ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

PENGANTAR: Pada 27 September 2021, kita merayakan 90 tahun kelahiran Pak Jakob Oetama, tokoh pers Indonesia, yang mendirikan Kompas Gramedia bersama PK Ojong. Berikut ini catatan singkat beberapa buku yang ditulis Pak Jakob Oetama dan buku-buku tentang Jakob Oetama yang ditulis orang lain yang mengenal beliau. Meskipun sudah lama diterbitkan, buku-buku ini masih relevan dibaca generasi muda saat ini. Salah satu cara menghormati dan menghargai beliau adalah dengan membaca buku-buku karyanya dan tentang sosok inspiratif tersebut.

“Bersyukur dan Menggugat Diri”

Buku “Bersyukur dan Menggugat Diri” yang ditulis Jakob Oetama ini diterbitkan menyambut HUT ke-70 Pak JO. Buku setebal 343 halaman yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini berisi 54 tulisan yang merupakan kumpulan ceramah, pidato, atau sumbangan pemikiran Jakob Oetama sejak Agustus 2001 sampai Agustus 2009.

Editor buku ini, St Sularto, mengelompokkan tulisan-tulisan Jakob Oetama menjadi tujuh bagian, yaitu Pancaroba Serba Dilematis, Kekuasaan dan Tanggung Jawab Pemimpin, Peluang Industri Kreativitas, Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna, Kompas Berterima Kasih, Menyapa Kolega, dan Kesaksian-kesaksian Pribadi. 

Bagian keenam buku ini memuat pandangan pribadi Jakob Oetama tentang beberapa koleganya. Tentang Menteri Luar Negeri Ali Alatas, misalnya, Jakob memberi sambutan dalam acara peluncuran buku A Voice for a Just Peace pada 20 Desember 2001 mengungkapkan, “Saya bukan saja mengenalnya dari dekat, tetapi menghargai dan menghomatinya baik secara pribadi maupun sebagai diplomat terkemuka Indonesia. Pembawaannya tidak menonjolkan diri. Ia tinggi karena kecerdasan, keuletan, dan ketulusannya sebagai seorang diplomat.”

Ketika tokoh pers, Djafar Assegaf berulang tahun ke-70, Jakob memberi sambutan. Jakob juga menulis catatan tentang Cak Nur (Nurcholis Madjid) yang meluncurkan salah satu bukunya pada 8 Juni 2006. Jakob juga menyapa Sutan Takdir Alisjahbana, Sartono Kartodirdjo, dan wiraswasta Ciputra. 

Yang menarik dan belum muncul di buku-buku yang terbit sebelum 2009 maupun buku-buku yang terbit setelah 2009 adalah kesaksian pribadi Jakob Oetama yang dimuat di bagian ketujuh buku ini. Jakob Oetama dalam acara halal bihalal Majelis Taklim karyawan Kompas Gramedia 26 Oktober 2005 mengungkapkan ihwal ziarah haji. “Ziarah haji yang dilaksanakan wartawan dan karyawan Kompas meninggalkan kesan mendalam pada saya. Mereka yang berhaji umumnya pamit kepada saya sebagai orang yang dituakan di perusahaan KKG, Kelompok Kompas Gramedia.

“Di antaranya selalu mohon dimaafkan segala kesalahannya. Beberapa saudara berterima kasih, karena berkat bekerja di Kompas Gramedia, mereka dapat menunaikan rukun Islam kelima. Banyak di antaranya, setelah kembali dari ziarah pun bertemu lagi untuk sekali lagi menyampaikan syukur dan terima kasih. Hal-hal itu menunjukkan ketulusan mereka dalam beribadah haji. Menghayati apa yang dilakukannya. Berhaji merupakan ibadah yang mereka hayati secara mendalam. Tonggak baru dalam kehidupan saudara-saudara itu,” ungkap Jakob Oetama yang mengingatkan, “memahami bekerja sebagai ibadah mau tak mau mengacu pada optimalisasi, dan ibadah haji juga mengilhami bekerja sebagai ibadah di lingkungan kita.”

