Kebahagiaan dan Peran Negara


Kebahagiaan dan Peran Negara

ROBERT ADHI KSP

Negara-negara manakah yang penduduknya paling bahagia di dunia? Bagaimana mengukur kebahagiaan penduduk sebuah negara?

Perang sipil di Suriah dan Irak melahirkan NIIS yang menebar kekerasan. Nigeria dihantui kekerasan sektarian yang menewaskan ribuan warga sipil. Ukraina dilanda konflik bersenjata. Ketika di beberapa kawasan di dunia terjadi instabilitas, destruksi, putus harapan, apakah itu terdengar seperti ”dunia yang bahagia”?

Kebahagiaan itu subyektif, tidak obyektif, dan definisinya dapat diperdebatkan. Apakah kesejahteraan sama dengan kebahagiaan? Belum tentu, tetapi itu pasti membantu. Apakah Anda bahagia dengan kehidupan Anda? Apakah Anda merasa lebih bahagia dibandingkan lima tahun lalu?

Penelitian Legatum Institute, lembaga think tank, menunjukkan, meskipun terjadi berbagai peristiwa menyedihkan, sesungguhnya kesejahteraan dan kemakmuran global meningkat. Bagaimana mereka tahu?

Selama lima tahun terakhir, Legatum menganalisis dan menyusun laporan Indeks Kesejahteraan dengan menggabungkan indikator ekonomi tradisional dengan pengukuran kesejahteraan dan kepuasan hidup. Hasilnya adalah daftar 142 negara, yang meliputi 96 persen populasi dunia dan 99 persen GDP global. Peringkat dari negara paling makmur sampai paling miskin dan negara-negara yang warganya paling bahagia dan paling sedih di dunia (”The World’s Happiest (And Saddest) Countries”, Forbes, 2013).

Negara mana yang paling bahagia? Dalam lima tahun terakhir, negara-negara yang penduduknya bahagia adalah yang menikmati kedamaian, kebebasan, layanan kesehatan yang bagus, pendidikan berkualitas, sistem politik yang berfungsi dengan baik, dan tercipta banyak kesempatan. Pada 2014, Norwegia negara paling bahagia di dunia, disusul Swiss, Selandia Baru, Denmark, dan Kanada (Legatum Prosperity Index 2014). Dalam indeks 2013, Norwegia juga di posisi pertama disusul Swedia, Kanada, dan Selandia Baru.

Mengapa Norwegia di peringkat pertama selama lima tahun terakhir? Sekitar empat juta penduduk Norwegia yang homogen dan egaliter memiliki ekonomi yang kuat berkat minyak dan gas. Perusahaan Statoil milik negara itu merupakan salah satu perusahaan minyak paling mampu di dunia. Keuangan Norwegia mendapat pemasukan lebih dari 400 miliar dollar AS hasil royalti minyak dan gas. Itu dana besar jaring pengaman sosial bagi negeri itu.

Norwegia sungguh beruntung. Populasi kecil di tengah sumber daya alam yang besar, seperti juga dialami Kanada dan Australia.

Legatum Institute yang bermarkas di London, Inggris, juga mencatat peringkat negara-negara yang memiliki kewirausahaan, kebebasan pribadi, kesehatan, ekonomi, kapital sosial, pendidikan, keselamatan dan keamanan, serta pemerintahan.

Temuan mereka menunjukkan bahwa kemakmuran (atau kebahagiaan) muncul dari sifat-sifat sosial, yang dipupuk selama beberapa generasi secara holistik dan sangat dipengaruhi berbagai faktor, seperti iklim, budaya, geografi, sumber daya alam, dan keberuntungan.

Negara-negara apa saja yang rakyatnya paling tidak bahagia? Dalam indeks 2014, peringkat terbawah adalah Republik Afrika Tengah, lalu di atasnya masing-masing Chad, Kongo, Burundi, dan Yaman.

Negara-negara tanpa riwayat kohesi sosial, sumber daya alam dapat menjadi kutukan. Nigeria, Sierra Leone, dan Zimbabwe, yang kaya dengan minyak dan berlian, tidak membuat penduduknya makmur. Hanya sedikit saja yang menikmati kekayaan itu.

Penduduk Arab Saudi atau Afganistan tidak pernah sebahagia Norwegia karena ukurannya adalah bagaimana negara memperlakukan perempuan di negerinya? Delapan dari 15 negara paling buruk dalam kebebasan pribadi ditemukan di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Posisi Indonesia

Di mana posisi Indonesia? Pada indeks 2014, Indonesia berada di peringkat ke-71 dari 142 negara, kalah dari Singapura (peringkat ke-18), Malaysia (peringkat ke-45), Thailand (ke-51), Vietnam (ke-56), dan Filipina (ke-67), tetapi di atas Laos (ke-93) dan Kamboja (ke-112). Peringkat Indonesia tentu belum memuaskan.

Belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, masyarakat Indonesia lebih bahagia pada 2014 dibandingkan 2013. Indeks ini mengukur kepuasan 70.631 kepala rumah tangga atau pasangan terhadap 10 aspek, yaitu pendapatan rumah tangga, kondisi rumah dan aset, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keharmonisan keluarga, kondisi keamanan dan keadaan lingkungan (Kompas, 6/2/2015).

Mengacu pengalaman Norwegia yang kaya sumber daya alam dan mengelolanya untuk kemakmuran rakyat, Indonesia sebenarnya juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan sampai kekayaan sumber daya alam negeri ini hanya dinikmati segelintir orang seperti terjadi di Nigeria, Sierra Leone, dan Zimbabwe. Itu tugas pemerintah membuat kebijakan yang tepat.

Di luar itu, banyak hal yang dapat dilakukan untuk membuat dunia lebih sejahtera dan bahagia. Menurut penelitian Legatum, beberapa di antaranya yang dapat dilakukan adalah peduli pada pendidikan anak-anak, gunakan hak Anda untuk memilih dan menyampaikan pandangan politik Anda. Jadilah orang yang toleran terhadap pandangan yang berbeda dan dari orang yang berbeda suku, agama, ras, golongan.

Selain itu, hindari utang dan tabunglah uang Anda. Pedulilah kepada lingkungan hidup. Pilihlah makanan yang sehat dan tidur yang cukup. Bantulah orang lain. Menikahlah. Rajinlah beribadah. Kenallah dengan para tetangga. Jadilah relawan. Donasikan sebagian uang Anda untuk amal. Jangan cemas dan selalu berusaha untuk bahagia.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 9 FEBRUARI 2015

Iklan

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: