Arsip Kategori: Terorisme

Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando


ROBERT ADHI KSP

Kelab malam Pulse yang berlokasi di 1912 South Orange Avenue, dekat Kaley Street, Orlando, Florida, Amerika Serikat, Minggu (12/6/2016) dini hari, ingar-bingar dengan musik berirama Latin. Kelab malam yang menyebut diri sebagai “Hotspot Latin Orlando” itu sedang menggelar pesta kelas atas “Sabtu Latin” yang menampilkan tiga DJ dan pertunjukan midnight.

“Setiap ruangan di kelab malam ini penuh sesak,” kata DeAngelo Scott (30), yang meninggalkan kelab Pulse pukul 01.58.

Seorang lelaki duduk di kelab malam itu sejak pukul 01.00 dinihari, menikmati minuman sendirian. Wajahnya sudah dikenal oleh beberapa pengunjung yang sering ke sana.

Beberapa menit setelah jarum jam menunjukkan angka 2, lelaki itu bangkit dari tempat duduknya, mengeluarkan senjata AR-15, sepucuk pistol, berikut amunisi yang dibawanya, dan mulai melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pengunjung di ruang utama. Dalam sekejap, Pulse yang dikenal sebagai ”kelab malam paling hot bagi para gay di Orlando” itu berubah menjadi lautan darah.

Peluru-peluru beterbangan mengenai 103 orang yang berada di dekat si penembak. Sebanyak 49 orang tewas bersimbah darah, sedangkan 53 korban lain mengalami luka-luka dan kini dirawat di rumah sakit. Ketika peristiwa terjadi, kelab malam itu dipenuhi 320 orang.

Sementara di ruang Patio yang lokasinya di sebelah ruang utama, DJ Ray Rivera (42) sedang memainkan musik reggae ketika suara tembakan terdengar. “Saya pikir suara petasan,” kata Rivera. “Tapi suara itu tak juga reda. Saya melihat banyak orang bergelimpangan di lantai,” ungkapnya.

Seorang pengunjung melihat satu orang membawa senjata dan melepaskan tembakan ke semua arah di dalam kelab malam itu. Saat terdengar rentetan tembakan, para pengunjung bergegas keluar melalui pintu belakang kelab malam, kata seorang saksi mata kepada News 6. Sebagian lagi bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Seorang pengunjung kelab malam mendengarkan sekitar 40 tembakan. Pengunjung  lain menyebutkan mendengar sekitar 100 kali tembakan. ”Saya melihat darah di mana-mana,” katanya.

Kepala Kepolisian Orlando John Mina mengatakan, seorang anggota polisi berseragam yang bertugas di kelab malam itu mendengarkan suara tembakan. Dia terlibat baku tembak dengan si penembak yang masuk ke dalam kelab malam dan kemudian menyandera sedikitnya 100 pengunjung.

Seorang saksi mata mengungkapkan, lelaki itu meminta para sandera untuk tidak menelepon ataupun mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ketika beberapa sandera tidak mengindahkan perintahnya, lelaki itu meminta semua ponsel dikumpulkan.
“Apakah kalian berkulit hitam?” tanya lelaki itu. Lalu sepasang sandera berkulit hitam menjawab, “Ya”. “Saya tidak punya persoalan dengan kalian orang berkulit hitam,” kata lelaki itu.

Setelah itu, lelaki bersenjata berbicara dengan orang tak dikenal di ponsel -kemungkinan penegak hukum atau stasiun berita, dan mengatakan kepada mereka, “Amerika harus berhenti mengebom NIIS.”

Lelaki itu juga menelepon 911 dan menyatakan kesetiaannya pada NIIS. Tak lama kemudian, dia menelepon seseorang yang dia kenal. Lelaki itu kemudian masuk ke kamar mandi dan melepaskan tembakan. Saksi mata yang mengisahkan ini mengungkapkan, dia dan seorang temannya yang terbaring di antara puluhan jenazah lainnya. Selama tiga jam, keduanya pura-pura sudah meninggal dunia, sampai akhirnya diselamatkan tim penyelamat.

Lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk “mencuci tangannya” dan menggunakan pengering, dan menyangka saksi mata yang berkisah ini, sudah tewas.