Dalam Perayaan paskah Kompas Gramedia tahun 2009, Jakob Oetama bercerita dia selalu berdialog dengan diri sendiri. “Paskah bagi saya adalah pesta kebangkitan dan pesta kemenangan. Tetapi, tetap penderitaan tidak habis, tidak berakhir, bahkan akhirnya dalam realitas romantik kehidupan terletak di situ. Senantiasa ada interaksi antara sebutlah kebahagiaan, kesenangan, penderitaan, dan pencobaan,” ungkap Jakob yang mengambil saripati tema sandiwara yang dibawakan Universitas Multimedia Nusantara.

Hidup jalan salib, kata Jakob, tidak akan pernah hilang. “Ini romantik, tidak mungkin manusia bahagia terus. Manusia ya bahagia, ya menderita, kebahagiaan dalam penderitaan, dalam percobaan. 

Jakob percaya dengan sikap dasar kebajikan falsalah yang dirumuskan menjadi kemanusiaan yang transendental, kemanusiaan yang beriman dan imannya terserah sesuai dengan iman masing-masing dan kebebasan beragama. “Dengan demikian, kita juga bisa memberikan kontribusi positif kemajemukan masyarakat bangsa kita, Indonesia,” kata Jakob Oetama.

Catatan: Buku ini diterbitkan menyambut HUT ke-70 Jakob Oetama tahun 2009. Masyarakat di luar Kompas Gramedia yang membaca buku ini setidaknya memahami kultur KG yang menghargai kemajemukan dan keberagaman.  

“Kompas Way – Jakob’s Legacy”

Buku “Kompas Way  Jakob’s Legacy” setebal 234 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 2016, menyambut HUT ke-85 Jakob Oetama. 

Menurut penyusun buku ini, St Sularto dan F. Harianto Santoso, Kompas Way  atau cara Kompas merupakan diksi untuk Jakob’s legacy yang dia kembangkan, praktikkan, dan wariskan kepada generasi penerusnya. Tidak hanya dalam menulis tajuk, dalam membawa kapal besar Kompas mengarungi lebih dari 50 tahun usianya, dalam mengembangkan peristiwa dan fakta, dalam mewujudkan independensi jurnalistik Kompas, tetapi juga dalam pengembangan Kompas sebagai lembaga bisnis dalam ujaran-ujaran yang disampaikan kepada wartawan dan karyawannya.  

Jakob Oetama dalam sekapur sirihnya mengungkapkan, “Perjalanan hidup Kompas hanya sebuah noktah kecil dari puluhan surat kabar yang umurnya sudah ratusan tahun. Angka 50 tahun hanyalah noktah amat kecil dari perjalanan usia Bumi, noktah besar untuk usia rata-rata manusia. Dalam rentangan usia lebih dari 51 tahun itu terekam pergulatan survival eksistensi Kompas dengan berbagai persoalannya. Buku ini bukan untuk menyombongkan diri, bukan kultus individu, melainkan semata-mata demi kehidupan kita membangsa dan memasyarakat yang lebih baik, lebih adil, lebih demokratis, lebih damai, dan lebih sejahtera.”

Judul-judul dalam subbab dalam Bab I adalah sejumlah ungkapan yang sering disampaikan Jakob Oetama, seperti misalnya “menghibur yang papa, mengingatkan yang mapan”. Ungkapan ini berasal dari Finley Peter Dunne yang dipakai Jakob Oetama untuk menggambarkan manusia dan segala permasalahannya. Lebih luas lagi ketika berhadapan dengan rezim Orde Baru pemerintahan Soeharto, kebijakan redaksional compassion menjadi strategis.

“Kritik adalah pesan (message). Dalam menyampaikan pesan, kita perlu mempertimbangkan orang yang diajak bicara, kepada siapa pesan disampaikan. Saya perhatikan latar belakang budaya kita: penguasa ataupun pimpinan masyarakat umumnya masih bersikap bahwa kritik boleh disampaikan tetapi jangan sampai mempunyai efek samping yang menyakitkan. Tidak memungkinkan mengemukan kritik secara terus terang, apalagi keras,” kata Jakob Oetama dalam wawancara dengan jurnal Prisma, Oktober 1977. 

