Keselamatan Penumpang KRL Terabaikan


Image

ROBERT ADHI KSP

Kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line 1131 jurusan Serpong-Tanah Abang dan truk tangki Pertamina B 9265 SEH di Jalan Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (9/12), pukul 11.15, dan menewaskan tujuh orang menyisakan pertanyaan mendasar soal keselamatan penumpang KRL.

Banyaknya pelintasan sebidang (pertemuan antara rel KA dan jalan raya) menjadi persoalan besar dalam urusan keselamatan penumpang KA dan pengguna jalan raya.

Jumlah pelintasan sebidang di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi saat ini, menurut catatan Kementerian Perhubungan, ada 44 titik. Semuanya berpotensi menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas serupa. Karena itu, pemerintah harus mencegah kecelakaan di pelintasan sebidang dengan membangun jalan layang (fly over) atau terowongan (underpass) di sejumlah titik pelintasan sebidang.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyampaikan, pembangunan jalan layang dan terowongan di pelintasan sebidang KA dan jalan raya dijadwalkan mulai tahun 2014. Pemprov DKI Jakarta bertanggung jawab membangun infrastruktur ini bila pelintasan sebidang itu berada di jalan provinsi. Sedikitnya terdapat 12 sampai 16 jalur kereta yang akan dilengkapi jalan layang atau terowongan.

Jokowi mendengar aspirasi pengguna kereta dan pengguna jalan. Berapa banyak lagi korban akan jatuh bila pembangunan itu ditunda-tunda? Tak ada jalan lain kecuali membangun infrastruktur baru untuk mendukung keselamatan penumpang KRL dan pengguna jalan.

Bila pelintasan sebidang berada di jalan negara, tanggung jawab pembangunan jalan layang dan terowongan itu menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Menteri Perhubungan EE Mangindaan menjanjikan segera merealisasikan pembangunan tersebut.

Keselamatan penumpang

Keselamatan penumpang kereta memang harus menjadi prioritas pemerintah. Kampanye penggunaan transportasi massal, seperti KRL commuter line dan bus transjakarta, terus digaungkan. Sebagian pekerja komuter dari Bodetabek menggunakan KRL commuter line dari tempat tinggalnya menuju tempat kerja di Jakarta dan pulang ke rumah menggunakan moda transportasi yang sama.

Sejak tiket elektronik diberlakukan, jumlah penumpang KRL Jabodetabek mencapai 600.000 orang per hari. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat seiring dengan penambahan gerbong.

Namun, bagaimana dengan keselamatan para penumpang KRL? Dalam insiden di Bintaro, Senin lalu, sejumlah penumpang mengungkapkan kesulitan membuka pintu saat gerbong terguling. Tak ada informasi tertulis yang jelas bagaimana membuka pintu kereta pada saat darurat. Hendaknya informasi ini dipasang di dekat pintu gerbong agar dapat dibaca para penumpang.

Informasi pada saat darurat ini juga dapat disampaikan melalui pengumuman berulang- ulang di stasiun dan di dalam gerbong. Dengan demikian, penumpang dapat mengetahui langkah yang harus diambil pada saat darurat.

Keselamatan penumpang KRL tak hanya itu. Apakah di sekitar stasiun-stasiun KA di Jabodetabek sudah tersedia trotoar bagi penumpang KRL?

Pada saat penumpang berjalan kaki menuju dan keluar dari stasiun, keselamatan mereka juga harus diperhatikan. Saat penumpang berjalan kaki menuju halte angkutan umum atau lokasi ojek, mereka butuh trotoar agar tidak diserempet kendaraan.

Sejauh ini, petinggi PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemerintah Provinsi (DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat) masih mengabaikan keselamatan penumpang KRL secara menyeluruh. Tak ada konsep komprehensif membangun sistem transportasi massal Jabodetabek. Juga terkesan tidak ada koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan PT KAI.

Bila pemerintah betul-betul berniat mengajak pekerja komuter menggunakan KRL commuter line agar Ibu Kota tak makin sesak dengan kendaraan pribadi, jangan ragu untuk membangun infrastruktur baru yang mendukung transportasi massal ini. Alokasikan anggaran untuk membangun jalan layang dan terowongan di pelintasan sebidang di banyak tempat. Demikian pula, jangan lupa untuk membangun kawasan pejalan kaki di sekitar stasiun-stasiun KA.

Pengguna jasa kereta menunggu realisasi rencana ini. Semoga tidak hanya menjadi wacana.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG, SELASA 10 DESEMBER 2013

 

Iklan