Melesatnya Jumlah Orang Superkaya di Tiongkok


ROBERT ADHI KSP

Meskipun pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat sejak tahun lalu, jumlah orang superkaya di Tiongkok pada tahun ini mencatat rekor tertinggi. Dalam China Ultra High Net Wealth Report 2014-2015 seperti dikutip China Daily (6/4/2015) terungkap, jumlah orang Tiongkok daratan yang memiliki aset kekayaan bernilai sedikitnya 500 juta yuan atau setara dengan 81,35 juta dollar AS sekitar 17.000 orang.

Orang Superkaya Tiongkok

Laporan yang dirilis China Minsheng Bank dan Hurun Research Institute, Kamis pekan lalu di Beijing, itu menyebutkan, sejak tahun 2008 sampai tahun 2013, jumlah orang superkaya di Tiongkok daratan tak lebih dari 1.000 nama. Namun, jumlah orang superkaya pada 2015 mencatat rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Laporan itu berdasarkan investigasi secara mendalam terkait di mana mereka tinggal, bagaimana mereka mengakumulasi kekayaan mereka, dan gaya hidup mereka.

Jumlah total aset orang superkaya Tiongkok melonjak menjadi 31 triliun yuan, atau 10 kali produk domestik bruto (PDB) Norwegia dan 20 kali PDB Filipina. Mereka rata-rata berusia 51 tahun dan memiliki aset rata-rata 1,82 triliun yuan.

Sebagian besar yang masuk dalam daftar orang superkaya Tiongkok adalah wirausaha, pengusaha properti dan investor profesional. Sebanyak 300 orang dari mereka memiliki aset kekayaan bernilai sedikitnya 10 miliar yuan dan sebanyak 5.100 orang memiliki aset kekayaan bernilai antara 1 miliar dan 2 miliar yuan. Dan, terbanyak memiliki aset kekayaan bernilai 500 juta sampai 1 miliar yuan.

FOTO: DOKUMENTASI ROBERT ADHI KSP
FOTO: DOKUMENTASI ROBERT ADHI KSP

Jumlah orang Tiongkok yang memiliki kekayaan sekitar 500 juta yuan meningkat. Jumlah orang superkaya di Tiongkok lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Rupert Hoogewerf, pendiri Hurun Research Institute mengaitkan kondisi ini dengan perkembangan ekonomi Tiongkok dan pemulihan pasar saham.

Sebagian besar wirausaha datang dari industri manufaktur dan perusahaan yang terdaftar dalam bursa saham di Shanghai atau Shenzhen. Situs zaobao.com (Singapura) melaporkan, 55 persen dari orang-orang superkaya Tiongkok ini tidak tinggal di kota-kota lapis pertama, seperti Beijing misalnya, tetapi di kota-kota lapis kedua dan lapis ketiga.

Sebenarnya indikator ini sudah terlihat sejak 5-10 tahun lalu. Ketika mengunjungi kota Hangzhou dan Suzhou tahun 2010, Kompas melihat iklan dan ruang pamer mobil-mobil mewah bertebaran. Orang-orang kaya baru di Tiongkok menyukai mobil-mobil mewah, seperti Audi, BMW, Ferrari, Maserati, Volkswagen, Lexus, Mercedes Benz, Porche, Lamborghini, Land Rover, Volvo, Infiniti, sampai Cadillac. Betapa mudahnya menemukan mobil Ferrari parkir di depan sebuah toko kecil di kota Suzhou, misalnya. Kota itu bukanlah kota lapis pertama.

Laporan terbaru tentang orang-orang superkaya di Tiongkok menyebutkan secara rinci perilaku mereka terhadap investasi dan kehidupan. Sebagian besar optimistis terhadap lingkungan bisnis saat ini. Setengah dari mereka berpikir akan lebih mudah mendapatkan pinjaman dalam tiga tahun ke depan dan yakin sektor makroekonomi akan meningkat, serta percaya wirausaha akan lebih dihormati. Lebih dari 80 persen orang-orang superkaya itu lebih suka berinvestasi dalam proyek-proyek di mancanegara di masa depan dan setengah di antaranya sudah melakukannya.

Mencintai globalisasi

Sejak Deng Xiaoping meluncurkan “Empat Program Modernisasi” (di bidang pertanian, industri, sains dan teknologi, serta militer) pada 1978, Tiongkok dengan cepat lepas landas. Tiongkok mengalami transformasi yang luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Hanya dalam waktu 26 tahun sejak 1978-2004, PDB Tiongkok naik dari 147,3 miliar dollar AS menjadi 1,6494 triliun dollar AS dengan angka pertumbuhan tahunan rata-rata 9,4 persen. Cadangan devisa Tiongkok naik dari 167 juta dollar AS pada 1978 menjadi 609,9 miliar dollar AS pada 2004.

Jumlah orang miskin di desa-desa di Tiongkok berkurang dari 250 juta orang menjadi 26 juta orang. Kualitas hidup rakyat Tiongkok meningkat pesat. “Itulah sebabnya mengapa Tiongkok mencintai globalisasi,” kata Presiden Republik Rakyat Tiongkok (2003-2013) Hu Jintao.

Jika pada 2000 tercatat terdapat 56 juta orang kelas menengah global di Tiongkok, pada 2030 jumlah kelas menengah di negeri itu diprediksi menjadi 361 juta orang.

Kemajuan Tiongkok juga dapat dilihat dari pesatnya pembangunan infrastruktur di seluruh negeri itu. Salah satunya adalah kereta supercepat yang diperkenalkan kali pertama pada 2011 dan melayani rute Beijing-Shanghai. Kini kereta supercepat di Tiongkok melayani rute sejauh 16.000 kilometer, memudahkan wisatawan dan warga Tiongkok mengunjungi kota-kota di negeri itu.

“Rakyat Tiongkok adalah masyarakat yang paling rajin dan ulet di dunia. Sukses luar biasa etnis Tionghoa di perantauan di setiap negara dibandingkan dengan rendahnya produktivitas orang Tiongkok di rumahnya sendiri memperkuat dugaan Deng Xiaoping pada akhir 1970-an bahwa Tiongkok saat itu mengadopsi sistem ekonomi yang salah. Tiongkok pun meninggalkan cara-cara produksi Marxisme-Leninisme dan menganut prinsip-prinsip ekonomi pasar bebas,” tulis Kishore Mahbubani dalam bukunya The New Asian Hemisphere (2008).

Pada akhir 2014, Dana Moneter Internasional mengumumkan ekonomi Tiongkok berada di posisi nomor satu dunia. Tiongkok mengukuhkan diri sebagai raksasa ekonomi dunia. PDB Tiongkok berdasarkan paritas daya beli per akhir 2014 sebesar 17,6 triliun dollar AS, melampaui PDB Amerika Serikat 17,4 triliun dollar AS.

Tiongkok yang pernah berjaya berabad-abad silam telah bangkit dan hidup kembali.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, SELASA 7 APRIL 2015

Iklan