Mengembangkan compassion merupakan warisan Jakob Oetama sehingga Kompas dapat survive melewati rezim Orde Baru yang represif terhadap kehidupan pers. Jakob mempunyai sikap yang mampu melihat bahwa sejelek-jeleknya orang, selalu ada segi baiknya. “Tidak mungkin orang hanya jelek. Itu sikap manusia. Masak pemerintah hanya berbuat salah? Kita misalnya tak bisa begitu saja melaknati WTS karena kita toh tidak tahu motif dan keadaan apa yang memaksanya, berbuat demikian,” ungkap Jakob kepada Prisma

Kompas di bawah Jakob Oetama, selama pemerintahan Orde Baru, menerapkan pendekatan jalan tengah, in between, tidak hitam dan putih, tidak selalu baik dan tidak selalu buruk. Bagaimana Kompas berkomunikasi menyampaikan pesannya kepada pemerintah di satu pihak dan membawa kepentingan masyarakat untuk diperhatikan pemerintah di lain pihak. 

Kosakata “Indonesia mini” atau “Indonesia kecil” diperkenalkan Jakob Oetama beberapa tahun setelah kelahiran Kompas 28 Juni 1965. Selanjutnya istilah “kemanusiaan yang beriman” — sebelumnya “humanisme transendental”  sering diungkapkan Jakob Oetama.

Bab II mengupas jurnalisme pembangunan, jurnalisme fakta, jurnalisme makna — yang menurut Jakob Oetama merupakan temuan-temuan cerdas atas tantangan yang dihadapi media pers. Ketika penguasa makin represif, Kompas mengutamakan jurnalisme fakta. Ketika tantangan makin besar dengan pesatnya perkembangan cyber media dan media sosial yang mengandalkan kecepatan, Kompas mengedepankan jurnalisme makna.  Kompas selalu berusaha sebagai watch dog (anjing penjaga) yang santun. 

Bab III memuat tulisan Frans Meak Parera. “Jakob Oetama bukan hanya  guru jurnalisme, melainkan juga guru  civic education (pendidikan kewarganegaraan). Seorang guru yang hebat dibuktikan ketika murid-muridnya masih mengenang perkataan dan perbuatannya sampai hari tua mereka. Guru yang hebat menghasilkan pemuda-pemuda sebagai desainer ulung masa depan bangsanya,” tulis Frans Meak Parera.

Bab IV yang mengupas “Mengenal Tanah Air (Mengindonesia)” memuat pertanyaan Jakob Oetama yang menggugat diri sendiri, “bagaimana mungkin masih ada kemiskinan di tengah potensi sumber daya semacam ini? Apa yang salah dalam manajemen negeri kita? Bagaimana mungkin Malaysia yang satu generasi lalu banyak belajar dari Indonesia, kini telah meninggalkan Indonesia? Mengapa usaha dan komitmen kita untuk maju bersama negara-negara macan Asia: Korea Selatan, Taiwan, Singapura, tidak berhasil?”

“Terus Belajar Tanpa Henti” yang dimuat di Bab V ingin menunjukkan betapa Jakob Oetama selalu memperkaya sumber-sumber rujukan pergulatan intelektualnya dengan buku-buku — yang selalu menjadi bagian integral dalam refleksinya. Karena itulah, tulisan-tulisan Jakob Oetama selalu lebih berwarna, bernas, dan visioner. Sebagian besar isi bab V ini sudah dimuat dalam buku “Syukur Tiada Akhir – Jejak Langkah Jakob Oetama”, terutama pemikiran sejumlah tokoh yang memengaruhi kehidupan intelektual Jakob Oetama selama ini.

Kompas Way, Jakob’s Legacy” yang menjadi judul Bab VI memuat tulisan tentang Kompas sebagai lembaga pendidikan, melihat perubahan sebagai keniscayaan, kesiapan Kompas menghadapi perubahan, kehadiran media sosial digital, bagaimana Kompas belajar dari The New York Times, dan bagaimana Kompas menyikapi berita gratis dan berita berbayar. 

Era digital merupakan pukulan telak bagi surat kabar cetak. Eksistensi koran dipertanyakan, apakah masih valid memakai “media massa” mengingat sudah digantikan oleh media sosial digital. Pengalaman The New York Times yang memonetisasi konten yang kemudian menjadi sumber penghasilan yang menyelamatkan. 

Catatan: Buku ini tetap relevan dibaca generasi muda, termasuk mahasiswa Jurnalistik di Indonesia — terutama jika melihat tantangan yang dihadapi surat kabar cetak di era digital yang telah mengubah banyak hal. 

ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA, pencinta buku dan penulis 15 buku