Perang Kartel Narkotika Makin Membara dan Mengguncang Meksiko


ROBERT ADHI KSP

Hari Jumat (22/5/2015) merupakan hari paling berdarah di Meksiko dalam masa kepemimpinan Presiden Enrique Pena Nieto. Sedikitnya 44 orang tewas dalam baku tembak selama tiga jam antara pasukan keamanan Meksiko dan kelompok kartel narkotika di sebuah peternakan terpencil yang dikenal dengan nama Rancho del Sol, di dekat kota Tanhuato, salah satu markas anggota kartel Generasi Baru Jalisco (Jalisco New Generation/JNG), dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dengan Negara Bagian Jalisco.

Awalnya polisi federal menerima informasi bahwa kelompok bersenjata berkumpul di sebuah peternakan. Ketika tentara dan polisi federal mendekati lokasi tersebut, tiba-tiba dari sebuah kendaraan muncul kelompok lelaki bersenjata yang melepaskan tembakan. Kendaraan itu kemudian merapat ke arah peternakan dan masuk ke sebuah gudang di sana. Sebanyak 500-an tentara dan polisi federal yang menggunakan peluncur roket dan senjata semiotomatis mengejar dan mengepung mereka dari udara dan darat. Baku tembak itu akhirnya menewaskan puluhan anggota kartel, termasuk dua anggota polisi federal dan melukai satu polisi lainnya.

Kartel Narkotika Meksiko

Video yang diperoleh Associated Press memperlihatkan polisi federal berada di lokasi di tengah kobaran api dan jenazah tergeletak di ladang, di samping peralatan pertanian. Di dekatnya tampak sejumlah pakaian, kasur, dansleeping bag penuh noda darah. Pihak keamanan Meksiko menahan 3 orang dan menyita 36 senjata semiotomatis, 2 senjata lebih kecil, serta 1 granat dan senapan kaliber 50. Aparat juga menyita 8 kendaraan, 6 di antaranya hangus terbakar.

Polisi tidak menyebutkan nama pemilik peternakan seluas 112 hektar tersebut dengan alasan keamanan. Di kawasan itu terdapat rumah besar dan lapangan tenis. Peternakan itu sudah beroperasi selama 15 tahun.

Komisioner Keamanan Nasional Alejandro Rubido, seperti dikutip The Telegraph, menyebutkan, para tersangka yang tewas dalam baku tembak itu adalah anggota organisasi kriminal yang wilayah operasinya di Negara Bagian Jalisco. Meski tidak menyebutkan secara khusus kartel JNG, Rubido menggambarkan kartel narkotika itu menguasai wilayah di lokasi terjadi baku tembak.

Hanya dalam beberapa tahun, kartel JNG berkembang pesat dari sebuah faksi kecil dalam kartel Sinaloa menjadi kelompok kriminal terkuat di Meksiko. Kartel ini masuk dalam daftar hitam organisasi kejahatan narkotika yang disusun Amerika Serikat.

Pesatnya perkembangan kartel JNG mencerminkan perubahan peta kejahatan terorganisasi di Meksiko. Setelah banyak bos-bos kartel narkotika di Meksiko diburu aparat keamanan dan terbunuh dalam serangan, kartel JNG justru mengambil keuntungan dari rontoknya kartel-kartel lain. Mereka mengambil alih wilayah kartel-kartel yang sudah melemah.

Kekerasan bersenjata

Perbatasan Negara Bagian Michoacan dan Jalisco merupakan wilayah yang dikuasai kartel JNG dan menjadi lokasi berbagai insiden kekerasan dalam beberapa tahun terakhir.

Di kota La Barca, pada 2013, Pemerintah Meksiko menemukan lebih dari lima lusin jenazah di kuburan massal yang terkait dengan kartel Jalisco. Pada 2014, kelompok bersenjata menembak mati wali kota Tanhuato.

Pada 2015, dalam beberapa pekan terakhir, kartel JNG telah melakukan serangkaian serangan besar-besaran terhadap polisi federal dan polisi lokal. Sedikitnya 20 anggota polisi tewas dalam serangan kartel itu sejak Maret 2015.

Satu pekan lalu, calon wali kota yang sedang berkampanye di Yurecuaro di Negara Bagian Michoacan, kota dekat Tanhuato, ditembak. Kandidat wali kota bernama Enrique Hernandez dari partai kiri Morena dibunuh kelompok lelaki bersenjata yang melepaskan tembakan dari kendaraan.

