Al-Shabab dan Terorisme di Afrika


 Gambar

ROBERT ADHI KSP
Di tengah kegelapan pada Sabtu (5/10) dini hari, pasukan khusus Amerika, Navy SEAL, menyerbu tempat persembunyian pemimpin kelompok militan Al-Shabab, Ahmed Abdi Godane atau dikenal dengan nama Mukhtar Abu Zubair, di Somalia selatan. Namun, tim Navy SEAL—yang juga tim yang menggerebek rumah Osama bin Laden di Pakistan, Mei 2011—tidak menemukan Godane di sana.Al-Shabab merupakan jaringan teroris dari Somalia yang melakukan serangan mematikan di pusat perbelanjaan Westgate Mall di Nairobi, Kenya, 21 September 2013. Serangan itu menewaskan 67 orang dan melukai ratusan orang lainnya.

Sejumlah analis meyakini, Al-Shabab meningkatkan perang gerilya melawan pasukan Uni Afrika yang didukung PBB, dengan bantuan tentara Kenya dan Uganda.

Pada 2006, Al-Shabab mengendalikan hampir seluruh wilayah Mogadishu, ibu kota Somalia, dan menguasai sebagian besar wilayah Somalia tengah dan selatan.

Kelompok itu memberlakukan hukum syariah yang keras di wilayah yang dikendalikan mereka, termasuk menghukum rajam perempuan yang berzinah dan menghukum potong tangan para pencuri.

Akan tetapi, pasukan Uni Afrika memaksa militan itu keluar dari Mogadishu pada Agustus 2011 dan juga memaksa mereka meninggalkan pelabuhan penting Kismayo pada September 2012. Namun, Al-Shabab masih menguasai beberapa wilayah pedesaan.

Dalam dua tahun terakhir ini, Al-Shabab memperingatkan bahwa mereka akan menyerang Kenya karena negara itu berperan dalam pengiriman pasukan ke Somalia tahun 2011 dan secara efektif mengurangi kekuatan kelompok ekstremis di Somalia.

Kenya ngotot menghabisi Al-Shabab di Somalia karena kelompok ini pada 2002 melakukan serangan ganda di resor Mombasa di Kenya, dengan target orang Israel.

Al-Shabab juga bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri di Kampala, Uganda, Juli 2010, yang menewaskan 76 orang yang sedang menonton siaran langsung televisi final Piala Dunia 2010 di sebuah restoran yang sering dikunjungi orang asing.

Uganda menjadi sasaran Al-Shabab karena pasukan Uganda juga bergabung dalam pasukan Uni Afrika di Somalia.

Kenya menyerang Somalia pada 2011 setelah Al-Shabab menculik wisatawan di negeri itu. Kenya berada di garis depan pasukan Uni Afrika dan memaksa Al-Shabab mundur ke wilayah selatan. Sementara itu, pasukan Uni Afrika lainnya bergerak dari barat dan mengendalikan kota-kota Beledweyne dan Baidoa di Somalia.

Biaya operasi

Kismayo sebelumnya aset kunci bagi kelompok militan tersebut. NCBC yang mengutip Associated Press (10 things to know about Somali militants Al-Shabab, 22 September 2013) menyebutkan asal aliran dana operasi Al-Shabab. Sebelum pasukan Uni Afrika masuk ke Somalia, Al-Shabab memperoleh dana dari biaya retribusi pelabuhan dan bandara, juga dari pajak terhadap produk domestik, sebagai kontribusi !jihad”.

Laporan PBB memperkirakan pendapatan Al-Shabab pada 2011 antara 70 juta dollar AS dan 100 juta dollar AS. Al-Shabab kehilangan pendapatan tersebut sejak mereka dipaksa keluar dari Mogadishu dan Kismayo.

BBC yang mengutip penjelasan analis keamanan Tim Ripley menyebutkan, dari beberapa laporan intelijen terungkap, sejumlah orang asing masuk ke Somalia untuk membantu Al-Shabab dan kelompok ini membentuk jaringan dengan Al Qaeda tahun 2012. Pejuang asing berasal dari Timur Tengah yang berpengalaman berperang dalam konflik di Irak dan Afganistan. Sebagian direkrut dari komunitas Somalia di Amerika Serikat dan Inggris.

Al-Shabab dinyatakan sebagai organisasi teroris terlarang pada 2008 oleh Amerika Serikat dan Inggris. Jaringan teroris ini diyakini memiliki 7.000-9.000 pejuang.

Pemimpin Al-Shabab

Ahmed Abdi Godane adalah komandan kelompok Al-Shabab. Dikenal dengan nama Mukhtar Abu Zubair, Godane berasal dari wilayah separatis Somalia utara. Ia jarang muncul di depan publik. Pendahulunya, Moalim Aden Hashi Ayro, tewas dalam serangan udara pasukan AS tahun 2008.

Godane, yang berada di balik hubungan Al-Shabab dengan Al Qaeda, muncul sebagai pemenang dalam pertarungan internal kelompok ini. Saingannya, Sheikh Hassan Dahir Aweys, lebih memfokuskan diri pada perjuangan di dalam Somalia. Hassan kini berada dalam tahanan pemerintah, sementara beberapa kawannya terbunuh. Serangan terhadap pusat perbelanjaan di Nairobi, Kenya, menunjukkan sinyal bahwa Godane telah mengendalikan kelompok ini.

Al-Shabab bergabung dengan jaringan Al Qaeda pada Februari 2012. Dalam sebuah video, pemimpin Al-Shabab, Ahmed Abdi Godane, mengatakan bahwa dia ”berjanji patuh” kepada pemimpin Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri. Kedua kelompok telah lama menjalin kerja sama, juga bersama orang asing berjuang bersama militan Somalia.

Para pejabat AS meyakini, dengan mundurnya Al Qaeda di Afganistan dan Pakistan menyusul tewasnya Osama bin Laden, para pejuang berlindung di Somalia. Jaringan Al Qaeda yang mengebom Kedutaan Besar AS di Kenya dan Tanzania pada 1998 disebutkan mendapat perlindungan di Somalia.

Pejabat keamanan Inggris telah lama memperingatkan ihwal ancaman kaum radikal Inggris yang mendapat pelatihan di Somalia yang kemudian kembali ke Inggris untuk melakukan serangan.

Sejumlah laporan menyebutkan, kelompok Al-Shabab kemungkinan membentuk jaringan dengan kelompok militan lainnya di Afrika, seperti Boko Haram di Nigeria dan Al Qaeda.

Para analis menyebutkan, kaum militan sering masuk dan keluar Kenya tanpa dicegah. Para pejuang Al-Shabab disebutkan sering ke Nairobi untuk berobat.

Satu-satunya sekutu Al-Shabab di Afrika adalah Eritrea. Namun, Eritrea membantah memasok senjata ke Al-Shabab.

Mampukah bangkit?

Bagaimana dengan pemerintahan Somalia? Presiden Somalia saat ini, Hassan Sheikh Mohamud, sebelumnya akademisi dan aktivis. Ia terpilih sebagai presiden pada 2012 oleh parlemen Somalia, di bawah pengawasan PBB yang menjalankan proses perdamaian.

Hassan mengalahkan calon petahana Sheikh Sharif Sheikh Ahmed, mantan pejuang pemberontak. Selama tiga tahun kepemimpinannya, Sharif dikritik karena korupsi menjamur di mana-mana.

Al-Shabab mengecam proses pemilihan presiden itu sebagai ”rencana asing mengendalikan Somalia”.

Somalia bisa dibilang negara gagal. Selama 20 tahun terakhir, roda pemerintahan tidak berjalan efektif. Negara ini lebih banyak menjadi zona perang. Kondisi ini mempermudah Al-Shabab mendapat dukungan warga Somalia. Kelompok ini menjanjikan keamanan warga.

Namun, kredibilitas Al-Shabab rontok ketika menolak bantuan makanan Barat pada saat terjadi bencana kelaparan dan kekeringan tahun 2011.

Al-Shabab pendukung Wahabi dari Arab Saudi, sementara banyak orang Somalia adalah kaum Sufi. Al-Shabab menghancurkan sejumlah besar tempat ibadah kaum Sufi. Hal ini menyebabkan popularitas Al-Shabab menurun.

AS mendukung intervensi pasukan Uni Afrika melawan Al-Shabab, dengan mendukung pasukan Etiopia menginvasi Somalia pada 2006. AS memberi jutaan dollar kepada PBB, yang mendukung pasukan Uni Afrika berperang dengan Al-Shabab.

Setelah Mogadishu dan beberapa kota lainnya di bawah kendali pemerintah, ada harapan baru bagi warga Somalia kembali dari pengungsian, membawa uang dan keterampilan mereka.

Mampukah Somalia bangkit kembali dari kehancuran yang dialami selama dua dekade terakhir?

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG, SELASA 8 OKTOBER 2013

Iklan