Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi


ROBERT ADHI KSP

Kereta malam melaju dari kota Treuchtlingen menuju kota Wuerzburg di Bavaria, Jerman, Senin, 18 Juli 2016. Kereta itu sudah berjalan hampir dua jam sejauh 140 kilometer di jalur yang dibangun sejak satu setengah abad silam. Waktu menunjukkan pukul 21.15 ketika kereta itu mendekati stasiun terakhir di kota Wuerzburg di selatan Jerman.

Tiba-tiba seorang remaja membawa kapak dan pisau berdiri di antara penumpang. Remaja itu secara membabi-buta mengayunkan kapak dan pisau ke sejumlah penumpang kereta. Para penumpang berteriak histeris ketika kapak yang diayunkan remaja itu melukai sejumlah penumpang kereta.

 

Wuerzburg Jerman Juni 2013
Suasana kota Wuerzburg, Jerman. Foto diambil Juni 2013. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Seorang saksi mata kepada DPA News melukiskan, suasana di kereta tampak seperti suasana “jagal”. Darah menggenangi lantai kereta itu. Dia melihat penumpang merangkak meminta pertolongan, sementara penumpang lain tergeletak di lantai kereta.

Empat penumpang kereta yang merupakan satu keluarga dari Hongkong luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Setelah melukai empat penumpang, lalu menarik rem darurat, remaja itu berusaha melarikan diri ke arah kota Heidingsfeld.

Namun, berkat laporan yang cepat disampaikan ke pihak berwajib, satu unit polisi khusus yang kebetulan berada di sekitar lokasi kereta langsung memburu remaja itu. Polisi menembak tewas remaja itu setelah berusaha menyerang seorang perempuan dan seorang polisi.

Pemimpin Hongkong Leung Chun-ying mengecam serangan yang melukai empat dari lima anggota keluarga Hongkong yang sedang berlibur di Jerman itu. Wisatawan asal Hongkong itu baru saja mengunjungi kota tua peninggalan Abad Pertengahan, Rothenburg ob der Tauber.

Remaja Afganistan

Penyerang itu seorang remaja Afganistan bernama Muhammed Riayad berusia 17 tahun. Dia datang sendirian ke Jerman dua tahun lalu (2014) sebagai imigran. Sebelumnya, dia mendaftarkan diri sebagai pencari suaka di kota Passau di perbatasan Austria.

Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann dalam penjelasan resmi mengungkapkan, remaja Afganistan itu tinggal di Wuerzburg sejak Maret 2016. Setelah mendapatkan akomodasi sebagai pengungsi selama beberapa bulan, ungkap Die Welt, dia pindah dan tinggal bersama keluarga angkat di Ochsenfurt sekitar dua pekan lalu.

Remaja ini digambarkan sebagai seorang yang sangat tenang, tetapi juga seorang pemarah. Dia pergi ke masjid setiap hari penting, tetapi tidak setiap pekan. Dia seorang Muslim yang setia, tetapi tak ada tanda-tanda radikal atau fanatik. Pihak berwenang di Jerman sedang mencari keluarga angkatnya.

Penyidik menemukan bendera NIIS yang dilukis tangan dalam bahasa Pashto (salah satu bahasa daerah di Afganistan) di antara barang-barang di rumahnya yang digeledah, tetapi belum jelas apakah dia memiliki kontak dengan kelompok teroris. Polisi masih menyelidiki motif serangan itu dan berhati-hati mengambil kesimpulan.

 

Kelompok NIIS mengeluarkan pernyataan melalui kantor berita Amaq, seperti dikutip surat kabar Perancis Le Figaro, bahwa pengungsi Afganistan yang melakukan serangan di dalam kereta di Wurzburg adalah salah satu pejuang mereka. NIIS bahkan merilis video Muhammad Riayad memegang pisau.

David Thomson, pakar masalah NIIS dalam wawancara dengan stasiun radio Perancis, RFI, mengutip kantor berita NIIS Amaq, menegaskan bahwa NIIS bertanggung jawab atas serangan di Wuerzburg. Dalam cuitannya di Twitter, David Thomson mengungkapkan bahwa ini serangan pertama di Jerman yang diklaim NIIS.

Namun, Herrmann dalam pernyataan kepada pers di Munich, Selasa (19/7/2016), menegaskan, tak ada indikasi remaja Afganistan itu berhubungan dengan kelompok NIIS. “Tidak ada alasan bagi Jerman untuk mencurigai semua pengungsi. Juga tidak ada alasan bagi Jerman untuk menghentikan kehidupan normal para pengungsi,” kata Herrmann.

Eksploitasi NIIS

Dr David Arn, pakar masalah NIIS dari Ludwig Maximillian University di Munich, seperti dikutip The Local mengatakan, “Tidaklah mengejutkan bila NIIS menyatakan bertanggung jawab atas serangan ini.”

“Saat ini NIIS mengambil tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan ‘serigala kesepian’,” ungkap Arn. “Serangan di Wuerzburg persis sama fenomenanya dengan serangan di Nice, Perancis, dan di Orlando, Amerika Serikat,” ungkapnya.

Remaja Afganistan itu menanggapi ajakan NIIS pada akhir 2014 yang meminta para simpatisannya menyerang negara-negara yang tergabung dalam koalisi, yang selama ini menyerang NIIS.

Namun, kata Arn, bukan berarti NIIS terlibat dalam perencanaan serangan ini. “Mustahil bagi NIIS memiliki peran menggalang koordinasi serangan-serangan tersebut. Para pelaku berbagai serangan itu bertindak sendiri karena terpanggil melakukan jihad,” katanya.