Satu pesan yang dipublikasikan di laman Facebook Pulse sekitar pukul 03.00 menyebutkan, “Setiap orang diminta keluar dari Pulse dan berlarilah.”

Tiga jam setelah itu, atau sekitar pukul 05.00 menjelang pagi, Mina mengungkapkan, otoritas Orlando mengambil keputusan untuk menyelamatkan para sandera. Satu tim SWAT dikerahkan ke lokasi. Sembilan petugas menggunakan “dua peledak yang dikendalikan” untuk mengalihkan perhatian pelaku. Dalam baku tembak dengan sembilan polisi itulah, pelaku penembakan tersebut tewas. Salah satu polisi terluka. “Tapi, helm polisi menyelamatkan nyawa anggota kami,” kata Mina. Tim SWAT menyelamatkan 30 sandera yang bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Lanjutkan membaca Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando

Iklan

Bom Bunuh Diri di Ankara dan Masa Kegelapan Turki


ROBERT ADHI KSP

Setelah melakukan foto diri atau selfie di dalam bus yang membawa puluhan orang, Dijle Deli, seorang mahasiswi, mengunggahnya ke media sosial dan menulis, “Kami ke Ankara untuk membawa perdamaian.” Deli dan ratusan orang lainnya berencana melakukan aksi damai, memprotes konflik antara Pemerintah Turki dan militan Kurdi di Turki tenggara.

Namun, foto selfie itu foto terakhir Deli karena tak berapa lama, sekitar pukul 10.04, dua bom meledak hampir bersamaan mengguncang Ankara, ibu kota Turki itu. Deli termasuk salah satu dari 128 korban yang tewas dalam insiden berdarah, Sabtu (10/10), itu. Hari itu, ratusan orang, dari aktivis remaja sampai nenek berusia 70 tahun, menggelar aksi damai dengan menyanyi, menari, dan mengibarkan bendera yang digelar serikat buruh, kelompok masyarakat sipil, asosiasi sayap kiri, dan pendukung Partai Demokratik Rakyat Kurdi (HDP).

screenshot-print.kompas.com 2015-10-13 11-40-26

“Ledakan pertama terdengar sangat keras disusul ledakan kedua beberapa detik kemudian. Potongan tubuh beterbangan. Saya tersadar, banyak teman saya di lokasi itu. Ini peristiwa paling buruk dalam hidup saya,” ujar Serdar Cil (23) kepada BBC.

Di antara yang tewas adalah Meryem Bulut (70), seorang anggota Saturday Mothers, sekelompok ibu yang mencari anak-anak lelaki mereka yang hilang dalam tahanan polisi pada puncak kampanye anti teror di Turki tenggara pada 1990-an. Cucu Bulut tewas tahun lalu ketika bersama gerilyawan Kurdi di Pegunungan Sinjar melawan militan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Korban tewas lainnya adalah Elif Kanlioglu (19), mahasiswi Mersin University di Turki selatan. Putri seorang politisi lokal dari partai sayap kiri, Partai Buruh Rakyat (EMEP), itu sempat mengunjungi orangtuanya di Aydin di wilayah Aegean sebelum menumpang bus menuju Ankara untuk menghadiri aksi damai.

Sehari setelah insiden peledakan bom, ribuan orang berkumpul di dekat lokasi kejadian di stasiun kereta Ankara. Banyak yang menuduh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membangkitkan sentimen nasionalisme dalam perlawanan terhadap kelompok militan separatis Kurdi (PKK). “Erdogan pembunuh. Polisi pembunuh,” demikian teriak kerumunan massa di Sihhiye Square.

Sampai Senin (12/10), belum ada pihak yang bertanggung jawab atas ledakan bom di Ankara itu. Pemerintah Turki meyakini serangan itu dilakukan militan NIIS.

Aksi bom bunuh diri itu disebutkan dilakukan oleh dua lelaki. Targetnya massa pro Partai HDP dan aktivis sayap kiri yang pada hari itu menggelar rally damai untuk menyerukan perdamaian antara Pemerintah Turki dan militan Kurdi-hal yang mustahil dilakukan PKK.

