Johan Cruyff, Legenda Pesepakbola Belanda


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Jika Belanda adalah tim ”Total Football”, Johan Cruyff adalah pemain ”total football”-nya. Cruyff adalah salah satu dari pemain muda yang bergabung dengan klub Ajax Amsterdam pada akhir 1960-an dan kemudian mendominasi ”total football” Eropa dan dunia pada awal 1970-an.

Cruyff mengantarkan Ajax tiga kali juara Piala Eropa, Piala Klub Dunia, dan tiga kali dinobatkan sebagai Pesepak Bola Eropa.

Total football bukanlah ide yang baru ketika Belanda memperkenalkannya. Gaya permainan ini sudah dikenal sejak 1950-an dengan nama The Whirl. Namun, ini menjadi yang pertama bagi Ajax dan kemudian Belanda yang membawa tim ini perkasa.

Ide ini untuk membangun sebuah tim di mana setiap pemain memiliki kemampuan teknik dan kekuatan fisik yang setara. Itu berarti setiap pemain dapat berperan di semua posisi. Pemain belakang dapat menjadi pemain depan, dan sebaliknya pemain depan menjadi pemain belakang.

Sebagai sentral dari strategi total football Belanda, Cruyff tiga kali meraih penghargaan sebagai Pemain Terbaik Eropa. Johan Cruyff menjadi pemain Eropa terbaik pada abad ke-20.

Ajax

Johan Cruyff lahir di Amsterdam, Belanda, 25 April 1947. Cruyff memulai debutnya pada 1964 di klub Belanda, Ajax Amsterdam, di usia 17 tahun.

Pada musim 1966-1967, Cruyff menjadi pencetak gol terbanyak dalam Divisi I Belanda dengan 33 gol, dan berperan besar dalam menentukan sukses Ajax mencapai juara Liga Divisi I Belanda. Sejak itu Cruyff menjadi pusat perhatian di seluruh Eropa, terutama setelah Ajax menyisihkan Liverpool (juara Inggris) dalam kejuaraan Eropa.

Pada waktu itu, manajer Rinus Michels menyampaikan strategi total football-nya, yakni para pemain berganti posisi di lapangan.

Cruyff yang multitalenta membuktikan dengan sempurna metode ini. Dia memiliki kecepatan dan kecerdasan untuk berkembang di mana pun posisinya.

Antara 1966 dan 1973, Ajax menjuarai Liga Belanda, tiga Piala Eropa, dan dua Super Cups UEFA. Pada 1971, Cruyff menjadi pemain Belanda pertama yang meraih Ballon d’Or Award sebagai pemain sepak bola Eropa terbaik.

Cruyff merupakan personifikasi dari kemajuan yang dialami dunia sepak bola Belanda menuju puncak kejayaan pada masa itu. Meskipun tubuh Cruyff relatif lebih kecil dibandingkan dengan tubuh rata-rata pemain Eropa (berat 67 kilogram), Johan Cruyff mengimbanginya dengan kemahiran teknis yang tinggi dan kecerdasan tinggi.

Cruyff dinilai sebagai penyerang tengah terbaik sejak Alfredo Di Stefano, pemain Argentina yang bermain untuk klub Spanyol, Real Madrid (Kompas, 8 Maret 1972).

Barcelona

Pada musim 1973-1974, Cruyff ditransfer ke klub Spanyol, Barcelona. Dia dengan cepat mendapat simpati dari para pendukung Barcelona, terutama setelah memimpin Barca melibas Real Madrid 5-0 untuk meraih gelar juara Liga Spanyol.

Johan Cruyff meraih lagi penghargaan Ballon d’Or ketika baru menjalankan setengah dari musim pertamanya di Spanyol. Cruyff menjadi pemain Eropa pertama yang meraih penghargaan yang sama untuk kali ketiga pada tahun berikutnya.

Piala Dunia 1974

Pada 1974, Cruyff tampil membela tim nasional (timnas) Belanda di Piala Dunia. Meskipun akhirnya tim Belanda kalah di final saat melawan tuan rumah Jerman Barat, Cruyff dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam Piala Dunia 1974. Dia mencetak 33 gol dalam 48 penampilannya.

Meskipun Belanda gagal meraih juara dunia, Ratu Juliana tetap menyerahkan bintang ”Ridder der Orde van Oranje Nassau” untuk sang kapten tim Belanda, Johan Cruyff. Rakyat Belanda tetap memberikan penghormatan kepada timnas mereka.

Cruyff menolak bergabung dalam timnas Belanda di Piala Dunia 1978 di Argentina. ”Satu-satunya orang yang dapat mengubah keputusan saya adalah Ratu Juliana,” kata Cruyff tanpa menjelaskan alasannya (Kompas, 10 November 1977).

Setelah tahun 1978, Cruyff sempat mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia sepak bola. Namun, pada kenyataannya, dia masih melanjutkan kariernya di Amerika Serikat, bermain untuk klub Los Angeles Aztecs pada 1979-1980, dan klub Washington Diplomats pada tahun berikutnya. Setelah mengalami musim penuh cedera bersama klub Spanyol, Levante UD, Cruyff akhirnya menyelesaikan kariernya di Belanda dengan dua musim lagi bersama Ajax dan Feyenoord.

Pelatih

Meskipun tidak memiliki kualifikasi melatih secara formal, Cruyff dipercaya menjadi pelatih Ajax pada 1985 dan mengantarkan klub itu meraih dua Piala Belanda dan satu Piala UEFA dalam tiga tahun.

Ketika Cruyff kembali ke Barcelona pada 1988 sebagai pelatih, Cruyff mampu mengantarkan klub Spanyol itu empat kali menjadi juara La Liga, tiga kali meraih Super Cups, satu Piala Eropa, dan satu gelar Copa Del Ray.

Di Barcelona, tekanan untuk selalu menang membuatnya stres. Dia sempat mengalami operasi jantung pada 1991. Setelah selama dua tahun Barcelona tidak pernah meraih gelar juara apa pun juga, Cruyff akhirnya dipecat pada 1996.

Cruyff menghabiskan waktunya dengan menjalankan Johan Cruyff Foundation dan Johan Cruyff Institute.

Pada akhir dekade, Cruyff terpilih sebagai Pemain Eropa Abad Ini dalam pemilihan yang dilakukan International Federation of Football History & Statistics, dan akhirnya berada di posisi kedua setelah legenda sepak bola asal Brasil, Pele, dalam jajak pendapat Pemain Dunia Abad Ini.

Pada 2009, Cruyff kembali melatih timnas Catalonia. Dia menjadi penasihat klub Meksiko, Chivas Guadalajara, pada Februari 2012, tetapi dipecat pada bulan Desember setelah klub itu gagal meraih juara. Satu bulan kemudian, Cruyff berhenti menjadi pelatih Catalonia.

Sampai saat ini Cruyff masih menjadi penasihat klub Ajax dan menjadi sumber penting bagi hal-hal yang menjadi bidang keahliannya. Johan Cruyff adalah legenda pesepak bola Belanda pada masanya.

(BIOGRAPHY)

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 21 JUNI 2014

Iklan