Arsip Tag: Harian Kompas

Media-media Arus Utama di Dunia Terapkan Sistem Berbayar pada Versi Digital


Bloomberg-web

Lebih dari satu dekade, Bloomberg mengizinkan para pembacanya menikmati jurnalisme berkualitas mereka di web secara gratis dengan harapan dapat meningkatkan brand, menangguk iklan, dan melengkapi bisnis intinya.

Strategi Bloomberg kini berubah. Perusahaan yang memasok berita-berita keuangan global pada awal Mei 2018 itu mengumumkan untuk memulai mengenakan biaya kepada para pembaca yang mengakses Bloomberg.com dan aplikasi berita Bloomberg.

Sistem berbayar (paywall) itu memiliki dua opsi. Pertama, dengan membayar 34,99 dollar AS, para pengguna memiliki akses ke Bloomberg.com, aplikasi mobile dan tablet dan live streaming Bloomberg TV, demikian juga podcast dan newsletter harian khusus untuk pelanggan.

Opsi lain, dengan membayar 39,99 dollar AS, pelanggan berhak mendapatkan Bloomberg Businessweek versi cetak dan digital serta memiliki akses ke acara-acara Bloomberg Live. Pembaca juga masih bisa membeli majalah tersendiri.

Pengguna dapat membaca 10 artikel dalam sebulan dan menonton Bloomberg TV selama 30 menit sehari secara gratis sebelum paywalldiberlakukan dan ini menjadi pemikat bagi calon pelanggan.

The New York Times
Media terkemuka lain yang sebelumnya memberlakukan paywall adalah The New York Times (NYT), surat kabar Amerika Serikat. NYT sejak 2011 mengenakan biaya kepada pembacanya 15,99 dollar AS (sekitar Rp 224.000) untuk mengakses versi digitalnya. NYT sering melakukan promosi, misalnya ”hanya” meminta 1,5 dollar AS (sekitar Rp 21.000) per minggu kepada pelanggannya.

Lanjutkan membaca Media-media Arus Utama di Dunia Terapkan Sistem Berbayar pada Versi Digital

Iklan

Disemprot Dandim


Tahun 1989. Waktu itu baru satu tahun saya bertugas di Tangerang. Suatu hari pada pertengahan bulan Mei, saya menulis berita berjudul  “Tersangka Penjahat Dibakar oleh Massa” yang dimuat di halaman 1 Harian Kompas 15 Mei 1989. Dalam berita itu disebutkan, Kam (25) dihakimi dan dibakar massa setelah kepergok mencuri di rumah H Samid, penduduk Kampung Selon, Desa Kaliasin, Kecamatan Balaraja, Tangerang.

 

15051989.jpg
Berita berjudul “Tersangka Penjahat Dibakar oleh Massa” dimuat di halaman 1 Harian Kompas, Senin 15 Mei 1989

Sore harinya, saya menerima telepon dari Redaktur Desk Kota, Purnama Kusumaningrat, yang juga Wakil Redaktur Pelaksana. Mas Pur, panggilan akrabnya, meminta saya menemui Komandan Kodim (Dandim) 0506 Tangerang di rumahnya.

Saya pikir ada apa gerangan? Mengapa saya harus menemui Pak Dandim malam itu juga? Dari sisi jurnalistik, berita itu tidak ada kesalahan.  Mas Pur menjelaskan, Pak Dandim Tangerang  keberatan dengan berita halaman 1 hari itu. Saya diminta menemui Dandim.

Lanjutkan membaca Disemprot Dandim

Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya


Suatu hari pada tahun 2012, saya rindu masakan sunda. Kebetulan di dekat tempat tinggal saya, di BSD, ada rumah makan “Bumbu Desa”. Sambil menikmati sayur asem dan ikan asin jambal, sayup-sayup saya mendengar suara penyanyi pop sunda Nining Meida yang membawakan lagu-lagu “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna”, “Anjeun”, “Borondong Garing”. “Ka Bulan”, “Tisaprak”, “Ngalamun” dan lainnya. (Sayangnya “Bumbu Desa” BSD sudah tutup untuk kali kedua)

Pikiran saya langsung melayang ke tahun 1987. Saya ingat lagu-lagu inilah yang selalu diputar di angkutan kota di Tasikmalaya pada saat itu.  Ketika itu saya mendapat tugas sebagai calon koresponden Kompas di wilayah Priangan Timur (Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut). Ketiga daerah itu wilayah penugasan saya yang pertama di luar Bandung.

Saya mangkal di Tasikmalaya dan nge-kos di rumah warga. Kemana-mana, saya naik angkot. Setiap kali saya naik angkot di Tasikmalaya, sopirnya selalu memutar lagu yang sama, “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna” yang dinyanyikan Nining Meida. Karena naik angkot setiap hari, saya pun akhirnya hapal melantunkan lagu-lagu pop sunda bernuansa cinta itu.

TANAH LONGSOR DI TASIKMALAYA4-05

Longsor di Desa Cikuya, Kecamatan Bantarkalong, Kemantren Culamega, Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 82 km dari Kota Tasikmalaya, awal Desember 1987. Foto yang saya ambil di lokasi longsor ini dimuat di Harian Kompas, 6 Desember 1987. KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Lanjutkan membaca Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya

PK Ojong Wariskan Nilai-nilai Kejujuran, Kedisiplinan, dan Semangat Pantang Menyerah


ROBERT ADHI KSP

Petrus Kanisius Ojong mewariskan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah. Nilai-nilai itu masih tertanam dalam perusahaan Kompas Gramedia yang didirikannya bersama Jakob Oetama.

Warisan PK Ojong

Demikian intisari pendapat yang disampaikan Rikard Bagun, H Dedy Pristiwanto, Cherly Priktiyani, DJ Pamoedji, dan Ignatius Sunito tentang sosok PK Ojong dalam wawancara khusus dengan Kompas di sela-sela ziarah ke makam PK Ojong di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (3/6).

Dalam wawancara, Rikard Bagun, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, mengatakan, secara pribadi, dia tidak kenal PK Ojong. Namun, dia melihat keteladan Ojong menjadi bagian dari kekuatan Kompas Gramedia. Menurut Rikard, nilai-nilai yang ditanamkan Ojong dalam perusahaan ini adalah kejujuran, kedisiplinan, totalitas, kerja keras, serta kepedulian dan perhatian kepada orang lain yang sampai sekarang masih terasa.

Cherly P, Direktur Keuangan Kompas Gramedia, memiliki kenangan khusus dengan PK Ojong. Suatu hari, kata Cherly, dia diajak ke lapangan untuk menagih piutang dan bertemu agen. “Pak Ojong mengajarkan kami bagaimana bersikap kepada agen, beramah tamah, jujur, dan terus terang,” kata Cherly.

“Pak Ojong menjadi inspirasi bagi kita semua. Setiap tindakan kita harus dilakukan secara cermat dan hati-hati sehingga kita bisa melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Satu hal lagi, saya diminta untuk terus belajar dan belajar,” ungkapnya.

Lanjutkan membaca PK Ojong Wariskan Nilai-nilai Kejujuran, Kedisiplinan, dan Semangat Pantang Menyerah