Surat kabar Haberturk mengutip sumber kepolisian mengatakan, jenis bahan peledak dan pilihan target mengarah pada NIIS. Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah sangat rentan terhadap infiltrasi militan NIIS. Namun, kelompok itu, yang biasanya selalu bersuara setelah melakukan serangan, tidak mengklaim apa pun atas serangan bom di Ankara.

Kantor berita pemerintah, Anadolu, seperti dikutip Reuters, Senin, memberitakan, 43 tersangka ditangkap dalam operasi yang menargetkan militan NIIS di seluruh Turki, mulai dari Sanliurfa di wilayah tenggara sampai Izmir di wilayah barat dan di Antalya di selatan. Tidak jelas kapan mereka ditangkap.

Lanjutkan membaca Bom Bunuh Diri di Ankara dan Masa Kegelapan Turki

Siapa yang meledakkan Bangkok?


ROBERT ADHI KSP

Bangkok diguncang ledakan bom. Senin (17/8) pukul 18.55, Kuil Erawan, tempat ibadah masyarakat Hindu yang berlokasi di jantung kota Bangkok di persimpangan Phloen Chit dan Ratchadamri Road, dibom. Sampai Selasa (18/8) pagi, tercatat 22 orang tewas dan 100-an orang lainnya luka-luka. Sejauh ini belum ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini.

Kepala Kepolisian Thailand Jenderal Somyot Pumpunmuang menilai serangan bom itu sebagai aksi yang kejam yang menargetkan warga sipil yang tak berdaya.

Situs berita Thailand “The Nation” Selasa pagi menyebutkan bahwa polisi Thailand saat ini memburu seorang tersangka dengan wajah Timur Tengah yang terlihat meninggalkan sebuah tas di Kuil Erawan sesaat sebelum terjadi ledakan bom.

Lelaki itu terekam dalam kamera pengintai yang terpasang di kawasan kuil. Setelah meletakkan tas, lelaki itu berdiri dan menekan ponselnya, kemudian bergegas menjauh dari area (The Nation, “Arab-like man seen leaving bag at Erawan shrine before explosion”, 18 Agustus 2015).

Bangkok Blast

Sejumlah warga negara asing termasuk korban yang tewas. Kedutaan Besar Tiongkok di Bangkok seperti dikutip kantor berita Xinhua menyebutkan dua warga negara Tiongkok tewas dalam insiden itu (Bangkok Post, “City Bomb Horror”, 18 Agustus 2015).

Situs berita Singapura, The Straits Times, menyebutkan, seorang perempuan Singapura termasuk dalam daftar korban tewas setelah sebelumnya mengalami luka serius. Korban tewas lainnya selain dari Tiongkok dan Singapura berasal dari Hongkong, Malaysia, dan Filipina. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam akun Facebook-nya menyebutkan beberapa warga negara Singapura menjadi korban serangan bom di Bangkok (The Straits Times, “Bangkok Blast: Singaporean Woman Among Those Killed”, 18 Agustus 2015).

Sementara situs berita Malaysia, “The Star”, menyebutkan, dua warga negara Malaysia termasuk yang menjadi korban tewas. (The Star, “Two Malaysians Killed in Bangkok Blast”, 18 Agustus 2015).

Lokasi ramai

Ledakan terjadi di dekat Patung Brahmana di kuil itu pada malam yang penuh dengan pekerja komuter yang baru pulang kerja dan wisatawan yang sebagian di antaranya mengunjungi kuil itu. “Tiba-tiba terjadi ledakan keras dan seluruh ruangan berguncang, seperti seseorang menaruh bola raksasa di atap gedung,” kata Pim Noyomwan, instruktur asal Inggris yang bekerja di lantai delapan gedung yang bersebelahan dengan kuil tersebut.

Bom itu bertujuan membunuh banyak orang karena kuil itu selalu ramai sekitar pukul 18.00-19.00, kata juru bicara Kepolisian Thailand, Prawut Thavornsiri, kepada AFP, Selasa. Empat belas orang tewas seketika di lokasi kejadian. Delapan lainnya menyusul setelah dirawat di rumah sakit.

Lanjutkan membaca Siapa yang meledakkan Bangkok?

