Kasus Florence dan Dampak Media Sosial


Florence

ROBERT ADHI KSP

Kasus Florence Saulina Sihombing, mahasiswi S-2 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang melampiaskan amarahnya dengan kata-kata kasar di media sosial Path, menarik perhatian. Para pengguna media sosial, terutama warga Yogyakarta, kemudian mem-”bully” Florence karena tidak bisa menerima kata-kata kasarnya.

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat lalu melaporkan Florence ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) karena menganggap dia melanggar Undang- Undang Informasi dan Transaksi Eelektronik.

Florence minta maaf kepada seluruh elemen masyarakat Yogyakarta. Namun, Polda DIY malah menahan Florence.

Langkah Polda DIY menahan Florence dikritik dan dinilai sangat berlebihan. Langkah kepolisian menahan warga yang curhat di media sosial karena kecewa atas buruknya layanan publik di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) Yogyakarta dikecam ratusan orang di situs change.org.

Ratusan orang menandatangani petisi online di change.org, menuntut Kepala Polda DIY segera membebaskan Florence.

Reaksi warga Yogyakarta atas kata-kata makian Florence di Path bisa dimaklumi. Mereka yang mencintai kota Yogyakarta langsung mem-bully Florence habis-habisan.

Banyak yang menilai, ungkapan Florence di media sosial Path tidak mencerminkan bahwa dia orang yang berpendidikan tinggi yang sedang mengenyam pendidikan S-2 Notariat Fakultas Hukum UGM.

Bukan penjahat

Namun ketika Polda DIY mengambil langkah hukum atas kasus itu, giliran polisi yang di-bully dan dikecam habis-habisan.

Florence bukanlah penjahat, bukan koruptor, bukan pembunuh ataupun penculik. Dia sama seperti warga negara lainnya, yang sering menyampaikan kekecewaannya terhadap layanan publik yang buruk.

Ketika itu, Florence kecewa terhadap layanan Pertamina di SPBU Lempuyangan, DIY. Yang menjadi persoalan, cara dia melampiaskan kekecewaan dan kemarahan yang dianggap di luar kepatutan masyarakat setempat.

Cara orang memang tidak sama, karena tergantung asal daerah warga tersebut. Gaya Yogyakarta tentu berbeda dengan gaya Batak yang main tembak langsung.

Florence bisa jadi lupa, dia bukan sedang berada di Medan, yang setiap hari orang bebas mengumpat dengan gaya bicara keras. Florence bisa saja tidak paham pepatah ”di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Dia baru menyadari kekeliruannya belakangan dan dia kemudian minta maaf.

Dampak media sosial

Florence bisa jadi tidak menyadari, meskipun dia menulis di media sosial Path yang jangkauannya lebih terbatas (maksimal 150 teman), tetapi apa yang ditulisnya dapat disebarkan ke mana-mana.

Ada temannya yang me-repath atau membuat screen shot, lalu menyebarluaskan ke wilayah publik yang lebih luas sehingga umpatan Florence menjadi perhatian warga kota Yogyakarta.

Ini salah satu bukti, apa pun yang kita tulis di media sosial, Facebook dan Twitter yang lebih massal, ataupun Path yang lebih eksklusif, dampaknya bisa sangat luas dan dibaca jutaan orang.

Salah satu contoh yang masih hangat, dalam ingar-bingar kampanye pemilihan presiden tempo hari, misalnya, publik masih ingat betapa kicauan kata ”sinting” oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah, berdampak luas. Santri-santri di Jawa Timur dan Jawa Tengah menyampaikan amarahnya terhadap Fahri. Bahkan, kicauan Fahri itu disebut-sebut berdampak terhadap perolehan suara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Terhubung dengan cepat

Jumlah pengguna media sosial tumbuh pesat seiring dengan perkembangan internet dalam 10 tahun terakhir. Beragam jenis media sosial muncul, mulai dari blog, Facebook, Twitter, Youtube, Tumblr, DailyMotion, Pinterest, FourSquare, Instagram, Yelp, sampai Path.

Fasilitas dalam gadget-gadget terbaru nan canggih memungkinkan pengguna media sosial terhubung dengan beragam aplikasi media sosial dan terhubung dengan teman-temannya satu sama lain secara cepat.

Menurut penelitian Nielsen, pengguna internet menghabiskan lebih banyak waktu bersama situs-situs media sosial dibandingkan dengan situs lainnya.

Di Amerika Serikat, misalnya, total waktu yang dihabiskan pengguna media sosial melalui PC dan perangkat mobil meningkat 37 persen jadi 121 miliar menit pada Juli 2012, dibanding 88 miliar menit pada Juli 2011.

Media sosial awalnya dimanfaatkan untuk tujuan bisnis, mulai dari riset pasar, komunikasi perusahaan dengan konsumennya, promosi penjualan, sampai pada e-commerce.

Selain itu, hampir semua perusahaan media di dunia membagi berita, features, dan artikel mereka melalui media sosial, karena jangkauannya yang lebih luas dan tak terbatas.

Fungsi media sosial juga berkembang sebagai sarana unek- unek warga atas buruknya layanan publik. Karena banyak institusi pemerintah dan perusahaan memiliki akun media sosial, keluhan warga, konsumen, dan pelanggan di media sosial biasanya cepat ditanggapi. Lebih cepat dibandingkan dengan menulis surat pembaca di media cetak. Sepanjang kritik itu positif dan untuk kepentingan publik, masukan itu jadi kebutuhan institusi dan perusahaan. Ini salah satu dampak positif media sosial.

Presiden terpilih Joko Widodo sejak awal menyatakan akan juga blusukan di dunia maya agar dia dapat menangkap aspirasi rakyat dan segera menyelesaikan persoalan yang ada.

Karena itu, publik yakin pemerintahan baru Joko Widodo tetap memberikan ruang yang lega terhadap kebebasan berpendapat, asalkan disampaikan dalam bahasa yang santun. Kata kuncinya, kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab. Inilah pelajaran yang bisa kita petik dari berbagai kasus media sosial yang terjadi akhir-akhir ini.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 1 SEPTEMBER 2014

Iklan