Tito Karnavian, Kombinasi Polisi Lapangan dan Polisi Intelektual


ROBERT ADHI KSP

Komisaris Jenderal   Tito Karnavian (51) diajukan Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Tito akan menggantikan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun akhir Juli 2016.

Pilihan Presiden Joko Widodo pada Tito Karnavian sangat tepat. Tito yang saat ini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) adalah kombinasi antara polisi yang menguasai lapangan dan polisi intelektual. Tito Karnavian adalah penerima bintang Adhi Makayasa (lulusan Akpol terbaik tahun 1987) dan menerima Bintang Cendekiawan sebagai lulusan terbaik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta tahun 1996.

Bila dilihat dari usia dan angkatannya, Tito memang relatif lebih muda. Jenderal (Pol) Badrodin Haiti penerima Adhi Makayasa, lulusan terbaik 1982, sedangkan Tito Karnavian lulusan terbaik 1987. Dia melompati lima angkatan. Tapi, seperti yang terjadi di banyak organisasi lain, memilih pimpinan sesungguhnya tak perlu urut kacang. Siapa yang terbaik, yang mampu dan punya kompetensi, meski usianya lebih muda, dia layak dipilih.

Bukan Kapolri termuda

Apakah Tito Karnavian Kapolri termuda? Mari kita telusuri satu persatu. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo ketika menjabat Kepala Kepolisian Negara pertama pada 29 September 1945 usianya 37 tahun. Raden Soekarno Djojonegoro saat menjabat Kepala Kepolisian Negara ke-2 pada 15 Desember 1959 berusia 51 tahun. Soetjipto Danoekoesoemo Kepala Kepolisian Negara ke-3 berusia 41 tahun saat dilantik 30 Desember 1963. Sedangkan Soetjipto Joedodihardjo Kepala Kepolisian Negara ke-4 berusia 48 tahun saat mulai bertugas 9 Mei 1965.

Hoegeng Imam Santoso yang menjabat Kepala Kepolisian Negara ke-5 berusia 47 tahun saat bertugas 9 Mei 1968. Demikian juga Mohamad Hasan, Kapolri ke-6, berusia 51 tahun saat menjabat 3 Oktober 1971. Widodo Budidarmo, Kapolri ke-7 berusia 47 tahun saat memulai tugas 26 Juni 1974. Awaloedin Djamin, Kapolri ke-8, berusia 51 tahun saat menjabat 27 September 1978.

Kunarto ketika dilantik Presiden Soeharto menjadi Kapolri ke-11 pada 29 Februari 1991 berusia 50 tahun. Demikian juga Moch Sanoesi ketika dipilih sebagai Kapolri ke-10 pada 7 Juni 1986 berusia 51 tahun. Dibyo Widodo ketika menjabat Kapolri ke-13 pada 15 Maret 1996 berusia 49 tahun menjelang 50 tahun. Da’i Bahctiar ketika menjabat Kapolri ke-17 pada 29 November 2001 berusia 51 tahun.

Selebihnya mereka yang dipilih menjadi Kapolri berusia 52 tahun atau lebih. Bahkan Badrodin Haiti berusia 57 tahun ketika dilantik menjadi Kapolri ke-22.

Dipilihnya Tito yang berusia 51 tahun, menjelang 52 tahun, mengembalikan kebiasaan bahwa usia Kapolri selayaknya tidak lebih dari 52 tahun saat menjabat. Ini penting agar Kapolri memiliki waktu yang cukup untuk membenahi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Tito Karnavian menjadi putra Palembang kedua yang menduduki jabatan nomor satu di Kepolisian RI. Sebelumnya Mohamad Hasan kelahiran Palembang 20 Maret 1920 menjadi Kapolri ke-6 periode 1971-1974.

Tiga kali naik pangkat istimewa

Mengapa Tito Karnavian layak dan tepat dipilih sebagai Kapolri ke-23? Kemampuan Tito mengungkap berbagai kasus kriminal dan terorisme tidak diragukan lagi. Salah satu ukurannya adalah Tito  mendapat kenaikan pangkat istimewa sampai tiga kali karena berhasil mengungkap kasus-kasus besar di masa lalu.

Tito langsung terjun ke lapangan untuk mengungkap berbagai kasus besar,  dari bom di Kedubes Filipina (2000), bom Bursa Efek Jakarta (2001), bom malam Natal Jakarta (2001), bom di Plaza Atrium Senen Jakarta (2001), pembunuhan hakim agung Syaifuddin Kartasasmita di Jakarta (2001), bom di Bandara Soekarno-Hatta (2003), bom di Hotel JW Marriott Jakarta (2003), pembunuhan Direktur PT Asaba (2004), bom Cimanggis Depok (2004), bom Kedubes Australia (2004), bom Bali II (2005), mutilasi tiga siswi di Poso (2006), bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott Jakarta (2009), sampai pada  operasi pengungkapan perampokan bersenjata Bank CIMB Niaga Medan (2010) dan bom buku (2011).

Menangkap Tommy Soeharto
Nama, karier, dan pangkatnya melesat pada 2001 ketika Tito yang saat itu Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya memimpin Tim Kobra menangkap Hutomo Mandala Putra atau yang dikenal dengan Tommy Soeharto. Atas penangkapan tersebut, Tito dan 24 anggota tim menerima kenaikan pangkat satu tingkat.  Tito  mendapat promosi dari pangkat komisaris ke ajun komisaris besar.

