Yahoo, Akhir Tragis Raja Internet Era 1990-an


ROBERT ADHI KSP

Pada era 1990-an, Yahoo dikenal sebagai raja internet yang bernilai 125 miliar dollar AS. Namun, hanya dalam dua dekade sejak didirikan, Yahoo, pionir mesin pencari dan portal web yang berpengaruh yang kemudian berubah menjadi brand yang kehilangan arah, hari Senin (25/7/2016) secara resmi diakuisisi oleh Verizon, raksasa perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat, dengan nilai (hanya) 4,83 miliar dollar AS. Inilah akhir yang ironis dan tragis bagi Yahoo.

Ketika didirikan Jerry Yang dan David Filo, mahasiswa Universitas Stanford, pada 1994, Yahoo yang sering dijuluki sebagai “panduan Jerry masuk ke World Wide Web” itu tumbuh dengan sangat cepat. Jutaan orang Amerika yang menyalakan koneksi internet dial-up membutuhkan Yahoo sebagai home page yang mengarahkan ke semua destinasi.

Yahoo sangat populer dan menjadi portal yang digunakan ratusan juta orang untuk mencari berita tentang apa pun dan informasi tentang cuaca. Pengguna internet memanfaatkan mesin pencari Yahoo, surat elektronik Yahoo (Yahoo Mail), pesan singkat Yahoo (Yahoo Messenger), dan Flickr (dokumentasi foto). Semua produk Yahoo menjadi tren dunia pada masa itu dan sukses mengubah dunia.

Pada 1996, ketika Yahoo go public dan gelembung (bubble) dotcom mencapai puncaknya, nilai Yahoo 500 dollar AS per saham. Pada puncak kejayaannya, Yahoo menghabiskan 4,5 miliar dollar AS untuk membeli Geocities dan mengeluarkan 5,7 miliar dollar AS untuk membeli broadcast.com.

Namun, Yahoo tampaknya “menikmati zona nyaman” dan lupa berinovasi. Yahoo membiarkan setiap gelombang teknologi baru muncul dalam mesin pencari, media sosial, dan dunia bergerak (mobile) dan abai mengikuti perubahan keinginan pengguna internet.

Saat itu Yahoo menyia-nyiakan kesempatan membeli Google dan Facebook ketika keduanya masih “bayi”. Dan Yahoo tetaplah sama dengan Yahoo satu dekade sebelumnya saat didirikan, hanya sekadar portal. Yahoo, menurut Forbes, saat itu masih percaya diri dengan kebesaran namanya dan tetap menawarkan mesin pencari sendiri. Faktanya, Yahoo kini hanya menguasai sebagian kecil pangsa pengguna mesin pencari.

Suka tidak suka, sejak kehadiran Google tahun 1998 dan kemudian Facebook tahun 2004, ketenaran Yahoo secara perlahan mulai meredup. Dan ketika perhatian dunia beralih ke aplikasi ponsel cerdas, keuntungan Yahoo di dunia desktop mulai berkurang.

Marissa Mayer, mantan eksekutif Google yang dipercaya untuk menjabat CEO Yahoo sejak 2012, berupaya menakhodai “kapal” Yahoo yang mulai oleng. Namun, masa jabatan Mayer dirusak oleh kebingungannya menerapkan strategi dan salah urus. Mayer tahun 2013 malah membeli jejaring sosial dan microblogging Tumblr, yang dibuat bukan untuk berkompetisi dengan Facebook.

Pendapatan Yahoo makin berkurang setelah Apple mengeluarkan produk iPhone generasi pertama pada 2007. Pengguna portal Yahoo menurun karena banyak yang lebih tertarik dengan aplikasi di ponsel cerdas dan website yang lebih relevan.

Satu hal yang membuat Yahoo tetap bertahan adalah risiko yang diambil Jerry Yang ketika dia membeli 40 persen saham Alibaba senilai 1 miliar dollar AS. Alibaba kemudian menjadi raja e-commerce Tiongkok. Yahoo menjual 25 persen saham lainnya dan tersisa 15 persen. Saat ini saham Yahoo di Alibaba masih bernilai 31,2 miliar dollar AS.

Akuisisi yang dilakukan Verizon tidak termasuk 15 persen saham Yahoo di perusahaan raksasa e-commerce Tiongkok Alibaba dan juga 34 persen saham di Yahoo Jepang yang bernilai 8,3 miliar dollar AS. Portofolio paten Yahoo yang bernilai 1 miliar dollar AS juga bukan bagian dari penjualan.

Setelah bertahun-tahun menghadapi kekacauan, pada Februari 2016, Yahoo secara resmi mengumumkan menawarkan diri kepada investor untuk diakuisisi. Meski cukup banyak investor yang berminat membeli Yahoo, akhirnya Verizon yang terpilih. Verizon, raksasa perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat itu, telah berinvestasi dalam konten digital dan periklanan dalam beberapa tahun terakhir ini dengan membeli AOL dan The Huffington Post.

Akuisisi Yahoo oleh Verizon mengakhiri sejarah 21 tahun Yahoo sebagai perusahaan independen.

Digabung dengan AOL

Verizon mengakuisisi AOL pada 2015 dengan nilai 4,4 miliar dollar AS untuk meningkatkan bisnis periklanan dan media. Verizon tetap menjadi raksasa perusahaan telekomunikasi. Namun, akuisisi AOL dan kini Yahoo menunjukkan bahwa Verizon menginginkan diversifikasi operasi dan pendapatan.

“Akuisisi Yahoo terjadi hanya dalam satu tahun sejak kami mengakuisisi AOL. Langkah ini untuk meningkatkan strategi kami dalam penyediaan koneksi lintas layar bagi konsumen, kreator, dan pengiklan,” kata Chairman dan CEO Verizon Lowell McAdam dalam pernyataannya, Senin 25 Juli. “Akuisisi Yahoo ini akan menempatkan Verizon pada posisi yang sangat kompetitif sebagai perusahaan media mobile global yang top dan akuisisi Yahoo ini akan membantu mempercepat aliran pendapatan kami dalam iklan digital,” ungkap McAdam.

Yahoo dan Verizon tidak berkomentar siapa yang akan memimpin Yahoo ke depan setelah akuisisi ini rampung. Tidak jelas apa yang akan dilakukan Mayer setelah kesepakatan rampung. Juru bicara Yahoo seperti dikutip CNN Money mengatakan, terlalu awal untuk mengatakan apakah Marissa Mayer akan tetap menjabat CEO, menerima peran baru di Verizon, atau mundur.

CEO Yahoo Marissa Mayer dalam surat elektroniknya kepada para staf Yahoo menulis, “Yahoo adalah perusahaan yang mengubah dunia, dan akan melanjutkan apa yang dilakukan, melalui kombinasi dengan Verizon dan AOL.”

Mayer mengatakan berencana untuk tetap bersama Yahoo karena dia mencintai Yahoo dan dia percaya dengan semua karyawan Yahoo. “Sangat penting bagi saya untuk menyaksikan Yahoo masuk ke babak berikutnya,” ungkap Mayer.

Situs TechCrunch yang dimiliki Verizon menulis, Yahoo akan diintegrasikan dengan AOL, dan Marni Walden, Executive Vice President (EVP) dan Presiden Verizon di bidang Inovasi Produk dan Bisnis Baru, akan memimpin proses integrasi ini, bukan Marissa Mayer.

Markas Yahoo di Sunnyvale, California, menurut sebuah sumber kepada TechCrunch, merupakan bagian dari akuisisi ini.

Verizon ingin menggabungkan Yahoo dan AOL untuk membentuk anak perusahaan media dan periklanan yang lebih besar. Dengan cara ini, AOL mendapatkan skala yang lebih luas, meraih jumlah pengguna internet dan perangkat bergerak yang cukup untuk menjadi raksasa periklanan yang meraih ratusan juta, bahkan miliaran orang.

Verizon ingin bersaing dengan Google dan Facebook dalam pendapatan iklan online. Saat ini iklan online didominasi dua perusahaan yang berkantor di Silicon Valley. Verizon ingin menjadi perusahaan ketiga.

Tantangan Verizon setelah mengakuisisi Yahoo

Verizon menghadapi dua tantangan bila kesepakatan dengan Yahoo disetujui regulator. Pertama, proses integrasi tidak mudah menggabungkan dua tim besar dengan ribuan karyawan. Yahoo memiliki 8.800 karyawan dan 700 kontraktor, sedangkan AOL memiliki 5.600 karyawan.

Kedua, Yahoo kehilangan uang. Verizon akan mengembalikan Yahoo sebagai mesin pencetak uang, perusahaan yang menguntungkan, dan itu akan membuat AOL sakit.

Mengapa Verizon mengakuisisi Yahoo? Ada beberapa alasan. Yahoo memiliki audiens lebih dari satu miliar pengguna, termasuk 600 juta di perangkat bergerak. Perusahaan ini juga memiliki brand-brand premium sendiri dalam keuangan, berita, dan olahraga. Yahoo Mail memiliki 225 juta pengguna aktif setiap bulan.

Pada era 1990-an, Yahoo memang identik dengan internet itu sendiri. Namun, bagi Verizon, kesepakatan itu lebih dari sekadar nostalgia.

CEO AOL Tim Armstrong mengatakan, dia menghormati apa telah dicapai Yahoo. Kesepakatan ini bertujuan mengintegrasikan dua perusahaan yang pernah kuat dalam dunia internet, menciptakan saingan baru yang kompetitif dan sangat kuat dalam media bergerak (mobile media), serta menawarkan alternatif bagi pengiklan dan penerbit.

“Misi kami di AOL adalah untuk membangun brand-brand yang disukai banyak orang. Kami akan terus berinvestasi dan mengembangkan ini. Yahoo telah lama menjadi investor dalam konten premium dan menciptakan beberapa brand yang dicintai konsumen dalam kategori utama seperti olahraga, berita, dan keuangan,” kata Armstrong dalam siaran persnya.

Marissa Mayer, seperti halnya Tim Armstrong, sebelumnya bekerja di Google, sebelum menjabat CEO Yahoo sejak empat tahun lalu. Mayer berinvestasi untuk meningkatkan produk bergerak Yahoo, memperluas audiens melalui akuisisi Tumblr senilai 1,1 miliar dollar AS, mengakuisisi Brightroll senilai 640 juta dollar AS, meningkatkan dua kali lipat konten media premium, dan mengubah wajah produk utama Yahoo seperti Yahoo Mail, Flickr, Yahoo Weather, dan Yahoo Messenger. Mayer membawa wartawan televisi Katie Couric sebagai anchor global Yahoo. Namun, semua perubahan itu tidak mampu meningkatkan pendapatan Yahoo.

Mayer berjuang memperlambat penurunan penjualan iklan Yahoo. Dalam conference call dengan para pemegang saham pekan lalu setelah melaporkan laba perusahaan, Mayer mengatakan “menciptakan Yahoo yang lebih baik”. Namun, Mayer gagal mewujudkan janjinya. Yahoo tak pernah kembali ke puncak lagi.

Harga jual Yahoo hari ini menunjukkan bahwa masa kejayaan Yahoo sudah lama berakhir. Tahun 1998 ketika Google lahir, Yahoo menolak membeli Google dengan harga 1 miliar dollar AS. Tahun 2002, Yahoo menyadari kesalahannya dan menyatakan berminat membeli Google dengan harga 3 miliar dollar AS, tetapi pemilik Google mematok harga 5 miliar dollar AS, dan Yahoo menolak membeli Google seharga itu.

Pada 2008 silam, sebenarnya Microsoft sudah bersedia membayar lebih dari 45 miliar dollar AS untuk membeli Yahoo, tetapi tawaran Microsoft itu ditolak oleh co-founder Yahoo, Jerry Yang.

Dan pada 25 Juli 2016, harga Yahoo yang pernah bernilai 125 miliar dollar AS itu hanya 4,83 miliar dollar AS. Sungguh akhir yang ironis dan tragis bagi raja internet era 1990-an itu.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: KOLOM, KOMPASPRINT.COM, SELASA 26 JULI 2016

Iklan