Arsip Tag: Google

Tukang Sayur Bisa Beriklan Gratis di Google Bisnisku


Dari 50 juta usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia, baru satu sampai dua persen yang sudah online. Banyak UKM yang belum melek digital dan belum tahu manfaat digital. Padahal, UKM yang sudah online mengalami percepatan bisnis sampai 80 persen.

John Harding, Vice President of YouTube Engineering, Google.
John Harding, Vice President of YouTube Engineering – Google. FOTO: ARSIP GOOGLE

 

Google menawarkan sejumlah produk mereka untuk membantu jutaan UKM Indonesia berkembang, salah satunya lewat Google Bisnisku. Ini merupakan platform sederhana, yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang membutuhkannya tanpa mengeluarkan biaya.

Platform ini tidak hanya cocok untuk pengusaha kafe dan restoran, tetapi juga bagi tukang kunci dan tukang leding, juga pedagang kaki lima, pedagang warteg, pedagang sayur. Mereka dapat mengiklankan diri melalui produk Google yang gratis tersebut.

“Anda tinggal mendaftarkan diri di Google Bisnisku. Masukkan alamat, peta, foto usaha, dan cantumkan nomor telepon agar bisnis mereka mudah dicari pelanggan dan konsumen. Bila kode verifikasi 6 angka sudah aktif, Google Bisnisku sudah dapat berfungsi,” kata Jason Tedjasukmana, Head of Corporate Communication Google Indonesia, dalam percakapan dengan Kompas, pertengahan Agustus lalu.

Bila bisnis UKM mulai berkembang, pemilik UKM dapat beriklan onlineberbayar di Google Adwork Express. Ini cocok untuk UKM yang biaya promosi dan pemasarannya terbatas, misalnya Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per bulan. Dalam 10 menit, pemilik UKM sudah beriklan online. Mereka bisa memilih kata kunci, butuh berapa pelanggan, difokuskan di wilayah mana. Semua sudah dihitung secara otomatis. Pengelola UKM tinggal memasukkan nomor kartu kredit ataupun melakukan transfer bank sebagai cara membayar Google Adwork Express.

Bila cara promosi dan beriklan melalui Adwork Express sudah tepat dan nyaman, Google menawarkan bagi UKM yang sudah mapan, yaitu Google Adwork dengan jangkauan yang lebih luas.

Youtube

Google memberikan ruang seluas-luasnya kepada anak muda Indonesia untuk menyalurkan kreativitas mereka melalui Youtube secara gratis. Google juga mengajak para kreator Youtube di Indonesia untuk memonetisasi konten mereka. Ini satu-satunya platform yang memberikan kesempatan kepada pemilik kanal untuk mencari uang lewat kanal mereka sendiri.

“Tapi yang penting idenya. Jangan memikirkan duitnya dulu.

Kalau idenya bagus pasti akan diperhatikan banyak orang. Dan, bila ide ini sudah diterima dengan baik, konten yang diunggah ke Youtube harus dilakukan secara konsisten. Kalau Anda menjanjikan bikin satu video per minggu pada hari Jumat, misalnya itu harus ditepati agar penonton tidak kecewa. Mereka akan menunggu video terbaru setiap Jumat,” kata Jason.

Penonton Youtube di Indonesia tumbuh 130 persen year on year akhir tahun 2015, sedangkan jumlah video yang diunggah dari Indonesia meningkat 600 persen.

Namun, belum banyak orang Indonesia yang memanfaatkan Youtube secara maksimal. Sampai saat ini, baru ada satu orang Indonesia yang memiliki satu juta subscribers (pelanggan/penonton) di kanal Youtube-nya, yaitu Raditya Dika. Adapun yang memiliki lebih dari 100.000 pelanggan baru 40 orang, dan yang memiliki lebih 10.000 pelanggan sekitar 100 orang. Angka-angka ini menunjukkan betapa program Youtube belum digarap maksimal.

Saat ini kreator Youtube di Indonesia tak hanya terpusat di Jakarta, tetapi juga di luar Ibu Kota. Beberapa nama yang meraih sukses besar adalah Bayu Skak (Malang), Ini Vindy (Surabaya), dan Wibawa Brothers (Medan).