Serangan di Museum Bardo dan Industri Pariwisata Tunisia


ROBERT ADHI KSP

Serangan teroris bersenjata di Museum Nasional Bardo di Tunisia, Rabu (18/3) pekan lalu, menewaskan 23 orang dan melukai puluhan lainnya. Apakah industri pariwisata Tunisia bakal padam pasca serangan di Museum Bardo? Rakyat Tunisia bersatu padu berupaya membangkitkan kembali citra pariwisata Tunisia melalui media sosial. Sementara Pemerintah Tunisia dengan cepat menangkap mereka yang diduga terlibat dalam serangan mematikan itu.

BardoTunisia 23032015

Dari jumlah yang tewas, 20 di antaranya adalah wisatawan asing yang berkunjung ke Museum Bardo. Dua puluh korban tewas adalah berkebangsaan Italia (4 orang), Jepang (3), Perancis (3), Polandia (3), Spanyol (2), Kolombia (2), Rusia (1), Belgia (1), Inggris (1). Tiga orang lainnya yang tewas adalah warga Tunisia, termasuk dua lelaki bersenjata Kalashnikov yang menyerang museum. Warga Tunisia lainnya yang tewas adalah seorang polisi.

Kementerian Kesehatan Tunisia dalam pernyataannya hari Sabtu (21/3) menyebutkan, sebanyak 43 orang luka-luka, 33 di antaranya sudah meninggalkan rumah sakit di Tunisia, dan 10 lainnya masih dirawat di Rumah Sakit Charles Nicolle (Polandia 2 orang, Jepang 2, Belgia 1, dan Perancis 1), RS Rabta (Jepang 1 orang), RS Habib Thameur (Afrika Selatan 1 orang), serta RS militer (Rusia 1 orang dan Italia 1 orang). (”Ministry of Health reveals nationality of 20 tourists victims of Bardo Museum attack”, Agence Tunis Afrique Presse, 21 Maret 2015).

Beberapa warga Italia yang menjadi korban adalah penumpang kapal pesiar Costa Fascinosa, yang selama tujuh hari mengarungi Laut Mediterania. Pelabuhan Tunis salah satu tempat berlabuh kapal pesiar itu. (”Tunisia: 23 killed in terror attacks on tourists”, Al Arabiya, 18 Maret 2015).

Otoritas Tunisia hari Sabtu (21/3) mengumumkan telah menangkap lebih dari 10 militan atas dugaan keterlibatan dalam serangan bersenjata di Museum Nasional Bardo. Dua orang bersenjata yang tewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan Tunisia diketahui sebagai Yassine Laabidi dan Hatem Khachnaoui. Keduanya meninggalkan Tunisia pada Desember 2014 dan pernah mengikuti latihan bersenjata di Libya.

Perdana Menteri Tunisia Habib Essid menegaskan, aksi terorisme tidak mendapat tempat di negeri itu. ”Aksi teroris tidak akan menghalangi Tunisia bergerak maju membangun berbagai proyek untuk mengurangi marjinalisasi dan menciptakan lapangan kerja. Tunisia baru secara tegas berkomitmen membawa proses konstruksi demokrasi ini mencapai tujuan akhir, apa pun kesulitan dan hambatannya,” kata Essid, yang optimistis dengan masa depan Tunisia. Dia mengajak semua rakyat Tunisia bersatu, mendukung upaya aparat keamanan memerangi terorisme di negeri itu (”Essid: Terrorism will by no means deter Tunisia to move forward in achieving development projects”, Tunisian News Agency, 21 Maret 2015).

Museum Bardo di Tunisia adalah salah satu lokasi pariwisata paling populer di Tunisia. Museum itu menyimpan koleksi terkenal berupa benda-benda antik dan warisan yang lain dari Kekaisaran Romawi. Negara di Afrika utara itu mengandalkan sektor pariwisata. Serangan ke Museum Bardo melumpuhkan aktivitas pariwisata di negeri itu. Padahal, sebanyak 15 persen pendapatan Tunisia berasal dari sektor pariwisata.

