Kastil Vaduz di Negeri Mini


Vaduz

ROBERT ADHI KSP

PERNAH dengar nama Kota Vaduz? Wisatawan yang melakukan perjalanan darat dengan bus dari Swiss ke Austria, pada umumnya singgah di Vaduz, ibu kota negara Liechtenstein. Kota seluas 17,3 kilometer persegi dan berpenduduk 5.372 jiwa itu merupakan salah satu dari sedikit ibu kota negara di dunia yang tidak memiliki bandar udara dan stasiun kereta.

Kota ini berada di tepi Sungai Rhine, salah satu sungai terpanjang di Eropa. Salah satu landmark Vaduz adalah Kastil Vaduz, tempat tinggal Pangeran Liechtenstein yang memerintah monarki tersebut bersama keluarganya. Kastil itu berada di puncak bukit, di tengah kota, sehingga dapat dilihat dari segala sisi kota.

Kastil Vaduz merupakan kastil paling populer di antara lima kastil yang berada di Liechtenstein. Empat kastil lainnya adalah Kastil Gutenberg di Balzers, Kastil Obere Burg, Kastil Untere Burg di Schellenberg, serta Kastil Schalun di Kota Vaduz.

Vaduz memiliki sejarah panjang di Eropa. Berdasarkan manuskrip sejarah pada abad ke-12, kota yang diberi nama Farduzes ini didirikan pada 1322 oleh Pangeran Werdenberg. Kastil Vaduz dibangun pada 1322, dan sempat dibakar oleh Konfederasi Swiss selama Perang Swabian pada 1499.

Kastil Vaduz diperbaiki dan diperluas oleh Pangeran Kaspan von Hohenems (1613-1640). Kastil ini kemudian diakusisi dan dikuasai oleh keluarga bangsawan Liechtenstein pada 1712. Setelah merdeka dari Kerajaan Romawi Suci pada 1719, Liechtenstein kemudian menjadi anggota Konfederasi Jerman (1815-1866). Restorasi kastil ini berlangsung sejak 1905 sampai 1920.

Setelah monarki Hapsburg di Austria dihapuskan pada 1919, Swiss menggantikan Austria sebagai perwakilan kepentingan Liechtenstein di luar negeri. Pada 1921, Liechtenstein memberlakukan mata uang Swiss di wilayahnya, dan dua tahun kemudian, bergabung dengan bea cukai Swiss.

Setelah Pangeran Franz Josef II naik takhta pada 1938 untuk memimpin monarki Liechtenstein, Kastil Vaduz menjadi tempat tinggal utama keluarga bangsawan Lienchtenstein. Hingga kini, kastil itu tidak dibuka untuk masyarakat luas karena keluarga pangeran tinggal di sana.

Wisatawan hanya bisa menikmati arsitektur kastil yang berdiri di puncak bukit dari jauh. Turis yang berada di tengah kota juga bisa berfoto di dekat replika mini Kastil Vaduz.

Selain kastil, Vaduz juga memiliki Katedral St Florin dan balaikota, yang juga merupakan landmark kota itu

Meskipun tidak memiliki bandara dan stasiun kereta, Vaduz tetap disinggahi wisatawan. Transportasi warga lebih banyak dilayani bus yang dioperasikan oleh Liechtenstein Bus.

Stasiun kereta terdekat adalah Schaan, sekitar dua kilometer dari pusat Kota Schaan dan 3,5 kilometer dari Kota Vaduz. Sangat sedikit kereta yang berhenti di sini kecuali yang melayani rute antara Buchs di Swiss dan Feldkirch di Austria.

Vaduz juga dikenal dengan klub sepak bola profesionalnya, FC Vaduz. Seperti klub lainnya di Liechtenstein, FC Vaduz bermain dengan sistem Liga Swiss dan menjadi klub utama Liechtenstein yang bermain di Liga Super Swiss. Bila menjamu klub lain, FC Vaduz bermain di Stadion Rheinpark berkapasitas 8.000 orang.

Surga pajak

Meski kecil dan mini, Vaduz, ibu kota Liechtenstein ini dikenal luas oleh pebisnis dan pengusaha Eropa, bahkan oleh kelompok mafia. Mengapa? Liechtenstein selama ini dikenal sebagai ”surga pajak” bagi pebisnis dan pengusaha Eropa. Sistem perbankan di negara itu bahkan memungkinkan kelompok penjahat dari Rusia, Italia, Kolombia ”mencuci” uang kejahatan mereka di sana.Negara kecil yang kaya-raya dengan pendapatan nasional (GDP) 89.400 dollar AS (data 2009) atau tertinggi kedua di dunia itu, bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1990. Liechtenstein juga bergabung dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa pada 1991.Kelompok negara-negara maju, G7, dan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menjelang milenium baru, mengkritik Liechtenstein yang enggan bekerja sama melawan kejahatan pencucian uang. Negara itu akhirnya mengubah undang-undang perbankannya.

Data PBB tahun 2012 menyebutkan, negara Liechtenstein seluas 160 kilometer persegi (atau seperempat wilayah DKI Jakarta) berpenduduk 36.500 jiwa. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Jerman, sedangkan mata uang yang digunakan adalah Swiss franc.

Negeri ini dipimpin oleh Pangeran Hans-Adam II, seorang bankir yang sukses, yang menjadi kepala negara menyusul kematian ayahnya, Pangeran Franz Josef, pada 1989. Hans-Adam II sudah menerima kekuasaan eksekutif dari ayahnya, lima tahun sebelum sang ayah mangkat pada 1984.

Setelah berkuasa 30 tahun, pada Agustus 2004, Pangeran Hans-Adam II menyerahkan tugas sehari-harinya sebagai kepala negara kepada putranya, Putra Mahkota Alois.

SUMBER: KELANA, KOMPAS DIGITAL EPAPER, SABTU 20 SEPTEMBER 2014

Iklan

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: