Hancurnya Warisan Peradaban Mesopotamia


ROBERT ADHI KSP

Penghancuran artefak dan situs arkeologi warisan peradaban Mesopotamia di kota Nimrud dan Hatra di wilayah Irak oleh Negara Islam di Irak dan Suriah, pekan lalu, mengejutkan sejarawan, budayawan, dan arkeolog dunia. Padahal, di sanalah manusia modern dapat mengagumi kejayaan Irak dan Mesopotamia beserta peradabannya yang telah ada sejak 3.000 tahun silam.

Mesopotamia, salah satu peradaban tertua di dunia, dikenal sejak ribuan tahun silam Sebelum Masehi. Mesopotamia terletak di lembah di antara dua sungai, Tigris dan Eufrat. Daerah yang dilalui kedua sungai itu subur. Rakyat yang tinggal di wilayah itu pun makmur. Bangsa pertama dari luar Mesopotamia yang masuk ke wilayah itu adalah bangsa Sumeria, yang membangun kota-kota kuno di Mesopotamia. Menyusul bangsa Akkad, Babilonia, Assyiria, Khaldea, dan Persia. Warisan budaya dan peradaban Mesopotamia beribu-ribu tahun lalu di wilayah yang sekarang masuk wilayah Irak tersebut merupakan bukti kebesaran peradaban manusia pada masa lalu.

Mesopotamia

Namun, warisan peradaban yang tak ternilai harganya itu satu per satu dihancurkan dan dijarah oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), di antaranya di Hatra dan Nimrud. Hatra yang berlokasi sekitar 110 kilometer dari barat daya Mosul adalah kota kuno yang didirikan semasa kekaisaran Parthian lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Kota ini menyimpan kekayaan budaya, seperti kuil dan patung para dewa, misalnya Apollo dan Poseidon.Menurut situs Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Hatra adalah ibu kota Kerajaan Arab pertama yang dibangun di bawah pengaruh kekaisaran Parthian. Beberapa bangunan berarsitektur Romawi dan Hellenistic dengan kombinasi fitur dekoratif Timur menunjukkan kebesaran peradaban masa silam.Sementara Nimrud adalah kota kuno Assyiria yang didirikan pada abad ke-13 Sebelum Masehi (Islamic State Demolishes Ancient Hatra Site in Iraq, BBC, 7 Maret 2015).

Rekaman video yang memperlihatkan aksi perusakan brutal terhadap warisan budaya masa lalu di Museum Mosul pekan lalu sungguh peristiwa menyedihkan. Meskipun beberapa obyek yang dihancurkan itu adalah replika, banyak juga obyek unik yang bertahan dan berusia ribuan tahun (Why ISIS Destroys Antiquities, CNN, 7 Maret 2015).

Beberapa warisan peradaban masa silam yang dihancurkan NIIS di antaranya Gerbang Nergal, pintu masuk menuju kota kuno Nineveh-sebuah kota yang menyimpan sejarah ribuan tahun-dan situs Nimrud, ibu kota Kerajaan Asyura (Assyiria) di bawah Raja Ashurnasirpal.

Kejahatan perang

“Penghancuran dan penjarahan warisan budaya merupakan kejahatan perang. Kami mengajak semua institusi kebudayaan, museum, jurnalis, profesor, dan ilmuwan berbagi pengetahuan tentang peradaban Mesopotamia. Kita perlu mengingatkan bahwa sejarah di negeri itu memimpin zaman keemasan Islam,” kata Irina Bokova, Direktur Jenderal UNESCO (Articaft Destruction a Security Issue, CNN, 7 Maret 2015).

Irina menegaskan, semua umat manusia di muka bumi ini, di mana saja berada, terutama kamu muda di Irak, harus menyadari bahwa warisan budaya itu milik mereka. Warisan kebudayaan pra-Islam di Irak adalah milik semua orang Irak, seperti halnya piramida yang menjadi identitas bangsa Mesir.

 

Warisan budaya yang menunjukkan tingginya peradaban Mesopotamia yang dilestarikan dengan susah payah oleh UNESCO di Irak itu memang memiliki nilai tak terhingga.

“Belajarlah pada masa lalu jika Anda ingin menentukan masa depan,” kata filsuf Konfusius. Di Irak, masa lalu menyimpan kemuliaan dan kejayaan yang panjang. Di wilayah inilah kota-kota pertama di dunia dibangun dan pemerintahan mulai dikelola lebih dari 5.000 tahun lalu. Di tanah inilah karya sastra besar dan pertama lahir, Epos Gilgamesh, raja kota Uruk, lebih dari 1.000 tahun sebelum Homer dan lebih dari 2.000 tahun Sebelum Masehi.

UNESCO betul-betul prihatin dengan penghancuran dan penjarahan warisan budaya Mesopotamia di Irak. Mesopotamia, yang pada masa modern berlokasi di wilayah Irak, adalah jantung sejarah manusia dan rumah kota-kota, negara-negara, serta kerajaan-kerajaan pertama di dunia.

Hammurabi, Raja Babilonia, membuat peraturan hukum tertulis pertama di dunia lebih dari 3.700 tahun silam. Peraturan itu mendorong lahirnya Magna Carta dan Bill of Rights. Magna Carta adalah piagam yang dikeluarkan di Inggris pada 15 Juni 1215 yang membatasi monarki Inggris dari kekuasaan absolut. Magna Carta adalah awal sejarah panjang menuju pembuatan hukum konstitusional. Adapun Bill of Rights (Deklarasi Hak-hak) adalah sepuluh amandemen pertama terhadap Konstitusi Amerika Serikat, yang menjamin sejumlah kebebasan pribadi, membatasi kekuasaan pemerintah di bidang yudisial dan perkara lainnya, serta memberikan sejumlah kekuasaan kepada negara bagian dan rakyat.

Perang terhadap budaya merupakan bagian dari strategi NIIS. “Itulah sebabnya, mengapa militan menyerang sekolah, media, dan warisan budaya. Melalui metode komunikasi modern, mereka menggunakannya untuk membajak pikiran kaum muda. Mereka melarang perempuan pergi ke sekolah, membunuh wartawan, dan menghancurkan museum, simbol-simbol untuk mewujudkan kebebasan berpikir dan menghargai perbedaan budaya,” ungkap Irina.

Memang, penghancuran warisan budaya secara sistematis tak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Wajar apabila banyak pemimpin agama yang mengecam aksi perusakan dan penjarahan tersebut dan menyatakan bahwa aksi penghancuran serta penjarahan warisan budaya itu menyimpang dari ajaran agama.

SUMBER: DUDUK PERKARA – OPINI, HARIAN KOMPAS DIGITAL, SENIN 9 MARET 2015

Iklan