Serangan di Museum Bardo itu merupakan serangan terburuk yang menimpa orang asing di Tunisia sejak bom bunuh diri di Sinagog di Pulau Djerba tahun 2002 yang menewaskan 14 warga Jerman, 2 warga Perancis, dan 5 warga Tunisia.

Media sosial

Tunisia adalah negara pertama yang menggaungkan Arab Spring dan menularkannya kepada negara-negara lainnya di Afrika Utara dan Timur Tengah. Rakyat Tunisia sudah terbiasa menggunakan media sosial untuk melakukan perubahan.

Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa atau The United Nations World Tourism Organization (UNWTO) mengecam keras serangan terhadap Museum Bardo di Tunisia, demikian juga pengguna media sosial di dunia.

Tagar #JeSuisBardo dan #JeSuisTunisien sempat masuk tren topik dunia. Dalam empat hari terakhir, topsy.com mencatat 11.032 cuitan di Twitter yang menggunakan tagar #JeSuisBardo, dan 21.455 cuitan yang menggunakan tagar #JeSuis Tunisien, sebagai tanda solidaritas terhadap Tunisia.

Lanjutkan membaca Serangan di Museum Bardo dan Industri Pariwisata Tunisia

Hancurnya Warisan Peradaban Mesopotamia


ROBERT ADHI KSP

Penghancuran artefak dan situs arkeologi warisan peradaban Mesopotamia di kota Nimrud dan Hatra di wilayah Irak oleh Negara Islam di Irak dan Suriah, pekan lalu, mengejutkan sejarawan, budayawan, dan arkeolog dunia. Padahal, di sanalah manusia modern dapat mengagumi kejayaan Irak dan Mesopotamia beserta peradabannya yang telah ada sejak 3.000 tahun silam.

Mesopotamia, salah satu peradaban tertua di dunia, dikenal sejak ribuan tahun silam Sebelum Masehi. Mesopotamia terletak di lembah di antara dua sungai, Tigris dan Eufrat. Daerah yang dilalui kedua sungai itu subur. Rakyat yang tinggal di wilayah itu pun makmur. Bangsa pertama dari luar Mesopotamia yang masuk ke wilayah itu adalah bangsa Sumeria, yang membangun kota-kota kuno di Mesopotamia. Menyusul bangsa Akkad, Babilonia, Assyiria, Khaldea, dan Persia. Warisan budaya dan peradaban Mesopotamia beribu-ribu tahun lalu di wilayah yang sekarang masuk wilayah Irak tersebut merupakan bukti kebesaran peradaban manusia pada masa lalu.

Mesopotamia

Namun, warisan peradaban yang tak ternilai harganya itu satu per satu dihancurkan dan dijarah oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), di antaranya di Hatra dan Nimrud. Hatra yang berlokasi sekitar 110 kilometer dari barat daya Mosul adalah kota kuno yang didirikan semasa kekaisaran Parthian lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Kota ini menyimpan kekayaan budaya, seperti kuil dan patung para dewa, misalnya Apollo dan Poseidon.Menurut situs Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Hatra adalah ibu kota Kerajaan Arab pertama yang dibangun di bawah pengaruh kekaisaran Parthian. Beberapa bangunan berarsitektur Romawi dan Hellenistic dengan kombinasi fitur dekoratif Timur menunjukkan kebesaran peradaban masa silam.Sementara Nimrud adalah kota kuno Assyiria yang didirikan pada abad ke-13 Sebelum Masehi (Islamic State Demolishes Ancient Hatra Site in Iraq, BBC, 7 Maret 2015).

Rekaman video yang memperlihatkan aksi perusakan brutal terhadap warisan budaya masa lalu di Museum Mosul pekan lalu sungguh peristiwa menyedihkan. Meskipun beberapa obyek yang dihancurkan itu adalah replika, banyak juga obyek unik yang bertahan dan berusia ribuan tahun (Why ISIS Destroys Antiquities, CNN, 7 Maret 2015).

Beberapa warisan peradaban masa silam yang dihancurkan NIIS di antaranya Gerbang Nergal, pintu masuk menuju kota kuno Nineveh-sebuah kota yang menyimpan sejarah ribuan tahun-dan situs Nimrud, ibu kota Kerajaan Asyura (Assyiria) di bawah Raja Ashurnasirpal.

Kejahatan perang

“Penghancuran dan penjarahan warisan budaya merupakan kejahatan perang. Kami mengajak semua institusi kebudayaan, museum, jurnalis, profesor, dan ilmuwan berbagi pengetahuan tentang peradaban Mesopotamia. Kita perlu mengingatkan bahwa sejarah di negeri itu memimpin zaman keemasan Islam,” kata Irina Bokova, Direktur Jenderal UNESCO (Articaft Destruction a Security Issue, CNN, 7 Maret 2015).

Irina menegaskan, semua umat manusia di muka bumi ini, di mana saja berada, terutama kamu muda di Irak, harus menyadari bahwa warisan budaya itu milik mereka. Warisan kebudayaan pra-Islam di Irak adalah milik semua orang Irak, seperti halnya piramida yang menjadi identitas bangsa Mesir.

 

Warisan budaya yang menunjukkan tingginya peradaban Mesopotamia yang dilestarikan dengan susah payah oleh UNESCO di Irak itu memang memiliki nilai tak terhingga.

Lanjutkan membaca Hancurnya Warisan Peradaban Mesopotamia

Boko Haram dan Kekerasan di Nigeria


Boko Haram dan Kekerasan di Nigeria

ROBERT ADHI KSP

SERANGAN simultan Boko Haram ke berbagai kota di Nigeria beberapa tahun terakhir ini mencerminkan kegagalan pemerintahan Nigeria pimpinan Presiden Goodluck Ebele Azikiwe Jonathan melepaskan negeri itu dari kekacauan. Amnesti Internasional menyatakan, ratusan ribu warga sipil di Nigeria kini dalam bahaya.

Boko Haram, kelompok militan yang dicap sebagai organisasi teroris oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyerang Maiduguri, salah satu kota penting di Nigeria, Minggu (25/1).

Maiduguri adalah ibu kota Negara Bagian Borno. Kota itu menjadi pusat kendali operasi militer untuk menghadapi kelompok militan di tiga negara bagian, yaitu Adamawa, Borno, dan Yobe di timur laut Nigeria. Operasi militer dilancarkan menyusul pengumuman negara dalam keadaan darurat oleh Presiden Nigeria pada Mei 2013 selama enam bulan dan diperpanjang lagi pada 15 November untuk enam bulan berikutnya. Namun, yang terjadi, kekerasan semakin menjadi-jadi. Ironisnya, pada Januari 2015, kota Maiduguri jatuh ke tangan Boko Haram.

Belum lama, kelompok militan ini menyerang kota Monguno dan membakar ratusan rumah di wilayah itu. Monguno, kota berpenduduk 100.000 orang di timur laut Nigeria, berjarak sekitar 135 km dari Maiduguri yang berpenduduk 600.000 jiwa. Kedua kota itu terselip di sudut negara, dekat perbatasan Chad dan Kamerun (Strategic city falls in Nigeria’s battle against Boko Haram, CNN, 25 Januari 2015).

Kelompok militan memobilisasi lebih banyak orang dan kembali dengan kekuatan penuh sehingga pasukan pemerintah kewalahan.

Serangan ini merupakan rangkaian serangan yang dilakukan secara simultan oleh kelompok militan ini. Hingga kini, Boko Haram mengendalikan beberapa kota di wilayah timur laut Nigeria, yaitu kota-kota Baga, Marte, Ngala, Dikwa, Bama, Banki, Gwoza, Madagali, Gulak, Michika, Chibok, Buni Yadi, Monguno dan Maiduguri.

Boko Haram belum lama ini juga menyerang negara tetangga, Kamerun. Pada Mei 2014, sejumlah negara di Afrika, yaitu Benin, Chad, Kamerun, dan Niger, bergabung dengan Nigeria, bersama-sama menghadapi Boko Haram, menyusul penculikan yang dilakukan kelompok militan itu terhadap 276 pelajar sekolah di Chibok di Negara Bagian Borno, April 2014.

Presiden Nigeria Goodluck Jonathan menyebutkan, serangan Boko Haram di berbagai wilayah di negeri itu menyebabkan sedikitnya 12.000 orang tewas dan 8.000 orang lumpuh. Sampai saat ini, sebanyak 1,5 juta orang mengungsi dari zona konflik.

