KEK Tanjung Lesung dan Pariwisata Banten


Tanjung Lesung

ROBERT ADHI KSP

Hari Senin (23/2), Presiden Joko Widodo meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Tanjung Lesung di Provinsi Banten. Pemerintah berkeinginan kawasan Tanjung Lesung menjadi salah satu pusat wisata berkelas internasional yang berbasis maritim.

Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata (KEK) Tanjung Lesung meliputi kawasan seluas 1.500 hektar dan memiliki garis pantai sepanjang 13 kilometer, menyimpan keindahan panorama wisata alam mulai dari Pantai Anyer dan Pantai Carita di utara, Tanjung Lesung, hingga Taman Nasional Ujung Kulon di selatan, juga Gunung Anak Krakatau dan Pulau Umang. Menurut rencana, di kawasan ini akan dibangun hotel, sekolah pariwisata, dan sarana pendukung lainnya.

Kawasan wisata yang relatif sudah ”jadi” adalah kawasan pariwisata Tanjung Lesung, yang dikembangkan konsorsium PT Banten West Java, anak perusahaan Jababeka. Tempat wisata yang terletak di sebuah semenanjung kecil di deretan selatan kawasan pantai barat Selat Sunda ini mudah ditempuh setelah jalan menuju ke lokasi ini diperbaiki.

Tanjung Lesung memang ibarat perawan cantik yang setelah didandani rapi, mulai dilirik banyak lelaki. Berlokasi di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, kawasan wisata terpadu Tanjung Lesung dapat ditempuh dalam waktu antara 2,5 jam dan 3 jam dari Jakarta melalui Tol Jakarta-Merak dengan jarak tempuh sekitar 160 kilometer.

Burung camar bergembira menyambut matahari terbit di Tanjung Lesung. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Burung camar bergembira menyambut matahari terbit di Tanjung Lesung.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Tidak mulus

Namun, yang menjadi persoalan adalah infrastruktur jalan tidak selamanya mulus. Apabila musim hujan tiba, jalan rusak dan hancur. Waktu tempuh bisa lebih panjang. Sudah waktunya dibangun jalan bebas hambatan yang memudahkan wisatawan menuju lokasi.

Menikmati matahari terbit di Tanjung Lesung. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Menikmati matahari terbit di Tanjung Lesung.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Penetapan Tanjung Lesung sebagai kawasan ekonomi khusus sudah ditunggu sejak lama. Sayangnya, kawasan ini ibarat perawan cantik yang ditelantarkan sia-sia. Infrastruktur jalan bebas hambatan tidak kunjung dibangun. Jalan arteri menuju ke kawasan wisata di Banten itu terus-menerus rusak. Diperbaiki, tetapi kemudian rusak kembali. Padahal, Banten menyimpan keindahan alam yang luar biasa. Selain pantai-pantai indah di barat Pulau Jawa, Tanjung Lesung dan Taman Nasional Ujung Kulon jarang mendapat perhatian dari pemerintah pusat.

Selama ini, pada akhir pekan, orang Jakarta cenderung berlibur ke Bandung dan Puncak. Padahal, Banten tidak kekurangan tempat wisata yang indah. Yang menjadi persoalan adalah minimnya infrastruktur jalan. Bagaimana wisatawan bisa datang ke lokasi-lokasi wisata alam di Banten apabila kondisi jalan menuju ke sana dibiarkan rusak selama bertahun-tahun?

Suasana salah satu villa di Tanjung Lesung. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Suasana salah satu villa di Tanjung Lesung.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Tanto Kurniawan, pelaku usaha dan pemerhati masalah properti kelahiran Rangkasbitung, Banten, berpendapat, meskipun skeptis, dia melihat ada secercah harapan KEK Tanjung Lesung akan berjalan semestinya. Dia yakin pemerintahan Presiden Joko Widodo sepenuh hati menciptakan kawasan ekonomi baru di daerah-daerah, termasuk di wilayah Banten. Wilayah ini didukung situasi alam yang sangat memenuhi syarat, seperti laut dan pantai yang indah. Dibutuhkan perencanaan terintegrasi, baik infrastruktur maupun sarana pendukung lainnya.

Namun, Tanto melihat selama ini kondisi infrastruktur sangat buruk, perizinan sangat panjang dan berliku-liku, pemetaan tanah dan peruntukan belum jelas, dan skema pendanaan yang tak pernah ada. Banyak investor tertarik pada keindahan alam di Banten dan jaraknya yang relatif dekat dengan Jakarta, tetapi selama bertahun-tahun mereka melihat tidak ada perubahan apa pun.

Tak ada satu badan resmi yang ditunjuk pemerintah pusat yang mendampingi badan bentukan daerah. Kesannya, pekerjaan ini dianggap selesai pada saat daerah yang akan dijadikan KEK sudah dikunjungi pemimpin negara. Harus ada tindak lanjut dari instansi resmi yang ditunjuk. Presiden harus meminta laporan dari menteri yang membawahkan KEK Tanjung Lesung.

Inilah saatnya membuktikan bahwa pengusaha yang terlibat dalam KEK Tanjung Lesung cukup kapabel menjadi mitra pemerintah pusat dalam mewujudkan pembangunan di Banten.


KEK Tanjung Lesung beroperasi mulai akhir Februari 2015. Sebagai kawasan ekonomi khusus, para investor yang akan menanamkan investasi di kawasan ini tentu akan mendapat insentif dan dipermudah.

Pemerintah Provinsi Banten serius mendukung KEK Tanjung Lesung, dengan menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pelimpahan Kewenangan Perizinan Investasi kepada Administrator KEK Tanjung Lesung.

Publik berharap korupsi yang melekat di birokrasi Provinsi Banten diberantas habis. Pelaksana pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Taufiequrachman Ruki, sebagai salah seorang putra daerah Pandeglang, Banten, perlu memberikan perhatian penuh terhadap pemberantasan korupsi di provinsi ini. Dengan demikian, KEK Tanjung Lesung benar-benar bermanfaat dan dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat Banten.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 23 FEBRUARI 2015

Iklan

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: