Arsip Tag: Susilo Bambang Yudhoyono

Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial


Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

ROBERT ADHI KSP

Di era digital, cukup banyak kepala negara dan kepala pemerintahan di sejumlah negara memanfaatkan media sosial sebagai salah satu alat komunikasi. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, memanfaatkan Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pendapat tentang isu-isu terkini.

Sebelum media sosial populer, para pemimpin negara lebih sering memanfaatkan televisi dan radio. Namun, kini media sosial menyediakan semuanya, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga dalam bentuk foto dan video. Ini lompatan jauh dunia komunikasi sesuai zamannya.

Presiden Yudhoyono sedang berada di luar negeri ketika Undang-Undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) disahkan DPR melalui voting. Menanggapi banyaknya kritik rakyat pengguna media sosial yang membuat hashtag #ShameOnYouSBY dan #ShamedByYou di Twitter, Yudhoyono kemudian menjelaskan melalui Youtube tentang sikapnya terhadap UU Pilkada.

Dalam video selama 15 menit 24 detik yang diunggah ketika masih dalam perjalanan ke luar negeri, Presiden Yudhoyono menegaskan sikapnya untuk memastikan hak pilih rakyat tidak dihilangkan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Sikap serupa ia sampaikan melalui Facebook dan Twitter.

Pelanggan video Yudhoyono di Youtube sampai awal Oktober 2014 tercatat 8.267. Komentar Yudhoyono di video ini dikutip oleh media-media mainstream, termasuk media online. Yudhoyono juga memiliki akun resmi Twitter dengan jumlah pengikut (follower) sebanyak 5,62 juta. Fan page Presiden Yudhoyono yang dikelola staf khusus presiden di-”like” 3.657.118. Jika SBY sendiri yang mem-posting pendapat-pendapatnya, di belakangnya tertera *SBY*.

Yudhoyono sebenarnya belum lama membuat akun-akun media sosial tersebut. Namun, popularitas media sosial di Indonesia yang sangat tinggi tampaknya membuat Yudhoyono harus berkomunikasi dengan rakyatnya yang sebagian besar pengguna media sosial.

Yang menarik, ketika ribuan orang mem-bully Yudhoyono di Twitter terkait UU Pilkada, Presiden tidak menunjukkan reaksi negatif. Bahkan, terkesan dia menerima hal itu sebagai konsekuensi atas aktifnya dia sebagai pengguna media sosial. Selain mengemukakan pendapat merupakan bagian dari proses demokrasi, SBY tampaknya juga memahami sifat media sosial yang spontan dan langsung.

Obama dan lain-lain
Tidak hanya Presiden Yudhoyono yang memiliki akun-akun media sosial. Presiden Amerika Serikat Barack Obama sudah memilikinya sejak awal, bahkan ketika media-media sosial yang diciptakan orang-orang Amerika Serikat itu baru mulai dirilis kali pertama. Pelanggan Youtube Barack Obama sampai awal Oktober ini tercatat 536.361, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Youtube Yudhoyono. Pengikut akun Twitter Barack Obama tercatat 47,7 juta dan jumlah yang me-like fan page Obama tercatat 42.940.006.

Obama memanfaatkan betul media sosial untuk alat komunikasi dengan rakyat Amerika Serikat. Jumlah yang me-like satu posting Obama bisa mencapai ratusan ribu orang. Topiknya macam-macam, dari isu lapangan kerja, kenaikan upah, kesehatan, pendidikan, sampai masalah perubahan iklim. Obama juga memberi ruang bagi rakyatnya untuk berkomentar. Pedas atau manis, itulah esensi demokrasi.

Lanjutkan membaca Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

Iklan

Saatnya Bersatu Kembali


SaatnyaBersatuKembali

ROBERT ADHI KSP

Pesta demokrasi di Indonesia sudah usai. Komisi Pemilihan Umum akan mengumumkan hasil pemilihan presiden sesuai jadwal, Selasa (22/7). Setelah kampanye yang menguras energi, kini saatnya rakyat Indonesia bersatu kembali membangun negeri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merekatkan kembali dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berkompetisi dalam pemilihan presiden. Di Istana Negara, mereka duduk satu meja dalam acara buka puasa bersama, Minggu (20/7).

Sejak kampanye pemilihan presiden, rakyat Indonesia terbelah. Ingar-bingar pilpres ini betul-betul menguras emosi, pikiran, dan tenaga. Tiba-tiba banyak orang merasa perlu turun tangan, membantu capresnya. Mulai dari politisi, akademisi, seniman dan artis, sampai rakyat biasa. Mereka menjadi relawan dalam berbagai bidang, termasuk mengikuti perbincangan di media sosial Facebook dan Twitter.

Tiada hari tanpa posting yang berkaitan dengan pilpres di Facebook. Tiada hari tanpa hashtag (#) atau tagar tentang pilpres atau capres-cawapres di Twitter. Saling berdebat di media sosial. Lima acara debat capres-cawapres menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu. Semua menyimak, semua memberikan komentar dan penilaian atas penampilan capres-cawapres. Rakyat Indonesia mengikuti proses demokrasi dengan saksama.

Namun, kini semuanya sudah usai. Dalam setiap kompetisi pasti ada yang kalah dan yang menang. Semua peserta pilpres harus siap kalah dan siap menang. Peserta yang mengakui kekalahannya memiliki sikap ksatria dan jiwa besar. Sebaliknya, peserta yang menang tetap rendah hati dan tidak sombong. Itulah makna sebuah kompetisi dalam bidang apa pun, termasuk pemilihan umum presiden.

Hari Senin ini, hampir semua media di Indonesia memberitakan kemenangan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla berdasarkan hasil rekapitulasi nasional suara pemilihan umum Presiden dari 33 provinsi di seluruh Indonesia dan luar negeri yang dikerjakan Komisi Pemilihan Umum.

Harian Kompas misalnya menyebutkan, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla meraih suara 53,15 persen (70.633.576 pemilih), unggul sekitar 6 persen (8 jutaan) dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang meraih suara 46,85 persen (62.262.844 pemilih). Angka ini memang belum final, tetapi kalaupun ada perubahan persentasenya tak banyak berubah.

Jutaan relawan pendukung Jokowi-Jusuf Kalla tetap mengawal suara pemilu di KPU. Beberapa di antaranya adalah upaya sekelompok anak muda yang kuliah di Singapura dan Amerika Serikat. Mereka membuat situs kawalpemilu.org. Semua data di situs itu berasal dari pindaian formulir C1 yang dipublikasikan KPU dan didigitisasi dengan bantuan relawan netizen yang independen. Lewat situs ini, semua orang dapat mengikuti perkembangan terakhir hasil pilpres.

Lanjutkan membaca Saatnya Bersatu Kembali

Facebook Bantu Bongkar Kejahatan?


Gambar

oleh ROBERT ADHI KSP

Belum lama ini, Facebook merilis data yang mengungkapkan, dalam enam bulan pertama tahun 2013, sebanyak 74 negara di seluruh dunia mengajukan permintaan agar Facebook membuka informasi tentang 38.000-an pengguna.

Lanjutkan membaca Facebook Bantu Bongkar Kejahatan?

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: