ROBERT ADHI KSP

Tanggal 6 Juni 2021, kita memperingati 120 tahun kelahiran Sukarno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan Presiden pertama Republik Indonesia, serta pencetus konsep Pancasila sebagai dasar negara. “Bangsa yang besar bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” kata Sukarno. Salah satu cara mudah menghormati dan menghargai pahlawan adalah dengan membaca buku-buku tentang mereka agar kita tidak melupakan sejarah.

“Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah!” demikian pidato terakhir Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia pada peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1966. 

Buku-buku tentang Sukarno sudah banyak diterbitkan dan itu membuktikan Bung Karno masih hidup  sampai saat ini. Berikut ini ringkasan dua buku hasil kompilasi para penulis.

“Dialog dengan Sejarah: Soekarno Seratus Tahun” (Editor: St Sularto)

Buku “Dialog dengan Sejarah: Soekarno Seratus Tahun” setebal 458 halaman diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada Juni 2001 untuk memperingati 100 tahun kelahiran Bung Karno. 

Jakob Oetama dalam Wacana Pembuka buku ini menulis, “Sungguh suatu ironi, justru setelah pidato (pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1966) itu, bukan saja Bung Karno ditinggalkan, tetapi dengan meninggalkan salah seorang pembuat sejarah Indonesia itu, bangsa Indonesia meninggalkan sejarahnya sendiri.”   

Buku yang memuat 31 tulisan yang diedit oleh St Sularto ini terdiri dari enam bagian. Bagian pertama berupa wacana pembuka oleh Jakob Oetama (100 Tahun Bung Karno: Berdialoglah dengan Sejarah) dan Daniel Dhakidae (Satu Abad Bersama Nusantara dan Nusantara Bersama Soekarno). 

Bagian kedua mengupas Indonesia Awal Abad Dua Puluh, memuat tulisan-tulisan Sartono Kartodirdjo (Latar Belakang Sosio-kultural Dunia Kanak-kanak dan Masa Muda Bung Karno), Thee Kian Wie (Tantangan dan Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia Selama Masa Awal Kemerdekaan), Baskara Wardaya (Antikolonialisme dan Anti-elitisme dalam Pemikiran Soekarno Muda), Takashi Shiraishi (Tjipto-Soetatmo-Sukarno), Valina Singka Subekti (“Permintaan Maaf” Soekarno Pada Pemerintah Kolonial Belanda), Aiko Kurasawa (Bung Karno di Bawah Bendera Jepang), Mestika Zed (Soekarno di Masa Krisis PDRI), dan Taufik Abdullah (Dekrit Presiden, Revolusi dan Kepribadian Nasional). 

Bagian ketiga mengulas Soekarno dan Ideologi, memuat tulisan-tulisan Frans Magnis-Suseno (Di Seberang Jembatan Emas), Vedi R. Hadiz (Soekarno, Persatuan Nasional, Orde Lama dan Orde Baru), Emmanuel Subangun (Ziarah Kubur Bung Karno), Dedy N Hidayat (Marhaen Pergi Bersama Bung Karno), Gadis Arivia (Soekarno dan Gerakan Perempuan: Kepentingan Bangsa vs Kepentingan Perempuan), Th Sumartana (Relevansi Pemikiran Religius Bung Karno tentang Hubungan Antar-etis dan Agama), Bambang Noorsena (Bhinneka Tunggak Ika dan “Passing Over” Spiritualitas Bung Karno), dan Bagus Takwin (Bung Besar, Ideolog yang Kesepian).

Bagian keempat membahas Soekarno dan Kekuatan Politik, memuat tulisan-tulisan Ulf Sundhaussen (Bung Karno dan Militer), In Nugroho Budisantoso (Hatta Tak Pernah Kembali sebagai Dwitunggal), Maruli Tobing (Bung Karno, Perjalanan Panjang Menuju G30S), James Luhulima (Peristiwa G30S, “Titik Balik” Soekarno), Budiarto Shambazy (Dunia Menurut Putra Sang Fajar). 

Bagian kelima mengupas Soekarno dan Dirinya, memuat tulisan-tulisan Rachmawati Sukarnoputri (“Soekarnoism is tol Kill Soekarno”), Julius Pour (Dari Siti Oetari sampai Yurike Sanger), Daoed Joesoef (Bung Karno, Seni, dan Saya), Eko Budihardjo (Bung Karno, Arsitek-seniman), Agus Dermawan T (Bung Karno dan Tiga Pelukis Istana).

Bagian keenam membahas Soekarno, Antara Fakta dan Fiksi memuat tulisan M. Imam Aziz (Sukarno, Ketika Nasionalisme Letih), Agus Sudibyo (Desukarnoisasi: Delegitimasi yang Tak Tuntas), dan Niniek L. Karim (Sukarno di Wilayah Hyperreal). 

Buku “Dialog dengan Sejarah: Soekarno 100 Tahun” ini salah satu buku yang mengulas Sukarno secara lengkap dari berbagai sudut pandang. Semua tulisan di buku ini penuh “daging” dan bernas. Layak dibaca oleh siapa saja, termasuk generasi muda Indonesia.