Sejak akhir 2015, Youtube meluncurkan program “YouTube Broadcast Box”. Google membawa studio mini bertaraf profesional bersama tim ahli Youtube untuk bertemu tim kreator di Surabaya, Medan, dan Makassar, setelah melihat tingginya antusiasme di kota-kota itu.

“Melalui video, kita bisa berbagi semangat Indonesia dengan seluruh dunia. Video bukan cuma tentang hiburan. Kami telah melihat banyak orang, terutama di Indonesia, Youtube digunakan untuk belajar hal-hal baru, menonton berita, mengedukasi anak, dan mendokumentasikan hidup mereka,” kata John Harding, Vice President Engineering for Emerging Experiences, YouTube dalam acara “Google for Indonesia”, 9 Agustus lalu.

Google kini memang merambah Indonesia. Semua produk dan fitur Google disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Mari manfaatkan produk-produk gratis Google untuk kepentingan dan perkembangan UKM danstart up. (KSP)

SUMBER: GAWAI, HARIAN KOMPAS, SELASA 6 SEPTEMBER 2016

Iklan

Google, Usaha Rintisan, dan UKM Indonesia


ROBERT ADHI KSP

Diajeng Lestari Soekotjo (30), Founder dan CEO Hijup.com, melihat potensi dan peluang bisnis busana muslim Indonesia begitu besar. Pengalamannya sebagai marketing researcher menunjukkan betapa para desainer busana muslimah bermunculan. Namun, mereka umumnya berjualan dari bazar ke bazar, juga melalui media sosial.

Ben Galbraith (Vice President Developer Product Group Google) dan Erica Hanson (Program Manager Developer Relations Google) bersama enam usaha rintisan Launchpad Accelerator Class 2, yakni Hijup, CodaShop, Talenta, RuangGuru.com, IDN Media, dan Jarvis Store.
Ben Galbraith (VP Developer Product Group Google) dan Erica Hanson (Program Manager Developer Relations Google) bersama enam pendiri usaha rintisan yang mengikuti Launchpad Accelerator Class 2, yaitu Hijup, CodaShop, Talenta, RuangGuru, IDN Media, dan Jarvis Store. FOTO: ARSIP GOOGLE

 

”Sebelumnya saya kesulitan menemukan busana muslimah yang fashionable untuk penampilan saya. Jadwal saya padat dan saya tak punya waktu mencarinya ke mal. Saya menganggap datang ke mal, memilih-milih busana, hanya buang waktu dan buang energi,” ungkap Diajeng dalam percakapan dengan Kompas, pekan pertama Agustus lalu.

Setelah mendapat dukungan dari suaminya, Achmad Zaky (Founder dan CEO Bukalapak), pada 1 Agustus 2011, Diajeng mendirikan usaha rintisan (start up) Hijup. Kata ”hijup” kependekan dari ’hijab up’ (seperti kata-kata make up atau dress up). Platform e-dagang ini memfokuskan pada busana perempuan muslimah.

”Saya bilang kepada suami saya, Achmad Zaki, yang sudah lebih dulu membuka bisnis online Bukalapak, bahwa saya mau membuka bisnis online khusus busana muslimah. Mas Zaky sangat mendukung. Kami memulai usaha ini dengan berbagi kantor bersama Bukalapak sehingga biaya tidak besar. Ruangan kantor Hijup awalnya hanya 2 meter x 3 meter, diisi dua pegawai, yaitu admin media sosial dan admin gudang,” ungkap Diajeng.

Dia membuka usahanya bertepatan pada masa Ramadhan sehingga momentumnya tepat. Pesanan busana muslimah sangat banyak. Nama Hijup pun melesat sebagai usaha rintisan baru yang berkembang pesat. Hijup menjadi islamic fashion e-commerce pertama di dunia yang didirikan dengan konsep online. Hijup menyediakan berbagai macam produk terbaik karya desainer busana muslimah Indonesia, mulai dari kerudung hingga aksesori. Hijup berperan sebagai perantara antara para desainer dan calon pembeli di seluruh dunia.

