Malam Berdarah di Kota Nice


ROBERT ADHI KSP

ERIC Drattel dan istrinya sedang menikmati wine di sebuah restoran di kawasan Promenade des Anglais di Nice, kota di tepi Laut Mediterania di selatan Perancis. Pasangan dari Amerika Serikat itu memperpanjang waktu liburan mereka di Perancis setelah menyaksikan final sepakbola Piala Eropa (Euro) di Paris, beberapa hari sebelumnya.

 

nice 03 KSP
Suasana Promenade des Anglais di kota Nice, Perancis selatan pada saat damai. Foto diambil 28 Juni 2015. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Kembang api warna-warni menghiasi langit Nice. Ribuan warga kota bercampur-baur dengan wisatawan mancanegara menikmati suasana perayaan Hari Bastille atau Revolusi Perancis, Kamis 14 Juli 2016.

Setelah dentuman suara kembang api selesai, ribuan orang tumpah ke jalan. Tak berapa lama, terdengar teriakan bernada panik di Promenade des Anglais yang penuh dengan lautan manusia. “Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara tangis dari orang-orang yang berada di jalan, yang berlarian masuk ke area restoran,” ungkap Eric kepada CNN. Dia melihat arlojinya, pukul 22.45 waktu Nice.

“Ketika pertunjukan kembang api berakhir, kami berjalan menuju Promenade des Anglais. Lalu kami mendengar suara tembakan. Kami berlari ke arah jalan lain dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami berpikir itu suara kembang api dari lokasi lain. Kami berlari karena kami melihat banyak orang di dekat kami juga berlari,” ungkap Celia Delcourt (20), warga kota Nice.

Warga Inggris Kevin Harris berada di teras hotel lantai tiga ketika kerumunan orang di jalan menyaksikan pesta kembang api. Harris lalu kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Satu menit kemudian, dia mendengar suara tembakan. Dia keluar ke balkon dan menyaksikan banyak orang bergelimpangan di jalan. “Jumlahnya mungkin dua puluh orang. Saya baru tersadar, ini serangan teroris,” kata Harris.

Saat itu, tak disangka-sangka, sebuah truk melaju dan dikendarai seorang lelaki secara zig-zag di kawasan itu, menyambar puluhan orang di depannya. Beberapa di antara yang ditabrak truk, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ke jalan.

Lebih 100-an orang berlari dan melompat ke bawah dari tepi jalan menuju area pantai, untuk menghindari truk tersebut.

Sekitar pukul 22.45 waktu Nice, menurut The New York Times, truk itu berbelok ke jalan utama dari tepi jalan kecil di sisi rumah sakit anak-anak. Truk itu melaju kencang, menabrak seorang perempuan muslim dan seorang lelaki tak dikenal. Keduanya korban pertama truk tersebut. Setelah menyetir sekitar 700 meter,  setelah melewati restoran Florida Beach di tepi pantai, di depan Centre Universitaire Mediterraneen, truk itu menyambar pejalan kaki lagi. Terdapat tujuh jenazah yang terekam di area ini.

Menjelang pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Honore Sauvan, truk itu mulai menabrak kerumunan massa, ungkap seorang saksi mata di restoran Voilier Plage, yang lokasinya di tepi pantai. Di area sekitar restoran itu, terlihat 10 jenazah yang terekam. Truk itu terus melaju melewati restoran Hi Beach dan Neptune Plage di tepi pantai.

Truk itu melaju selama hampir 30 menit, berkecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam sepanjang hampir dua kilometer, melindas semua yang ada di depannya, termasuk pohon palem, lampu jalanan, dan sepeda.

Persis di pertigaan di depan Hotel Le Negresco, pengemudi truk mulai melepas tembakan ke arah tiga polisi yang mengejarnya. Polisi-polisi itu membalas tembakan. Di seberang Hotel West End, dari rekaman video hotel terlihat truk itu mulai bergeser dari tempat pejalan kaki menuju jalan.

Di depan Westminster Hotel & Spa, anggota polisi masih menembaki truk tersebut. Di titik ini, di pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Meyerbeer di samping Hotel Wesminster, setelah melaju sejauh 1,8 kilometer, pengemudi mempercepat truk itu. Di jalur ini, sedikitnya 20 orang tewas atau terluka.

