CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani: Gencar Mengembangkan Ekonomi Hijau


Gambar  

Shinta Widjaja Kamdani (47) merupakan salah satu dari 50 Perempuan Pebisnis Paling Berpengaruh di Asia versi majalah Forbes Asia. Chief Executive Officer Sintesa Group ini membawahi 17 perusahaan yang bergerak di empat bidang, yaitu industri manufaktur, properti, energi, dan produk konsumen. Dua di antara perusahaan yang dikelolanya, PT Tigaraksa Satria Tbk dan PT Tira Austenite Tbk, sudah masuk bursa.Di bawah kepemimpinan Shinta Widjaja Kamdani, pendapatan usaha (revenue) total Sintesa Group dalam empat tahun ini meningkat.

Tahun 2010, pendapatan 700 juta dollar AS menjadi 1 miliar dollar AS pada tahun 2012. Tahun 2013 naik menjadi 1,2 miliar dollar AS.Mulai membenahi usaha ayahnya, Johnny Widjaja, tahun 1999, Shinta mendirikan perusahaan baru Sintesa Group. Shinta yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan salah satu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini gencar memperkenalkan ekonomi hijau (green economy).

Berikut petikan wawancara dengan Shinta di Jakarta, awal Februari 2014.

Mengembangkan green economy. Bisa dijelaskan?

Kami kembangkan energi terbarukan. Ini juga merupakan investasi jangka panjang. Kami membangun pembangkit tenaga listrik di Muara Enim (Sumatera Selatan), geotermal (panas bumi) di Banten (Jawa Barat), dan energi tenaga surya di Kupang (NTT). Kami juga bekerja sama dengan Angkasa Pura I, membangun solar panel (panel surya) di semua bandara di bawah otoritas PT Angkasa Pura I.

Mengapa memilih bisnis ini?

Sejak kecil saya akrab dengan masalah lingkungan. Saya sering diajak ayah ke laut, ke Pulau Semut Kecil (Kepulauan Seribu, DKI Jakarta), sehingga peduli pada konservasi laut. Tahun 1990, saya menjadi board (anggota dewan) termuda WWF Indonesia. Sejak itu, kepedulian kepada lingkungan kian kuat.

Ketika saya masuk Kadin, area saya sebetulnya trade investment, tetapi saat itu dunia usaha mulai peduli pada isu-isu lingkungan. Saya berpendapat Kadin perlu mempromosikan green economy. Saya mulai menggerakkan dunia usaha untuk lebih peduli.

Saat ini isu lingkungan bukan lagi isu pinggiran. Pengusaha Indonesia harus peduli dengan isu-isu lingkungan yang menjadi perhatian serius dunia usaha secara global. Saya mengajak perusahaan-perusahaan multinasional dan nasional lebih peduli pada persoalan lingkungan. Garuda Indonesia, BNI, Holcim, lalu menjadi 17 perusahaan.

Perusahaan-perusahaan multinasional, seperti Unilever, Nestle, dan Coca-Cola sudah menargetkan penurunan emisi melalui penggunaan bahan baku yang harus mengikuti standar ramah lingkungan. Kalau ingin menjadi bagian dari supply chain (rantai pasok) perusahaan-perusahaan itu, pengusaha Indonesia harus mengikuti apa yang dilakukan mereka.

Tidak hanya soal sampah dan limbah, tetapi juga ecolabelling harus ramah lingkungan agar bisa menjadi bagian dari jaringan mereka.

Saya melihat pengusaha lokal dan pengusaha menengah belum merasa isu lingkungan menjadi prioritas. Padahal, bila ingin menjadi pemain global, pengusaha harus serius menangani isu lingkungan.

 Gambar ?

Langkah konkret green economy secara internal group?

Dalam Sintesa Group, keseriusan ini ditunjukkan pada indikator kinerja (key performance indicator/KPI). Faktor sustainable development (pembangunan berkelanjutan) masuk dalam KPI manajemen. Dalam proyek, manajemen Sintesa Group harus mampu mengurangi emisi karbon. Hal itu misalnya dalam pembangunan hotel, unsur ramah lingkungan harus diperhatikan sejak masih proyek.

Tantangan sebagai CEO adalah bagaimana membangun gaya hidup karyawan agar peduli kepada lingkungan. Pembuangan sampah, daur ulang produk, dan penggunaan air merupakan contoh paling sederhana.

Saya tidak ingin hanya satu proyek yang ramah lingkungan, tetapi juga semua harus terintegrasi. Dalam proyek geotermal, kami harus memiliki community development(pemberdayaan komunitas), mulai dari listrik, hydropower, (pembangkit listrik tenaga air), sampai water treatment (pengolahan air).

Kendala terbesar mengembangkan green economy?

Yang menjadi persoalan adalah biaya yang dikeluarkan masih relatif tinggi dan belum mendapatkan keuntungan memadai bila membangun usaha yang ramah lingkungan. Pengusaha seharusnya mendapatkan benefit (manfaat), misalnya mendapatkan pengurangan pajak dan suku bunga yang lebih rendah dari bank agar pengusaha tertarik menjalankannya. Kalau pada akhirnya cost lebih tinggi buat apa? Yang terjadi kemudian, perusahaan memasukkan isu lingkungan pada CSR mereka sebab bila masuk business model (model bisnis), cost (biaya) terlalu tinggi.

Bagaimana Anda melihat prospek bisnis 2014?

Kita harus melihat keadaan ekonomi secara umum. Kondisi ekonomi global pasti memengaruhi ekonomi Indonesia.

Di dalam negeri, pemerintah memberlakukan likuiditas ketat, yang memengaruhi fasilitas kredit bank. Intinya, perusahaan yang akan berekspansi harus berpikir masak-masak. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menurun.

Dunia usaha juga melihat tahun 2014 adalah tahun politik yang penuh ketidakpastian. Dunia usaha akan menunggu siapa presiden baru, siapa menterinya, dan apa kebijakan ekonominya. (ROBERT ADHI KSP)

SUMBER: HARIAN KOMPAS, SENIN 17 FEBRUARI 2014 HALAMAN 20

Gambar

 

 

 

 

 

Iklan