Melalui Hijup, para desainer meningkatkan keuntungan secara lebih efisien, sedangkan calon pembeli lebih mudah mencari produk yang dibutuhkan.

Sarjana FISIP Universitas Indonesia ini optimistis pasar bisnis online di Indonesia berkembang. Mengutip prediksi McKinsey Global Institute, pada 2020, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 85 juta dan meningkat pesat pada 2030 menjadi 135 juta. Ini potensi terbesar bisnis online. Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN, pemain dari luar negeri berbondong-bondong masuk ke pasar Indonesia.

”Agar mampu berkompetisi, orang Indonesia harus mengubah paradigma dari konsumen menjadi produsen. Sangat penting bagi kita untuk tidak sekadar men-deliver produk, tetapi juga brand value. Kami harus melakukan diferensiasi produk,” paparnya.

”Bukan sekadar baju bagus, tetapi juga inspirasi. Kami memiliki banyak konten positif di berbagai platform media sosial, seperti Youtube dan Instagram. Kami menemani mereka dengan cara memberi inspirasi, bukan sekadar menjajakan baju,” lanjut Diajeng.

”Saya yakin, ketika perempuan aktif, perempuan memberikan kekuatan dua kali lipat untuk kemajuan Indonesia. Dengan teknologi, perempuan mampu mengakselerasi ekonomi,” ungkapnya.

Diajeng termasuk salah satu orang muda Indonesia pendiri usaha rintisan yang mengikuti program Google Developers Launchpad Accelerator. Program ini ditujukan untuk usaha rintisan yang sedikit lebih mapan supaya bisa belajar langsung dari ahlinya di bidang user interface, user experience, marketing, untuk menyempurnakan produk, aplikasi, game yang berkaitan dengan bisnis mereka.

”Kami mendapatkan insight yang bermanfaat dari mentor-mentor Google yang berpengalaman lebih dari 20 tahun, mulai dari mengerjakan bisnis, studi kelayakan, membangun start up. Temanya banyak dan sangat mudah diterapkan,” katanya.

Menurut Diajeng, setelah dua minggu ikut acara di markas Google di Mountain View, California, Amerika Serikat, para peserta diberi objective key result yang dapat dipantau setiap minggu. ”Gunanya untuk mengetahui perkembangan usaha, bagaimana kami mengimplementasikan apa yang didapat selama di sana, dan perkembangan start up kami,” jelasnya.

Pada akhirnya, seorang mentor mengatakan, ”Kalian maju bukan karena mentor, melainkan karena diri kalian sendiri, with or without mentor, kalian bisa lebih baik. Jadi kuncinya bukan pada mentor, bukan pada apa yang kami pelajari, tetapi bagaimana peserta mengimplementasikan yang telah dipelajari.”

Lanjutkan membaca Google, Usaha Rintisan, dan UKM Indonesia

Yahoo, Akhir Tragis Raja Internet Era 1990-an


ROBERT ADHI KSP

Pada era 1990-an, Yahoo dikenal sebagai raja internet yang bernilai 125 miliar dollar AS. Namun, hanya dalam dua dekade sejak didirikan, Yahoo, pionir mesin pencari dan portal web yang berpengaruh yang kemudian berubah menjadi brand yang kehilangan arah, hari Senin (25/7/2016) secara resmi diakuisisi oleh Verizon, raksasa perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat, dengan nilai (hanya) 4,83 miliar dollar AS. Inilah akhir yang ironis dan tragis bagi Yahoo.

Ketika didirikan Jerry Yang dan David Filo, mahasiswa Universitas Stanford, pada 1994, Yahoo yang sering dijuluki sebagai “panduan Jerry masuk ke World Wide Web” itu tumbuh dengan sangat cepat. Jutaan orang Amerika yang menyalakan koneksi internet dial-up membutuhkan Yahoo sebagai home page yang mengarahkan ke semua destinasi.

Yahoo sangat populer dan menjadi portal yang digunakan ratusan juta orang untuk mencari berita tentang apa pun dan informasi tentang cuaca. Pengguna internet memanfaatkan mesin pencari Yahoo, surat elektronik Yahoo (Yahoo Mail), pesan singkat Yahoo (Yahoo Messenger), dan Flickr (dokumentasi foto). Semua produk Yahoo menjadi tren dunia pada masa itu dan sukses mengubah dunia.

Pada 1996, ketika Yahoo go public dan gelembung (bubble) dotcom mencapai puncaknya, nilai Yahoo 500 dollar AS per saham. Pada puncak kejayaannya, Yahoo menghabiskan 4,5 miliar dollar AS untuk membeli Geocities dan mengeluarkan 5,7 miliar dollar AS untuk membeli broadcast.com.

Namun, Yahoo tampaknya “menikmati zona nyaman” dan lupa berinovasi. Yahoo membiarkan setiap gelombang teknologi baru muncul dalam mesin pencari, media sosial, dan dunia bergerak (mobile) dan abai mengikuti perubahan keinginan pengguna internet.

Saat itu Yahoo menyia-nyiakan kesempatan membeli Google dan Facebook ketika keduanya masih “bayi”. Dan Yahoo tetaplah sama dengan Yahoo satu dekade sebelumnya saat didirikan, hanya sekadar portal. Yahoo, menurut Forbes, saat itu masih percaya diri dengan kebesaran namanya dan tetap menawarkan mesin pencari sendiri. Faktanya, Yahoo kini hanya menguasai sebagian kecil pangsa pengguna mesin pencari.

Suka tidak suka, sejak kehadiran Google tahun 1998 dan kemudian Facebook tahun 2004, ketenaran Yahoo secara perlahan mulai meredup. Dan ketika perhatian dunia beralih ke aplikasi ponsel cerdas, keuntungan Yahoo di dunia desktop mulai berkurang.

Marissa Mayer, mantan eksekutif Google yang dipercaya untuk menjabat CEO Yahoo sejak 2012, berupaya menakhodai “kapal” Yahoo yang mulai oleng. Namun, masa jabatan Mayer dirusak oleh kebingungannya menerapkan strategi dan salah urus. Mayer tahun 2013 malah membeli jejaring sosial dan microblogging Tumblr, yang dibuat bukan untuk berkompetisi dengan Facebook.

Pendapatan Yahoo makin berkurang setelah Apple mengeluarkan produk iPhone generasi pertama pada 2007. Pengguna portal Yahoo menurun karena banyak yang lebih tertarik dengan aplikasi di ponsel cerdas dan website yang lebih relevan.

Satu hal yang membuat Yahoo tetap bertahan adalah risiko yang diambil Jerry Yang ketika dia membeli 40 persen saham Alibaba senilai 1 miliar dollar AS. Alibaba kemudian menjadi raja e-commerce Tiongkok. Yahoo menjual 25 persen saham lainnya dan tersisa 15 persen. Saat ini saham Yahoo di Alibaba masih bernilai 31,2 miliar dollar AS.

Akuisisi yang dilakukan Verizon tidak termasuk 15 persen saham Yahoo di perusahaan raksasa e-commerce Tiongkok Alibaba dan juga 34 persen saham di Yahoo Jepang yang bernilai 8,3 miliar dollar AS. Portofolio paten Yahoo yang bernilai 1 miliar dollar AS juga bukan bagian dari penjualan.

Setelah bertahun-tahun menghadapi kekacauan, pada Februari 2016, Yahoo secara resmi mengumumkan menawarkan diri kepada investor untuk diakuisisi. Meski cukup banyak investor yang berminat membeli Yahoo, akhirnya Verizon yang terpilih. Verizon, raksasa perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat itu, telah berinvestasi dalam konten digital dan periklanan dalam beberapa tahun terakhir ini dengan membeli AOL dan The Huffington Post.

Akuisisi Yahoo oleh Verizon mengakhiri sejarah 21 tahun Yahoo sebagai perusahaan independen.

Digabung dengan AOL

Verizon mengakuisisi AOL pada 2015 dengan nilai 4,4 miliar dollar AS untuk meningkatkan bisnis periklanan dan media. Verizon tetap menjadi raksasa perusahaan telekomunikasi. Namun, akuisisi AOL dan kini Yahoo menunjukkan bahwa Verizon menginginkan diversifikasi operasi dan pendapatan.