Polisi-polisi yang mengepungnya dari semua sisi, membalas tembakan itu. Polisi akhirnya menembak mati pengemudi truk itu di depan Casino Du Palais De La Mediterranee, sebelum pertigaan Rue Du Congress. Kepala pengemudi truk tampak menggantung di luar jendela truk.

Polisi masih melepaskan tembakan ke arahnya karena belum yakin pengemudi truk itu sudah tewas. Polisi juga melepaskan tembakan berkali-kali ke semua sisi truk itu karena khawatir pengemudi itu tidak sendirian. Polisi kemudian hati-hati masuk ke dalam truk. Mereka menemukan berbagai jenis senjata dan granat palsu di truk itu, namun tidak menemukan orang lain.

Karyawan restoran Le Queeny di kawasan Promenade des Anglais, Andy McArdy berpendapat, serangan itu sangat terencana dengan rapi, yang terjadi setelah pesta kembang api usai. Penyerang tahu suara kembang api mirip dengan suara tembakan senjata api. Orang berpikir mendengar suara kembang api, tapi nyatanya itu suara senjata api.

Korban tewas sebagian wisatawan asing

Mayat-mayat penuh darah bergelimpangan di jalan. Otoritas Perancis mengumumkan sebanyak 84 orang tewas -10 di antaranya bayi dan remaja, serta 202 lainnya luka-luka, 52 di antaranya dalam kondisi kritis dan 25 lainnya dalam perawatan intensif.

Dari 84 korban tewas, sebagian di antaranya berkebangsaan asing. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan dua warga negaranya, Sean Copeland (51) dan putranya Brodie (11) berasal dari Austin, Texas, termasuk yang meninggal dunia. Para pejabat di Berlin mengatakan, seorang guru berkebangsaan Jerman dan dua muridnya yang sedang melakukan “school trip” tewas.

Warga Swiss, Linda Casanova (54) berasal dari Agno Ticino, termasuk yang tewas. Seorang perempuan berkebangsaan Rusia, Victoria Savchenko (20), nahasiswi Rusia yang sedang berlibur di Nice, meninggal dunia. Demikian juga seorang warga Ukraina.

Mantan tentara Igor Sheleshko (47) yang tinggal di Nice selama empat bulan, termasuk korban tewas. “Dia seorang yang saleh,” kata imam di Katedral St Nicolas.

Roman Ekmaliyan (56), pebisnis Georgia yang berasal dari Armenia dan tinggal di Belgia, juga menjadi korban tewas akibat kebrutalan pengemudi truk itu. Ekmaliyan digambarkan sebagai seorang yang cerdas, menguasai banyak topik, terutama sejarah dan politik.

Robert Marchand (60), pelatih atlet dari Marcigny, kota kecil di Perancis tengah,  Emmanuel Grout (45) komisioner polisi yang lepas tugas, serta Jean-Marc Leclerc, asisten kepala kepolisian Nice, juga meninggal dunia.

Fatima Charrihi, seorang perempuan muslim yang memakai hijab, termasuk korban tewas di tempat.

Kisah sedih dialami keluarga besar ini. Francois Locatelli (82) dan istrinya Christiane (78) berjalan-jalan bersama putri mereka, Veronique Lion (55) dan cucu mereka Michael Pellegrini (28) ketika truk yang dikemudikan Bouhlel itu menabrak tiga orang di antara mereka hingga meninggal dunia. Sementara, ungkap France24,  suami Lion, Cristophe, secara ajaib selamat, tetapi kedua orang tuanya, Germain (68) dan Giselle Lion (63) tewas.

Adapun Timothe Gournier (27), warga Paris, tewas setelah mendorong istrinya yang sedang hamil tujuh bulan dari terjangan truk.

Seorang mahasiswa University of California Berkeley, Nick Leslie (20) termasuk dalam daftar korban yang meninggal dunia. Tiga mahasiswa lainnya luka-luka. Mereka merupakan bagian dari 85 mahasiswa universitas tersebut yang sedang melakukan perjalanan ke Nice, bagian dari perjalanan kewirausahaan di Eropa selama 15 hari. “Keluarga besar University of California Berkeley, di kampus dan di seluruh dunia, merasa terpukul atas kematian mahasiswa kami,” ungkap Kanselir UC Berkeley, Nicholas Dirk dalam pernyataannya hari Minggu (17/7).

Sepuluh anak yang tewas secara tragis itu di antaranya Yanis C (4 tahun). Balita itu sedang bermain dengan kelompok anak lain. Mehdi H (12 tahun) tewas, sedangkan dua saudara perempuan kembarnya masih dalam keadaan koma. Ayahnya, seorang wasit sepakbola dari Nice, kehilangan adik iparnya dalam tragedi itu. Adapun Amie V (12 tahun), putri seorang jurnalis majalah yang berkantor di Nice. tewas dilindas truk tersebut.

Hari Senin (18/7/2016), gereja-gereja di seluruh Perancis membunyikan lonceng, untuk menghormati para korban serangan Nice. Ribuan orang berkumpul di Promenade des Anglais. Diawali dua tembakan meriam, ribuan orang kemudian hening selama satu menit, untuk menghormati 84 korban yang tewas. Setelah itu massa menyanyikan lagu kebangsaan Perancis “La Marseillaise” dan lagu kota Nice “Nissa la Bella”.

Sampai hari Senin, 59 korban masih dirawat di rumah sakit, 29 di antaranya dirawat intensif.

Mengaku membawa es krim 

Polisi menemukan identitas pengemudi truk yang membunuh puluhan orang itu sebagai Mohamed Lahouaiej Bouhlel, berusia 31 tahun, warga Perancis keturunan Tunisia, yang diketahui sebagai seorang simpatisan fanatik NIIS.

Lelaki itu sebelumnya tidak diketahui oleh pihak intelijen Perancis karena tidak menunjukkan tanda-tanda radikal. Bouhlel berurusan dengan polisi antara tahun 2010 dan 2016 karena perilakunya yang mengancam, melakukan kekerasan, dan mencopet. Banyak militan Perancis memulai sebagai pejahat kecil-kecilan seperti dilakukan Mohammed Merah di Toulouse pada 2012 silam.

Truk seberat 19 ton itu disewanya dari sebuah perusahaan penyewaan di Saint-Laurent-du-Var, sebuah kota di dekat Nice dua hari sebelumnya. Truk itu sudah diparkir sembilan jam sebelum insiden, tak jauh dari lokasi. Pengemudi truk itu seperti dikutip Daily Mail bahkan sempat dihentikan oleh polisi ketika akan masuk wilayah penuh manusia, namun dia meyakinkan polisi bahwa dia sedang mengantar es krim.

Tempat tinggalnya di sebuah apartemen kelas pekerja di wilayah Abattoir, dekat stasiun utama kereta Nice. Mantan istri Bouhlel masih diperiksa polisi. Bouhlel menikah dan memiliki tiga anak, namun sudah berpisah dengan istrinya. Seorang perempuan yang mengenal keluarga Bouhlel menceritakan lelaki itu tidak tinggal di rumahnya di area Le Ray di kota Nice setelah diduga memukul istrinya. Beberapa tetangganya melukiskan Bouhlel seorang penyendiri dan pendiam, yang jarang merespon salam. Bouhlel memiliki sebuah mobil yang diparkir di dekat tempat tinggalnya. Dia sering terlihat menaiki tangga dengan membawa sepedanya.

Sumber keamanan Tunisia seperti dikutip BBC menyebutkan, Mohammed Lahouaiej – Bouhlel berasal dari kota Msaken, sekitar 10 kilometer dari kota pantai Sousse di Tunisia. Kedua orangtuanya yang bercerai tinggal di Perancis namun keluarganya masih tinggal di Msaken, dan sering berkunjung ke Tunisia. Kunjungan terakhir sekitar delapan bulan lalu.

Awal pekan ini, organisasi keamanan dalam negeri Perancis DGSI memperingatkan bahaya serangan dari militan dengan “kendaraan jebakan penuh bom”.

Satu jam sebelum serangan di kota Nice, Presiden Perancis Francois Hollande mengumumkan keadaan darurat di Perancis segera dicabut. Namun tak berapa setelah serangan Nice terjadi, Hollande mengumumkan keadaan darurat diperpanjang tiga bulan. “Serangan di Nice merupakan aksi keji,” kata Hollande.

Interpol, organisasi kepolisian seluruh dunia, yang bermarkas di Lyon, Perancis, langsung turun tangan, melakukan investigasi.

Hampir 24 jam setelah serangan terjadi, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan truk tersebut. Apakah Mohamed Lahouaiej Bouhlel beraksi sendirian ataukah ada pihak lain di balik serangan berdarah itu?

Namun hari Sabtu (16/7), Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) atau ISIS mengeluarkan pernyataan resmi bahwa organisasi itu bertanggung jawab atas serangan di Nice. “Eksekutor operasi yang mematikan di Nice, Perancis adalah prajurit NIIS,” demikian pernyataan tersebut. Beberapa waktu lalu, NIIS melalui juru bicaranya, Abu Muhammad Al-Adnani, mengajak pendukungnya melakukan serangan dengan cara menabrakkan truk ke pejalan kaki.

Sampai hari Minggu (17/7), Kepolisian Perancis sudah menangkap tujuh orang yang diduga terkait dengan serangan di Nice, termasuk seorang lelaki dan seorang perempuan, yang disergap hari Minggu.

Kirim uang ke Tunisia sebelum serangan Nice

Beberapa hari sebelum serangan di Nice terjadi, Bouhlel baru saja mengirim uang sejumlah 240.000 dinar Tunisia (atau sekitar 150.000 dollar AS) kepada keluarganya di Tunisia. “Biasanya dia mengirim uang dalam jumlah yang tidak terlalu besar, seperti yang dilakukan orang Tunisia yang bekerja di luar negeri. Kami merasa beruntung ketika dia mengirim uang dalam jumlah besar,” kata Jaber Bouhlel kepada Daily Mail. “Dia mengirim uang itu secara ilegal. Dia menitipkan uang tunai sebanyak itu kepada orang Tunisia yang kembali ke desa kami dan memintanya memberikan kepada keluarga kami,” ungkap saudara Mohammed Bouhlel. “Saudara saya bukan seorang teroris. Dia mengalami sakit mental,” tambahnya.

Walid Hamou, sepupu istri Bouhlel mengungkapkan, Bouhlel bukan seorang muslim karena perilakunya tidak mencerminkan dia seorang religius. “Dia jarang pergi ke masjid dan jarang bersembahyang. Dia sering mabuk-mabukan, makan daging babi, dan menggunakan narkoba,” ungkapnya kepada MailOnline. “Dia memukul istrinya, sepupu saya. Dia seorang penjahat,” tambah Hamou.

Menurut Menteri Dalam Negeri Perancis Bernard Cazeneuve, nama Mohammed Lahouaiej-Bouhlel sebelumnya tidak termasuk dalam daftar 11.000 nama ekstremis Islam di Perancis yang sudah ditandai. Namun setelah serangan di Nice, investigasi difokuskan pada rekannya bernama Omar Diaby (41 tahun), militan dari Senegal, yang tinggal di Nice, sebelum melakukan perjalanan ke Suriah. Diaby, yang menyebut dirinya Omar Omsen, memimpin satu batalion jihad asal Perancis di Suriah, yang berafiliasi dengan Jabhat al Nusra, cabang al Qaeda di Suriah.

Para penyidik masih mencari hubungan antara Mohammed Bouhlel dan Omar Diaby, apakah keduanya berasal dari lingkaran yang sama. Para pejabat antiteror Perancis menyebutkan serial video YouTube direkam Diaby di Nice pada 2012 sebelum dia berangkat ke Suriah untuk membantu memotivasi sejumlah besar ekstremis Perancis melakukan perjalanan untuk berperang di Suriah. Pada bulan Mei, Diaby mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Perancis lewat Skype bahwa dia telah memalsukan kematiannya sendiri pada Agustus 2015 lalu untuk mendapatkan perawatan medis di luar Suriah.

 

Mengapa Perancis (lagi)?

Bagi Perancis, aksi teror ini merupakan kali ketiga yang menimbulkan banyak korban tewas dalam 18 bulan terakhir. Pada 7 Januari 2015 serangan terhadap kantor majalah satire Charlie Hebdo, menewaskan 20 orang. Pada Jumat 13 November 2015, penyerbuan dan penyanderaan di gedung konser Bataclan di Paris, yang menewaskan 90 orang.

Di luar tiga serangan teror tersebut, ada beberapa aksi teror lainnya. Pertengahan Maret 2012, seorang pemuda Perancis keturunan Aljazair, Mohammed Merah (23 tahun) tewas ditembak polisi penembak jitu setelah Merah diketahui membunuh tiga prajurit penerjun payung, seorang Rabbi, dan tiga pelajar sekolah selama 11 hari di Toulouse dan Montauban. Mohammed Merah menderita masalah psikologi dan mengaku marah terhadap Perang Afganistan.

