Arsip Tag: Perancis

Apakah Thierry Henry Menerima Tawaran Melatih Aston Villa?


20181007KSP THIERRY HENRY
oleh ROBERT ADHI KSP

Thierry Henry (41 tahun), yang pernah ikut mengantarkan tim nasional Perancis menjadi juara dunia 1998, menjadi kandidat utama manajer baru klub Aston Villa, klub sepakbola Inggris yang berusia 144 tahun.

Sejumlah media Inggris Minggu (7/10/2018) mewartakan tawaran Aston Villa kepada Thierry Henry, yang kini asisten manajer tim nasional Belgia. Selain Henry, nama John Terry, bintang Chelsea (1998-2017), juga disebut mendapat tawaran sebagai wakil manajer klub yang bermarkas di Villa Park, Birmingham, Inggris.

Aston Villa didirikan pada Maret 1874 oleh empat orang Birmingham. Klub tua legendaris ini pernah meraih Piala Eropa pada 26 Mei 1982 dalam final di Rotterdam, Belanda, berkat gol tunggal Peter White ke gawang Bayern Muenchen. Villa menjadi satu dari lima klub Inggris yang pernah meraih trofi Piala Eropa (sejak 1992 namanya diubah menjadi Liga Champions).

Pada Juni 2016, Aston Villa dibeli oleh pebisnis China, Tony Xia Jiantong dengan nilai 76 juta Poundsterling. Sayangnya, Aston Villa terlempar dari Liga Premier Inggris ke Liga Championship. Roberto Di Matteo saat itu ditunjuk sebagai manajer namun setelah 12 pertandingan, performa Aston Villa buruk sehingga digantikan Steve Bruce (57).

Villa merupakan klub kesembilan yang dilatih Bruce sejak dia memulai kariernya sebagai manajer klub sepakbola pada Juli 1998 di klub Sheffield United. Bruce pernah menjadi manajer klub di antaranya Huddersfield Town, Wigan Athletic (dua kali), Crystal Palace, Birmingham City, Sunderland, dan Hull City.

Namun karena Steve Bruce tak mampu membuat Villa ke puncak Liga Championship, pada 3 Oktober 2018 lalu, Bruce dipecat sebagai manajer. Klub itu baru menang tiga kali, seri enam kali, dan kalah tiga kali dari 12 laga. Sabtu kemarin, Villa makin terperosok ke posisi ke-15 setelah kalah 1-2 dari Millwall.

SUMBER TABEL: BBC SPORT                     Klasemen Liga Championship Inggris sampai Minggu 7 Oktober 2018. Aston Villa berada di posisi ke-15 dari 24 klub. Dari 12 pertandingan, Villa hanya menang 3 kali, seri 6 kali dan kalah 3 kali. Villa memecat manajer Steve Bruce pada 3 Oktober lalu. Nama Thierry Henry disebut-sebut akan menjadi manajer baru Villa.

 

Penampilan buruk Aston Villa membuat arus kas Tony Xia terganggu. Pada Juli 2018, pengusaha Amerika Serikat Wes Edens dan pengusaha berkebangsaan Mesir Nassef Sawiris mengendalikan Aston Villa dengan memiliki 55 persen saham klub ini. Nassef Sawiris menjadi Executive Chairman Aston Villa, menggantikan Tony Xia.

Thierry Henry
Setelah Steve Bruce didepak dari Aston Villa, siapa yang akan menjadi manajer baru klub ini? Media Inggris Daily Mail menyebut Thierry Henry ditawari jabatan sebagai manajer baru Villa. BBC Sport juga menyebut Henry salah satu kandidat yang akan menggantikan Steve Bruce. Nama lainnya di antaranya Brendan Rodgers. Adapun Sky Sports News menyebutkan Henry menjadi kandidat utama manajer Aston Villa. Klub itu sudah melakukan pembicaraan dengan Henry.

Nama Thierry Henry sangat populer di kalangan pecinta sepakbola di Inggris karena pernah bermain sebagai penyerang klub Arsenal (1999-2007). Di Arsenal, Henry sangat produktif mencetak gol. Dari 254 penampilannya di Arsenal, Henry mencetak 174 gol.

Lanjutkan membaca Apakah Thierry Henry Menerima Tawaran Melatih Aston Villa?

Iklan

Ketika Perancis Terlibat Deportasi 13.000 Orang Yahudi ke Auschwitz


ROBERT ADHI KSP

Tanggal 16-17 Juli 1942. Polisi Perancis di bawah rezim Vichy —pemerintahan boneka Nazi Jerman — meluncurkan Operasi “Spring Breeze”, yang menangkap lebih dari 13.000 orang Yahudi di Paris. Awalnya mereka dibawa ke stadion Velodrome d’Hiver (Vel d’Hiv) di Paris, sebelum dikirim ke kamp konsentrasi di Auschwitz, Polandia.

Hanya kurang dari 100 orang yang selamat. Salah satunya Sarah Lichtsztejn-Montard (saat ini berusia 89 tahun). Sarah adalah satu dari segelintir korban Vél d’Hiv; yang berhasil melarikan diri dari stadion yang dijadikan kamp Nazi itu.

Auschwitz KSP1
Bangunan kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Polandia, yang kini dijadikan museum. Foto diambil 26 Juni 2017. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Untuk waktu yang lama, setiap malam Sarah mengalami mimpi buruk yang sama. “Pada malam hari, saya melihat hantu hijau kecil di Vel d’Hiv,” katanya dengan suara yang jelas. “Hantu itu mengeluarkan cahaya,” ungkapnya kepada France24.

Pada tahun 1942, Sarah baru berusia 14 tahun. Remaja kelahiran Polandia itu tinggal bersama ibunya di sebuah apartemen sederhana di distrik ke-20 Paris. Ayahnya, Moise, ditangkap pada Juli 1941 dan dikirim ke kamp pengasingan Pithiviers, dan berhasil melarikan diri. Ayahnya bersembunyi di sebuah kamar di Paris dan menggunakan surat palsu.

Pada 15 Juli, Sarah dan teman-teman sekelasnya merayakan hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas. Pada hari itu, seorang teman sekelasnya, keturunan Yahudi memberitahu kepada Sarah bahwa orangtuanya, “mengenal seorang komisaris polisi yang mengatakan kepada mereka bahwa dia sedang mempersiapkan sebuah pabrik yang akan mempekerjakan perempuan, anak-anak dan orang tua dalam jumlah yang besar. Dia menambahkan bahwa mereka akan meninggalkan apartemen mereka dan saya harus melakukan hal yang sama.”

Setibanya di rumah, Sarah memberi tahu ibunya, Maria, tentang hal itu. Namun ibunda Sarah tidak mempercayai rumor itu. “Tidak mungkin Perancis menangkap perempuan dan anak-anak. Bagi ibu, Perancis adalah negara yang melindungi hak asasi manusia,” ungkap Sarah.

Lanjutkan membaca Ketika Perancis Terlibat Deportasi 13.000 Orang Yahudi ke Auschwitz

Malam Berdarah di Kota Nice


ROBERT ADHI KSP

ERIC Drattel dan istrinya sedang menikmati wine di sebuah restoran di kawasan Promenade des Anglais di Nice, kota di tepi Laut Mediterania di selatan Perancis. Pasangan dari Amerika Serikat itu memperpanjang waktu liburan mereka di Perancis setelah menyaksikan final sepakbola Piala Eropa (Euro) di Paris, beberapa hari sebelumnya.

 

nice 03 KSP
Suasana Promenade des Anglais di kota Nice, Perancis selatan pada saat damai. Foto diambil 28 Juni 2015. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Kembang api warna-warni menghiasi langit Nice. Ribuan warga kota bercampur-baur dengan wisatawan mancanegara menikmati suasana perayaan Hari Bastille atau Revolusi Perancis, Kamis 14 Juli 2016.

Setelah dentuman suara kembang api selesai, ribuan orang tumpah ke jalan. Tak berapa lama, terdengar teriakan bernada panik di Promenade des Anglais yang penuh dengan lautan manusia. “Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara tangis dari orang-orang yang berada di jalan, yang berlarian masuk ke area restoran,” ungkap Eric kepada CNN. Dia melihat arlojinya, pukul 22.45 waktu Nice.

“Ketika pertunjukan kembang api berakhir, kami berjalan menuju Promenade des Anglais. Lalu kami mendengar suara tembakan. Kami berlari ke arah jalan lain dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami berpikir itu suara kembang api dari lokasi lain. Kami berlari karena kami melihat banyak orang di dekat kami juga berlari,” ungkap Celia Delcourt (20), warga kota Nice.

