkembang cepat. Ini fenomena global. Mayoritas manusia di dunia hidup dalam kondisi yang disebut kemiskinan”.

Ketika menjadi Kardinal Argentina, Jorge Bergoglio, putra imigran Italia ini, memilih cara hidup sederhana dalam arti sesungguhnya. Dia berbaur dengan masyarakat biasa. Dia naik pesawat kelas ekonomi, antre mengambil barang, dan membayar sendiri tagihan-tagihannya. Dia tinggal di apartemen sederhana dan memasak sendiri, juga memilih berimpit-impitan di bus umum dan kereta bawah tanah.

Setelah terpilih menjadi paus, dia memilih nama Fransiskus, mencontoh cara hidup Santo Fransiskus Asisi (1181-1226). Fransiskus Asisi merupakan keturunan pedagang tekstil kaya yang meninggalkan gemerlap duniawi untuk menjadi rohaniwan Italia dengan cara hidup sederhana, menyapa siapa saja, termasuk pendosa dan pelaku kriminal. Dan, itu tetap dilakukan Paus Fransiskus, termasuk pada momen-momen penting, seperti pada hari Kamis Putih. Dia membasuh kaki para pendosa dan pelaku kriminal.

Presiden AS Barack Obama menyebut Paus Fransiskus ”transformatif”. ”Desakan Paus agar umat Katolik melawan kemiskinan dalam praktik kehidupan sehari-hari telah membuat Paus menjadi ikon global. Penekanan itu membuat Paus memiliki daya tarik yang luar biasa, termasuk dari orang-orang muda di seluruh dunia. ”Saya harap pesan itu diterima orang Amerika ketika Paus berkunjung September nanti,” kata Obama yang mengajak umat Kristen Amerika berbuat nyata seperti yang dilakukan Paus Fransiskus.

Dalam lawatannya ke Benua Amerika, September mendatang, sebelum berkunjung ke Washington DC, Philadelphia, dan New York, Paus Fransiskus dijadwalkan mengunjungi Kuba. Sebelum menjadi Paus Fransiskus, Kardinal Argentina Jorge Bergoglio memimpin Keuskupan Agung Buenos Aires, yang merupakan bagian dari Konferensi Waligereja Amerika Latin. Dalam grup itu, Konferensi Uskup-uskup Amerika Serikat dan Vatikan melakukan advokasi bagi mencairnya hubungan diplomatik antara AS dan Kuba. Paus Yohanes Paulus II melakukan kunjungan bersejarah ke Kuba pada 1998. Ia adalah paus pertama yang mengunjungi negeri itu. Kunjungan itu membantu meningkatkan hubungan Gereja Katolik dan Pemerintah Kuba. Paus Benediktus XVI melakukan kunjungan tiga hari di Kuba pada 2012, memimpin misa yang dihadiri Presiden Raul Castro. Pada saat itu, Castro mendeklarasikan Jumat Agung sebagai hari libur nasional di Kuba.

Kini, upaya nyata Paus Fransiskus mencairkan kebekuan hubungan AS dan Kuba berdampak besar. Presiden Raul Castro yang ateis pekan lalu mengumumkan, dia akan kembali berdoa di gereja setelah bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan.

Satunya kata dan perbuatan, antara khotbah dan kehidupan sehari-hari, yang dilakukan Paus Fransiskus selama ini membuat dirinya memiliki daya tarik bagi banyak orang, termasuk bagi para pemimpin negara. Mencairkan hubungan AS dan Kuba yang membeku lebih dari setengah abad ataupun mengakui negara Palestina merupakan langkah-langkah diplomasi Paus Fransiskus yang nyata untuk membuat dunia lebih damai. Hal itu bukan lagi sekadar wacana.

Mengutip doa Santo Fransiskus Asisi, ”Tuhan, jadikan aku pembawa damai. Jika terjadi kebencian, jadikan aku pembawa cinta kasih. Jika terjadi perselisihan, jadikan aku pembawa kerukunan”, Paus Fransiskus benar-benar ingin mewujudkan dunia yang damai dan sejahtera melalui langkah-langkah diplomasinya.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, SENIN 18 MEI 2015

Iklan