Lanjutkan membaca Boko Haram dan Kekerasan di Nigeria

Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers


Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers

ROBERT ADHI KSP

Seorang pewarta foto Amerika Serikat, Luke Somers (33), yang menjadi sandera Al Qaeda di Yaman, tewas ditembak militan Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) setelah tim Seal AS gagal melakukan penyelamatan. Somers adalah jurnalis ketiga AS yang tewas di tangan kelompok radikal pada tahun 2014 setelah James Foley dan Steven Sotloff dieksekusi NIIS di Suriah.

Somers lahir di Inggris dan lebih banyak menghabiskan waktunya di AS. Dia tinggal di Yaman sudah tiga tahun, bekerja sebagai fotografer lepas untuk BBC dan koran-koran lokal di Yaman. Somers disandera sejak September 2013. Lewat video yang diunggah di dunia maya pada 3 Desember, AQAP sudah mengancam akan mengeksekusi Somers.

Kematian Somers menambah jumlah jurnalis yang tewas setelah dijadikan sandera oleh kelompok teroris di Timur Tengah. Committee to Protect Journalist (CPJ) menyebutkan, Somers adalah jurnalis ketiga AS yang tewas setelah ditangkap dan dijadikan sandera. Dua jurnalis lain adalah James Foley dan Steven Sotloff yang tewas dipenggal di Suriah oleh kelompok militan NIIS.

”Somers ke Yaman untuk membawa berita untuk kita, tetapi justru dia kini menjadi berita. Kelompok militan kini menggunakan jurnalis sebagai pion dalam permainan politik yang mematikan,” kata Deputi Direktur CPJ Robert Mahoney dalam pernyataannya, Sabtu (6/12). ”Sebagai jurnalis, kita harus melanjutkan pekerjaan kolega kita, mencari keadilan dan melindungi mereka yang pergi ke lapangan setiap hari meski dalam bahaya,” katanya.

”Kematian Somers merupakan refleksi dari meningkatnya ancaman bahaya pekerjaan seorang jurnalis. Banyak jurnalis yang dijadikan sandera dalam dua tahun terakhir ini. Dampak tragis akan menjadi lebih sering” kata Sekretaris Jenderal Reporters Without Borders Christophe Deloire, Sabtu.

Lanjutkan membaca Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers

Ledakan di Malaysia, Perang Antargeng atau Aksi Teroris?


Ledakan di Malaysia

ROBERT ADHI KSP

Sebuah granat meledak di luar pub Cherry Blossom di kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (9/10) pukul 04.30 waktu setempat. Ledakan itu menewaskan satu orang, melukai belasan orang lain, dan merusak empat kendaraan. Benarkah ledakan di Malaysia ini berkaitan dengan perang antargeng dan persaingan bisnis dunia bawah tanah dan tidak ada keterkaitan dengan aksi terorisme seperti yang disampaikan otoritas Malaysia?

Kawasan Bukit Bintang di Kuala Lumpur dikenal sebagai kawasan belanja, makan, dan kehidupan malam yang dibanjiri wisatawan asing.

Ledakan di Bukit Bintang menjadi perhatian internasional karena di antara korban luka terdapat warga negara asing. Korban luka-luka dari Thailand adalah Jasu, berusia 50 tahun, yang mengunjungi Malaysia dari Provinsi Chiangmai. Korban luka dari Singapura adalah Wong Kim Teng, sedangkan korban luka dari Tiongkok adalah Ma Yunfeng dan Yong Jiaqin.
Korban tewas adalah Tiong Kwang Yie, warga Malaysia. Korban luka-luka berusia antara 22 tahun dan 40 tahun, berkebangsaan Malaysia (8 orang), Tiongkok (2), Singapura (1), dan Thailand (1).

Penyelidikan kepolisian setempat menyebutkan terdapat dua granat tangan di lokasi kejadian. Satu granat meledak. Satu lagi gagal meledak dan ditemukan di bawah sebuah mobil yang diparkir di kawasan itu. Empat mobil yang rusak adalah Toyota Vellfire, Toyota Camry, Mazda 2, dan BMW seri 5.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengecam aksi yang tak bisa ditoleransi itu dan menegaskan pelakunya akan ditemukan dan diadili.

