Julio Iglesias, Penyanyi Latin Paling Sukses


Julio Iglesias

ROBERT ADHI KSP

Julio Iglesias harus melupakan mimpinya berkarier di klub sepak bola Spanyol, Real Madrid, ketika dia mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan dia harus beristirahat di rumah selama dua tahun. Namun, Julio Iglesias tidak menyerah dengan keadaan. Setelah beralih menjadi penyanyi, nasibnya berubah. Julio Iglesias berkibar di belantika musik dunia pada era 1970-an dan 1980-an. Namanya kemudian terpatri dalam Guinness World Records sebagai ”Best Selling Male Latin Artist”.

Memiliki wajah yang tampan, suara yang powerful dan kemampuan berkomunikasi dengan penonton, Julio Iglesias adalah salah satu figur penyanyi yang sangat populer dan abadi dalam sejarah musik Latin. Dia superstar internasional sesungguhnya. Selama berkarier di bidang musik, Julio Iglesias sukses menjual 300 juta keping album dalam 14 bahasa di seluruh dunia.

Tiga lagunya yang dibawakan berduet, yaitu ”To All the Girls I’ve Loved Before” bersama Willie Nelson, ”All of You” bersama Diana Ross, dan ”My Love” bersama Stevie Wonder, sukses bertengger di puncak tangga lagu dunia. Namun, lagu yang paling populer yang dibawakan lelaki berbintang Libra itu adalah ”To All the Girls I’ve Loved Before”.

 

Apa yang membuat Julio Iglesias tetap antusias menyanyi di banyak kota di dunia pada usia senjanya? ”Passion,” jawabnya. ”Passion-lah yang membuat saya melakukan banyak hal. Saya bersyukur dengan apa yang telah terjadi dalam hidup saya,” katanya. Julio Iglesias tidak pernah kehilangan passion-nya dalam dunia tarik suara. ”Sukses memiliki resep sederhana: lakukan yang terbaik dan orang-orang akan menyukainya,” katanya.

 

Julio José Iglesias de la Cueva lahir di Madrid, Spanyol, pada 23 September 1943. Ayah Julio adalah fisikawan yang berhasil dan mengarahkan anaknya menjadi seorang pengacara dan diplomat.

Julio Iglesias muda juga pemain sepak bola berbakat. Sebagai seorang remaja, dia meraih salah satu mimpi besarnya ketika dia direkrut oleh klub favoritnya, Real Madrid.

Namun, karier sepak bola Julio Iglesias berakhir pada 1962 setelah dia mengalami kecelakaan mobil yang menyisakan luka spinal yang mengharuskan dia berada di tempat tidur selama dua tahun.

Setelah sembuh, Julio Iglesias melatih dirinya bermain gitar dan mulai menulis lagu karena dia memiliki passion dalam dunia musik.

Ketika Julio Iglesias kembali kuliah di bidang hukum di Inggris Raya, dia masih tertarik dalam dunia musik.

Menekuni musik

Pada 1968, Julio Iglesias mendaftarkan lagu ciptaannya, ”La Vida Sigue Igual” (Life Goes On) di Festival Lagu Internasional Benidorm, sebuah kompetisi penulisan lagu Spanyol. Lagu Julio Iglesias meraih juara pertama dan dia mendapat tawaran kontrak rekaman dengan Columbia Records cabang Spanyol.

Lagu ”La Vida Sigue Igual” ciptaan Julio Iglesias bertengger di puncak tangga lagu Spanyol. Sejak itulah, Julio Iglesias memutuskan untuk meninggalkan kariernya di bidang hukum dan menekuni dunia musik purnawaktu. Pada 1969, Julio Iglesias merilis album pertamanya.

Satu tahun kemudian, pada 1970, Julio Iglesias mewakili Spanyol dalam Eurovision Song Contest. Untuk kali pertama dalam hidupnya, Julio Iglesias tampil di depan jutaan orang Eropa.

Pada tahun yang sama, Julio Iglesias menggoyang Spanyol dengan menggelar 41 konser di 41 kota hanya dalam 30 hari.

Setelah berhasil menjual satu juta album rekamannya pada 1971, Julio Iglesias mulai merekam album dalam bahasa-bahasa Jerman, Italia, Perancis, dan Portugis, selain bahasa Spanyol.

Dalam waktu singkat, Julio Iglesias menjadi salah satu penyanyi paling populer di Eropa dan sering tampil di depan puluhan ribu penggemarnya di sejumlah ibu kota negara di dunia.

Menaklukkan Amerika

Pada 1976, Julio Iglesias tampil di konser di Madison Square Garden di New York City meskipun Amerika Serikat satu dari sedikit negara yang belum mengenal dirinya. Julio Iglesias mencatat rekor sebagai artis yang sukses menjual tiket dalam waktu singkat.

Pada 1977, Julio Iglesias mencatat rekor penonton di Cile. Pada waktu itu, lebih dari 100.000 orang menghadiri konsernya di Stadion Nasional di Santiago yang menjadi konser musik terbesar dalam sejarah negeri itu.

Pada akhir 1970-an, Julio Iglesias menandatangani kesepakatan rekaman baru dengan CBS International yang merefleksikan popularitas globalnya. Dia bertekad menaklukkan pasar di negara-negara berbahasa Inggris.

Setelah lagu Julio Iglesias ”Begin the Beguine” menjadi hit di Inggris Raya pada 1981, album kompilasinya bertajuk Julio dirilis. Album ini memperkenalkan musik Julio Iglesias kepada pendengar Amerika, termasuk di antaranya lagu dalam Inggris berjudul ”Hey”.

Pada 1982, Julio Iglesias memecahkan rekor di Jepang ketika albumnya De niña a mujer terjual 1,2 juta kopi dalam waktu enam bulan. Pada tahun yang sama, Julio Iglesias juga memecahkan rekor di Brasil ketika album yang sama terjual lebih dari dua juta kopi dalam 11 bulan dan meraih multiple-platinum.

Pada 1983, nama Julio Iglesias masuk dalam Guinness Book of World Records karena berhasil menjual album rekaman dalam berbagai bahasa paling banyak dalam sejarah musik.

Pada 1984, Julio Iglesias merilis 1100 Bel Air Place. Album ini mengukuhkan Julio Iglesias sebagai bintang di Amerika Serikat dan ikon internasional sesungguhnya. Dalam album yang terjual lebih dari tiga juta kopi itu, Julio Iglesias berduet bersama penyanyi Amerika Serikat, Willie Nelson, membawakan lagu ”All The Girls I’ve Loved Before”.

Pada 1985, kelompok teroris Basque menculik ayah Julio Iglesias. Dia ditemukan terluka dua minggu kemudian. Julio Iglesias yang percaya keluarganya lebih aman tinggal di Amerika Serikat kemudian pindah ke Florida, tempat dia memiliki sebuah rumah di Indian Creek Village. Julio Iglesias juga memiliki sebuah rumah di kota resor di Punta Cana di Republik Dominika.

Pada 1988, Julio Iglesias menjadi artis internasional pertama yang tampil dalam siaran langsung televisi nasional Tiongkok di Beijing dan ditonton lebih dari 400 juta penonton. Julio Iglesias berduet dengan pembawa acara membawakan lagu ”To All the Girls I’ve Loved Before”.

Pada tahun yang sama, Julio Iglesias tampil di O’Higgins Park di Santiago, Cile, yang dihadiri 170.000 penonton. Pada saat itu, jumlah penonton tersebut termasuk yang terbesar di Amerika selatan.

Selama periode 1980-an dan awal 1990-an, banyak rekaman Julio Iglesias disesuaikan dengan penggemar Amerika. Julio Iglesias sering berduet dengan sejumlah bintang Amerika, dari Stevie Wonder sampai Dolly Parton.

”Saya tidak pernah berharap, tidak pernah memimpikan suatu hari saya dapat bermain dan menyanyi bersama Frank Sinatra, Placido Domingo, Willie Nelson, Stevie Wonder, Diana Ross,” ungkap Julio Iglesias.

Pada 1995, Julio Iglesias menjadi artis asing yang secara resmi mampu membuat albumnya terjual paling banyak di Tiongkok. Julio Iglesias bahkan menerima penghargaan khusus dari Kementerian Kebudayaan Tiongkok.

Albumnya bertajuk La Carretera membuat Julio Iglesias artis Spanyol pertama yang meraih Platinum atas hasil penjual yang diraih dalam satu hari.

