Ledakan di Malaysia, Perang Antargeng atau Aksi Teroris?


Ledakan di Malaysia

ROBERT ADHI KSP

Sebuah granat meledak di luar pub Cherry Blossom di kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (9/10) pukul 04.30 waktu setempat. Ledakan itu menewaskan satu orang, melukai belasan orang lain, dan merusak empat kendaraan. Benarkah ledakan di Malaysia ini berkaitan dengan perang antargeng dan persaingan bisnis dunia bawah tanah dan tidak ada keterkaitan dengan aksi terorisme seperti yang disampaikan otoritas Malaysia?

Kawasan Bukit Bintang di Kuala Lumpur dikenal sebagai kawasan belanja, makan, dan kehidupan malam yang dibanjiri wisatawan asing.

Ledakan di Bukit Bintang menjadi perhatian internasional karena di antara korban luka terdapat warga negara asing. Korban luka-luka dari Thailand adalah Jasu, berusia 50 tahun, yang mengunjungi Malaysia dari Provinsi Chiangmai. Korban luka dari Singapura adalah Wong Kim Teng, sedangkan korban luka dari Tiongkok adalah Ma Yunfeng dan Yong Jiaqin.
Korban tewas adalah Tiong Kwang Yie, warga Malaysia. Korban luka-luka berusia antara 22 tahun dan 40 tahun, berkebangsaan Malaysia (8 orang), Tiongkok (2), Singapura (1), dan Thailand (1).

Penyelidikan kepolisian setempat menyebutkan terdapat dua granat tangan di lokasi kejadian. Satu granat meledak. Satu lagi gagal meledak dan ditemukan di bawah sebuah mobil yang diparkir di kawasan itu. Empat mobil yang rusak adalah Toyota Vellfire, Toyota Camry, Mazda 2, dan BMW seri 5.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengecam aksi yang tak bisa ditoleransi itu dan menegaskan pelakunya akan ditemukan dan diadili.

Ledakan bom di Bukit Bintang, kata pejabat kepolisian setempat, Ayob Khan Mydin, berkaitan dengan perang antargeng dan persaingan bisnis ”dunia bawah tanah”.

Sumber kepolisian di Malaysia seperti dikutip The Malay Mail pada Minggu menyebutkan, polisi masih mencari seorang raja judi di negeri itu, Ah Hai (53), yang menjadi sasaran granat di Bukit Bintang. Ah Hai disebutkan seorang gangster yang dihormati dalam masyarakat rahasia Tiongkok. Ah Hai disebutkan sedang meninggalkan pub Cherry Blossom ketika ledakan granat terjadi.

Ah Hai yang dikenal sebagai ”raja judi” Malaysia ini juga disebutkan sebagai orang di balik sejumlah kelab malam yang menjadi tempat peredaran narkoba di negeri itu.

Ledakan granat di Malaysia sebetulnya jarang terjadi di Malaysia, tetapi publik melihat meningkatnya kualitas kejahatan di Malaysia.

Sebelumnya, kawanan penjahat meledakkan sebuah bank dalam usaha perampokan di Melati Industrial Park di Bukit Beruntung. Bom rakitan itu menghancurkan tiga mesin ATM, dua mesin deposit tunai, dan sejumlah mesin lain. Namun, tak satu pun uang diambil dari mesin-mesin itu, kata Rooslan Radzi, Wakil Kepala Reserse Selangor.

Pada kasus lain, 13 September lalu, polisi menangkap seorang lelaki berusia 50 tahun, mantan serdadu, yang meletakkan granat di bawah mobil dan menewaskan istrinya di Kampung Baru Subang.

Reaksi di media sosial
Publik di Malaysia bertanya-tanya, benarkah ledakan granat di kawasan Bukit Bintang dilatarbelakangi perang antargeng atau berkaitan dengan persaingan bisnis antarkelab malam di Bukit Bintang?

Publik di Malaysia tidak percaya begitu saja dengan pernyataan pihak kepolisian negeri itu. Pengguna internet di negeri itu berspekulasi, militan Negara Islam di Irak dan Suriah sudah berada di Malaysia.

”Apa mungkin warga sipil bebas memiliki granat tangan?” tanya Zakariah seperti dikutip situs The Malaysian Insider. Gangster tidak akan menggunakan granat karena terlalu bahaya dan jika tertangkap, akan menghadapi hukuman mati, demikian komentar pengguna media sosial lainnya.

Pengguna Facebook lainnya menilai, skala kerusakan terlalu kecil jika dikaitkan dengan kelompok ekstremis. Lokasi ledakan di Sun Complex di Bukit Bintang dikaitkan dengan bisnis dunia bawah tanah. ”Sun Complex dikenal sebagai lokasi prostitusi dan aktivitas imigran ilegal,” ungkap Jamilah Endot.

Kecemasan
Ledakan di Bukit Bintang memang menimbulkan banyak spekulasi. Kecemasan warga Malaysia terhadap masuknya teroris di negeri itu sangat beralasan.

Mei 2014, pihak keamanan Malaysia menangkap sejumlah anggota kelompok teroris dari Somalia, Al Shabaab atau Al Shabab, yang masuk ke negeri itu. Mereka diduga merencanakan aksi teror di sekolah dan universitas swasta serta mencari sasaran turis asing di Malaysia. Ada dugaan teroris internasional kini mengincar Malaysia sebagai salah satu base camp.

Unit Khusus Anti Teroris Malaysia menangkap enam anggota Al Shabaab, kelompok teroris yang memiliki jaringan Al Qaeda. Surat kabar Malaysia, The Star, melaporkan, mereka masuk Malaysia beberapa pekan sebelumnya. Seorang warga negara Somalia berusia 34 tahun yang ditangkap diduga memiliki hubungan dengan kelompok teroris dan masuk dalam daftar pencarian orang Interpol dalam kasus terorisme.  Kehadiran warga negara asing yang diduga memiliki hubungan dengan Al Shabaab akan memengaruhi kepentingan ekonomi Malaysia dan kepentingan keamanan negeri.

Malaysia tampaknya harus serius menjelaskan apakah ledakan di kawasan Bukit Bintang ini benar murni perang antargeng atau indikator masuknya militan ekstremis.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 13 OKTOBER 2014

Iklan