Ledakan bom di Bukit Bintang, kata pejabat kepolisian setempat, Ayob Khan Mydin, berkaitan dengan perang antargeng dan persaingan bisnis ”dunia bawah tanah”.

Sumber kepolisian di Malaysia seperti dikutip The Malay Mail pada Minggu menyebutkan, polisi masih mencari seorang raja judi di negeri itu, Ah Hai (53), yang menjadi sasaran granat di Bukit Bintang. Ah Hai disebutkan seorang gangster yang dihormati dalam masyarakat rahasia Tiongkok. Ah Hai disebutkan sedang meninggalkan pub Cherry Blossom ketika ledakan granat terjadi.

Ah Hai yang dikenal sebagai ”raja judi” Malaysia ini juga disebutkan sebagai orang di balik sejumlah kelab malam yang menjadi tempat peredaran narkoba di negeri itu.

Lanjutkan membaca Ledakan di Malaysia, Perang Antargeng atau Aksi Teroris?

Kekerasan dan Marjinalisasi di Xinjiang


Gambar

ROBERT ADHI KSP

AKSI terorisme terus mengguncang Tiongkok. Serangan terbaru terjadi di pasar terbuka di Distrik Shayibake, Urumqi, ibu kota Xinjiang, Tiongkok barat laut, pada 22 Mei lalu, yang menewaskan 39 orang dan melukai 90 orang lainnya. Mengapa kekerasan makin meningkat di Xinjiang?

Aksi-aksi terorisme di Tiongkok dalam dua tahun terakhir ini memang mencemaskan pemimpin ”Negeri Tirai Bambu” itu. Pada 1 Maret, serangan mematikan terjadi di stasiun kereta di Kunming, yang menewaskan 29 orang. Adapun pada 30 April, ledakan bom di stasiun kereta di Urumqi, menewaskan tiga orang termasuk dua pelaku, serta melukai 79 orang lainnya. Beberapa hari setelahnya, lelaki bersenjata pisau menyerang penumpang di stasiun kereta di Guangzhou, melukai enam orang.

Awal Oktober 2013, sebuah jip menabrak kerumunan orang di Lapangan Tiananmen di Beijing, menewaskan lima orang termasuk pelaku.

Pemerintah Tiongkok meyakini bahwa kelompok teroris Uighur memiliki jaringan yang kuat dengan kelompok teroris di luar negara itu. Otoritas Tiongkok menemukan bukti bahwa pelaku melakukan perjalanan ke Afganistan.

Meredupnya perang di Afganistan diduga merupakan salah satu pemicu utama meningkatnya aksi terorisme di daerah otonomi khusus Xinjiang, yang wilayahnya berbatasan dengan Afganistan. Tentara Amerika Serikat dan pasukan NATO meninggalkan Afganistan untuk mengakhiri perang di negeri itu. Para pejuang Afganistan diduga mengalihkan ”perang” ke Xinjiang.

Lanjutkan membaca Kekerasan dan Marjinalisasi di Xinjiang

Terorisme dan Rasa Aman di Malaysia


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Malaysia menangkap sejumlah anggota kelompok teroris dari Somalia, Al Shabaab atau Al Shabab, yang masuk ke negeri itu. Mereka diduga merencanakan aksi teror di sekolah dan universitas swasta serta mencari sasaran turis asing di Malaysia. Benarkah teroris internasional kini mengincar Malaysia sebagai salah satu ”base camp”?

Unit Khusus Anti Teroris Malaysia, pekan lalu, menangkap enam anggota kelompok Al Shabaab, kelompok teroris yang memiliki jaringan Al Qaeda. Surat kabar Malaysia, The Star, melaporkan, mereka masuk ke Malaysia beberapa pekan sebelumnya. Jumlah tersangka yang ditangkap akan bertambah. Polisi beraksi cepat sebelum mereka menyerang negeri ini. Lanjutkan membaca Terorisme dan Rasa Aman di Malaysia

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: