Arsip Tag: UNESCO

Hancurnya Warisan Budaya Berusia Ribuan Tahun di Palmyra


Kekayaan arkeologi dan warisan budaya yang berusia ribuan tahun di Palmyra, Suriah, yang dilindungi UNESCO, dihancurkan oleh kelompok radikal NIIS, Kamis (21/5/2015). Padahal, di kota itulah manusia modern masih dapat melihat bukti kejayaan peradaban umat manusia ribuan tahun silam. Hancurnya warisan budaya di Palmyra, berupa reruntuhan kota besar yang monumental, merupakan tragedi bagi sejarah dan peradaban dunia.

Palmyra yang berlokasi sekitar 215 kilometer timur laut Damaskus merupakan salah satu pusat kebudayaan dan peradaban masa lalu yang sangat penting. Menurut UNESCO, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kota kuno ini salah satu rute penting Jalur Sutra yang menghubungkan Persia, India, dan Tiongkok dengan Kekaisaran Romawi.

Palmyra

Sejak abad ke-1 dan ke-2, seni dan arsitektur Palmyra tegak berdiri di antara peradaban lainnya. Bangunan di Palmyra dibangun dengan kombinasi teknik Romawi-Graeco dengan tradisi lokal dan pengaruh Persia. Kemegahan reruntuhan Palmyra yang berada di padang gurun Suriah merupakan bukti pencapaian estetika yang unik di bawah kekuasaan Romawi pada abad ke-1 sampai ke-3. Setelah lepas dari kekuasaan Romawi, Palmyra mendirikan kekaisaran sendiri yang wilayahnya terbentang dari Turki hingga Mesir.

Palmyra ditetapkan UNESCO sebagai salah satu pusat budaya paling penting dari masa lalu dan satu dari enam situs di Suriah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Lima lainnya adalah kota kuno Aleppo, kota kuno Bosra, kota kuno Damaskus, serta desa kuno di Suriah utara, Crac des Chevaliers dan Qal’at Salah El-Din.

Dikenal sebagai “Venice of the Sands”, Palmyra menyimpan kekayaan budaya dari sejumlah peradaban Romawi kuno, Yunani, dan Persia. Dibangun di tengah padang gurun Suriah, bangunan di Palmyra yang memiliki tiang-tiang utama itu terhubung dengan kuil, teater, rumah, dan monumen publik lainnya. Di sana juga terdapat saluran air (aqueduct) Romawi dan apa yang disebut UNESCO sebagai “Necropolis besar”.

“Palmyra merupakan situs warisan dunia yang luar biasa di padang gurun. Penghancuran terhadap situs Palmyra bukan hanya kejahatan perang, melainkan juga menyebabkan kerugian besar bagi umat manusia,” tutur Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova dalam Twitter dan Youtube. Dia mengajak masyarakat internasional melindungi warisan budaya dunia itu. “Saya mengimbau semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk segera melakukan gencatan senjata di Palmyra dan sekitarnya. Ini merupakan situs warisan dunia yang sangat penting milik semua umat manusia. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikannya,” ungkap Bokova.

Lanjutkan membaca Hancurnya Warisan Budaya Berusia Ribuan Tahun di Palmyra

Iklan

Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda


ROBERT ADHI KSP

Setiap tanggal 3 Mei, jurnalis di seluruh dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day). Namun, setiap tahun pula, kalangan jurnalis masih harus prihatin. Dalam 10 tahun terakhir, sedikitnya 675 jurnalis terbunuh. Negara-negara yang sedang dilanda perang di kawasan Timur Tengah menjadi negara yang mematikan bagi para jurnalis. Setelah Suriah dan Irak di Timur Tengah, Filipina merupakan negara di kawasan Asia Tenggara yang paling berbahaya bagi jurnalis.

Bahkan, menjelang peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, John Kituyi (63), editor The Mirror Weekly, surat kabar di kota Eldoret, Kenya barat, tewas setelah diserang orang tak dikenal, Kamis (30/4). Jurnalis setempat mengatakan, pembunuhan John Kituyi diduga terkait tulisan yang diturunkan seminggu sebelumnya. Tulisan itu tentang Wakil Presiden Kenya William Ruto dan pejabat lain yang diseret Mahkamah Kriminal Internasional karena terlibat dalam kejahatan kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi menyusul pemilu Desember 2007 silam.

Hari Kebebasan Pers Dunia

Di Somalia, seorang jurnalis radio, Daud Ali Omar (35), tewas diberondong tembakan oleh lelaki bersenjata di rumahnya di kota Baidoa, Rabu (29/4). Daud, produser Radio Baidoa yang pro pemerintah, sering meliput kekerasan regional dan politik lokal. Belum ada kelompok yang bertanggung jawab, tetapi jurnalis setempat dan polisi menduga kelompok militan Al-Shabab yang melakukan pembunuhan tersebut.

Masih pada bulan April, seorang jurnalis televisi Libya, Muftah al-Qatrani (33), ditembak mati di kantornya di kota Benghazi, Libya timur, Rabu (22/4). Libyan Center for Freedom of the Press dalam pernyataan persnya menyebutkan, pembunuhan jurnalis televisi itu terkait dengan pekerjaannya.

Menurut situs Committee to Protect Journalists (CPJ), sejak Januari sampai awal Mei 2015, tercatat 21 jurnalis terbunuh dengan motif yang sudah dikonfirmasi. Mereka berasal dari Banglades (2), Brasil (1), Guatemala (1), Ukraina (1), Suriah (1), Sudan Selatan (5), Perancis (8), Meksiko (1), dan Yaman (1). Sementara enam jurnalis lain terbunuh dengan motif yang belum terkonfirmasi. Mereka berasal dari Kolombia (2), Yaman, Guatemala, Brasil, dan Filipina (masing-masing satu orang). Lanjutkan membaca Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda

Hancurnya Warisan Peradaban Mesopotamia


ROBERT ADHI KSP

Penghancuran artefak dan situs arkeologi warisan peradaban Mesopotamia di kota Nimrud dan Hatra di wilayah Irak oleh Negara Islam di Irak dan Suriah, pekan lalu, mengejutkan sejarawan, budayawan, dan arkeolog dunia. Padahal, di sanalah manusia modern dapat mengagumi kejayaan Irak dan Mesopotamia beserta peradabannya yang telah ada sejak 3.000 tahun silam.

Mesopotamia, salah satu peradaban tertua di dunia, dikenal sejak ribuan tahun silam Sebelum Masehi. Mesopotamia terletak di lembah di antara dua sungai, Tigris dan Eufrat. Daerah yang dilalui kedua sungai itu subur. Rakyat yang tinggal di wilayah itu pun makmur. Bangsa pertama dari luar Mesopotamia yang masuk ke wilayah itu adalah bangsa Sumeria, yang membangun kota-kota kuno di Mesopotamia. Menyusul bangsa Akkad, Babilonia, Assyiria, Khaldea, dan Persia. Warisan budaya dan peradaban Mesopotamia beribu-ribu tahun lalu di wilayah yang sekarang masuk wilayah Irak tersebut merupakan bukti kebesaran peradaban manusia pada masa lalu.

Mesopotamia

Namun, warisan peradaban yang tak ternilai harganya itu satu per satu dihancurkan dan dijarah oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), di antaranya di Hatra dan Nimrud. Hatra yang berlokasi sekitar 110 kilometer dari barat daya Mosul adalah kota kuno yang didirikan semasa kekaisaran Parthian lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Kota ini menyimpan kekayaan budaya, seperti kuil dan patung para dewa, misalnya Apollo dan Poseidon.Menurut situs Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Hatra adalah ibu kota Kerajaan Arab pertama yang dibangun di bawah pengaruh kekaisaran Parthian. Beberapa bangunan berarsitektur Romawi dan Hellenistic dengan kombinasi fitur dekoratif Timur menunjukkan kebesaran peradaban masa silam.Sementara Nimrud adalah kota kuno Assyiria yang didirikan pada abad ke-13 Sebelum Masehi (Islamic State Demolishes Ancient Hatra Site in Iraq, BBC, 7 Maret 2015).

Rekaman video yang memperlihatkan aksi perusakan brutal terhadap warisan budaya masa lalu di Museum Mosul pekan lalu sungguh peristiwa menyedihkan. Meskipun beberapa obyek yang dihancurkan itu adalah replika, banyak juga obyek unik yang bertahan dan berusia ribuan tahun (Why ISIS Destroys Antiquities, CNN, 7 Maret 2015).

Beberapa warisan peradaban masa silam yang dihancurkan NIIS di antaranya Gerbang Nergal, pintu masuk menuju kota kuno Nineveh-sebuah kota yang menyimpan sejarah ribuan tahun-dan situs Nimrud, ibu kota Kerajaan Asyura (Assyiria) di bawah Raja Ashurnasirpal.

Kejahatan perang

“Penghancuran dan penjarahan warisan budaya merupakan kejahatan perang. Kami mengajak semua institusi kebudayaan, museum, jurnalis, profesor, dan ilmuwan berbagi pengetahuan tentang peradaban Mesopotamia. Kita perlu mengingatkan bahwa sejarah di negeri itu memimpin zaman keemasan Islam,” kata Irina Bokova, Direktur Jenderal UNESCO (Articaft Destruction a Security Issue, CNN, 7 Maret 2015).

Irina menegaskan, semua umat manusia di muka bumi ini, di mana saja berada, terutama kamu muda di Irak, harus menyadari bahwa warisan budaya itu milik mereka. Warisan kebudayaan pra-Islam di Irak adalah milik semua orang Irak, seperti halnya piramida yang menjadi identitas bangsa Mesir.

 

Warisan budaya yang menunjukkan tingginya peradaban Mesopotamia yang dilestarikan dengan susah payah oleh UNESCO di Irak itu memang memiliki nilai tak terhingga.

Lanjutkan membaca Hancurnya Warisan Peradaban Mesopotamia

Jadikan Indonesia Bangsa yang Besar


Toleransi

ROBERT ADHI KSP

INDONESIA akan menjadi bangsa besar jika rakyat di Nusantara saling bergandengan tangan, tidak lagi membanding-bandingkan dan mengungkit-ungkit masalah suku, agama, ras, antar-golongan. Pernyataan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam peringatan Hari Toleransi Internasional, Minggu (16/11), itu perlu digarisbawahi.

Banyaknya suku dan agama di Indonesia seharusnya menjadi kekuatan besar untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik.Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, yang disampaikan pendiri bangsa ini harus menjadi roh bagi bangsa Indonesia melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Pawai pakaian adat dari 34 provinsi di seluruh Indonesia dalam peringatan Hari Toleransi Internasional merupakan simbol yang mencerminkan keberagaman Indonesia yang indah dan penuh warna.

Peringatan Hari Toleransi Internasional makin relevan jika dikaitkan dengan kondisi Jakarta akhir-akhir ini. Ketika ada ormas yang menolak Basuki Tjahaja Purnama atau akrab dipanggil Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang menjabat Presiden RI, dukungan untuk Basuki justru mengalir deras, termasuk dukungan di media sosial.

Lanjutkan membaca Jadikan Indonesia Bangsa yang Besar

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: