MH370 dan Pariwisata Malaysia


DUPER MH370 KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Tahun 2014 dicanangkan oleh Badan Pariwisata Malaysia menjadi tahun pariwisata ”Visit Malaysia Year”. Menonjolkan ”tagline” ”Truly Asia”, Malaysia menargetkan membawa lebih dari 28 juta turis ke negeri itu sepanjang tahun ini dan berharap menerima 76 miliar ringgit Malaysia atau 23,1 miliar dollar AS pada 2014 ini. Namun, apakah insiden MH370 akan berdampak terhadap pariwisata Malaysia dalam jangka panjang?

 

Malaysia merupakan salah satu dari 10 destinasi wisata yang populer bagi wisatawan Tiongkok, beberapa tahun terakhir ini. Pada 2013, hampir 1,8 juta warga Tiongkok bepergian ke negara- negara di Asia Tenggara, termasuk Malaysia. Angka ini naik 14,9 persen dibandingkan dengan tahun 2012.

Malaysia Tourism Board menyebutkan, Tiongkok merupakan pasar wisatawan ketiga terbesar tahun lalu, di bawah Singapura dan Indonesia. Malaysia berharap menggaet 2 juta wisatawan Tiongkok sebelum insiden MH370 terjadi (China Daily, ”Travelers cutting Malaysia out of their vacation plans”, 27 Maret 2014).

Namun, pekan lalu, Menteri Pariwisata Malaysia Mohamad Nazri bin Abdul Aziz membatalkan rencana road show di Tiongkok sampai misteri hilangnya MH370 terpecahkan.

Dampak hilangnya MH370 tidak hanya itu. Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 berimbas pada turunnya minat wisatawan berkunjung ke negeri tersebut.

Situs perjalanan yang bermarkas di Jerman, Trivago, menyebutkan, pesanan hotel di Malaysia dari wisatawan Amerika Serikat turun 22 persen dalam 10 hari terakhir ini.

Situs media Amerika Serikat, The Christian Science Monitor, menulis, wisatawan Tiongkok dan Amerika Serikat menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap cara Pemerintah Malaysia menangani hilangnya MH370 (The Christian Science Monitor, ”Will it kill tourism in Malaysia?” 31 Maret 2014).

Batalkan ke Malaysia

Banyak wisatawan Tiongkok membatalkan perjalanan mereka ke Malaysia, dan sejumlah agen perjalanan Tiongkok membatalkan kerja sama dengan Malaysia Airlines (China Daily, ”Malaysia to continue suspending tourism roadshows”, 28 Maret 2014).

Dua operator tur Tiongkok terbesar, Youth Travel Service dan China International Service, mengatakan, jumlah warga Tiongkok yang akan berlibur ke Malaysia turun tajam. Pesanan baru dihentikan. Jadwal perjalanan atau itenari yang sudah ada, termasuk pesanan Malaysia Airlines, diganti dengan maskapai penerbangan lain. Agen perjalanan itu berjanji mengganti semua uang konsumen yang membatalkan perjalanan menggunakan Malaysia Airlines.

Sebelas agen perjalanan wisata Tiongkok, kepada Reuters, mengungkapkan, banyak orang Tiongkok membatalkan perjalanan mereka ke Malaysia karena marah dan kecewa terhadap Pemerintah Malaysia, yang dinilai memberikan informasi tidak jelas kepada keluarga penumpang MH370.

”Biasanya, kami menerima 30 sampai 40 konsumen sebulan yang akan berlibur ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sekarang, tak satu pun yang meminta rute itu. Tak ada yang melakukan pemesanan,” kata Chen, staf agen perjalanan Comfort Travel, yang bermarkas di Guangzhou, Tiongkok. Agen ini memfokuskan diri pada tur ke negara-negara di Asia Tenggara.

Beberapa agen perjalanan wisata Tiongkok lainnya menghentikan promosi wisata ke Malaysia karena khawatir dengan kemarahan rakyat Tiongkok.

Sentimen nasional

Insiden MH370 memang telah melibatkan sentimen nasional. Jutaan pengguna media sosial Tiongkok, Weibo, menyampaikan amarah mereka dan mempertanyakan kredibilitas serta profesionalisme Pemerintah Malaysia menangani insiden hilangnya MH370.

Menurut jajak pendapat situs berita online Sina, 77,5 persen dari 38.500 responden menyatakan insiden bahwa MH370 telah memengaruhi keputusan mereka berkunjung ke Malaysia di masa depan, 19 persen mengatakan tidak berpengaruh, dan 4 persen lainnya mengatakan tidak yakin.

Pariwisata sumbang PDB

Sektor pariwisata Malaysia sejauh ini menyumbang 12 persen produk domestik bruto (PDB) Malaysia.

Sebelum pesawat Malaysia Airlines MH370, yang membawa 239 penumpang dan awak, 153 di antaranya penumpang berkebangsaan Tiongkok, hilang pada 8 Maret silam, jumlah wisatawan Tiongkok ramai berlibur ke Malaysia.

Pada 2013, sebanyak 12 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Malaysia adalah turis Tiongkok. Pendapatan dari para wisatawan Tiongkok tersebut, menurut penelitian Merril Lynch Bank of America, menyumbang 4 persen PDB Malaysia. Kelas menengah Tiongkok, beberapa tahun terakhir, ini menikmati pertumbuhan ekonomi negara itu.

Menurut Credit Lyonnais Securities Asia, jumlah orang Tiongkok yang berlibur ke luar negeri akan naik dua kali lipat pada 2020, dan berbelanja dengan nilai tiga kali lipat lebih banyak.

Tren biasa?

Juru bicara Trivago, Katie Merrill, mengatakan, penurunan jumlah wisatawan ini merupakan tren biasa dalam negara yang mengalami kerusuhan politik atau insiden besar.

Katie memberikan contoh, Thailand pernah mengalami hal yang sama ketika terjadi aksi demo di Bangkok yang menyebabkan jumlah wisatawan mancanegara turun hingga 70 persen. Demikian pula Lebanon dan Suriah.

Managing Director Yellow Road Ltd, perusahaan konsultan perjalanan internasional yang bermarkas di Edinburgh, mengingatkan bahwa hal ini tidak akan berlangsung lama. Kasus MH370 bisa menjadi persoalan besar di Tiongkok, tetapi tidak halnya di Amerika Utara dan Eropa.

Malaysia memang berempati pada Tiongkok dengan menghentikan road show Visit Malaysia 2014 di ”Negeri Tirai Bambu” tersebut.

Namun, Malaysia tampaknya tidak akan menyerah dengan keadaan. Meski road show ke Tiongkok dibatalkan, Malaysia Tourism Board melanjutkan road show ke India, meski lima penumpang MH370 berkebangsaan India. ”The show must go on,” kata Direktur Malaysia Tourism Board Datuk Mirza Mohammad Tiayab, di India, pekan lalu.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 1 APRIL 2014

Iklan