Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers


Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers

ROBERT ADHI KSP

Seorang pewarta foto Amerika Serikat, Luke Somers (33), yang menjadi sandera Al Qaeda di Yaman, tewas ditembak militan Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) setelah tim Seal AS gagal melakukan penyelamatan. Somers adalah jurnalis ketiga AS yang tewas di tangan kelompok radikal pada tahun 2014 setelah James Foley dan Steven Sotloff dieksekusi NIIS di Suriah.

Somers lahir di Inggris dan lebih banyak menghabiskan waktunya di AS. Dia tinggal di Yaman sudah tiga tahun, bekerja sebagai fotografer lepas untuk BBC dan koran-koran lokal di Yaman. Somers disandera sejak September 2013. Lewat video yang diunggah di dunia maya pada 3 Desember, AQAP sudah mengancam akan mengeksekusi Somers.

Kematian Somers menambah jumlah jurnalis yang tewas setelah dijadikan sandera oleh kelompok teroris di Timur Tengah. Committee to Protect Journalist (CPJ) menyebutkan, Somers adalah jurnalis ketiga AS yang tewas setelah ditangkap dan dijadikan sandera. Dua jurnalis lain adalah James Foley dan Steven Sotloff yang tewas dipenggal di Suriah oleh kelompok militan NIIS.

”Somers ke Yaman untuk membawa berita untuk kita, tetapi justru dia kini menjadi berita. Kelompok militan kini menggunakan jurnalis sebagai pion dalam permainan politik yang mematikan,” kata Deputi Direktur CPJ Robert Mahoney dalam pernyataannya, Sabtu (6/12). ”Sebagai jurnalis, kita harus melanjutkan pekerjaan kolega kita, mencari keadilan dan melindungi mereka yang pergi ke lapangan setiap hari meski dalam bahaya,” katanya.

”Kematian Somers merupakan refleksi dari meningkatnya ancaman bahaya pekerjaan seorang jurnalis. Banyak jurnalis yang dijadikan sandera dalam dua tahun terakhir ini. Dampak tragis akan menjadi lebih sering” kata Sekretaris Jenderal Reporters Without Borders Christophe Deloire, Sabtu.

Berdasarkan Indeks Kebebasan Pers Dunia tahun 2014 yang dirilis Reporters Without Borders, Yaman berada di urutan ke-167 dari 180 negara.

Catatan Reporters Without Borders menunjukkan, sepanjang 2014 tercatat 63 jurnalis dan 19 netizentewas terbunuh serta 177 jurnalis dan 178 netizen mendekam di penjara.

Indeks Kebebasan Pers

Dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2014 terungkap, peringkat sejumlah negara dipengaruhi oleh kecenderungan menafsirkan kebutuhan keamanan nasional dengan cara terlalu luas dan kasar sehingga merugikan hak memberikan informasi dan mendapatkan informasi.

Tren ini merupakan ancaman yang berkembang di seluruh dunia, bahkan membahayakan kebebasan pers di negara-negara yang dianggap sebagai negara demokrasi.

Indeks itu menunjukkan, Finlandia, untuk kali keempat, berada di puncak, menjadi negara yang paling memberikan kebebasan pers, disusul Belanda, dan Norwegia.

Sementara tiga negara di posisi paling bawah dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2014, Turkmenistan, Korea Utara, dan Eritrea, sama sekali tidak memiliki kebebasan pers.

Salah satu negara yang paling berbahaya bagi jurnalis saat ini adalah Suriah. Krisis politik dan keamanan di Suriah berdampak serius bagi kebebasan pers di wilayah tersebut. Dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia terungkap sedikitnya 130 pekerja berita (termasuk 25 jurnalis profesional) dibunuh terkait dengan pekerjaan mereka dari Maret 2011 hingga Desember 2013. Tujuh jurnalis profesional yang tewas di Suriah adalah wartawan asing.

Kondisi mencemaskan di Suriah menyebabkan 120 pekerja berita Suriah meninggalkan negeri itu pada periode Maret 2011-Desember 2013. Pada akhir 2013, sebanyak 20 pekerja berita Suriah ditangkap rezim Assad, 19 jurnalis asing ditangkap atau hilang, dan kini 20 pekerja berita Suriah dijadikan sandera oleh kelompok radikal bersenjata.

Kelompok-kelompok non-negara menjadi sumber bahaya utama bagi jurnalis di sejumlah negara. Milisi yang mengobarkan chaos di Libya dan kelompok bersenjata Yaman yang memiliki kaitan dengan Al Qaeda di Semenanjung Arab merupakan contoh utama.

Al Shabaab di Somalia dan Gerakan M23 di Republik Demokratik Kongo menjadikan jurnalis sebagai musuh mereka. Kelompok-kelompok radikal, seperti Jabhat Al-Nosra dan NIIS, menggunakan kekerasan melawan pekerja media sebagai bagian dari upaya mereka mengendalikan wilayah yang mereka ”bebaskan”.

Kejahatan terorganisasi menjadi predator yang menakutkan bagi jurnalis di sejumlah tempat di dunia, khususnya di Honduras, Guatemala, Brasil, dan Paraguay, juga Pakistan, Tiongkok, Kirgistan, dan negara-negara Balkan.

Jurnalis di sejumlah negara sulit untuk tidak melakukan sensor diri saat menulis topik-topik, seperti perdagangan narkoba, korupsi, dan penetrasi kejahatan oleh aparatur negara. Di beberapa negara, penguasa sering kali tidak peduli pada kejahatan kekerasan yang dialami media dan jurnalis.

Ancaman terhadap jurnalis di dunia tak kunjung reda, baik ancaman penculikan, pemenjaraan, ataupun pembunuhan. Namun, jurnalis sejati tak pernah gentar memainkan peran vitalnya: menyeimbangkan kekuasaan antara pemerintah dan rakyat melalui berita dan informasi yang disampaikan.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 6 DESEMBER 2014

Iklan