Penemuan bendera NIIS di rumah penyerang Wuerzburg dan pelaku berasal dari Afganistan menambah bobot klaim NIIS. Namun, menurut Arn, NIIS menggunakan itu untuk mengeksploitasi ketegangan antara Muslim dan non-Muslim di Eropa.

Kata “Afganistan” saat ini sesuatu yang sensitif di Jerman. Fakta bahwa pelaku serangan di Wuerzburg adalah pengungsi Afganistan dapat menjadi “peluru” bagi kelompok-kelompok sayap kanan di Jerman untuk menyerang kebijakan Kanselir Angela Merkel yang menerima lebih dari satu juta pengungsi dan memvonis Merkel telah membuat Jerman dalam keadaan bahaya.

“NIIS menyadari kondisi ini dan berusaha memanfaatkan hal ini untuk menciptakan perpecahan dalam masyarakat Eropa. Ini bagian dari strategi NIIS yang disebutnya sebagai zona abu-abu. Mereka ingin menciptakan situasi di mana langkah keamanan terhadap pengungsi sangat ketat sehingga tak mungkin bagi mereka tinggal di Eropa, atau alternatif mendirikan negara Islam di Eropa,” ungkap Arn seperti dikutip media Jerman The Local.

Dibandingkan Perancis, sampai saat ini Jerman berada dalam daftar paling bawah negara-negara yang menjadi target NIIS. “Serangan-serangan yang terjadi di Jerman berbeda dengan serangan-serangan di Paris dan Brussels yang dikendalikan secara rapi dalam sembilan bulan terakhir,” kata Arn.

Pada Mei 2016 di Jerman, seorang lelaki berusia 27 tahun yang mentalnya tidak stabil melakukan serangan dengan pisau di dalam kereta regional di wilayah selatan, menyebabkan satu orang tewas dan tiga lainnya luka-luka. Polisi mengatakan tidak ada bukti yang mengarah pada motif agama. Lelaki itu kemudian ditahan di rumah sakit jiwa.

Bulan Februari 2016 sebelumnya, gadis berusia 15 tahun yang berasal dari Turki menikam leher seorang polisi di dapur di stasiun kereta Hannover. Jaksa mengungkapkan, serangan itu terinspirasi NIIS.

Pada April 2016, polisi Jerman menangkap dua orang berusia 16 tahun yang meledakkan sebuah kuil Sikh di kota Essen, sebelah barat Jerman. Dalam insiden itu, tiga orang luka-luka.

Salahkan kebijakan Merkel

Serangan di Wuerzburg itu, menurut The Wall Street Journal, menambah “bahan bakar” dalam perdebatan sengit di seluruh Eropa tentang imigran dan bagaimana merespons gelombang orang dari Timur Tengah, Afrika, dan tempat lain yang mencari tempat perlindungan di daratan Eropa.

Pada 2015 lalu, Jerman mencatat rekor dalam menerima jumlah pengungsi dan pencari suaka sebanyak 1,1 juta jiwa. Jumlah pencari suaka terbanyak berasal dari Suriah, disusul dari Afganistan dan Irak. Mereka melarikan diri dari negara mereka yang dilanda perang dan terjerat kemiskinan, sebagian besar masuk ke Jerman tanpa identitas.

Namun, jumlah pengungsi yang tiba di Jerman menurun tajam akibat penutupan rute migrasi negara-negara Balkan dan kesepakatan Uni Eropa dengan Turki untuk membendung arus pengungsi.

Bavaria yang dipimpin partai Uni Sosial Kristen (CSU), yang masih “bersaudara” dengan partai konservatif Demokrat Kristen Kanselir Angela Merkel, bersuara keras dan kritis terhadap kebijakan Merkel yang terlalu terbuka menerima pencari suaka.

Akibatnya, perpecahan mengancam persatuan koalisi partai yang berkuasa di Berlin. Situasi politik ini memberi angin bagi partai populis sayap kanan, Alternatif untuk Jerman, yang didirikan tahun 2013 dan kini menyoroti membanjirnya pengungsi ke Jerman.

Popularitas Merkel sempat pulih kembali. Namun, serangan di dalam kereta di Wuerzburg bisa jadi menghidupkan kembali ketegangan politik di Jerman dan memberi tekanan politik kepada Merkel.

Seorang pemimpin partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang antiimigran seperti dikutip Reuters mengatakan, Merkel dan para pendukungnya harus disalahkan atas situasi keamanan berbahaya di Jerman karena kebijakan yang membuka diri dan membawa terlalu banyak anak muda yang tidak berpendidikan dan radikal ke Jerman.

Partai ini kini didengar dan merebut kemenangan di sejumlah pemilihan umum daerah di Jerman setelah menggunakan isu terorisme dan pelecehan seksual oleh kaum migran pada malam tahun baru di Koeln untuk membuktikan bahwa kebijakan Merkel telah membahayakan negara.

Dua pelaku teror Paris November 2015, misalnya, masuk ke Eropa bersama-sama ribuan pengungsi lain.

Jika motif serangan Wuerzburg terkonfirmasi terkait kaum radikal, insiden di Bavaria itu menjadi serangan paling signifikan yang terjadi di Jerman sejak seorang warga Kosovo bersenjata api membunuh dua tentara Amerika Serikat di dalam bus militer yang diparkir di luar Terminal 2 Bandara Frankfurt, Jerman, Maret 2011 silam.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: KOLOM, KOMPASPRINT.COM, SELASA 19 JULI 2016

Iklan