Warga Inggris Kevin Harris berada di teras hotel lantai tiga ketika kerumunan orang di jalan menyaksikan pesta kembang api. Harris lalu kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Satu menit kemudian, dia mendengar suara tembakan. Dia keluar ke balkon dan menyaksikan banyak orang bergelimpangan di jalan. “Jumlahnya mungkin dua puluh orang. Saya baru tersadar, ini serangan teroris,” kata Harris.

Saat itu, tak disangka-sangka, sebuah truk melaju dan dikendarai seorang lelaki secara zig-zag di kawasan itu, menyambar puluhan orang di depannya. Beberapa di antara yang ditabrak truk, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ke jalan.

Lebih 100-an orang berlari dan melompat ke bawah dari tepi jalan menuju area pantai, untuk menghindari truk tersebut.

Sekitar pukul 22.45 waktu Nice, menurut The New York Times, truk itu berbelok ke jalan utama dari tepi jalan kecil di sisi rumah sakit anak-anak. Truk itu melaju kencang, menabrak seorang perempuan muslim dan seorang lelaki tak dikenal. Keduanya korban pertama truk tersebut. Setelah menyetir sekitar 700 meter,  setelah melewati restoran Florida Beach di tepi pantai, di depan Centre Universitaire Mediterraneen, truk itu menyambar pejalan kaki lagi. Terdapat tujuh jenazah yang terekam di area ini.

Menjelang pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Honore Sauvan, truk itu mulai menabrak kerumunan massa, ungkap seorang saksi mata di restoran Voilier Plage, yang lokasinya di tepi pantai. Di area sekitar restoran itu, terlihat 10 jenazah yang terekam. Truk itu terus melaju melewati restoran Hi Beach dan Neptune Plage di tepi pantai.

Truk itu melaju selama hampir 30 menit, berkecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam sepanjang hampir dua kilometer, melindas semua yang ada di depannya, termasuk pohon palem, lampu jalanan, dan sepeda.

Persis di pertigaan di depan Hotel Le Negresco, pengemudi truk mulai melepas tembakan ke arah tiga polisi yang mengejarnya. Polisi-polisi itu membalas tembakan. Di seberang Hotel West End, dari rekaman video hotel terlihat truk itu mulai bergeser dari tempat pejalan kaki menuju jalan.

Di depan Westminster Hotel & Spa, anggota polisi masih menembaki truk tersebut. Di titik ini, di pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Meyerbeer di samping Hotel Wesminster, setelah melaju sejauh 1,8 kilometer, pengemudi mempercepat truk itu. Di jalur ini, sedikitnya 20 orang tewas atau terluka.

Polisi-polisi yang mengepungnya dari semua sisi, membalas tembakan itu. Polisi akhirnya menembak mati pengemudi truk itu di depan Casino Du Palais De La Mediterranee, sebelum pertigaan Rue Du Congress. Kepala pengemudi truk tampak menggantung di luar jendela truk.

Polisi masih melepaskan tembakan ke arahnya karena belum yakin pengemudi truk itu sudah tewas. Polisi juga melepaskan tembakan berkali-kali ke semua sisi truk itu karena khawatir pengemudi itu tidak sendirian. Polisi kemudian hati-hati masuk ke dalam truk. Mereka menemukan berbagai jenis senjata dan granat palsu di truk itu, namun tidak menemukan orang lain.

Lanjutkan membaca Malam Berdarah di Kota Nice

Pembunuhan Jurnalis Perancis dan Krisis di Mali


Mali

ROBERT ADHI KSP

Dua jurnalis Perancis yang bekerja di Radio France Internationale dibunuh setelah sebelumnya diculik di kota Kidal, sebelah utara Mali, negara di Afrika barat, Sabtu (2/11). Pembunuhan atas pewarta radio ini merupakan salah satu ekses konflik etnis dan krisis politik berkepanjangan di Mali.

Pembunuhan terhadap dua jurnalis Perancis ini menambah angka tewasnya jurnalis dalam tugas di seluruh dunia. Sepanjang 2013 sudah 42 wartawan terbunuh saat bertugas.

Lanjutkan membaca Pembunuhan Jurnalis Perancis dan Krisis di Mali