Ketika Melintasi Hutan Karet Serpong


Setiap kali melintasi kawasan BSD yang gemerlap, saya selalu ingat kawasan ini pernah merupakan hamparan hutan karet.  Setiap kali memandang gedung-gedung tinggi yang makin banyak bermunculan di BSD dan rumah-rumah baru yang dijual miliaran rupiah, saya teringat saya pernah meliput peresmian Kota Mandiri  Bumi Serpong Damai di daerah Serpong, Kabupaten Tangerang, pada 16 Januari 1989.

Pada hari Senin yang cerah itu, Menteri Dalam Negeri (waktu itu) Rudini datang bersama Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar, Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara, Menteri Perhubungan Azwar Anas, Gubernur Jawa Barat Yogie S Memet dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Surjadi Soedirdja.

BSD.jpg

Menteri Dalam Negeri Rudini ketika meresmikan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai 16 Januari 1989. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo pada saat itu menjelaskan, pembangunan kota mandiri Bumi Serpong Damai seluas 6.000 hektar oleh konsorsium 11 perusahaan swasta merupakan lompatan ke depan yang besar. Suatu lompatan yang bukannya tidak mengandung risiko mengingat besarnya investasi yang ditanam (Rp 3,2 triliun).  Pada tahun 1989, angka Rp 3,2 triliun angka yang sangat besar.

Pada tahap pertama (1989-1996), Bumi Serpong Damai direncanakan membangun 29.565 rumah, terdiri dari 15 ribu rumah kecil, 11 kecil rumah menengah, dan sisanya rumah besar.  Direksi PT  BSD Eric Samola mengatakan, jumlah rumah yang akan dibangun dalam waktu 30 tahun ke depan sekitar 139.000 unit.

Saya mengikuti perkembangan Bumi Serpong Damai sejak kawasan ini masih merupakan hamparan hutan karet. Saya ingat, beberapa kali saya mengikuti acara peringatan Peristiwa Lengkong, saya harus membawa Vespa melewati pohon-pohon karet.

Jalan Raya Serpong dulu tidak selebar dan seramai sekarang. Dua bangunan yang sudah berdiri adalah markas Batalyon Kavaleri  (Yonkav) 9-Serbu dan markas Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan (Arhanudri). Dua markas milik TNI Angkatan Darat itu sudah ada sejak awal tahun 1980 dan lokasi keduanya dianggap paling jauh dari kota Tangerang dan berada di dekat hutan karet.

Sekarang, 23 tahun kemudian, wajah Serpong benar-benar sudah berubah menjadi kawasan emas properti. Sambil meneguk Caramel Machiatto di Starbucks Teras Kota BSD, saya teringat, ketika meliput berita peresmian Bumi Serpong Damai tahun 1989, saya sempat bertanya dalam hati, mungkinkah suatu hari, entah kapan, saya bisa tinggal di kawasan ini? Dulu, terus terang, ketika melintasi hutan karet di Serpong itu, saya baru bisa bermimpi. Setelah saya bekerja di Harian Kompas, mimpi itu bisa terwujud. Saya selalu bersyukur karena mendapat kesempatan berkarya di Kompas.

Robert Adhi Ksp
Palmerah, 3 September 2012

SUMBER: Blog Asyiknya Jadi Wartawan 

Iklan