Arsip Tag: Francois Hollande

Serangan Simbolik di Normandia


ROBERT ADHI KSP

Saint-Etienne-du-Rouvray, Selasa, 26 Juli 2016. Pastor Jacques Hamel yang berusia 84 tahun memimpin misa pagi di Gereja Gambetta di kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray, yang masuk wilayah Keuskupan Rouen di wilayah Normandia, sebelah utara Perancis. Saat misa berlangsung, tiba-tiba pada pukul 09.43 waktu setempat, dua lelaki tak dikenal bersenjata pisau memasuki gereja tua itu dari pintu belakang.

Misa terhenti. Kedua lelaki ini lalu menyandera Pastor Jacques Hamel, dua biarawati, dan dua umat yang hadir dalam misa itu. Teriakan histeris terdengar di dalam gereja.

”Dua lelaki itu memaksa pastor Hamel berlutut. Pastor Hamel berusaha membela diri. Saat itulah lelaki itu meneriakkan kata-kata dalam bahasa Arab dan menikam leher imam Katolik itu,” kata Suster Danielle, biarawati yang lolos dari penyanderaan. Lelaki lainnya menikam leher seorang umat yang kondisinya kini antara hidup dan mati. ”Mereka merekam aksi mereka sendiri. Mereka berkhotbah dalam bahasa Arab di sekitar altar. Sungguh mengerikan,” ujar Suster Danielle kepada TV Perancis, BFM.

Suster Danielle yang melarikan diri dari gereja itu membunyikan alarm tanda bahaya. Dalam waktu 20 menit, dua brigade polisi antiteror Perancis yang mengenakan rompi antipeluru dan bersenjata lengkap tiba di lokasi kejadian.

Seorang warga setempat yang sedang berjalan dan bermaksud berbelanja dihentikan polisi dan diminta untuk kembali ke rumah. Kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray berjarak tempuh 1,5 jam dengan mobil dari kota Paris.

”Pasukan antiteror menembak mati dua teroris tersebut,” kata pejabat Kementerian Dalam Negeri Perancis kepada BFM.

Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia Paus Fransiskus mengekspresikan ”rasa sakitnya” akibat serangan teroris yang menewaskan seorang imam Katolik dan melukai tiga orang lainnya dalam penyanderaan di dalam gereja. Paus sedang berada di Polandia menghadiri Hari Kaum Muda Sedunia bersama dua juta anak muda Katolik dari seluruh dunia.

Lanjutkan membaca Serangan Simbolik di Normandia

Iklan

Malam Berdarah di Kota Nice


ROBERT ADHI KSP

ERIC Drattel dan istrinya sedang menikmati wine di sebuah restoran di kawasan Promenade des Anglais di Nice, kota di tepi Laut Mediterania di selatan Perancis. Pasangan dari Amerika Serikat itu memperpanjang waktu liburan mereka di Perancis setelah menyaksikan final sepakbola Piala Eropa (Euro) di Paris, beberapa hari sebelumnya.

 

nice 03 KSP
Suasana Promenade des Anglais di kota Nice, Perancis selatan pada saat damai. Foto diambil 28 Juni 2015. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Kembang api warna-warni menghiasi langit Nice. Ribuan warga kota bercampur-baur dengan wisatawan mancanegara menikmati suasana perayaan Hari Bastille atau Revolusi Perancis, Kamis 14 Juli 2016.

Setelah dentuman suara kembang api selesai, ribuan orang tumpah ke jalan. Tak berapa lama, terdengar teriakan bernada panik di Promenade des Anglais yang penuh dengan lautan manusia. “Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara tangis dari orang-orang yang berada di jalan, yang berlarian masuk ke area restoran,” ungkap Eric kepada CNN. Dia melihat arlojinya, pukul 22.45 waktu Nice.

“Ketika pertunjukan kembang api berakhir, kami berjalan menuju Promenade des Anglais. Lalu kami mendengar suara tembakan. Kami berlari ke arah jalan lain dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami berpikir itu suara kembang api dari lokasi lain. Kami berlari karena kami melihat banyak orang di dekat kami juga berlari,” ungkap Celia Delcourt (20), warga kota Nice.

Warga Inggris Kevin Harris berada di teras hotel lantai tiga ketika kerumunan orang di jalan menyaksikan pesta kembang api. Harris lalu kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Satu menit kemudian, dia mendengar suara tembakan. Dia keluar ke balkon dan menyaksikan banyak orang bergelimpangan di jalan. “Jumlahnya mungkin dua puluh orang. Saya baru tersadar, ini serangan teroris,” kata Harris.

Saat itu, tak disangka-sangka, sebuah truk melaju dan dikendarai seorang lelaki secara zig-zag di kawasan itu, menyambar puluhan orang di depannya. Beberapa di antara yang ditabrak truk, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ke jalan.

Lebih 100-an orang berlari dan melompat ke bawah dari tepi jalan menuju area pantai, untuk menghindari truk tersebut.

Sekitar pukul 22.45 waktu Nice, menurut The New York Times, truk itu berbelok ke jalan utama dari tepi jalan kecil di sisi rumah sakit anak-anak. Truk itu melaju kencang, menabrak seorang perempuan muslim dan seorang lelaki tak dikenal. Keduanya korban pertama truk tersebut. Setelah menyetir sekitar 700 meter,  setelah melewati restoran Florida Beach di tepi pantai, di depan Centre Universitaire Mediterraneen, truk itu menyambar pejalan kaki lagi. Terdapat tujuh jenazah yang terekam di area ini.

Menjelang pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Honore Sauvan, truk itu mulai menabrak kerumunan massa, ungkap seorang saksi mata di restoran Voilier Plage, yang lokasinya di tepi pantai. Di area sekitar restoran itu, terlihat 10 jenazah yang terekam. Truk itu terus melaju melewati restoran Hi Beach dan Neptune Plage di tepi pantai.

Truk itu melaju selama hampir 30 menit, berkecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam sepanjang hampir dua kilometer, melindas semua yang ada di depannya, termasuk pohon palem, lampu jalanan, dan sepeda.

Persis di pertigaan di depan Hotel Le Negresco, pengemudi truk mulai melepas tembakan ke arah tiga polisi yang mengejarnya. Polisi-polisi itu membalas tembakan. Di seberang Hotel West End, dari rekaman video hotel terlihat truk itu mulai bergeser dari tempat pejalan kaki menuju jalan.

Di depan Westminster Hotel & Spa, anggota polisi masih menembaki truk tersebut. Di titik ini, di pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Meyerbeer di samping Hotel Wesminster, setelah melaju sejauh 1,8 kilometer, pengemudi mempercepat truk itu. Di jalur ini, sedikitnya 20 orang tewas atau terluka.

Polisi-polisi yang mengepungnya dari semua sisi, membalas tembakan itu. Polisi akhirnya menembak mati pengemudi truk itu di depan Casino Du Palais De La Mediterranee, sebelum pertigaan Rue Du Congress. Kepala pengemudi truk tampak menggantung di luar jendela truk.

Polisi masih melepaskan tembakan ke arahnya karena belum yakin pengemudi truk itu sudah tewas. Polisi juga melepaskan tembakan berkali-kali ke semua sisi truk itu karena khawatir pengemudi itu tidak sendirian. Polisi kemudian hati-hati masuk ke dalam truk. Mereka menemukan berbagai jenis senjata dan granat palsu di truk itu, namun tidak menemukan orang lain.

Lanjutkan membaca Malam Berdarah di Kota Nice

Pembunuhan Jurnalis Perancis dan Krisis di Mali


Mali

ROBERT ADHI KSP

Dua jurnalis Perancis yang bekerja di Radio France Internationale dibunuh setelah sebelumnya diculik di kota Kidal, sebelah utara Mali, negara di Afrika barat, Sabtu (2/11). Pembunuhan atas pewarta radio ini merupakan salah satu ekses konflik etnis dan krisis politik berkepanjangan di Mali.

Pembunuhan terhadap dua jurnalis Perancis ini menambah angka tewasnya jurnalis dalam tugas di seluruh dunia. Sepanjang 2013 sudah 42 wartawan terbunuh saat bertugas.

Lanjutkan membaca Pembunuhan Jurnalis Perancis dan Krisis di Mali

AS Sadap Telepon dan “E-mail”


Gambar

ROBERT ADHI KSP

HARI-hari ini Amerika Serikat menuai protes dari sekutu-sekutunya. Para pemimpin negara Perancis, Jerman, Brasil, dan Meksiko menyampaikan protes atas praktik-praktik intelijen yang dilakukan Amerika, salah satunya dengan menyadap telepon pemimpin negara.
 

Kasus terakhir, hari Rabu (23/10), Kanselir Jerman Angela Merkel menelepon Presiden Amerika Serikat Barack Obama setelah menerima informasi bahwa Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (National Security Agency/NSA) menyadap telepon selulernya.Juru bicara Merkel menyebutkan, ”Pemimpin Jerman tak bisa menerima praktik-praktik semacam ini.” Merkel meminta para pejabat AS melakukan klarifikasi sejauh mana pengawasan mereka di Jerman. (Merkel’s call to Obama: are you bugging my phone, The Guardian, 23 Oktober 2013).

Lanjutkan membaca AS Sadap Telepon dan “E-mail”