Pada 1996, Julio Iglesias mulai memperbarui komitmennya kepada penggemar Latin dan merilis album Tango. Album ini meraih penghargaan World Music Award.

Pada 1999, Julio Iglesias menjadi artis asing paling penting dalam sejarah Brasil ketika tampil di Parque do Ibirapuera di Sao Paulo, taman paling terkenal di Brasil, dan dihadiri lebih dari 150.000 penonton.

Dia juga menikmati keberhasilan komersial utamanya dalam lagu-lagu berbahasa Spanyol setelah albumnya Divorcio dirilis pada 2003.

Julio Iglesias juga memperbarui hubungannya dengan penggemar Perancis dengan merilis album berbahasa Perancis En Français… pada 2004 dan L’Homme Que Je Suis pada 2005.

Ketika sibuk tampil dengan jadwal yang ketat, Julio Iglesias tampak mengendurkan komitmennya merekam album baru setelah merilis album Romance Classics pada 2006.

Pada Juni 2009, Julio Iglesias kembali ke Las Vegas setelah dua tahun absen. Dia menggelar dua acara di Las Vegas Hilton. Tiket habis terjual dua bulan sebelum acara digelar. Promotor acara mengizinkan penonton berdiri karena tiket sudah terjual habis. Kasus yang unik dalam konser artis di Las Vegas.

Pada 2010, Julio Iglesias tercatat sebagai artis Latin yang menjual keping album rekaman paling banyak dalam sejarah musik (300 juta keping).

Pada 2011, Julio Iglesias mengumumkan suaranya tetap bertenaga seperti saat masih muda. Dia merekam ulang sejumlah lagunya yang pernah hit ke dalam album koleksi baru bertajuk 1.

Album yang dirilis pada 22 November 2011 di Spanyol itu dalam waktu singkat berada di posisi pertama iTunes dan meraih sukses komersial. Album tersebut meraih predikat Platinum di Brasil dan predikat Diamond di Kolombia.

Pada 2013, Julio Iglesias menerima dua penghargaan bersejarah, menambah deretan penghargaan yang diterimanya. Di Beijing, dia menerima penghargaan ”The First and Most Popular International Artist of All Time in China”. Julio Iglesias juga salah satu dari lima artis yang masuk dalam Hall of Fame kategori ”Penulis Lagu-lagu Latin” di Miami, Amerika Serikat.

Pada 2013 juga, Julio Iglesias menerima penghargaan Guinness World Records sebagai ”Best Selling Male Latin Artist”.

Kenangan di Alicante

Pada Agustus 2014, Julio Iglesias menggelar konser di San Juan de Alicante di Spanyol. Konser ini dihadiri petenis Spanyol Rafael Nadal yang khusus datang ke Alicante untuk menikmati suara Julio Iglesias. Di sana, Julio Iglesias tampil di depan penggemarnya dari tiga generasi.

”Saya memiliki banyak kenangan di Alicante karena di sinilah semuanya berawal,” katanya saat membuka konser. Julio Iglesias ingat lagu ciptaannya ”La Vida Sigue Igual” meraih juara dalam Festival Benidorm. Sejak itulah, jalan hidupnya berubah drastis.

Kini dalam usia senjanya, Julio Iglesias tetap bersyukur masih dapat berjumpa dengan banyak fans di Finlandia sampai Tiongkok dan berkomunikasi dengan mereka. ”Saya selalu bersyukur saya masih mampu melakukan itu,” katanya.

”Secara jujur, saya mengatakan penghargaan terbesar yang saya terima adalah penggemar saya. Ketika saya tampil di Irlandia atau di Tiongkok, mereka selalu ada di sana, menonton penampilan saya. Itu dukungan paling besar yang saya dapatkan,” ungkapnya.

”Ketika saya berkomunikasi dengan penonton dan menyanyikan lagu untuk mereka, saya seperti melihat ada cahaya menerangi saya kembali, yang masuk ke mata saya, otak saya, hati saya, tubuh saya,” katanya. (BIOGRAPHY.COM/ALLMUSIC.COM/irishexaminer.com/JULIOIGLESIAS.COM)

 

SUMBER: DIMANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 20 SEPTEMBER 2014

Iklan