Pada 3 Februari 2015, tiga penjaga di pusat komunitas Yahudi di Nice luka-luka diserang lelaki berusia 30 tahun bernama Moussa Coulibaly. Pada 19 April 2015, seorang mahasiswa Aljazair berusia 24 tahun menabrak mati seorang perempuan di luar kota Paris. Setelah itu lelaki yang menembak kakinya sendiri itu ditangkap. Polisi, seperti dikutip Deutsche Welle, menemukan bukti bahwa mahasiswa itu berhubungan dengan para militan di Suriah yang membantu dia merencanakan menyerang dua gereja di Paris.

Pada 26 Juni 2015 terjadi serangan di sebuah pabrik gas industri di kota Grenoble di sebelah tenggara Perancis. Satu orang menabrakkan mobilnya di perusahaan Amerika Serikat dan menimbulkan ledakan, menyebabkan sejumlah orang luka-luka. Ditemukan satu kepala supervisor pabrik yang dipenggal dengan tulisan arab di gerbang pabrik itu. Penyerang itu bernama Yassin Sahli (35 tahun) ditangkap, tapi dia tewas bunuh diri di penjara.

 

Pada 21 Agustus 2015, seorang lelaki warga negara Maroko berusia 25 tahun, Ayoub El Khazzani ditangkap setelah melakukan penembakan massal dengan senapan serbu Kalashnikov di kereta cepat Thalys jurusan Amsterdam-Paris. Khazzani naik dari stasiun Brussels, Belgia, dan menyerang penumpang, sebelum akhirnya dibekuk oleh empat penumpang lain, tiga berkebangsaan Amerika Serikat dan satu warga Inggris. Dalam aksi teror itu, empat penumpang kereta cepat luka-luka.

Pada 13 Juni 2016, seorang Perancis keturunan Maroko berusia 25 tahun, Larossi Abballa menyerang dan membunuh seorang komandan polisi dan istrinya di rumahnya di Magnanville, sekitar 55 kilometer dari kota Paris. Penyerang itu dalam video streaming menyatakan bersumpah setia kepada NIIS, sebelum akhirnya dilumpuhkan pasukan komando. Balita berusia 3 tahun ditemukan dalam kondisi hidup di rumah itu.

Mengapa Perancis lagi yang menjadi sasaran aksi teror? Paul Adams dari BBC menulis, Perancis memiliki sejarah panjang kekerasan militan, diawali serangan militan Aljazair di kereta bawah tanah Paris pada 1995 silam.

Beberapa tahun terakhir, ribuan kaum muda muslim Perancis ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan NIIS. Jumlah itu terbesar untuk negara di daratan Eropa. Beberapa di antaranya kembali ke Perancis, melakukan kekerasan di negaranya. Perancis kini menghadapi persoalan besar dalam ancaman teror dan peristiwa terorisme. Perancis harus lebih memperketat keamanan negerinya.

Serangan di kota Nice memunculkan kekhawatiran tentang radikalisasi di wilayah selatan Perancis, yang memiliki jumlah relatif tinggi imigran generasi pertama, kedua dan ketiga dari Afrika utara. Sebagian besar dari mereka tinggal di permukiman yang jauh dari kemewahan pantai Cannes dan Nice, dengan perasaan terasing dan sangat rentan dipengaruhi orang-orang radikal.

Dalam studi tentang dokumen pendaftaran NIIS, Pusat Antiteror di West Point, seperti dikutip CNN, menemukan bahwa seperlima jumlah rekrutan NIIS dari Perancis dari wilayah pesisir di tenggara Perancis. Pada awal 2014, salah satu dari mereka bernama Ibrahim Boudina, kembali ke Perancis dan ditangkap di Cannes ketika mempersiapkan serangan bom yang menargetkan Karnaval Nice. Serangan di Nice pada Hari Bastille makin memperkuat kekhawatiran itu.

robert.adhiksp@kompas.com

CATATAN: Tulisan ini direvisi Minggu (17/7/2016) sore dan Senin (18/7/2016) malam. 

SUMBER: KOLOM, KOMPASPRINT.COM, SABTU 16 JULI 2016

Iklan