Setelah satu tahun 24 hari menjadi buronan, Tommy Soeharto ditangkap Polda Metro Jaya di sebuah rumah di Jalan Maleo II No 9 Sektor IX Bintaro Jaya, Tangerang, Rabu, 28 November 2001, pukul 16.05. Penangkapan putra mantan Presiden Soeharto itu terkait kasus tukar guling tanah Bulog ke PT Goro Batara Sakti. Presiden (waktu itu) Megawati Soekarnoputri memerintahkan polisi untuk menangkap Tommy.

Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Sofjan Jacoeb menjelaskan, Tommy  tidak melawan ketika disergap tim khusus yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Polda Metro Jaya  Tito Karnavian. Polisi sudah menerima informasi sejak 6 Agustus 2001. Sejak itu polisi melakukan survei, menyadap telepon, dan mengawasi orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengan Tommy, serta membuntuti dari Menteng, Pejaten, hingga ke Bintaro (Kompas, Kamis, 29 November 2001).

 

Melumpuhkan Dr Azahari dan Noordin M Top
Tito  juga sangat menguasai masalah terorisme, tidak sekadar paham teori, tetapi juga menguasai persoalan di lapangan. Sejak pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003 dan serangan bom Bali II pada 1 Oktober 2005, nama Dr Azahari dan Noordin Mohammad Top sering disebut-sebut sebagai otak peledakan bom.

Tito  yang berpangkat ajun komisaris besar polisi (2004-2005) memimpin Detasemen  88 Antiteror Polda Metro Jaya (yang dibentuk Kapolda waktu itu Irjen Firman Gani) dan memimpin tim 75 polisi.

Tim Densus 88 yang dipimpin Tito-lah yang melumpuhkan teroris Dr Azahari dan kelompoknya setelah menggerebek sebuah rumah di Jalan Flamboyan Raya II, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur, Rabu, 9 November 2005. Dalam penggerebekan itu, dua orang, satu di antaranya Dr Azahari, tewas. Sebelumnya terjadi baku tembak tim Densus 88 pimpinan Tito  dengan kelompok teroris pimpinan Dr Azahari (Kompas, Kamis, 10 November 2005).

Tim yang terlibat penggerebekan di Batu yang berujung pada tewasnya salah satu gembong teroris, Dr Azahari, menerima kenaikan pangkat luar biasa, termasuk Tito. Tito naik pangkat dari ajun komisaris besar menjadi komisaris besar.

Tito  juga terlibat dalam penyergapan gembong teroris Noordin M Top pada September 2009 di Solo. Buronan teroris warga negara Malaysia itu tewas dalam penyergapan yang dilakukan tim polisi antiteror di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, dari Rabu, 16 September malam, hingga Kamis, 17 September pagi.  Baku tembak terjadi dari subuh hingga pukul 06.00.

Polisi menemukan jenazah Noordin M Top dalam posisi meringkuk miring menghadap kiri di pojok kamar mandi yang berada di belakang rumah kontrakan milik Susilo dan senjata api jenis Baretta di samping jenazahnya. Polisi juga menemukan senjata M-16 di salah satu sudut kamar mandi rumah itu. Noordin M Top mengalami luka tembak di bagian kepala, rusuk kanan, dan paha  kiri. Kepala belakangnya pecah, diduga terempas ketika tim antiteror meledakkan tembok belakang kamar mandi (Kompas, Jumat, 18 September 2009).

Kepiawaian Tito  menguber Noordin M Top ini membuat Tito kembali mendapat promosi.  Pada 2010, Tito menerima kenaikan pangkat luar biasa dari komisaris besar ke brigjen.

Tahun 2005, Tito menjabat Kapolres Serang di Banten. Setelah itu, Tito lebih banyak berkecimpung dalam tugas-tugas antiteror  sebagai Kasubden Bantuan Densus 88 Antiteror Polri (2005), Kasubden Penindak Densus 88 Antiteror Polri (2006), Kasubden Intelijen Densus 88 Antiteror Polri (2006-2009), Kadensus 88 Antiteror Polri (2009-2010),  serta Deputi Penindakan dan Pembinaan BNPT (2011-21 September 2012).

Tito  dipromosikan sebagai Kapolda Papua (21 September 2012-2015) dan  Kapolda Metro Jaya (2015-2016). Setelah menjabat Kepala  BNPT, Tito  diajukan sebagai  calon tunggal Kapolri.

PhD di Nanyang
Tito  lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964, dan mengenyam pendidikan SD Xaverius IV dan SMP Xaverius II Palembang. Ayah Tito adalah wartawan di Palembang, sedangkan ibunya seorang bidan.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA Negeri 2 Palembang, Tito melanjutkan pendidikan Akpol tahun 1987 meski sebenarnya  lulus tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang, Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), dan Akabri.

Tito menyelesaikan pendidikan di Universitas Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) di Jakarta tahun 1996 dan meraih strata satu dalam bidang Police Studies. Tito menyelesaikan pendidikan di Massey University Auckland di Selandia Baru tahun 1998 dalam bidang Strategic Studies.

Tahun 2000,  Tito menyelesaikan pendidikan Sespim Polri di Lembang  dan pada 2011 mengikuti kursus Lemhannas RI PPSA XVII.

Pada Maret 2013 Tito menyelesaikan PhD bertopik ”Terrorism and Islamist Radicalization”  dengan nilai excellent dan predikat magna cumlaude  di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.

Melihat berbagai pengalamannya sebagai polisi yang mengusai lapangan, baik dalam bidang reserse maupun bidang terorisme, serta  beragam pendidikan tinggi yang diselesaikannya, kita yakin Tito  adalah sosok polisi ideal,  pemberani, dan cerdas.

Kita harapkan Tito  mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah Polri,  terutama dalam hal membenahi institusi Polri.
robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: KOLOM, KOMPASPRINT.COM, RABU 15 JUNI 2016

Iklan