Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya


Suatu hari pada tahun 2012, saya rindu masakan sunda. Kebetulan di dekat tempat tinggal saya, di BSD, ada rumah makan “Bumbu Desa”. Sambil menikmati sayur asem dan ikan asin jambal, sayup-sayup saya mendengar suara penyanyi pop sunda Nining Meida yang membawakan lagu-lagu “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna”, “Anjeun”, “Borondong Garing”. “Ka Bulan”, “Tisaprak”, “Ngalamun” dan lainnya. (Sayangnya “Bumbu Desa” BSD sudah tutup untuk kali kedua)

Pikiran saya langsung melayang ke tahun 1987. Saya ingat lagu-lagu inilah yang selalu diputar di angkutan kota di Tasikmalaya pada saat itu.  Ketika itu saya mendapat tugas sebagai calon koresponden Kompas di wilayah Priangan Timur (Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut). Ketiga daerah itu wilayah penugasan saya yang pertama di luar Bandung.

Saya mangkal di Tasikmalaya dan nge-kos di rumah warga. Kemana-mana, saya naik angkot. Setiap kali saya naik angkot di Tasikmalaya, sopirnya selalu memutar lagu yang sama, “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna” yang dinyanyikan Nining Meida. Karena naik angkot setiap hari, saya pun akhirnya hapal melantunkan lagu-lagu pop sunda bernuansa cinta itu.

TANAH LONGSOR DI TASIKMALAYA4-05

Longsor di Desa Cikuya, Kecamatan Bantarkalong, Kemantren Culamega, Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 82 km dari Kota Tasikmalaya, awal Desember 1987. Foto yang saya ambil di lokasi longsor ini dimuat di Harian Kompas, 6 Desember 1987. KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Di Tasikmalaya, selain senang mendengarkan lagu sunda, saya juga menikmati makanan sunda yang selalu segar. Setiap kali makan di warung kaki lima, saya selalu mendapat hidangan lalap-lalapan segar, sambal terasi, sayur asem, ikan asin. Sungguh nikmat rasanya. Suasana alam pedesaan sangat terasa.

Kini, 25 tahun kemudian, setiap kali saya menikmati makanan sunda di “Bumbu Desa” dan di rumah makan sunda lainnya, saya selalu ingat pengalaman jurnalistik saya di Tasikmalaya.

Mengapa Tasikmalaya menjadi “sesuatu banget”? Saya punya kenangan khusus yang tak pernah terlupakan saat bertugas di Priangan timur pada tahun pertama saya bekerja sebagai calon koresponden Kompas itu.

Suatu hari saya mendapat tugas meliput longsor di Desa Cikuya, Kecamatan Bantarkalong, Kemantren Culamega, Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 82 km dari Kota Tasikmalaya, awal Desember 1987. Yang menugaskan saya waktu itu Kepala Biro Jawa Barat, Her Suganda (sekarang sudah pensiun).

Bagaimana saya menuju lokasi yang jaraknya cukup jauh dari kota Tasikmalaya? Saya naik angkutan umum ke Bantarkalong. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan dengan ojek. Ini merupakan pengalaman berkesan dalam tugas awal di Kompas. Mendapat tugas meliput peristiwa longsor, yang lokasinya cukup sulit ditempuh. 

Pada saat itu hujan turun tak kunjung berhenti. Badan saya basah kuyup saat menumpang ojek menuju Desa Cikuya. Ketika tiba di lokasi, saya mengambil foto longsor dan mewawancarai korban yang rumahnya tertimbun longsor. Sedikitnya 18 rumah hancur tertimbun tanah dan bebatuan.

Saking semangatnya mencari berita di lokasi kejadian, saya tidak hati-hati melangkah dan terjeblos ke tanah yang lembek. Setengah badan saya masuk ke tanah longsor. Terbayang bukan betapa berkesannya pengalaman itu bagi saya? Tapi saya puas karena karena foto longsor itu dimuat dalam Harian Kompas tanggal 6 Desember 1987.

Itulah pengalaman tak terlupakan saat bertugas di Tasikmalaya. Selain karena makanan sunda yang nikmat, mojang-mojang priangan nu gareulis, juga karena saya mendapat pelajaran berharga dari pengalaman awal menjadi wartawan tahun 1987 itu.

Robert Adhi Ksp

SUMBER: BLOG ASYIKNYA JADI WARTAWAN 

Iklan