Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda


ROBERT ADHI KSP

Setiap tanggal 3 Mei, jurnalis di seluruh dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day). Namun, setiap tahun pula, kalangan jurnalis masih harus prihatin. Dalam 10 tahun terakhir, sedikitnya 675 jurnalis terbunuh. Negara-negara yang sedang dilanda perang di kawasan Timur Tengah menjadi negara yang mematikan bagi para jurnalis. Setelah Suriah dan Irak di Timur Tengah, Filipina merupakan negara di kawasan Asia Tenggara yang paling berbahaya bagi jurnalis.

Bahkan, menjelang peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, John Kituyi (63), editor The Mirror Weekly, surat kabar di kota Eldoret, Kenya barat, tewas setelah diserang orang tak dikenal, Kamis (30/4). Jurnalis setempat mengatakan, pembunuhan John Kituyi diduga terkait tulisan yang diturunkan seminggu sebelumnya. Tulisan itu tentang Wakil Presiden Kenya William Ruto dan pejabat lain yang diseret Mahkamah Kriminal Internasional karena terlibat dalam kejahatan kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi menyusul pemilu Desember 2007 silam.

Hari Kebebasan Pers Dunia

Di Somalia, seorang jurnalis radio, Daud Ali Omar (35), tewas diberondong tembakan oleh lelaki bersenjata di rumahnya di kota Baidoa, Rabu (29/4). Daud, produser Radio Baidoa yang pro pemerintah, sering meliput kekerasan regional dan politik lokal. Belum ada kelompok yang bertanggung jawab, tetapi jurnalis setempat dan polisi menduga kelompok militan Al-Shabab yang melakukan pembunuhan tersebut.

Masih pada bulan April, seorang jurnalis televisi Libya, Muftah al-Qatrani (33), ditembak mati di kantornya di kota Benghazi, Libya timur, Rabu (22/4). Libyan Center for Freedom of the Press dalam pernyataan persnya menyebutkan, pembunuhan jurnalis televisi itu terkait dengan pekerjaannya.

Menurut situs Committee to Protect Journalists (CPJ), sejak Januari sampai awal Mei 2015, tercatat 21 jurnalis terbunuh dengan motif yang sudah dikonfirmasi. Mereka berasal dari Banglades (2), Brasil (1), Guatemala (1), Ukraina (1), Suriah (1), Sudan Selatan (5), Perancis (8), Meksiko (1), dan Yaman (1). Sementara enam jurnalis lain terbunuh dengan motif yang belum terkonfirmasi. Mereka berasal dari Kolombia (2), Yaman, Guatemala, Brasil, dan Filipina (masing-masing satu orang). Sejak 1992, menurut CPJ, sebanyak 1.124 wartawan terbunuh di seluruh dunia. Khusus di Filipina, negara tetangga Indonesia, sebanyak 77 wartawan terbunuh karena pekerjaan sebagai jurnalis di Filipina. Sebagai perbandingan, 80 jurnalis tewas di Suriah dan 166 orang di Irak. Filipina bukan zona perang. Jurnalis di negara itu dibunuh karena alasan konflik internal, kata Deputi Direktur Human Rights Watch Asia, seperti dikutip CNN (5/5).

Sepanjang 2014, tercatat 61 jurnalis terbunuh dengan motif yang sudah dikonfirmasi. Mereka berasal dari Suriah (17), Ukraina (5), Irak (5), Israel dan Palestina (4), Somalia (4), Brasil (3), Pakistan (3), Paraguay (3), Afganistan (3), Meksiko (2), India (2), Yaman (1), Libya (1), Banglades (1), Filipina (1), Afrika Selatan (1), Afrika Tengah (1), Myanmar (1), Guinea (1), Mesir (1), dan Republik Demokratik Kongo (1).

Kebebasan pers

Melihat angka-angka yang dirilis CPJ dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) belum lama ini, jurnalis masih merupakan profesi yang berbahaya. Ancaman terhadap jurnalis tidak terbatas pada mereka yang bekerja di negara-negara di zona perang, seperti di Timur Tengah dan Afrika, tetapi juga di negara-negara modern yang masih mengekang kebebasan pers. Jurnalis yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah atau menurunkan laporan yang membuka borok institusi dan orang menjadi sasaran.

CPJ menyebutkan 10 negara yang paling represif dan paling sering melakukan sensor terhadap pemberitaan pers. Bahkan, di negara yang perekonomiannya baik dan sebagian besar rakyatnya sejahtera, seperti Tiongkok dan Arab, kebebasan pers tetap dikekang. Menurut CPJ, negara-negara penyensor pers itu adalah Eritrea, Korea Utara, Arab Saudi, Etiopia, Azerbaijan, Vietnam, Iran, Tiongkok, Myanmar, dan Kuba. Di negara-negara ini, banyak jurnalis harus masuk penjara terkait pekerjaannya.

UNESCO dalam akun Twitter-nya, 3 Mei lalu, mengajak semua pihak merespons fakta dan angka-angka tersebut. Pers diminta tetap menjaga kebebasan berpendapat.

Hari Kebebasan Pers Dunia diperingati setiap 3 Mei untuk mengingatkan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers, menilai kondisi kebebasan pers di seluruh dunia, membela media dari serangan terhadap kemerdekaan mereka, serta menghormati wartawan yang telah kehilangan nyawa saat menjalankan tugas.

Hari Kebebasan Pers Dunia diproklamasikan dalam Sidang Umum PBB pada Desember 1993, merespons rekomendasi Sidang Umum UNESCO dua tahun sebelumnya. Sejak itu, setiap 3 Mei, peringatan Deklarasi Windhoek dirayakan di seluruh dunia sebagai Hari Kebebasan Pers Dunia. Deklarasi Windhoek adalah pernyataan prinsip-prinsip pers bebas yang dibahas bersama oleh jurnalis surat kabar Afrika selama seminar UNESCO tentang ”Mempromosikan Pers Afrika yang Independen dan Pluralistik” di Windhoek, Namibia, 29 April-3 Mei 1991.

Dokumen ini mengajak media pers di dunia tetap bebas, independen, dan pluralistik sebagai landasan hak asasi manusia dan menuju demokrasi. Deklarasi Windhoek merupakan alat untuk melindungi prinsip-prinsip dasar kebebasan berekspresi sebagaimana tercantum dalam Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menyatakan, ”Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi. Hak ini termasuk kebebasan berpendapat tanpa gangguan, juga hak untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media apa saja dan tanpa batas”.

Di berbagai belahan dunia, masih banyak jurnalis bekerja di bawah ancaman dan tekanan berbagai pihak. Kebebasan pers dikekang. Berita-berita di media disensor. Ancaman terhadap jurnalis tak kunjung reda. Namun, jurnalis sejati tidak pernah gentar menyuarakan kebenaran.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOLOM, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, SELASA 5 MEI 2015

Iklan