Pada 1 Mei lalu, kelompok bersenjata menembak jatuh sebuah helikopter militer dengan peluncur roket di barat daya Jalisco dan menewaskan enam orang. Dalam serangkaian serangan tak terduga hari itu, kelompok kartel narkotika JNG juga membakar sejumlah kendaraan, bank, dan stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di sekitar Guadalajara.

Pada April lalu, kelompok bersenjata yang diyakini terkait dengan kartel Jalisco menyerang konvoi polisi di jalan raya di Soyatan di Jalisco yang menewaskan 15 polisi negara bagian dan melukai lima anggota lainnya. Satu bulan sebelumnya, Maret 2015, kelompok ini menewaskan lima polisi federal di kota Ocotlan.

Pekerjaan rumah Presiden Pena Nieto

Negara Bagian Jalisco adalah salah satu mesin ekonomi Meksiko. Ulah kartel narkotika JNG telah membuat Presiden Pena Nieto pusing tujuh keliling. Pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini meningkatkan tekanan terhadap Pena Nieto yang menjabat Presiden sejak Desember 2012. Dia dituntut membawa Meksiko aman dan stabil.

Lebih dari 100.000 orang tewas dalam baku tembak antara kelompok-kelompok narkotika dan pasukan keamanan di Meksiko sejak 2007. Pada 2009, Kejaksaan Agung Meksiko mengeluarkan daftar 37 pengedar narkotika paling dicari, 33 orang di antaranya sudah ditahan dan tewas. Felipe Calderon, Presiden Meksiko sebelumnya, menangkap 22 orang di antaranya dalam enam tahun kepemimpinannya. Pena Nieto di tengah masa jabatannya menangkap sembilan orang lainnya. Dua di antaranya tewas dalam pertempuran dengan kelompok saingan.

Dari empat orang yang masih buron, dua di antaranya berasal dari kartel Sinaola. Ismael Zambada Garcia, yang dikenal sebagai El Mayo, mengambil kendali dari ”El Chapo” Guzman, menyusul penangkapannya pada Februari 2014. Juan Jose Esparragoza, alias El Azul, capo Sinaloa lainnya, dilaporkan meninggal dunia karena serangan jantung pada Juni 2014. Dua lain yang masih buron adalah Eduardo Almanza, berasal dari kartel Zetas, dan Juan Pablo Ledesma dari kartel Juarez.

Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto berjanji mengubah strategi berperang melawan kartel narkotika di negara itu. Awalnya Nieto menyatakan tidak akan mengikuti cara pendahulunya yang memburu bos-bos kartel narkotika yang mengendalikan industri yang bernilai sekitar 3-4 persen dari produk domestik (PDB) tahunan Meksiko 1,2 triliun dollar AS atau sekitar 30 miliar dollar AS.

Pena Nieto menjanjikan metode yang berbeda. Dia bersumpah untuk beralih fokus dari cara intervensi militer ke cara lain, yaitu melihat akar sosio-ekonomi yang menjadi penyebab kekerasan terjadi: kemiskinan yang membuat bekerja untuk kartel narkotika lebih menarik, kurangnya lapangan pekerjaan yang mendorong anak-anak muda Meksiko bergabung dalam kartel narkotika, dan rendahnya kepercayaan terhadap pemerintah.

Namun, faktanya, dalam dua tahun kepemimpinannya, Pena Nieto tetap mengikuti jejak pendahulunya, mengerahkan militer untuk membunuh atau menangkap gembong-gembong kartel narkotika yang paling dicari melalui serangkaian operasi.

Seperti teori balon. Satu bagian ditekan, bagian lain akan menggelembung. Kartel-kartel narkotika dibasmi, bos-bos kartel ditangkap dan ditembak mati. Namun, kartel lain akan tetap bermunculan. Yang kecil akan tumbuh menjadi besar, menggantikan kartel lain yang lemah.

Membasmi kejahatan narkotika tak cukup dengan mengejar bos-bos kartel narkotika, menangkap, menembak mati, ataupun menjatuhkan vonis mati. Yang paling penting adalah mengurai akar masalahnya. Pemerintah Meksiko harus mengurangi angka pengangguran, mendorong penciptaan lapangan kerja, dan memperkuat kepercayaan rakyat.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, SABTU 23 MEI 2015

Iklan