“Akuisisi Yahoo terjadi hanya dalam satu tahun sejak kami mengakuisisi AOL. Langkah ini untuk meningkatkan strategi kami dalam penyediaan koneksi lintas layar bagi konsumen, kreator, dan pengiklan,” kata Chairman dan CEO Verizon Lowell McAdam dalam pernyataannya, Senin 25 Juli. “Akuisisi Yahoo ini akan menempatkan Verizon pada posisi yang sangat kompetitif sebagai perusahaan media mobile global yang top dan akuisisi Yahoo ini akan membantu mempercepat aliran pendapatan kami dalam iklan digital,” ungkap McAdam.

Lanjutkan membaca Yahoo, Akhir Tragis Raja Internet Era 1990-an

Internet Menjangkau Pelosok Nusantara, Mengapa Tidak?


 

InternetNusantara

ROBERT ADHI KSP

Bayangkan apabila jaringan internet menjangkau seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosok desa. Petani di pegunungan dan nelayan di pesisir menjual hasil kebun dan ikan mereka melalui transaksi ”online” dengan harga bersaing. Pelajar di pelosok desa tidak lagi ”buta” ilmu pengetahuan dan teknologi karena dapat belajar jarak jauh. Pemilu tingkat kabupaten, kota, dan provinsi, serta pemilu presiden dilakukan melalui ”e-vote”.

Impian itu tampaknya bakal terwujud. Pekan lalu, Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung mengeluarkan pernyataan bahwa Pemerintah Indonesia menyusun rencana induk jangka menengah-panjang pengembangan broadband di Indonesia agar jaringan internet masuk ke pelosok desa.

Jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2013, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), mencapai 71,19 juta atau naik sekitar 12 persen dibandingkan dengan tahun 2012 (sekitar 63 juta). Penetrasi internet di Indonesia saat ini 28 persen dari jumlah penduduk Indonesia 248 juta.

Data Internet World Stats menunjukkan, apabila dibandingkan dengan negara-negara yang berpenduduk di atas 100 juta jiwa, penetrasi internet di Indonesia masih relatif rendah. Penetrasi internet Tiongkok 40,1 persen (dari 1,3 miliar penduduk), Amerika Serikat 78,1 persen (dari 313,8 juta penduduk), Brasil 45,6 persen (dari 193,9 juta penduduk), Jepang 79,5 persen (dari 127,3 juta penduduk), Meksiko 36,5 persen (dari 114,9 juta penduduk), dan Filipina 32,4 persen (dari 103,7 juta penduduk).

Namun, penetrasi internet di Indonesia masih lebih baik dibandingkan India 11,4 persen (dari 1,2 miliar penduduk), Pakistan 15,3 persen (dari 190,2 juta penduduk), dan Banglades 5 persen (dari 161 juta penduduk).

Ini lompatan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2000. Pada waktu itu, jumlah pengguna internet di Indonesia 2 juta orang. Dalam waktu dua windu, situasi sudah berubah drastis.

Lanjutkan membaca Internet Menjangkau Pelosok Nusantara, Mengapa Tidak?

Menikmati Malam di Shilin Night Market di Taipei


Shilin
ROBERT ADHI KSP

Di Taiwan, pasar malam (”night market”) bertebaran. Pasar malam terbesar di Taiwan adalah Shilin Night Market yang menjadi destinasi paling populer bagi warga Taipei dan wisatawan mancanegara yang memburu suvenir dan menikmati hidangan khas Taiwan.

Lanjutkan membaca Menikmati Malam di Shilin Night Market di Taipei

Era Baru Kebebasan Informasi di China


era baru china

ROBERT ADHI KSP 

 

Pemerintah China akan membuka akses Twitter dan Facebook serta akses situs-situs lainnya yang sebelumnya dilarang di Shanghai. Langkah ini untuk mendukung kebijakan zona perdagangan bebas yang dijadwalkan berlaku mulai hari Minggu 29 September 2013.

Lanjutkan membaca Era Baru Kebebasan Informasi di China