Mengajak Wisatawan Pelesiran ke Indonesia


Gambar
 
ROBERT ADHI KSP
 
Hari Senin (11/11), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu melun- curkan situs web pariwisata Indonesia versi bahasa Mandarin (http://cn.indonesia.travel) di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing, China. Promosi ”Welcome to Wonderful Indonesia” di China digelar juga di Jinan, Shanghai, dan Guangzhou.

Gencarnya promosi wisata di China ini untuk menggaet lebih banyak wisatawan China datang ke Indonesia. Pertumbuhan ekonomi China yang relatif tinggi telah melahirkan kelas menengah baru di negeri itu.

Di sejumlah tempat wisata di dunia, orang China terlihat di mana-mana, dari Eropa, Amerika, Australia, sampai Asia (termasuk Indonesia). Tahun 2012, tercatat 83,2 juta orang China berpergian ke luar negeri dengan pengeluaran 102 miliar dollar AS. Tahun 2020, wisatawan China yang pleesiran menjadi 100 juta.

Menurut survei ZenithOptimedia, jumlah kelas menengah China pada 2012 mencapai 125 juta dan mencapai 356 juta pada 2020. (Middle class sitting in the driver’s seat for consumption, China Daily, 14 November 2013).

Memperkenalkan lebih jauh keindahan panorama Indonesia kepada masyarakat China merupakan langkah strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Wisman China termasuk yang banyak datang ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini.

Sudah tepat bila Indonesia memanfaatkan momentum kebangkitan ekonomi China dan negara-negara di Asia lainnya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia terus meningkat. Pada Januari-September 2013, jumlah wisman tercatat 6.377.326 orang. Periode yang sama tahun 2012, jumlah wisman ke Indonesia 5.895.288 orang.

Berbagai kegiatan internasional yang digelar di sejumlah kota di Indonesia yang diliput media asing membuka mata wisatawan mancanegara betapa Indonesia negeri yang memiliki panorama alam nan indah tak terkira.

Alam pegunungan, hutan, pantai biru, alam bawah laut. Apa saja ada. Dari Sabang sampai Merauke, semua keindahan itu merupakan anugerah Tuhan buat bangsa Indonesia. Bahkan, banyak tempat yang masih tersembunyi tidak diketahui banyak orang. Kekayaan alam ini harus dilihat sebagai potensi untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

Kebijakan mengembangkan potensi wisata yang tersebar dari ujung barat hingga ujung timur negeri ini harus didukung penuh agar Indonesia makin cepat lepas landas. Orang asing harus tahu Indonesia satu-satunya the truly Asia, destinasi wisata paling lengkap dan paling asyik di dunia.

Kementerian Pariwisata juga perlu mengajak penulis-penulis wisata internasional mengunjungi tempat-tempat eksotis di Indonesia agar situs-situs CNNGo.com dan BBC.com/travel memuat laporan tentang keindahan Indonesia.

Wisatawan Nusantara

Tidak hanya menggaet wisatawan mancanegara. Pemerintah juga mengajak orang Indonesia berlibur di negeri sendiri. Salah satu situs web yang mengeksplorasi keindahan Indonesia adalah http://www.indonesia.travel/id.

Saat ini hampir semua media online memiliki kanal khusus mengulas tempat-tempat wisata di Indonesia. Demikian pula makin banyak buku-buku wisata yang ditulis orang Indonesia. Pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata ini terkait dengan pertumbuhan kelas menengah baru di Indonesia sebagai dampak positif pertumbuhan ekonomi.

McKinsey Global Institute menyebutkan, jumlah kelas menengah di Indonesia akan menjadi 145 juta tahun 2030.

Peluang yang sudah ada di depan mata harus dimanfaatkan secara jeli oleh pemerintah. Jangan biarkan orang Indonesia terus-menerus menghabiskan liburan hanya ke luar negeri, tetapi ajaklah mereka menikmati keindahan alam negeri sendiri. Bila sektor pariwisata digarap serius, efek dominonya luar biasa, termasuk membuka lapangan kerja baru. Sudah banyak contoh pariwisata mampu membuat sebuah negara kaya raya dan penduduknya sejahtera.

Infrastruktur

Namun, Indonesia masih menghadapi persoalan klasik, yaitu problem infrastruktur. Menurut Global Competiveness Report 2010, infrastruktur Indonesia berada di posisi ke-82 dari 139 negara di dunia.

Coba datang ke Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten. Lokasinya tidak terlalu jauh, tetapi perjalanan butuh waktu lama, lebih dari 5 jam dari Jakarta, karena kondisi jalan rusak dan berlubang. Demikian pula Pantai Sawarna di Lebak, Banten. Keindahan pantai selatan ini sungguh menawan hati. Sayangnya, jalan menuju ke lokasi tidak seindah pantai tersebut.

Demikian halnya biaya berwisata ke Raja Ampat di Papua Barat, sama mahalnya dengan biaya ke Eropa akibat keterbatasan infrastruktur, bandara, jalan, dan akomodasi. Ini hanya beberapa contoh.

Sektor pariwisata sangat terkait dengan infrastruktur. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintahan kini dan mendatang.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG, KAMIS 14 NOVEMBER 2013

 

Iklan