Buku “Dialog dengan Sejarah: Sukarno 100 Tahun” ini salah satu buku yang mengulas Sukarno secara lengkap dari berbagai sudut pandang. Semua tulisan di buku ini penuh “daging” dan bernas. Layak dibaca dan dimiliki siapa saja, termasuk generasi muda Indonesia. 

“Soekarno, Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar” (Editor: Daniel Dhakidae) 

Dua belas tahun setelah menerbitkan buku “Dialog dengan Sejarah”, pada Agustus 2013 Penerbit Buku Kompas menerbitkan lagi buku hasil kompilasi tulisan 14 penulis. Buku setebal 456 halaman ini diberi pengantar oleh sejarawan Taufik Abdullah (Soekarno Sang Pemimpin Besar Revolusi) dan penutup oleh Daniel Dhakidae (Memeriksa Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar). 

Di balik nama besarnya, Sukarno tetap manusia biasa dengan kepribadiannya yang garang sekaligus lembut. Dia pembenci kapitalisme dan imperialisme, tetapi pencinta perempuan. Sukarno pantas disebut “penyambung lidah” rakyat karena retorikanya yang memukau rakyat dan dirinya sendiri. Rakyat dan Sukarno seolah-olah satu. Sukarno adalah “api” di tengah lautan massa dan massa terbakar bila di hadapan mereka ada sosok Sukarno.

Sukarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan puluhan karya tulis, dan kumpulan tulisannya sudah dtiterbitkan dengan judul Di Bawah Bendera Revolusi. Dari dua jilid buku itu, tulis Daniel Dhakidae, hanya jilid pertama yang mewakili diri Sukarno sebagai Sukarno, sedangkan jilid kedua lebih mewakili Sukarno sang penguasa.

Barangkali ini buku pertama tentang Sukarno yang isinya sebagian besar ditulis orang-orang muda yang tak pernah secara fisik melihat dan mendengar Sukarno. Sebagian dari mereka baru berusia di bawah lima tahun, bahkan ada di antara mereka belum lahir ketika Sukarno meninggal pada 1970.

DANIEL DHAKIDAE, EDITOR “SOEKARNO: MEMBONGKAR SISI-SISI HIDUP PUTRA SANG FAJAR”

Menurut Daniel Dhakidae, editor buku ini, “barangkali ini buku pertama tentang Sukarno yang isinya sebagian besar ditulis orang-orang muda yang tak pernah secara fisik melihat dan mendengar Sukarno. Sebagian dari mereka baru berusia di bawah lima tahun, bahkan ada di antara mereka belum lahir ketika Sukarno meninggal dunia pada 1970.” 

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama mengupas Soekarno dan Ideologi, memuat tulisan-tulisan Yudi Latif (Soekarno sebagai Penggali Pancasila), Cornelis Lay (Pancasila, Soekarno dan Orde Baru), Wilson (Soekarno, “Staatspartij” dan Demokrasi Terpimpin), HS Dillon dan Idham Samudra Bey (Soekarno dan Bangsa), M. Dawam Rahardjo (Sosialisme Dewasa Ini), Poppy Ismalina (Pemikiran Ekonomi Soekarno). 

Bagian kedua membahas Ende dan Soekarno, memuat tulisan Hilmar Farid (Pengasingan dalam Politik Kolonial), Daniel Dhakidae (Dari Tempat Pembuangan Menjadi Rumah Pemulihan), Goenawan Mohamad (Dari Ende ke Arab Saudi).

Bab ketiga membedah Sisi-sisi Lain Soekarno, membuat tulisan Seno Gumira Ajidarma (Bahasa Soekarno: Indonesia dalam Retorika Dalang), Karlina Supelli (Belajar Menjadi Warga Negara: Membaca Kembali “Sarinah”), JJ Rizal (Soekarno: Cerita Tanpa Akhir, Hantu Kudeta), Wasisto Raharjo Jati (Soekarno dan “Third Wisdom”, Kebangkitan Politik Dunia Ketiga Pasca-Dekolonialisasi”), dan Alec Gordon (Seberapa Besar Surplus Kolonial Riil daru Indonesia Selama 1878-1941?). 

Dua buku yang mengupas Sukarno dari berbagai sudut pandang ini hasil kompilasi tulisan dan analisis para penulis dan disunting oleh editor terkemuka. Dua buku ini diterbitkan dalam rentang waktu 12 tahun. Ini salah satu bukti Bung Karno tetap “hidup”. Karisma Bung Karno tetap menyala di hati kaum muda – yang belum lahir ketika beliau wafat pada 1970. Melalui buku-buku semacam inilah, kita dapat menghidupkan kembali Bung Karno, sang “founding father” Indonesia.

Dua buku yang mengupas Sukarno dari berbagai sudut pandang ini hasil kompilasi tulisan dan analisis para penulis dan disunting editor terkemuka. Dua buku ini diterbitkan dalam rentang waktu tiga 12 tahun. Ini salah satu bukti Bung Karno tetap “hidup”. Karisma Bung Karno tetap menyala di hati kaum muda – yang belum lahir ketika founding father ini wafat pada 1970. Melalui buku-bukulah, kita dapat menghidupkan kembali Bung Karno.

ROBERT ADHI KSP, pencinta buku, penulis 15 buku

Baca juga: